
Alucard menikmati makanannya dengan tenang. Ia tidak suka makan yang berlebihan atau terlalu mewah, ia hanya makan sepiring nasi dengan daging dan sayuran secukupnya, serta tentu saja segelas air putih.
Alucard mengabaikan semua bisikan dan tatapan yang di arahkan padanya.
Sesaat kemudian, terdengar suara ribut dan bisik-bisik orang-orang semakin terdengar jelas. Namun kali ini tidak di arahkan pada Alucard melainkan pada seorang pemuda yang baru memasuki Serikat Pemburu Iblis.
Pemuda itu mengenakan pakaian hitam dengan kerah baju sampai menutupi mulutnya. Ia memiliki rambut hitam dengan sedikit bagian yang berwarna putih, terlihat sebuah bekas luka pada bagian alisnya sampai ke bawah mata.
Dia adalah salah satu Pemburu iblis muda yang seumuran dengan Alucard, Granger yang di kenal dengan nama Biola Kematian.
Granger memiliki masa lalu yang kelam. Sama dengan Alucard, ia juga pernah di culik oleh para iblis dan di selamatkan oleh para pemburu iblis, hingga ia menjadi pemburu iblis sekarang ini.
Granger memiliki senjata sebuah pistol serta benda seperti tas biola yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Granger di kenal sebagai Biola Kematian bukan tanpa alasan. Itu karena benda seperti tas biola yang ia bawa itu bisa berubah menjadi biola, ketika ia memainkan biolanya, itu mengeluarkan suara yang sangat buruk hingga target menjadi pusing.
Dia juga sangat di kenal oleh para iblis, bahkan sudah ada pepatah iblis yang mengatakan, ketika kau mendengar suara biola yang menyakitkan telinga, berlarilah sekencang mungkin jika masih ingin hidup.
Granger duduk di meja kosong yang berada tepat di samping Alucard. Ia memesan makanan yang tidak jauh berbeda dengan Alucard, dan minuman yang ia pesan adalah susu, bukan air putih.
Sementara mereka berdua makan dengan santai tanpa masalah, orang-orang melihat seperti keduanya sedang beradu aura dingin yang tidak terlihat. Yah, mungkin itu hanya imajinasi mereka saja karena memang selama ini Alucard dan Granger sering di samakan.
Itu karena keduanya sama-sama berasal dari keluarga biasa, sama-sama muda namun memiliki bakat tinggi, sama-sama tidak pernah membentuk tim, selalu menjalankan misi seorang diri, dan tentu saja sama-sama memiliki wajah yang tampan.
Hanya saja Granger terkesan lebih dingin dari Alucard, itu karena dia jarang sekali berbicara, mendengarnya mengucapkan satu kata saja itu sudah sangat langka.
Orang-orang sering bertanya-tanya, jika keduanya bertarung maka siapa yang akan menjadi pemenangnya.
Sementara di dalam Serikat Pemburu Iblis tidak ada yang berani ribut karena keberadaan Alucard dan Granger, di luar sedang ada keributan karena terlihat dua kereta kuda mewah bergerak menuju Serikat Pemburu Iblis dari arah yang berlawanan.
Salah satu kereta kuda menggunakan bendera Moniyan Empire sementara yang satu lagi menggunakan bendera sari salah satu bangsawan besar di Moniyan Empire, yaitu keluarga bangsawan Baroque
__ADS_1
Kedua kereta kuda itu berhenti tepat di depan gerbang Serikat Pemburu Iblis dengan posisi saling berhadapan.
Tidak lama kemudian, masing-masing prajurit pengawal kereta kuda membukakan pintu dan dua gadis cantik pun terlihat keluar dari kereta kuda.
Sosok gadis cantik dengan gaun putih, rambut pirang keputihan dengan mata biru safir. Dia adalah putri mahkota Moniyan Empire, Silvana.
Sementara satu lagi adalah gadis cantik bergaun ungu, rambut pirang dengan mata ungu yang indah. Dia adalah nona muda Keluarga Baroque, Guinivere.
Saat Silvana keluar dari kereta, semua orang yang melihatnya langsung membungkuk hormat. Sebagai rakyat Moniyan Empire, memberikan penghormatan seperti ini merupakan hal wajib jika bertemu keluarga kekaisaran.
“Eh, Tuan Putri Silvana, ada apa kira-kira seorang putri berkunjung di Serikat Pemburu Iblis?” Guinivere memberi hormat ala bangsawan.
“Mungkin aku juga memiliki pertanyaan yang sama. Seorang putri bangsawan kelas Duke mengunjungi Serikat Pemburu Iblis.”
“Saya rasa identitas ku tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan anda, Putri Silvana,” Guinivere tertawa kecil.
“Guinivere, kita sudah berteman sejak lama, jadi jangan menggunakan kata-kata formal seperti itu!”
Silvana dan Guinivere sebenarnya adalah teman sejak kecil. Namun semakin mereka tumbuh semakin jarang mereka bisa bertemu. Itu karena semakin banyak hal yang harus mereka urus, terutama Silvana sebagai putri mahkota Moniyan Empire.
Guinivere tertawa kecil kemudian berjalan menghampiri Silvana dengan langkah yang anggun.
“Sebenarnya aku datang kemari ingin mencari seseorang.”
“Oh, kalau begitu sepertinya tujuan kita sama.”
Silvana dan Guinivere sama-sama penasaran siapa yang masing-masing dari mereka cari di Serikat Pemburu Iblis.
“Kebetulan sekali, kalau begitu ayo kita masuk.”
Mereka berdua pun berjalan memasuki Serikat Pemburu Iblis.
__ADS_1
***
Sementara di luar masih cukup ribut, Alucard dan Granger masih makan dengan tenang seolah tidak terganggu dan tidak peduli dengan apa pun yang ada di luar.
Namun tiba-tiba, entah kenapa mereka merasakan perasaan yang tidak enak, terutama Granger.
Karena Granger merasa instingnya tidak pernah salah, ia menaruh uang di atas meja sebagai bayaran makanan kemudian bergegas menuju lantai dua karena di sana merupakan area penginapan untuk para Pemburu Iblis dari tingkat Grand Master sampai tingkat Legen.
“Granger, kau mau pergi ke mana?”
Namun baru saja Granger menaiki satu anak tangga, terdengar suara seorang gadis memanggil namanya.
“Sial,” Granger hanya bisa berdecak dalam hatinya kemudian berbalik, melihat sosok gadis cantik yang ia kenal.
Sementara itu, Alucard yang mengetahui siapa yang datang, pura-pura tidak melihat dan terus makan dengan tenang.
Silvana dan Guinivere baru memasuki ruangan dan mereka langsung melihat orang yang mereka cari.
Silvana menggeleng pelan melihat Alucard yang masih dengan tenang menyantap makanannya seolah tidak menyadari kedatangannya.
“Jadi orang yang kau cari adalah Granger, Pemburu Iblis tingkat Legend,” Silvana tidak menduga ternyata Guinivere memiliki hubungan dengan Granger dan sepertinya hubungan itu tidak biasa.
“Begitulah,” Guinivere tidak malu untuk mengakuinya, “lalu kau sendiri, siapa yang orang yang kau cari?”
“Orang itu..” Silvana berjalan menghampiri Alucard kemudian duduk di kursi tepat di depan pemuda itu.
Alucard akhirnya menyerah untuk berpura-pura, ia berdiri kemudian membungkuk hormat pada Silvana.
“Salam Tuan Putri Silvana.”
“Oh kau masih mengingat ku ternyata,” Silvana tersenyum, “Alucard, kali ini kau tidak akan bisa menghindar dari ku.”
__ADS_1
Silvana mengeluarkan selembar kertas, “aku membawa surat perintah dari Moniyan Empire, kau harus menghadiri acara pesta ulang tahun ku.”
“Kenapa pula harus sampai mengeluarkan surat perintah untuk menyeret ku ke dalam acara pesta,” Alucard menghela nafas.