
Satu minggu berlalu dan Alucard kini sudah sembuh, meskipun masih belum sepenuhnya namun dia sudah bisa bergerak lebih bebas.
Sebenarnya Alucard sudah bisa bergerak dari 2 hari yang lalu, namun karena Silvana memaksanya untuk terus istirahat, akhirnya Alucard menuruti keinginan gadis itu.
Alucard masih belum bertemu dengan Tigreal. Silvana mengatakan Tigreal sedang sibuk jadi tidak punya waktu untuk menjenguknya.
Saat ini Alucard sedang berbaring di tempat tidurnya. Ia mengangkat tangan kanannya, melihat lengannya yang masih tidak berubah warna.
“Apakah tangan ku akan terus seperti ini?” Alucard bergumam, “tapi jika ini memang bukan hal buruk maka aku akan menerimanya.”
Selama beberapa hari ini, Alucard sudah sering mencoba mengendalikan Mana di tubuhnya, namun itu cukup sulit dilakukan. Apa lagi memanipulasi mana menjadi sebuah elemen, itu jauh lebih sulit lagi.
Hal itu sangat wajar karena Alucard baru-baru ini mengenal yang namanya Mana. Dari kecil dia hanya pandai bertani, sama sekali tidak mendapatkan pendidikan tentang sihir dan semacamnya sebagimana keluarga bangsawan.
Alucard bisa saja meminta bantuan Silvana, namun entah kenapa dia tidak pernah bertanya pada gadis itu. Mungkin karena dia merasa tidak enak atau semacamnya. Entahlah, Alucard juga tidak paham.
“Alucard, aku punya hadiah untuk mu.”
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Silvana langsung masuk begitu saja dengan senyum ceria seperti biasa.
Alucard hanya tersenyum kecut karena Silvana selalu saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Alucard disini paham Alice adalah pemilik tempat yang ia tinggali saat ini, gadis itu adalah tuan rumah jadi dia bebas melakukan apa saja di rumahnya.
Hanya saja bukankah masuk ke kamar seorang tamu adalah hal yang tidak sopan?
Tapi apakah Alucard disini bisa dihitung sebagai tamu? Dia hanyalah pemuda yang diselamatkan oleh pihak Monian Empire.
Alucard bangun lalu duduk di tepi ranjang, “kali ini apa lagi?”
“Sebelumnya aku sudah meminta pandai besi kekaisaran untuk membuat sebuah armor lengan,” Silvana membuka kotak kayu yang dia bawa, “armor lengan kanan lengkap, ini dapat membuat energi di lengan kanan mu tidak selalu bocor dan dapat mempermudah dalam menggunakan Mana.”
Untuk pertama kalinya Alucard merasa tidak enak pada Silvana. Gadis yang baru saja dia kenal selama seminggu ini benar-benar peduli padanya.
Padahal yang dia lakukan hanyalah makan dan tidur, bahkan saat makan pun Silvana akan menyuapinya, dan sekarang gadis ini memberinya hadiah.
Apakah ada hal dari dirinya yang patut di hargai? Apakah dia pernah melakukan sesuatu hingga Silvana melakukan semua ini untuknya?
__ADS_1
“Terima kasih,” hanya itu kalimat yang bisa keluar dari mulut Alucard.
“Ini pertama kalinya kau berterima kasih, biasanya kau akan selalu berkata seadanya saja.”
“Aku bukanlah orang yang tidak tau terima kasih. Aku tidak tau kenapa kau begitu baik pada ku, tapi aku pasti akan membayarnya suatu hari nanti.”
“Kalau begitu aku menantikannya,” Silvana tersenyum manis.
Alucard mengambil armor lengan itu lalu memakainya.
“Sangat pas dan nyaman untuk di pakai.” Alucard melihat lengan kanannya yang sudah dibalut armor menutupi tangan sampai sikunya, hingga lengan birunya tidak lagi terlihat.
“Armor itu juga akan menyesuaikan diri dengan ukuran lengan mu, jadi kau tidak perlu khawatir armor itu akan tidak muat di masa depan.”
“Ternyata armor ini masih memiliki banyak kelebihan,” Alucard mengangguk, “jadi apakah sekarang aku sudah boleh keluar, tuan putri?”
“Sudah ku bilang untuk tidak memanggil ku dengan panggilan formal seperti itu!” Silvana terlihat cemberut.
Alucard adalah satu-satunya teman yang bisa dia ajak bicara sebagaimana teman yang sebenarnya. Bukan seperti orang-orang yang mengaku teman tapi hanya ingin menjilat saja, selalu bersikap formal, memasang senyum ramah yang palsu dan lain-lain.
Karena itulah Silvana tidak ingin Alucard memanggilnya dengan formal.
“Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin kita untuk latih tanding, bagaimana?”
“Latih tanding, maksud mu?”
“Maksud ku, kita akan latihan bertarung.”
“E.. apakah kau yakin bisa bertarung? Aku takut nanti malah melukai mu.”
Melihat penampilan Silvana yang seperti gadis murni yang anggun dengan kulit tanpa cela sedikitpun, sulit membayangkan gadis itu bisa bertarung.
“Jangan meremehkan ku, begini-begini aku sudah cukup terlatih dalam bertarung,” Silvana membusungkan dadanya yang masih dalam tahap pertumbuhan, “bukankah kau bilang ingin membunuh para iblis? Dengan latih tanding kau juga bisa mendapatkan pengalaman dan meningkatkan kemampuan bertarung.”
“Baiklah, tapi dimana kita akan latih tanding?”
“Ikuti aku!” Silvana meraih tangan Alucard lalu menariknya.
__ADS_1
Alucard hanya pasrah di tarik oleh Silvana, mengikuti keinginan gadis itu.
Baru saja Silvana melangkah keluar dari ruangan, dia berhenti saat melihat sosok besar di depannya.
“Paman Tigreal,” Silvana jujur cukup terkejut menemukan Tigreal disini.
Sungguh kebetulan bisa berpapasan saat dia baru saja keluar.
Tigreal menaikkan alisnya, keningnya sedikit mengerut saat melihat Silvana memegang tangan Alucard.
Apa yang terjadi selama dirinya pergi? Apakah 1 minggu sudah cukup untuk mereka bisa sedekat ini sampai pegangan tangan?
Tigreal hanya ingin melihat kondisi pemuda yang dia selamatkan minggu lalu, tidak disangka akan melihat pemandangan ini.
Menyadari arah tatapan Tigreal, Silvana lekas melepaskan tangan Alucard kemudian mencoba mengalihkan perhatian.
“Kapan paman Paman Tigreal kembali?”
“Jadi dia Komandan Tigreal? Dia terlihat sangat kuat,” Alucard bergumam dalam hati.
“Jadi anda Komandan Tigreal. Aku Alucard, terima kasih telah menyelamatkan ku sebelumnya,” Alucard menunduk penuh hormat.
“Tidak masalah, itu tugas ku sebagai Komandan menyelamatkan penduduk Monian Empire,” Tigreal tersenyum ramah, “ngomong-ngomong, kalian mau kemana?”
“Aku mengajak Alucard untuk latih tanding.”
“Begitukah. Alucard, apa kau yakin sudah sembuh hingga bisa melakukan latih tanding?”
“Aku sudah merasa cukup baikan, melakukan latih tanding sama sekali tidak masalah. Lagi pula, aku sudah cukup bosan hanya berbaring di kamar.”
Bahkan di hadap Tigreal, Alucard bersikap seolah berbicara dengan orang biasa.
Tigreal tidak mempermasalahkan hal itu, ia bukanlah orang yang akan emosi hanya karena hal kecil.
“Baguslah jika kau sudah merasa baikan, aku tidak perlu khawatir lagi. Kalau begitu aku akan pergi, masih ada beberapa hal yang harus aku urus,” Tigreal membungkuk hormat pada Silvana sebelum berjalan pergi.
“Ayo Alucard, kita pergi ke halaman latihan!” Silvana menuntun Alucard menuju halaman latihan tempat mereka akan latih tanding.
__ADS_1
Kali ini Silvana tidak menarik tangan Alucard. Dia tidak ingin orang lain melihat kedekatannya dengan pemuda itu karena bisa saja akan menyebar gosip yang tidak perlu yang malah akan membuatnya kerepotan nanti.