The Lone Hero

The Lone Hero
Ch.23 - Kemenangan


__ADS_3

Pertarungan antara Alucard melawan Silvana benar-benar menjadi tontonan yang sangat mengagumkan bagi para penghuni Istana Moniyan Empire.


Pertarungan itu membuka mata para prajurit kalau level mereka masih tidak ada apa-apanya dan harus lebih giat berlatih untuk menjadi lebih kuat.


Alucard dan Silvana terus saling menyerang tanpa henti, namun tidak ada dari mereka yang benar-benar mengenai target. Keduanya sama sekali tidak mendapatkan luka sedikit pun.


Silvana menebaskan tombaknya secara vertikal ke bawah. Alucard dengan mudah menghindar dengan memiringkan tubuhnya kemudian melompat mundur, secara bersamaan melakukan tebasan, mengeluarkan gelombang energi petir.


Tombak Silvana mengeluarkan cahaya, ukiran rune pada tombaknya menyala kemudian menebas gelombang energi petir tersebut.


Namun energi petir lebih dulu meledak sebelum Silvana menangkisnya. Itu membuat kepulan asap menyebar menghalangi pandangan Silvana.


Alucard memanfaatkan itu untuk bergerak ke samping kemudian mengeluarkan hal yang sama. Itu terus ia lakukan dengan cepat hingga belasan kali.


Silvana merasakan bahaya, ia menghentikan ujung gagang tombaknya di lantai, mengeluarkan gelombang angin hingga semua kepulan asap menghilang.


Silvana melebarkan matanya saat melihat belasan gelombang petir sudah melesat ke arahnya dari segala penjuru.


Mata tombak Silvana tiba-tiba terpecah menjadi beberapa bagian kecil, melayang di atas kepalanya kemudian berputar kencang, membuat gelombang energi seperti bola tornado yang menjadi pertahanannya.


Belasan gelombang petir mengenai pertahanannya terus menerus menyebabkan banyak ledakan.


Alucard terus menerus mengeluarkan serangan yang sama untuk menggempur pertahanan Silvana tanpa berniat memberikan jeda sedikit pun.


Itu membuat Silvana sepenuhnya terkurung di dalam teknik pertahanannya sendiri.


“Apa kau berniat membuang-buang Mana dengan serangan seperti itu? Kau akan kehabisan mana lebih dulu!” Silvana mengetahui apa yang di pikirkan Alucard.

__ADS_1


“Kita akan lihat Mana siapa yang akan habis lebih dulu,” Alucard terus menerus melancarkan serangan.


Belasan menit berlalu namun Alucard masih tidak terlihat akan kehabisan Mana.


“Apa-apaan, apakah mananya tidak bisa habis?” Silvana mengerutkan keningnya.


Menggunakan pertahanan ini akan terus menerus mengonsumsi Mananya. Meskipun tidak sebanyak Mana yang Alucard keluarkan di setiap serangannya namun tetap saja akan sulit ia mempertahankan pertahanan ini dalam jangka waktu lama. Terlebih Alucard terus menyerangnya.


Silvana sedikit melebarkan matanya saat melihat lengan kanan Alucard. Ia lupa kalau Alucard memiliki simpanan mana yang besar di lengan kanannya.


“Bagaimana Putri Silvana? Apa kau masih bisa bertahan lebih lama?” Alucard meningkatkan intensitas serangannya membuat Silvana semakin tertekan.


“Aku ceroboh,” Silvana masih tidak ingin menyerah namun situasi sepertinya tidak mendukung hal tersebut.


“Baiklah baiklah, aku menyerah!”


Alucard berhenti menyerang setelah Silvana menyerah. Silvana sendiri menghilangkan pertahanannya dan semua pecahan mata tombaknya menyatu dan kembali ke tempat semula.


Silvana menghela nafas, ia benar-benar tidak menyangka akan di kalahkan oleh Alucard. Padahal sebelumnya ia bisa dengan mudah mengalahkannya.


“Jadi aku yang menang kan?” Alucard tersenyum tipis, entah kenapa ia merasa puas dengan kemenangannya.


Mungkin karena ia menganggap ini adalah balasan dari kekalahannya sebelumnya.


“Huh, aku tadi hanya lengah saja, jika saja aku...”


“Silvana.”

__ADS_1


Silvana terdiam saat mendengar suara lembut yang familiar. Ia menoleh ke sumber suara, melihat ibunya yang tersenyum penuh makna.


Ia pun batuk dua kali kemudian sikapnya kembali penuh wibawa sebagai seorang putri. Ia lupa kalau sekarang ada banyak orang di sini. Dirinya memang selalu sulit mempertahankan citra seorang putri ketika berhadapan dengan Alucard.


“Alucard, kau memang hebat, patut menjadi pemburu iblis tingkat Legend termudah di Moniyan Empire.”


Alucard melebarkan senyumnya, jelas ia mengejek Silvana yang langsung mengubah sikapnya begitu cepat.


“Kau.. awas saja!” Silvana hanya bisa bergumam kesal dalam hatinya.


Senyum Silvana yang tadinya alami kini terlihat seperti di paksakan, sudut mata kirinya juga berkedut karena kesal.


“Terima kasih pujiannya Tuan Putri,” Alucard sedikit membungkuk hormat.


Ah, ia memang tidak biasa melakukan hal seperti ini. Inilah kenapa ia tidak suka berhadapan dengan bangsawan ataupun keluarga kekaisaran karena harus selalu menjaga sikap bahkan sampai gerak tubuh.


Ratu Siliya menghampiri putrinya.


“Silvana, kau tidak terluka kan?” Siliya tentu khawatir pada putrinya sebagai seorang ibu.


Ia sebenarnya dari awal tidak setuju Silvana belajar sihir dan menjadi petarung di garis depan untuk membahayakan nyawanya. Namun apa daya, Silvana adalah penerus tahta Empire, dia harus memiliki kekuatan untuk mempertahankan tahta dan melindungi rakyatnya.


“Aku baik-baik saja ibunda, aku tidak perlu khawatir,” Silvana tersenyum lembut.


Siliya menoleh ke arah Alucard, pemuda itu langsung menyapa dengan sedikit membungkuk.


“Alucard, kau sangat muda dan memiliki kekuatan yang sangat besar, bagaimana jika kau bergabung menjadi bagian dari pelindung Moniyan Empire? Kau bisa menjabat sebagai komandan.”

__ADS_1


__ADS_2