
Ethan Clark Dawson adalah penguasa wilayah Utara kekaisaran verhant, Dia mewarisi gelar ayahnya yang meninggal karena sakit,itu yang orang orang tau, Sebenarnya penyebab Grand Duke sebelumnya meninggal karena efek racun jangka panjang, Hampir sama dengan kasus countess Etienne. Ethan yang tau kebenaran itu sedang mencari tau, dalang di balik pembunuhan ayahnya yang di sengaja.
Tapi setelah penyerahan gelar Grand Duke pada Ethan di kekaisaran, dia mendapat misi langsung di bawah perintah kaisar untuk membasmi monster di wilayah selatan. Namun di tengah perjalanan pasukan yang di pimpin Ethan di hadang oleh sekelompok pembunuh bayaran, Ethan menduga mereka adalah suruhan dari Putra mahkota kekaisaran verhant. Karena putra mahkota sediri memilik hubungan yang cukup buruk dengan Ethan, Karena biar bagaimanapun Ethan masih memiliki darah kekaisaran karena ayahnya adalah anak dari istri kedua kaisar sebelum nya dan ada pontensi jika dia menjadi kaisar berikut nya di masa depan, Walaupun bukan dia Putra mahkota saat ini.
Ethan yang memisahkan diri dari pasukan nya berhasil membunuh dua pembunuh bayaran yang mengikuti nya. Tapi dia tidak tau ada di mana saat itu , dengan tubuh yang penuh luka dia terus berjalan tanpa arah, sampai akhirnya pingsan karena kelelahan.
"Lalu saat bangun, Aku yang ada di tubuhnya. Apa apaan semua ini, Masa aku masuk di dalam tubuh antagonis yang akan di bunuh di akhir cerita. Masa di kehidupan sekarang aku harus mati lagi." Ucap Ethan yang sedang berendam di bathtub sambil menyalakan lilin beraroma Musk, agar bisa merilekskan pikiran. " Hah..." Menghela nafas.
" Kenapa harus jadi seperti ini sih, lebih baik aku mati saja setelah kecelakaan itu, gak usah masuk ke dunia lain juga. Yah jika sudah seperti ini aku harus bertahan hidup, tidak bisa jika aku mengikuti alur ceritanya." Ucapnya, Sambil mengeringkan badan selesai membersihkan diri.
" Ethan! Buka pintunya, Mau sampai kapan kau terus berdiam diri di kamar hah! Ini sudah dua hari ya." Teriak seseorang sambil mengetuk pintunya.
"Pasti itu Grace, anak itu kadang sangat hati hati tapi juga ceroboh, dia kadang juga terlihat sangat imut dan menenangkan walau kadang seperti orang dewasa. memang sih aku sudah dua hari melarang orang orang masuk ke kamar ini, setelah kejadian itu. Lagi pula aku juga ingin menemui Count." Ethan yang masih mengenakan handuk kimono membuka pintunya. " Ada apa Grace?"
Melihat Ethan yang berpakaian seperti itu membuat Grace kaget dan membuka mata dengan lebar, Lalu mengalihkan padangan. " Apa kamu baru selesai mandi?" Ucap Grace.
" Iya. "
" Bisa bisanya, dia membuka pintu hanya memakai handuk, itu kan bukan pemandangan yang harusnya ku lihat." Guman nya dalam hati.
" Ada apa Grace, apa kamu sakit wajahmu jadi berwarna merah seperti ini." Tanya Ethan sambil meletakkan telapak tangan di dahinya untuk mengukur suhu tubuh.
" Ah tidak tau, cepatlah pakai pakaianmu dan pergi ke ruang makan paman sudah menunggu! " Ucapnya lalu pergi meninggalkan Ethan begitu saja.
" Anak itu kenapa? Tadi dia yang mengetuk pintu , sekarang pergi begitu saja. Aku jadi penasaran berapa usianya. Walaupun tubuhnya tinggi tapi tingkah nya mirip anak kecil. Seperti remaja yang baru mengalami masa puber." Guman nya dalam hati, lalu tersenyum tipis.
***
Setelah makan bersama, Ethan langsung pergi ke ruang kerja count. Di sana mereka bicara empat mata.
" Jadi bagaimana yang mulia?" Tanya count mengawali pembicaraan.
" Jangan panggil seperti itu, Panggil saja seperti biasa nya tuan."
" Tidak bisa seperti itu, bagaimanapun kedudukan mu lebih tinggi dari ku."
"Hah... Anda boleh memanggil saya seperti itu kalau di luar, kalau bicara seperti ini panggil nama saja." Ucap Ethan.
"Baiklah, Ethan." Balasnya, " apa yang ingin kau bicarakan." Sambungnya.
" Sejak kapan anda tau kalau saya adalah Grand Duke wilayah Dawson?" Tanya Ethan.
" Mudah saja aku bisa tau dari Topeng yang menempel di wajahmu, di situ ada ukiran lambang keluarga mu, itu bukan barang yang bisa di tangan sembarang orang di tambah lagi di kekaisaran ini kamu satu satunya orang yang menutupi wajahmu." jawab Count,
" Setelah itu aku mengutus orangku untuk pergi ke kastel Dawson dan menanyakan apa yang terjadi." Sambung nya.
" Begitu ya." Balas Ethan lalu terdiam memikirkan sesuatu.
" Apa kamu benar benar tidak ingat, Bagaimana pembunuh bayaran itu menyerang mu."
" Tidak, lalu apa yang terjadi?"
" Setelah misi di bawah perintah kaisar itu, pasukan mu kembali ke kediaman tentu saja tanpa dirimu. Mereka melaporkan semua kejadian pada duchess, Tapi setelah ku selidiki lagi ada yang aneh." Ucap Count.
__ADS_1
"Aneh?"
" Iya aneh karena pembasmian monster di wilayah selatan berjalan lancar, itu laporan yang sampai kaisar. Sedangkan kalian saja di serang saat perjalan arah kesana."
" Seperti sudah di susun secara rapih."
" Benar, Apa ada seseorang yang kau curigai Ethan?" Tanya Count dengan tatapan serius.
" Untuk saat ini aku menduga putra mahkota yang mengirim para pembunuh bayaran itu." Jawab Ethan sambil berfikir apakah benar yang dia ucapkan.
" Aku juga berfikir seperti itu, lalu bagaimana keputusan mu?"
" Keputusan ku ya." Ucap Ethan, " karena anda sudah mencari tau sampai sejauh ini, bagaimana kalau aku minta saran dari tuan." Sambung nya.
" Baiklah, datanglah ke pesta ulang tahun putri mahkota dua Minggu lagi.Amati semua orang terutama Putra mahkota, Aku juga akan datang, Jadilah partner Grace di pesta itu, lagipula anak itu selalu pergi denganku jika ada pesta." Ucap count sambil tersenyum." Setelah itu kau baru bisa putuskan langkah apa yang kau ambil selanjutnya. Kalau tidak salah ibumu juga akan datang, Karena sampai sekarang masyarakat termasuk orang kekaisaran hanya tau kalau kau sedang kurang sehat dan tidak bisa keluar untuk sementara waktu, dengan kata lain ibumu sendang merahasiakan keberadaanmu walaupun dia sediri tidak tau anaknya ada di mana sekarang." Sambungnya.
" Anda tidak memberitahu ibu saya?" Tanya Ethan.
" Tidak, Karena keberadaan mu juga masih perlu di rahasiakan sampai saat ini." Ucap Count dengan serius. " Di tempat ini juga hanya aku dan dua kesatria ku yang tau identitas aslimu." Sambungnya.
" Lalu bagaimana para pembunuh bayaran itu tau identitas saya?"
" Aku sudah mengintrogasi mereka." Balas Count.
" lalu apa ada informasi yang anda dapat?"
" Mereka hanya orang orang yang di kirim guild Ilegal,Aku sudah mencari tau sampai guild itu dan mendapat jawaban yang tak terduga." Ucap count dengan ekspresi yang heran, " Pada intinya mereka hanya di beri perintah untuk membunuh orang dengan mata merah, dengan kata lain mereka tidak tau identitas mu, semua yang di ucapkan itu hanya bualan yang menyudutkan agar kau bisa mengakui identitas mu." Sambungnya menjelaskan pada Ethan.
" Lalu siapa yang menyewa juga memberi perintah pada guild itu?"
Ethan yang sudah malas berfikir siapa dalang di balik semua kejadian itu membuat nya menghela nafas, Rasanya dia sudah tidak peduli lagi dan tidak mau ambil pusing mencari tau siapa pelakunya. Setelah mendengar semua penjelasan Count yang menjawab sebagian rasa penasaran nya, membuat Ethan ingin mengakhiri pembicaraan itu.
" Baiklah, Tapi karena warna mataku yang terlalu mencolok apakah tidak papa? bukankah lebih baik warna mataku di ubah." Tanya Ethan.
" Benar juga, kebiasaanmu pakai topeng dan warna matamu, menjadi ciri khas keluarga Dawson. Nanti coba aku cari jalan keluarnya." Balas count.
" Terimakasih tuan, Dan aku ingin bertanya satu hal lagi. Kenapa anda mau membantu saya sampai sejauh ini? Saya tidak mencurigai anda sama sekali , saya hanya penasaran." Ucap Ethan.
" Karena kau anak dari sahabat ku."
" Itu saja?"
"Terlalu banyak jika aku jelaskan satu persatu." Balas count lalu meneguk teh di depannya.
" Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri Tuan dan saya berterimakasih untuk semua yang telah anda berikan." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
" Baiklah, Lakukan yang ingin kamu lakukan anggap saja tempat ini seperti rumahmu." Balas Count.
" Terimakasih tuan." Ucap Ethan lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan sopan.
***
"Ethan!!" Grace memanggilnya yang sedang berjalan di taman, Ethan menoleh ke arah Suara itu melihat Grace yang sedang berlari menghampiri nya.
__ADS_1
" Awas! jangan berlari nanti jatuh." Benar saja belum lama kata itu keluar dari mulut nya saat sedang berlari Grace tersandung batu, untungnya dengan sigap Ethan menangkap Grace saat akan jatuh. " Aku kan sudah bilang jangan lari, apa kau tidak mendengarkan nya."
Dengan wajah polosnya Grace tersenyum, " kan ada kamu yang menangkap ku." Ucap Grace.
Sambil membantu nya berdiri , dan mengusap rambut Grace. " Kamu ini." Ucap Ethan bingung mau bicara apa, Ethan menawarkan telapak tangan nya." Nah , genggam lah tangan ku." Ucap Ethan.
Grace menggenggam tangan Ethan dengan perasaan senang hati, lalu mereka berjalan beriringan di taman itu.
" Kenapa kau tersenyum terus?"
" Karena aku senang."
"Senang?"
" Iya karena aku bisa berjalan seperti ini dengan Ethan."
Ethan hanya terkekeh mendengar ucapan Grace, sambil tersenyum dia bertanya, " Berapa usiamu Grace? "
" Lima belas tahun."
" Sungguh , Kukira kau berusia sekitar tujuh belas tahunan." Ucap Ethan.
" Sungguh, benarkah , aku terlihat lebih dewasa kan. " Dengan wajah yang ceria saat bertanya pada Ethan.
" Oh, ternyata dia tidak suka di anggap seperti anak kecil ya." Ucapnya dalam hati.
" Tentu saja, Karena kamu cukup tinggi. Tapi tetap saja jangan asal bicara kalau kamu senang dengan orang lain dengan ekspresi seperti itu, itu bisa membuat orang salah paham." Ucap Ethan
" Tapi kan aku memang senang saat bersamamu Ethan." Balas Grace.
Ethan hanya terdiam mendengar ucapan Grace, Rasanya kalau Grace yang bicara dia tidak bisa membantah ataupun melawan. Anak gadis yang sudah menyelamatkan nya, yang selalu baik padanya, dan terus mengkhawatirkan nya bahkan dalam bahaya sekali pun. Ethan tersenyum sambil melihat Grace yang ada di depan nya, " Apa kamu sedang berbunga bunga." Tanya Ethan.
" Bunga bunga ?"
" Iya berbunga bunga, Maksudku sedang bahagia atau suasana hatimu sedang sangat baik." Balas Ethan.
" Hmm mungkin." Ucapnya sambil berfikir. Ethan tertawa melihat Grace yang berfikir keras. "pft_"
" Karena pakaian mu dengan motif bunga, sampai kalung dan anting-anting mu juga, Aku pikir kamu sedang bahagia atau senang." Ucap Ethan.
" Apa tidak cocok padaku?"
" Cocok, terlihat sangat indah kalau kamu yang kenakan dan sesuai dengan usiamu Grace, kamu juga terlihat sangat cantik." Ucap Ethan sambil mengelus kepala nya.
Grace terdiam tersipu malu, karena pujian yang di katakan Ethan.
" Terimakasih." Ucap Grace.
"Aneh kenapa ya setiap di dekatmu aku merasa tenang, semua pikiran yang tadinya memenuhi otakku seketika hilang." Guman nya dalam hati.
" Kamu mau kemana lagi setelah ini?" Tanya Ethan.
" Aku akan pergi ke perpustakaan."
__ADS_1
" Kalau begitu boleh aku temani?"
" Tentu saja." Balas Grace sambil tersenyum senang.