
Setelah selesai latihan, Alucard kembali ke kamarnya. Di sana dia mandi dulu baru berbaring di kasur yang empuk untuk merilekskan tubuh dan pikiran.
“Ternyata Silvana sangat kuat, aku tidak berpikir bisa kalah terus menerus, bahkan aku tidak bisa menyentuhnya sedikit pun,” Alucard memejamkan mata, mulai membayangkan bagaimana gerakan-gerakan yang dilakukan Silvana dan membayangkan gerakan apa yang paling efektif untuk melawannya.
Dalam bayangannya, Alucard melawan Silvana dengan sengit, bergerak dengan cepat memainkan pedangnya.
Dalam satu kesempatan, Alucard memberikan serangan kuat yang refleks di tahan Silvana. Meskipun bisa di tahan, Silvana tetap terpukul mundur beberapa langkah.
Alucard langsung melancarkan serangan lanjutan, dalam satu detik, dia memberikan 10 tebasan beruntun.
Akan tetapi semuanya bisa di tangkis oleh gadis itu. Silvana yang dari awal hanya memfokuskan pada pertahanan kini beluk menyerang.
Alucard langsung merasakan tekanan, setiap serangan Silvana membuatnya membuat pertahanan yang penuh celah dalam gerakan hingga itu sangat menguntungkan Silvana.
Alucard berakhir di tendang dan terjatuh. Ia pun di kalahkan.
Alucard membuka matanya dengan senyum kecut, “bahkan dalam imajinasi Ku tidak bisa mengalahkan Silvana.”
“Aku harus menjadi lebih kuat, terus semakin kuat agar aku bisa membalaskan dendam!” Alucard mengangkat tangan kanannya yang terkepal penuh tekad, “Semua iblis harus bersimbah darah.”
*Tok tok tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Tuan, ini saya, Luna, datang mengantarkan makanan.”
“Masuklah!”
Pintu dibuka memperlihatkan maid yang membawa nampan bersisi makanan dan beberapa buku yang di tumpuk.
Luna menaruh makanan itu di meja lalu membungkuk hormat pada Alucard.
“Tuan putri juga menyuruh saya membawa buku sihir. Tuan putri berperan agar anda membacanya!”
“Baiklah, terima kasih dan maaf sudah merepotkan!”
“Tidak masalah, ini adalah tugas saya sebagai pelayan. Kalau begitu saya permisi,” Luna membungkuk sekali lagi sebelum berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Alucard mengambil semua buku itu lalu melihat sampulnya satu persatu.
“Setiap buku ini mengandung pengetahuan tentang sihir dari masing-masing elemen dasar. Ada 5 elemen dasar yaitu api, air, angin, tanah dan petir. Mari coba dari elemen api dulu!”
Alucard mengambil buku sihir api kemudian mulai membacanya.
Bab awal berdiri tentang pengertian energi sihir atau yang disebut Mana. Untuk memulai mengubah Mana menjadi elemen harus terlebih dahulu bisa mengendalikan mana di dalam tubuh.
Alucard mulai mencobanya, memejamkan mata untuk merasakan Mana di dalam tubuhnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Alucard bisa merasakan Mana di dalam tubuhnya. Ia mulai mencoba mengalirkan mana sebagimana yang diterangkan di dalam buku.
Setelah beberapa saat, Alucard membuka matanya, melihat tangan kanannya yang masih di bungkus armor sekarang sudah diselimuti energi berwarna biru.
“Silvana pernah mengatakan jika warna Mana menggambarkan elemen yang dimiliki, karena Mana ku berwarna biru, seharusnya aku cocok dalam elemen petir kan,” Alucard pun menaruh buku sihir api kemudian mengambil buku sihir petir.
Iai dari Bab awal buku elemen petir kurang lebih sama dengan buku elemen api, jadi Alucard langsung mengabaikan bab awal dan langsung membaca bab selanjutnya.
Di bab 2 dijelaskan bagaimana cara memanipulasi mana menjadi elemen petir.
Imajinasi akan menjadi penerjemah bagi Mana dalam perubahan. Jadi pengguna mana harus membayangkan bagaimana petir itu agar Mana bisa memahami perintah otak untuk bisa menjadi elemen petir.
“Baiklah, akan ku coba dengan sedikit Mana terlebih dahulu,” Alucard mulai membayangkan petir, bagaimana petir mengalir dan bergerak begitu cepat.
Untung saja dulu Alucard pernah secara tidak sengaja melihat petir menyambar sebuah pohon hingga tumbang jadi ia bisa lebih muda membayangkan petir seperti apa.
Tidak membutuhkan satu menit, energi petir yang menyelimuti tangan kanan Alucard kini berganti menjadi aliran petir yang berkilat.
Alucard tentunya merasa kagum, tidak sekalipun dulu ia pernah berpikir bisa menggunakan sihir seperti ini.
***
Silvana sedang berlari kecil di lorong istana yang sepi sambil tersenyum riang. Biasanya putri Moniyan Empire itu akan berjalan dengan anggun, jarang sekali melihatnya begitu riang.
Saat Silvana akan berbelok ke persimpangan lorong, ia tiba-tiba berhenti saat hampir saja menabrak seseorang.
Silvana melihat siapa orang yang hampir saja ia tabrak, ia sedikit tersentak mengetahui orang itu ternyata adalah Ratu Moniyan Empire yang merupakan ibunya sendiri.
__ADS_1
“Ibunda maaf aku hampir saja menabrak mu. Ibunda tidak apa-apa kan?”
“Ibu tidak apa-apa, lagi pula itu hanya hampir saja,” Ratu Moniyan Empire yang bernama Siliya tersenyum lembut, “tidak biasanya kau terlihat begitu riang seperti tadi, apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Silvana terdiam sejenak, terlihat berpikir sebelum mengatakan.
“Ibunda, apakah Ibunda tidak akan marah jika aku berteman dengan orang biasa?”
“Kau tau ibu tidak pernah melarang mu untuk bergaul dengan siapapun jika dia bukan orang jahat. Jika dia memang teman mu, besok bawa dia ke gazebo di taman bunga, ibu ingin melihat dan menilainya langsung apakah dia baik atau buruk!”
“Eh?”
“Kenapa? Apakah ada masalah dengan permintaan ibu?”
“Bukan begitu ibunda, hanya saja..” Silvana terlihat ragu, ia memainkan jari-jarinya, “teman ku itu seorang pria.”
Inilah yang membuat Silvana ragu ibunya akan mengijinkannya berteman dengan Alucard. Jika Alucard adalah seorang wanita maka ia tidak perlu khawatir, namun Alucard adalah seorang pria.
Siliya diam tidak langsung menjawab perkataan putrinya membuat Silvana semakin tegang.
“Silvana, apa kau yakin dia hanya teman mu?”
“Ya, Alucard memang teman ku.”
“Apakah kau benar-benar hanya menganggapnya teman? Tidak memiliki perasaan khusus lainnya?”
“Ibu, aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu.”
Siliya menghela nafas, “Silvana perlu kau tau kalau perasaan cinta itu bisa datang kapan saja tanpa bisa di prediksi. Ibu juga pernah muda seperti mu, jadi melihat dari mata dan tingkah mu saja, ibu sudah bisa menebak perasaan mu mulai tumbuh pada pemuda itu!..
Bukannya ibu tidak suka melihat mu berteman dengan orang biasa tapi kau harus ingat posisi mu sebagai Putri Mahkota Moniyan Empire. Masa depan Moniyan Empire berada di tangan mu!..
Jika nanti perasaan mu semakin besar dan kau memaksakan kehendak untuk terus bersama pemuda itu, pasti akan ada yang memanfaatkan hal itu untuk membentuk faksi pemberotak. Tidak perlu ibu jelaskan apa yang terjadi berikutnya, kau seharusnya sudah paham.”
Silvana terdiam, dia paham apa yang dimaksud ibunya. Alucard hanya orang biasa, jika dia terlalu dekat dengan pemuda itu dan perasaan cinta mulai tumbuh, mereka berdua akan terus menanggung rasa sakit karena tidak akan pernah bisa bersama.
Meskipun Silvana sendiri yakin tidak memiliki perasaan khusus pada Alucard namun apa yang akan terjadi kedepannya tidak ada yang tau.
__ADS_1