
Satu Minggu sebelum pesta ulang tahun putri mahkota. Untuk pertama kalinya Grace mengajak Ethan keluar dari kastel, dia mengajak Ethan keluar untuk berkeliling dan menikmati pemandangan ibu kota. Di dalam kereta kuda.
" Setelah bunga, Ternyata kamu sangat suka warna ungu yaaa?" Tanya Ethan yang duduk di depan Grace sambil memperhatikan nya.
" Memang nya tidak pantas ya?" Balik bertanya,
" Aku hanya memakai gaun yang di pilih pelayan yang biasa mendandani ku." Sambung nya.
Lalu Ethan terdiam dan bergumam dalam hati,
" Mana mungkin tidak pantas, justru sebaliknya apapun yang di kenakan dia terlihat cantik, di tambah lagi warna mata yang biru seperti permata dan rambutnya yang berwarna biru dengan warna kulitnya yang putih , Dia benar benar terlihat seperti boneka."
Ethan tersenyum sambil melihat Grace," Apapun yang kamu kenakan sangat cocok untukmu Grace, Karena kulitmu yang seputih salju, membuat mu cocok mengenakan apapun." Ucap Ethan.
" Sungguh? " Bertanya dengan wajah polosnya.
" Iya , Saat kau menyuruhku menunggu di Taman bunga tadi , Aku kaget saat melihatmu. Karena kau terlihat sangat cantik di tambah bajumu yang berkilauan itu membuatku hampir tidak bisa melihatmu dengan jelas tadi hahaha." Ucap Ethan di akhiri dengan tawa untuk mencairkan suasana.
Tapi ekspresi Grace berbeda dengan Ethan, Dia terlihat murung saat Ethan membicarakan nya.
" Lain kali aku akan mengenakan gaun yang tidak berkilauan." Ucap Grace dengan tidak semangat.
Ethan terkejut mendengar ucapan Grace, " Eh aku Salah bicara ya." ucapnya dalam hati.
" Bukan begitu maksudku Grace, Apapun yang kau kenakan kau terlihat cantik. Jadi tetap percaya diri apapun penampilan mu, Alangkah baiknya kalau kau yang memilih pakaian yang kau kenakan, Karena itu untuk dirimu jadi kau bisa bebas menentukan dengan senang hati bukan pelayan yang menentukan." Ucap Ethan mencoba menghibur Grace.
" Apakah boleh seperti itu?" Tanyanya.
" Tentu saja, karena itu dirimu jadi biar kau yang menentukan." Balas Ethan.
" Terimakasih Ethan."
" Iya." ucapnya sambil tersenyum.
Kereta kuda terus berjalan di tengah ibukota, dan berhenti di salah satu butik paling terkenal di sana.
" Turunlah Ethan." Ucap Grace.
" Tunggu!"
Tangan Grace terhenti saat membuka pintu, " Biar aku saja yang buka pintunya." Ucap Ethan.
Dia membuka pintu kereta kudanya dan turun terlebih dahulu, " Nah sekarang turunlah, Hati hati ya." ucapnya sambil mengulurkan tangan. Grace hanya tersenyum, " Terimakasih." Ucapnya menerima uluran tangan Ethan.
Lalu mereka berdua berjalan beriringan dan masuk ke butik itu, Pemilik butik langsung menyambut hangat saat tau yang datang adalah Grace.
" Selamat Siang Madam Vena." Sapa Grace.
" wah lihat siapa yang datang, Gadis imut ku yang cantik." Ucap pemilik butik itu langsung menggenggam kedua tangan Grace, Ethan yang ada di samping Grace kala itu terlihat kebingungan. " Wah siapa ini, Laki laki tampan yang di sampingmu Grace, Mata nya indah sekali terlihat tidak asing." Terus berbicara tanpa jeda. Ethan yang mendengar kata itu langsung mengalihkan padangan nya.
"ehem." Suara Grace berdeham, untuk mengalihkan perhatian sang pemilik butik. " Maaf ya madam, Aku baru sempat datang lagi. Dia saudara jauh dari paman ku." Ucap Grace, sambil mengenalkan Ethan.
" Oh begitu, Pantas saja count memesan dua baju pria, Ternyata untuk keponakan nya." Ucap pemilik butik, " Oh ya bajumu sudah jadi , kamu mau melihat nya?" Tanya nya.
" Tentu saja kedatangan ku kesini untuk itu madam." Balas Grace.
" Baiklah akan aku tunjukkan."
" Ethan kamu tunggulah di ruang tamu sebelah sana, Aku mau kedalam dulu bersama madam." Ucap Grace.
" Baiklah. " Jawab Ethan singkat.
...****...
Di dalam butik itu dia melihat pakaian yang akan dia pakai di pesta ulang tahun putri mahkota nanti. " Wah madam gaun ini indah sekali." Ucap Grace yang terpana melihat gaun indah yang dia pesan masih terpajang di Mannequin. " Tentu saja, Aku akan membuatkan puluhan gaun yang indah untuk mu kalau kau mau Grace." Balasnya.
" Terimakasih madam."
"iya sama sama, Lalu ini setelan pakaian yang akan di pakai oleh paman mu, sesuai permintaan nya setelan satu lagi tidak ku buat terlalu ramai juga sederhana tapi tetap terlihat mewah." Kata pemilik toko itu, Menunjukan setelan yang masih terpajang di patung Mannequin, sambil menjelaskan detail pakaian nya.
" Ini akan terlihat indah kalau dia yang pakai." Ucap Grace tanpa sadar. Mendengar perkataan Grace pemilik butik itu langsung meledeknya
" hooo, Ekspresi apa itu Grace."
" Ah tidak madam." Ucap Grace langsung mengalihkan pembicaraan. " kalau gitu , nanti tolong antar ke kastel ya madam."
" Baiklah, Nanti orangku yang akan mengantar ke Kastel Count." Balasnya. " Lalu setelah ini mau Kemana lagi Grace." Sambung nya bertanya.
" hmm, Aku masih ingin jalan jalan di sekitar sini." Balas nya.
" Kalau gitu, berikan jubah ini padanya, suruh dia memakai nya. aku merasa dia terlihat tidak nyaman saat orang orang memperhatikan wajah nya." ucapnya sambil memberikan jubah itu.
" Baiklah terimakasih Madam."
__ADS_1
" Dengan senang hati Grace."
Lalu Grace menemui kembali Ethan yang sedang menunggu di ruang tunggu. " Ethan!" Panggilnya.
" Oh Grace kamu sudah selesai?"
"Sudah."
" Baiklah , Kalau gitu kita akan kemana setelah ini." Tanya nya sambil beranjak dari tempat duduk.
"Tunggu! Jangan bangun dulu" Tegas Grace.
" Hah Kenapa.?" Tanya Ethan kebingungan.
" Diam lah, Kamu itu tinggi." Lalu memakaikan jubah itu pada Ethan, " Kalau kamu berdiri nanti aku tidak bisa memakaikan nya." Sambung nya lalu menutup kepala Ethan. " Nah sudah."
" kenapa aku harus pakai jubah ini?"
" Aku tau kamu tidak nyaman saat orang orang melihatmu." Ucap Grace.
" Bagaimana dia bisa tau, aku tidak nyaman saat orang orang melihatku." Ucap Ethan dalam hati.
" Sudah sekarang ayo kita jalan jalan, Banyak yang ingin aku tunjukan padamu." Grace menggenggam erat tangan Ethan dan mengajak nya keluar dari butik itu.
Ethan terus mengikuti langkah kaki Grace, Dia tidak peduli kemana gadis itu akan membawanya, selama Grace merasa senang dia akan terus mengikutinya. Grace mengenalkan satu persatu tempat di ibukota dari toko , restoran sampai street food seperti di pasar kaget. Ethan yang melihat itu semua untuk pertama kalinya, dia berfikir kalau di dunia yang masih asing baginya ini tidak jauh berbeda dari tempat dia tinggal sebelumnya. Karena lelah berkeliling mereka berdua menghentikan langkahnya di salah satu pedagang sate sate, Ada sate sosis jamur dan juga sayur. Lalu Grace memilih semua rasa yang ada di situ, setelah membayar mereka melahap sate itu. Di gigitan pertama Ethan merasakan rasa yang tidak asing dari makanan itu, Rasa cabai juga rempah rempah tercampur jadi satu, Mengingatkan nya pada salah sate sosis jamur yang sering dia beli saat ke pasar malam dengan adiknya.
" Bagaimana rasanya Ethan?"
" Ini enak sekali." balas Ethan.
"Syukurlah kalau kamu menyukai nya." Ucap Grace yang berdiri di sampingnya. " Setelah ini ayo kita mampir ke salah satu restoran desert paling enak di sini, Lalu pergi ke danau sambil melihat matahari terbenam. " Sambungnya.
" Baiklah." Jawab Ethan mengiyakan permintaan gadis itu.
Sesuai rencana setelah makan desert mereka pergi ke Danau untuk melihat matahari terbenam,
Di danau itu, Ethan hanya terdiam memikirkan banyak hal.
" Ethan, ada apa? Aku perhatikan dari tadi kau hanya diam." Tanya Grace yang duduk samping Ethan.
" Tidak, Aku hanya teringat hal hal di masa lalu." balas Ethan.
" Hal apa itu? sampai mengusik pikiran mu seperti itu."
" sungguh? Apa kamu sangat merindukan nya."
Ethan mengalihkan pandangan nya sambil melihat Grace, dia tersenyum." Meskipun begitu ,Aku tetap tidak akan bisa melihat nya. Karena masa itu sudah sangat jauh dari sekarang." Ucapnya.
" hmm, Maksudmu bagaimana ?" Tanya Grace dengan wajah polosnya sambil berfikir.
" pft_" Ethan menahan tawa , karena gemas melihat wajah Grace yang seperti itu. " Yah anggap saja kehidupan sebelum aku dilahirkan ke dunia ini." Kata Ethan sambil melihat matahari yang tenggelam.
" Apakah ada yang seperti itu?" Bertanya lagi.
" Haha, Tidak usah terlalu di pikirkan. Karena hari sudah mulai gelap Ayo kita pulang , Matahari nya sudah terbenam dengan sangat indah tadi."
" Baiklah,. Ayo kita pulang nanti paman marah."
" Benar itu, Nanti tuan Count marah kalau kita pulang terlalu malam."
Dan untuk pertama kalinya Ethan merasa aneh, Karena bisa bersikap lemah lembut seperti itu di depan Grace. Karena di dalam novel Ethan di gambar kan dengan sikap nya yang dingin dan tidak peduli pada siapapun termasuk wanita. Mereka berjalan sampai ke dekat Alun alun, Tidak lama setelah sampai sana Kereta kuda yang mengantar mereka tadi siang datang. Dia sampai lupa kalau pergi dengan kereta kuda , Karena seharian hanya berjalan mengelilingi tempat ini. " Hehe, Aku yang menyuruh mereka untuk menjemput kita di sini tadi siang, Jadi kamu tidak perlu memasang ekspresi bingung seperti itu Ethan. "
" Oh begitu." Ujarnya menanggapi perkataan Grace.
Tidak lama setelah kereta kuda itu jalan, Grace tertidur sambil bersandar di jendela. Ethan yang melihatnya langsung berpindah duduk di samping Grace, "Kalau kau tidur seperti itu, bisa bisa lehermu sakit." Ucapnya sambil menyandarkan kepala Grace di bahunya. Sembari jadi sandaran untuk gadis itu, Pikiran Ethan mulai kembali kalut memikirkan alur novel yang dia baca, Karena dari semua kejadian di dunia ini hampir tidak pernah dia baca di novel. " Sebenarnya ini sudah masuk ke inti novel atau belum, Atau alur nya belum di mulai. " Pikirnya. " Dari yang aku baca, Ethan memiliki kepribadian yang buruk karena kematian ayahnya yang masih jadi misteri, Orang kekaisaran yang diam mencampurkan racun setiap ayah nya berkunjung ke istana, Lalu kematian ayahnya yang berlalu begitu saja, Kenaikan gelar Ethan di usia muda. Semua itu jadi pertanyaan yang terus berputar di dirinya, Sampai akhirnya dia memutuskan untuk balas dendam kepada kekaisaran, Dia tidak berniat naik takhta tapi ingin kekaisaran tidak bisa memiliki apa yang dia miliki. Di ingat ingat lagi Ethan yang di dalam novel sampai mendekati gadis yang di sukai putra mahkota untuk mengusiknya, Lalu Ethan jadi mencintai wanita itu sepenuhnya. Akhir cerita dia di bunuh karena apa ya, aku tidak terlalu ingat." Sambungnya yang masih terus berfikir. Lalu dia kembali melihat Grace yang masih tertidur pulas,
" Kira kira siapa ya gadis itu? Apa itu kamu Grace." Ucapnya. " Karena cerita itu sudah lama sekali aku membacanya, Jadi aku tidak terlalu ingat alur nya." Sambungnya masih dengan posisi yang sama.
...****************...
Sesampainya di kastel, Ethan tidak langsung turun karena Grace masih tertidur pulas dia juga tidak tega untuk membangunkannya, Jadi dia terus duduk di samping Grace sambil menunggu Grace bangun. Mungkin sudah hampir tiga jam Grace baru terbangun, Sambil mengulat seperti kucing yang baru bangun tidur. " Hmm.. kita sudah sampai?"
" Tidurmu lama juga ya." Ujar Ethan sambil memandang keluar jendela.
"Loh! Kok kamu di sini dari kapan?" Tanya Grace yang kaget melihat Ethan ada di sampingnya.
" Menurut mu sejak kapan? Kalau aku tidak di sini mungkin sekarang lehermu pasti terasa sakit." Balasnya.
" Jangan jangan, Dari tadi aku terus bersandar di bahumu?"
" Yah kurang lebih begitu." Jawab Ethan singkat.
" Nah karena sekarang kau sudah bangun ayo turun aku juga ingin tidur di kamar. " Sambung nya kemudian membuka pintu kereta kuda itu.
__ADS_1
"Jadi dari tadi aku tertidur di bahunya, Atau dia yang sengaja membuat ku bersandar di bahunya agar leherku tidak sakit? Seperti nya sekarang sudah hampir tengah malam." Ucap Grace dalam hati menebak nebak yang terjadi. " Jangan jangan dia menunggu ku sampai bangun, Tidak!!! memalukan Sekali." suara jeritan hati Grace Hanya terdengar oleh-nya.
" Hei Grace, Turunlah di sini dingin sekali tau, Kapan kau akan turun." Kata Ethan sambil mengulurkan tangannya. Grace menerima uluran tangan itu, dan turun dari kereta kuda dengan rasa malu.
" Anak ini kenapa?" Heran melihat Grace menundukkan kepala dari tadi.
Di luar dugaan mereka, Saat membuka pintu ruangan utama Count Etienne kedua kesatria yang menjaga Grace juga para pelayan berkumpul di sana. Mereka berdua jadi pusat perhatian seketika, " Jadi dari mana saja kalian, dan kau Grace bukankah kau pamit untuk ke butik. kenapa tengah malam baru pulang?" Tanya Count dengan ekspresi marah.
Mereka berdua hanya diam saja. " Terlebih lagi kenapa kalian pergi tidak dengan pengawal, Kau Ethan harusnya kau tau kondisi , Bagaimana kalian bisa pergi tanpa membawa pengawal sama sekali , Jika terjadi sesuatu pada kalian bagaimana!" Suaranya yang makin lantang membuat seluruh orang di ruangan diam.
" Tapi paman, Aku dan Ethan hanya jalan jalan mengelilingi tempat di ibu kota, Lalu pergi ke danau untuk melihat matahari terbenam." Grace memberanikan diri menjelaskan semuanya.
" Sepertinya count sedang marah besar, Percuma menjelaskan dia pasti tidak akan mau mendengar." Ujar Ethan dalam hati. " Aku harus memberi alasan yang masuk akal, Agar semua nya cepat berakhir lagi pula aku juga sudah sangat mengantuk."
" Diam Grace!, Harusnya kamu jangan seperti itu, Kau tau kan di luar itu berbahaya, Harusnya kau yang paling tau hal itu." Tegas Count pada Grace.
Ethan melangkahkan kakinya Dan berdiri depan Grace, Lalu menundukkan kepalanya. " Maaf Tuan, Kami terlambat pulang karena ada kereta kuda yang kami tumpangi rusak di tengah jalan, dan memakan waktu cukup Lama untuk memperbaiki nya." Ucap Ethan dengan sopan.
" Hah" Count menghela nafas setelah mendengar perkataan Ethan. " Sudah cukup penjelasannya Kalian berdua, Pergilah ke kamar masing masing dan renungkan kesalahan kalian. Aku akan kembali bekerja." Count meninggalkan tempat itu, dan para pelayan yang berkumpul di sana kembali mengerjakan tugas nya.
" Nona, Anda kemana saja seharian, kami mengikuti nona tapi malah kehilangan jejak " Ucap Sir Leon yang langsung menghampiri Grace dan Ethan.
Dengan tatapan sinis Grace menatap nya, " Jadi kau yang melaporkan pada paman?"
" Bukan bukan saya!"
" Karena nona belum pulang juga sampai malam, Jadi saya lapor pada Tuan, Tadinya dia mau mengerahkan beberapa pasukan untuk mencari anda, tapi tuan mengurungkan niatnya saat tau anda pergi bersama teman anda." Kata Sir Rocco menjelaskan pada Grace.
" Berarti count tau apa yang terjadi, Apa tadi itu hanya sebuah gertakan saja" Pikir Ethan.
" Hah." Menghela Nafas, " Sudahlah, Ethan kembalilah ke kamarmu dan istirahat." Ucap Grace yang sudah malas memikirkan apa yang terjadi.
" Baiklah, Kau juga istirahatlah."
...****************...
Setelah hari itu Count menghukum Grace untuk tidak menemui Ethan sampai pesta ulang tahun putri mahkota begitupun dengan Ethan. Grace yang merasa gelisah dan ingin menemui Ethan sampai memohon pada paman nya, Justru sebaliknya dengan Ethan dia malah lebih suka berdiam diri di kamar, Membaca buku sambil mencari informasi tentang keluarga kekaisaran. Meskipun dia sangat ingin menemui Grace, Dia masih bisa menahannya kalau hanya satu Minggu.
Saat sedang membaca buku dengan tenang di kamarnya, Tiba tiba ada yang mengetuk pintu.
"Tok, Tok," Suara ketukan pintu.
" Ethan , Ini aku." Suara Count dari balik pintu.
Ethan berjalan, dan membuka pintunya. " Ada apa Tuan?"
" Bolehkah aku masuk?" Count balik bertanya.
" Tentu saja." Balas Ethan, " Masuk saja count."
Count masuk Ke kamar lalu duduk di tempat Ethan biasa minum teh bersama Grace dan membaca buku. " Aku penasaran apa yang kamu lakukan saat sedang sendirian di kamar, Ternyata hanya membaca buku. Kamu tidak ada niat berlatih pedang bersama para kesatria ku?" Tanya Count.
Lalu Ethan menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Count Etienne.
" Tidak tuan, Semenjak hari itu saya jadi merasa aneh saat mengengam pedang." Ujar Ethan sambil memandang tangannya.
" Kenapa merasa aneh, Dari kecil kan kamu sangat suka dengan pedang , sampai di Medan perang pun kamu tidak bisa terpisah dengan pedangmu itu." Ucap Count menceritakan pada Ethan. " Apa kamu tidak ingat, Kamu ada di tengah Medan perang itu salah berusia Empat belas tahun. Aku benar benar khawatir kenapa Gioto sampai membawamu ke Medan perang di usiamu yang masih muda, itu kan sangat berbahaya. Tapi dia bilang, Kalau bukan dia siapa lagi yang akan melindungi juga menjaga keluarga nya nanti. Intinya dia ingin mendidikmu dari kecil, agar sewaktu waktu saat dia pergi kau sudah bisa menggantikan nya. Siapa sangka ucapannya itu jadi kenyataan sekarang." Count terus bercerita tanpa jeda dan Ethan hanya mendengarkan.
" Mungkin ayah tau kalau sewaktu waktu dia akan pergi, dan dia juga ingin mempercayakan semuanya padaku." Balas Ethan.
" Ah maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu."
sambil tersenyum dengan perasaan yang lapang dada, " Tidak papa tuan." Balasnya, " Setragis apapun kisah Ethan di dunia ini, Tidak ada yang tau dan peduli. Dan lagi sekarang aku harus bertahan hidup di dunia ini apapun resiko yang akan aku hadapi." Ujarnya dalam hati.
" Kalau begitu aku ingin memberikan ini, Ini tetes mata yang ada sihir di dalamnya. Teteskan ini di kedua matamu besok sebelum berangkat nanti warna matamu akan berubah tapi hanya sekitar Lima jam saja." Ucapnya menjelaskan sambil memberikan obat itu pada Ethan.
" wah Canggih ya, Kalau di tempatku dulu harus pake softlens agar warna mata bisa berubah sesuai keinginan." Ucap Ethan tanpa sadar.
" Hah apa? sof..apa?" Tanya Count bingung.
" Ah bukan apa apa tuan, Terimakasih sudah memberikan ini pada saya." Balas Ethan.
" Dengan senang hati Ethan, Kapanpun kau membutuhkan batuan kau bisa bilang padaku."
" Terimakasih Tuan." Balas ethan.
" Kalau gitu aku pamit undur diri." Ucap count lalu meninggalkan tempat itu.
"Hah..." Ethan menghela nafas, " Kira kira apa yang akan terjadi besok yaa, Ini kali pertamaku datang ke pesta seperti itu di dunia ini. Apapun yang terjadi aku akan terus mengikutinya." Ucap Ethan di kamar itu saat sendiri.
Art by me ✌️
__ADS_1