
" Ethan, Awas!!" Suara orang orang yang meneriaki nya, Sampai akhirnya bus yang melaju cepat itu menabrak nya. "Dinnnn!!!" Bus itu menekan klaksonnya dengan lantang, "Duakh!" Suara Bus yang menabrak orang karena rem blong, Terjadi begitu saja. Orang orang yang ada di sekitar nya dengan cepat menelpon ambulan untuk menolong nya. Tapi pada akhirnya, Kecelakaan itu membuatnya terluka parah dan meninggal di tempat.
Di rumah duka kedua orang tua juga sahabat nya menangis, Karena kehilangan orang yang paling berharga untuk mereka. Melihat ingatan itu, Membuat pria itu terpukul.
Apa aku sudah mati, Apa akhir hidupku hanya seperti ini. Padahal aku baru melihat ekspresi ayah dan ibu yang bahagia saat masuk Perguruan tinggi terbaik di indonesia. Kenapa berakhir begitu saja, Apa Tuhan tidak mengizinkan ku untuk bahagia bersama mereka.Tapi kenapa ingatan ini terasa nyata. "Ngung_" Suara degungan yang membuat telinganya sakit.
"Hosh.. Hosh.. Srak..." Suara orang yang berlari dengan nafas yang terengah-engah, " Yang mulia, Cepat lari kami akan menangani yang di sini." Suara salah seorang kesatria yang mencoba menghadang musuh. " Bodoh! Bagaimana aku bisa meninggalkan kalian! " Teriaknya dengan nafas terengah-engah. " Tenang saja, Kami akan kembali dengan selamat, Jadi tolong selamatkan diri anda." Ucap kesatria tadi. " Aku tidak akan memaafkan kalian jika sampai kastel nanti. " Balasnya, Pria itu langsung berlari menjauh dari musuh yang mengejarnya. " Mereka melakukan itu demi melindungi ku, Bodoh sekali harusnya aku yang melindungi mereka. Sialan situasi macam apa ini, Kenapa ada pembunuh bayaran di tengah misi ini, Jangan jangan putra mahkota sialan itu yang mengirim nya." Ucapnya dalam hati sambil terus berlari, Tiba tiba ada dua orang yang menghadang nya dari depan.
" Tamat riwayat mu. " Kata orang itu sambil menodongkan pedang.
"Hah jangan kira aku akan kalah dari kalian, dasar orang tidak berguna, pasti putra mahkota sialan itu yang memerintah kalian. " Balasnya, dengan mengangkat pedangnya.
Pertarungan sengit terjadi di antara mereka, "Tang, Tang. " Suara pedang yang beradu. " Zrash_" Suara darah yang terciprat karena tebasan pedang. Pria itu berhasil membunuh salah satu dari pembunuh bayaran."Zrash_ "Suara tebasan yang mengenai punggung nya.
" Ukh." Merasa kesakitan." Sialan, Aku lengah . " Ucapnya dalam hati. " Haha, Tidak ku sangka, Darah Dawson sangat lemah. " Kata pembunuh itu.
"Berisik! Tidak peduli kau orang putra mahkota atau Kekaisaran, Aku akan membunuh mu." ucapnya lalu Menusuk bagian perut nya, Tapi dia masih bisa bergerak dan mengembalikan serangan pria itu. Sambil mengarahkan pedang ke lehernya, dan menatap dengan tajam.
" Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Karena sudah menyebut nama keluarga ku dengan mulut kotor mu itu dan sudah membahayakan nyawa bawahan ku, Karena itu ini hukuman dari ku. " Sambil menebas dengan brutal pembunuh bayaran itu sampai dia tewas.
" Hah sial, luka ini benar benar menyusahkan." Ucapnya sambil terus berjalan tanpa arah. " Hah, Aku sudah tidak sanggup berjalan. " Jatuh tergeletak dengan nafas terengah-engah.
Ingatan yang saling bertabrakan itu membuat kepala nya terasa sakit.
***
Sementara itu Di ruang kerja count Etienne. " Apa sudah kabar dari kastel Dawson, Zach?. " Ucapnya pada kesatria yang selalu jadi pelindung bagi Etienne.
" Sudah tuan, Duchess baru memberi tau saat saya sampai di sana, Dia bilang lima hari setelah pelantikan putra Grand Duke Dawson Di Kekaisaran. Kaisar langsung mengutus nya untuk melakukan pembasmian monster di wilayah selatan. Setelah itu kesatria mereka kembali setelah satu hari Grand Duke yang baru di lantik itu pergi, Mereka memberi laporan Pada Duchess kalau di kepung pembunuh bayaran dalam jumlah cukup banyak dan grand Duke muda tidak ikut kembali. " Menjelaskan semuanya pada Etienne.
" Zach, Kalau tidak salah putra Giotto selalu menutupi setengah wajah nya dengan topeng."
" Benar, dia selalu menutupi setengah wajahnya, Karena tuan muda Dawson sangat benci orang orang melihat wajah nya. "
" Giotto Clark Dawson, Dia meninggal dua bulan lalu, Ethan juga sudah cukup umur untuk mewarisi gelar ayahnya. Tapi siapa yang mengirim pembunuh bayaran untuk nya. " Katanya sambil memandang topeng itu, " Sudah jelas ini milik Ethan, Karena ada ukiran lambang keluarga mereka. " Sambungnya.
" Bagaimana kalau kita cek kondisi beliau dulu. " Kata kesatria nya.
" Baiklah ayo kita ke kamarnya. "
Mereka berjalan beriringan ke kamar pria itu, untuk melihat kondisinya. Count Etienne melihat pria yang masih memejamkan mata itu. "Ternyata ini memang benar Ethan, Aku pernah melihat wajah nya tapi itu delapan tahun lalu. Wajahnya yang sekarang sangat mirip dengan Giotto saat masih muda." Ucapnya dalam hati saat melihat pria itu.
Tiba Tiba pria itu membuka mata dengan nafas terengah-engah, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Count dan kesatria nya yang ada di situ juga ikut terkejut, Dia langsung bangun. " Hah... " Menghela nafas sambil memegang kepalanya.
" Apa kamu baik baik saja." Count mendekatinya, Dengan mata merah nya yang tajam dia bertanya pada Count."Siapa anda. " Menjauh dari count.
__ADS_1
" Aku Eryk, Paman dari gadis yang menolong mu."
" Aku dimana?"
" Kamu ada di kastel ku."
" Lalu apakah anda tau siapa saya." Tanya nya kebingungan, Count yang mendengarnya terdiam cukup lama.
"Apa kamu benar benar tidak mengingat apapun. "
" Iya, aku tidak ingat apapun."
Count yang tadinya ingin mengajukan banyak pertanyaan, Mengurung kan niatnya karena situasi yang berbeda.
"Hah, Baiklah. " Ucap Count, " Namamu Ethan, untuk sekarang itu yang bisa ku beri tau, dan ini barang milikmu, Aku akan meletakkan nya disini." Sambung nya sambil meletakan topeng milik Ethan. " Aku akan menyuruh pelayan mengirim Makanan ke kamarmu, Jadi makanlah aku akan keluar, kita lanjutkan percakapan nya besok lagi. " Ucapnya sambil mengusap pundak Ethan lalu pergi meninggalkan kamar itu di ikuti kesatria nya.
****
Ethan ya, Itu kan namaku di kehidupan sebelum nya, terlebih lagi sebenarnya aku di mana. Kamar yang luas dengan dekorasi klasik eropa, Layaknya dekorasi bangsawan eropa yang biasa aku lihat di internet.
Nama paman tadi juga rasanya tidak terlalu asing.
Dia beranjak dari tempat tidur dan mencoba melangkah kan kaki perlahan, walau rasa sakit yang terasa nyeri setiap menggerakkan tubuh nya. Dia berjalan ke arah kaca besar yang letak nya tidak terlalu jauh dari tempat tidur nya. Saat di depan kaca dia terdiam cukup lama.
Dia kembali ke tempat tidur, Sambil memegang kepalanya, " Hahaha. " Dia tertawa sendiri, " Hal tidak masuk akal apa yang terjadi padaku." Ucapnya mulai putus asa, Lalu dia melihat ke arah meja tempat count Etienne meletakan topeng nya. " Tunggu topeng ini, dia bilang ini barang yang ada bersama ku." Katanya sambil melihat barang itu, topeng yang di gunakan untuk menutupi setengah wajahnya. Dia mencoba memakainya, "Aku merasa tidak asing dengan wajah ini saat menggunakan topeng, terlebih lagi memakai topeng ini lebih cocok dengan penampilan nya. " Ucapnya dalam hati sambil bercermin.
***
Keesokan hari nya, Dia di kejutkan dengan gadis remaja yang tiba tiba masuk kamarnya saat dia sedang memandang keluar jendela dari tempat tidurnya, Melihat pohon pohon yang bergoyang tertiup angin pagi hari.
" Ehh, Kamu sudah sadar. " Ucap gadis itu terkejut melihatnya. Dia yang masih diam mematung saat melihat gadis itu,
" Ah iya. " Balasnya singkat.
" Syukurlah, Bagaiman keadaan mu sekarang. " Tanya nya.
" Lebih baik, Ah tidak aku merasa lebih baik. " Balasnya kebingungan.
" Tidak usah gugup. " Ucapnya, " Namaku Grace Ilona Xavier. " Sambung nya mengenalkan diri,
" Maaf kalau aku menggangu, aku akan keluar dan memanggil dokter untuk memeriksa mu." Ucap gadis itu, lalu meninggalkan kamarnya.
" Tunggu dulu!" Katanya, Langkah kaki gadis itu terhenti.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ter, Terima kasih sudah menolong ku." Ucap pria itu.
" Tentu saja. " Balasnya sambil tersenyum, Lalu dia keluar untuk memanggil Dokter.
Setelah selesai mengobati pria itu, Dokter keluar dari kamarnya untuk memberi laporan pada count di ruang kerja. Saat menutup pintu dokter itu terkejut karena melihat grace yang tiba tiba muncul di depannya.
"Astaga nona!" ucapnya terkejut," Kenapa anda mengagetkan saya." Sambungnya.
" Bagaimana keadaannya?"
" Kondisinya jauh lebih baik, di banding saat pertama datang ke sini, Walaupun luka nya masih butuh waktu sampai benar-benar sembuh. " Katanya, menjelaskan pada grace.
" Syukur lah aku ikut senang mendengar nya. "
" Baiklah nona, Saya pergi dulu ke ruang tuan untuk memberi laporan. "
" Baiklah Terima kasih ya sudah mengobatinya. " Ucapnya.
Tidak lama Grace masuk lagi ke kamar pria itu, sambil membawa camilan, Teh dan dessert. Di kamar itu, dia melihat pria itu sedang duduk dekat jendela sambil memandang keluar. Grace meletakan camilan , teh dan dessert itu di atas meja. "Hei, apa ada yang kamu pikirkan. " Ucapnya grace yang sudah duduk di depan pria itu. Dia langsung mengalihkan pandangan nya pada Grace.
"Ah tidak ada. " Balasnya.
" Omong omong siapa namamu?"
" Ethan, itu namaku."
" Wah, Nama yang bagus. " Katanya di akhiri dengan senyuman. " Warna matamu juga bagus. " Sambungnya sambil memandang mata Ethan.
"Sungguh?"
" Iya seperti pemata merah delima." Balasnya.
" Warna matamu juga indah, Warna biru laut yang indah. "
" Sungguh, terimakasih ya. "
" Iya. " Ucap Ethan sambil tersenyum.
" Ethan, Apa kamu mau jadi teman ku?" Tanya gadis itu dengan senyum polosnya. Ethan yang mendengar nya terdiam cukup lama, Dia masih merasa asing dengan dunia yang dia tempati. Jiwa nya yang ada di tubuh orang lain, membuat nya kebingungan dan takut.
" Walau tidak ingin mempercayai siapapun, Kalau gadis ini kurasa tidak masalah. Aku juga merasa aneh kalau melihatnya, Rambut nya yang berwarna putih kebiruan, Matanya yang seperti permata ocean berwarna biru laut. Rasanya dia seperti tidak nyata, Dan entah kenapa setiap melihat matanya aku merasa tenang. " Ucapnya dalam hati sambil melihat Grace, " Baiklah, ayo kita berteman. " Balasnya tersenyum padanya, lalu saling bersalaman.
" Terimakasih. " Ucap Grace dengan senyuman senang.
__ADS_1