The Lone Hero

The Lone Hero
Ch.7 - Latih Tanding


__ADS_3

Saat dalam perjalanan, orang-orang yang melihat Alucard berjalan berdampingan dengan Silvana, merasa penasaran dengan pemuda itu.


Pemuda itu terlihat biasa, tidak ada yang spesial darinya, bahkan pakaian yang dikenakan hanya pakaian polos seperti seorang pasien.


Mereka ingin mengetahui tentang pemuda itu namun mereka tidak berani bertanya. Pelayan dan prajurit seperti mereka akan sangat tidak sopan jika menanyakan hal pribadi pada seorang putri.


Jadi mereka hanya bungkam, memendam rasa penasaran mereka dan hanya membungkuk hormat saat berpapasan dengan putri Silvana.


Mereka kini tiba di sebuah tempat yang terlihat luas, area lapangan disana digunakan oleh para prajurit yang sedang latihan.


“Selamat siang tuan putri, apakah ada yang tuan putri perlukan di halaman latihan?” seorang pria menghampiri Silvana dan Alucard.


“Ya, aku ingin melakukan latih tanding dengan Alucard, pemuda di samping ku,” Silvana menoleh kearah Alucard di sampingnya.


Pria yang merupakan pengurus halaman latihan itu menoleh kearah Alucard, melihat pemuda itu dari atas sampai bawah.


“Tuan putri, dia masih sangat muda jadi tolong jangan terlalu kasar padanya.”


Alucard cukup bingung memahami maksud perkataan pria itu. Apakah maksudnya dia bisa di hajar habis-habisan oleh Silvana?


“Haha, aku tau batasan ku,” Silvana tertawa kecil.


“Baiklah kalau begitu tuan putri ikuti saya, saya akan membawa kalian ke halaman latihan yang sedang kosong.”


Sambil berjalan, Alucard melihat para prajurit yang sedang latihan di arena. Masing-masing halaman latihan terdapat beberapa arena yang digunakan untuk latih tanding.


Pemuda itu memperhatikan bagaimana cara bertarung para prajurit itu. Mereka memainkan senjata dengan sangat apik dan kuat, setiap gerakan mereka membawa kekuatan yang keras.


Ini pertama kalinya Alucard melihat pertarungan seperti itu.


“Kita sudah sampai, kebetulan halaman latihan ini masih kosong, jadi tuan putri bisa menggunakannya sesuka hati,” pria itu membungkuk, “kalau begitu saya permisi tuan putri, ada beberapa hal yang harus saya urus.”


Silvana mengangguk pelan sebagai jawaban.


Alucard melihat halaman latihan yang hanya memiliki satu arena seluas 20×10 meter.


Di pinggiran halaman terdapat banyak persenjataan dan perlengkapan lainnya seperti armor.

__ADS_1


“Ayo Alucard!” Silvana berjalan kearah persenjataan.


“Pilih senjata yang akan kau gunakan terlebih dahulu!” Silvana mengambil sebuah tombak, “apa kau tertarik untuk menggunakan tombak?”


“Tidak, aku rasa lebih baik menggunakan pedang,” Alucard mengambil sendiri pedang yang dia gunakan.


Alucard memilih pedang yang cukup besar dan panjang.


“Ini pertama kalinya aku memegang senjata sungguhan, rasanya sedikit berbeda dari pedang kayu yang biasa aku gunakan dulu di desa,” Alucard bergumam pelan.


Meskipun sebenarnya Alucard pernah menggunakan senjata untuk membunuh para iblis sebelumnya, namun dia tidak ingat sama sekali.


“Putri Silvana, apa kau akan bertarung menggunakan gaun seperti itu?”


“Tentu saja tidak,” Silvana tiba-tiba menghentakkan tombak di tangannya.


Seketika gelombang energi menyelimuti tubuh Silvana, gaunnya secara perlahan menghilang dari atas, berganti menjadi pakaian ketat. Dalam waktu kurang dari 1 menit, Silvana sudah berganti pakaian dari sebuah gaun menjadi pakaian ketat dengan armor ringan yang menutupi lengan dan dada.


“Kau sendiri apakah hanya akan menggunakan pedang? Tidak ingin menggunakan armor?” Silvana bertanya, “setidaknya gunakan armor dada karena kecelakaan tidak bisa di hindari meskipun hanya latih tanding karena kita menggunakan senjata asli. Bisa-bisa kau terluka parah jika tidak menggunakan armor!”


“Baiklah, akan ku gunakan armor lengan dan dada,” Alucard mengambil armor lengan kiri dan dada kemudian memasangnya.


Namun sayangnya Alucard yang tidak tau apa-apa tentang perlengkapan semacam ini tidak tau cara memakainya.


Silvana terkekeh kecil, melihat Alucard yang kesulitan memasang armor menurutnya sangat lucu.


“Biar ku bantu,” Silvana membantu Alucard memasang armor, “baiklah sudah selesai, ayo naik keatas arena!”


Silvana melompat naik keatas arena diikuti oleh Alucard, mereka mengambil jarak beberapa meter dengan membawa senjata masing-masing.


“Kalau begitu Alucard, kau bisa menyerang lebih dulu!” Silvana memasang kuda-kuda.


“Tidak, kau yang menyerang lebih dulu,” Alucard tidak ingin lebih dulu menyerang, terlebih yang akan dia lawan adalah Silvana.


“Baiklah kalau begitu, bersiaplah!”


Silvana langsung melesat maju, gerakannya sangat cepat dan tidak terduga membuat Alucard terkejut karena Silvana sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


Alucard refleks melangkah mundur, celah besar terlihat jelas dalam gerakannya.


Silvana menendang kaki Alucard membuat pemuda itu terjatuh. Ia kemudian mengarahkan mata tombaknya kedepan wajah Alucard.


Dengan satu gerakan, Alucard sudah dijatuhkan dan langsung kalah begitu saja.


“Ingat untuk tidak pernah meremehkan lawan mu. Sebelum memulai pertarungan kau harus menyiapkan kuda-kuda yang kokoh, jangan pernah lengah karena kau bisa mati kapan saja jika berhadapan dengan musuh yang sebenarnya!” Silvana tersenyum tipis kemudian melangkah mundur.


Alucard kembali berdiri, “dari pada disebut latih tanding aku rasa ini lebih tepat disebut latihan khusus untuk ku. Bukankah itu niat mu yang sebenarnya?”


Alucard menyadari jika niat Silvana mengajaknya dengan dalih latih tanding adalah untuk melatihnya bertarung. Alucard merasa sangat konyol karena harus di latih oleh seorang wanita.


Silvana hanya tersenyum sebagai jawaban, “kita lanjtkan, sekarang pasang kuda-kuda mu dan persiapkan diri mu!”


Silvana kembali menyerang, Alucard langsung memasang kuda-kuda dan menyambut serangan Silvana.


Gerakan Alucard sangat kaku, banyak celah di setiap geraka yang dia buat. Meskipun tenaga yang dia keluarkan lebih kuat dari Silvana, namun keahliannya yang minim membuatnya cepat lelah.


Tubuh Alucard sudah sangat kuat, kekuatan fisiknya juga tidak perlu dipertanyakan, begitu juga dengan energi Mana di dalam tubuhnya. Hanya saja semua yang dia miliki itu tidak bisa dia gunakan secara maksimal karena tidak memiliki pengalaman bertarung.


Jadi melakukan pertarungan melawan Silvana bisa memberi Alucard pelajaran yang berharga.


Alucard percaya semuanya membutuhkan proses, jadi ini merupakan proses awal untuknya mendalami kekuatan yang bisa membasmi para iblis.


***


4 jam kemudian.


Alucard dan Silvana terus melakukan latihan selama 4 jam tanpa istirahat. Alucard sudah terengah-engah, keringat membasahi tubuh dan pakaiannya.


Sementara Silvana sendiri masih biasa-biasa saja, seolah tidak kelelahan sedikit pun. Sekarang Alucard bisa paham perbedaan jauh antara dirinya dan gadis itu.


“Kau sudah meningkat cukup pesat Alucard. Padahal hanya berlatih selama 4 jam tapi sekarang kau sudah bisa mengimbangi ku,” Silvana cukup kagum dengan perkembangan kemampuan Alucard.


“Ya, aku memang bisa mengimbangi mu tapi dalam skala kekuatan yang mungkin dibawah 50% saja. Aku jelas masih jauh jika dibandingkan dengan mu,” Alucard masih mengatur nafasnya.


“Baiklah, aku rasa sudah selesai dulu sampai disini besok kita akan lanjut latihan!”

__ADS_1


“Tentu saja, tapi biarkan aku mengatur nafas ku sebentar lagi,”


__ADS_2