The Lone Hero

The Lone Hero
Ch.11 - Pesta Ulang Tahun Silvana


__ADS_3

Surat perintah yang di bawa Silvana tidak hanya mengejutkan Alucard namun juga Guinivere dan semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


Surat Perintah Moniyan Empire merupakan sesuatu yang mutlak dan tidak bisa di bantah apa pun keadaannya. Jika menolak maka akan di nyatakan sebagai pengkhianat kemudian di hukum mati.


Jadi wajar saja jika Alucard menganggap hal ini sangat berlebihan untuk membawa surat perintah hanya untuk membuat dirinya mengikuti acara pesta ulang tahun saja.


Memang selama ini Alucard tidak pernah menerima satu pun undangan dari Silvana. Ia tidak pernah menghadiri acara pesta ulang tahun sang putri tersebut.


Bukan karena Alucard malas bertemu dengannya namun karena ia tidak suka keramaian. Yang akan menghadiri acara pesta ulang tahun seorang putri pastinya para bangsawan dan orang-orang penting. Alucard tidak suka berada di antara para bangsawan.


Jadi setiap undangan dari Silvana, Alucard tidak pernah hadir dengan alasan pergi menjalankan misi.


“Jadi ternyata yang kau cari adalah Alucard, tidak ku sangka kau memiliki hubungan dengan salah satu Pemburu Iblis tingkat Legen,” Guinivere merasa Silvana terlalu berlebihan dengan membawa surat perintah.


Namun di sisi lain, ia merasa situasi Silvana sepertinya sedikit miring dengan dirinya. Jadi jika dia berada di posisi Silvana, mungkin ia juga akan mengeluarkan surat perintah untuk Granger.


“Ya, sama dengan mu,” Silvana menanggapi dengan santai.


Guinivere menatap Geranger sementara Silvana menatap Alucard. Kedua pemuda itu hanya bisa menghela nafas pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa di depan kedua gadis itu.


Guinivere menghampiri Granger kemudian memegang tangannya.


“Kau tidak memiliki alasan untuk menolak kali ini Granger, jadi ayo kita pergi ke rumah ku!” Guinivere langsung menarik Granger.


“Guinivere, jangan lupa untuk datang ke pesta ulang tahun ku!”


“Tentu saja Tuan Putri.”


Guinivere pun tidak lagi terlihat.


“Kau juga harus datang Alucard.”


“Tentu saja, aku masih ingin hidup.”


Jika Alucard menolak maka Moniyan Empire akan menetapkan dirinya sebagai pemberontak dan akan mendapatkan hukuman mati.


“Aku heran, kenapa kau selalu menghindari ku? Apakah aku pernah melakukan hal yang buruk pada mu?”

__ADS_1


“Aku tidak terlalu menyukai para bangsawan.”


“Bagaimana dengan ku, apa kau membenciku juga?”


“Terlalu banyak orang yang melihat kita.”


Alucard tidak ingin orang-orang mengira kalau hubungannya dengan Silvana adalah hubungan khusus. Jika rumor seperti itu menyebar maka akan banyak masalah yang datang untuknya.


“Bukankah kau seharusnya sudah biasa dengan banyak tatapan?”


“Kali ini berbeda. Aku tau anda pintar, Putri Silvana. Jadi tidak perlu aku jelaskan,” Alucard sangat ingin meninggalkan Silvana untuk saat ini karena orang-orang sepertinya sudah berpikir ke arah lain.


“Kalau begitu tujuan ku ke sini sudah selesai, aku pergi dulu Alucard. Jangan lupa untuk datang,” Silvana berdiri setelah meletakkan surat undangan, melambaikan tangan kemudian pergi.


“Akhirnya dia pergi,” Alucard menghela nafas, ia melihat orang-orang masih menatapnya.


Seolah tidak peduli dengan itu, Alucard melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


***


Alucard baru saja tiba di depan gerbang Istana Moniyan Empire. Ia menggunakan pakaian formal dengan setelan jas hitam. Alucard sungguh tidak terbiasa menggunakan pakaian seperti ini namun ia tidak memiliki pilihan lain.


Jika ia menggunakan pakaian biasa maka orang-orang akan melihat dirinya telah menghina Putri Silvana dengan menggunakan pakaian bisa. Itu malah akan semakin merepotkan.


Alucard melihat banyak orang yang masuk melalui gerbang setelah menyerahkan surat undangan, ada yang berjalan dengan menggandeng pasangan mereka, ada juga yang menggunakan kereta kuda.


Semua orang yang berjalan memiliki gandengan sendiri, sementara dirinya tidak punya gandengan. Yah, lagi pula Alucard tidak peduli dengan hal semacam itu.


Alucard memasuki gerbang Istana Moniyan Empire setelah menyerahkan surat undangannya.


Alucard memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Lagi pula acar pesta akan di mulai nanti malam, sekarang masih sore hari.


Alucard berjalan santai, menatap langit biru yang sangat cerah.


“Para iblis sudah semakin mengganas, jika nanti terjadi perang besar, aku akan membunuh iblis sebanyak mungkin. Setidaknya aku ingin membunuh salah satu Lord iblis,” Alucard bergumam dalam hati.


Namun ia sadar saat ini kekuatannya masih belum bisa menandingi seorang Lord iblis. Alucard akan terus berusaha, meskipun ia tidak bisa membasmi para iblis sepenuhnya, ia akan mengurangi jumlah mereka sebanyak mungkin.

__ADS_1


Alucard terus berjalan, tidak memedulikan orang-orang yang sedang bermesraan dengan kekasih masing-masing. Ia tidak pernah memikirkan wanita, yang ia pikirkan hanyalah balas dendam.


Alucard menghentikan langkah saat melihat seseorang yang ia kenal. Ia saat ini berada di koridor lantai dua, melihat ke bawah di mana ada sebuah halaman yang tidak terlalu luas, di sana terlihat Guinivere menarik Granger ke tengah halaman.


Granger terlihat pasrah saja di tarik, sama sekali tidak melawan atau pun mengeluh.


Alucard pun lanjut berjalan tanpa tujuan. Istana Moniyan Empire sangat luas, ia tidak bahkan tidak tau sekarang berada di bagian mana.


Setelah matahari terbenam, para tamu segera menuju aula tempat acara pesta akan di adakan. Para pelayan mencari para tamu di setiap sudut istana untuk memberitahu kalau acara pesta akan segera di mulai.


Alucard yang sudah tersesat entah ke mana juga di temukan oleh seorang pelayan dan ia akhirnya di tuntun menuju aula pesta.


Setibanya di aula, Alucard melihat tempat yang sangat luas, mungkin ada 1000 lebih orang yang menghadiri acara pesta ini.


Ada begitu banyak makanan yang di hidangkan, para tamu bisa mengambil sepuasnya. Ada juga banyak minuman yang di susun sangat rapi.


Ini pertama kalinya Alucard menghadiri pesta yang sangat megah seperti ini.


“Hah.. kapan pesta ini selesai, aku ingin cepat-cepat pulang,” Alucard menghela nafas.


Begitu banyak orang namun tidak ada satu pun yang Alucard kenal. Karena bosan, ia pun mengambil sepotong kue lalu memakannya seperti sedang memakan sebuah roti.


Semua tamu yang hadir adalah bangsawan, melihat bagaimana Alucard makan membuat mereka langsung mengetahui kalau Alucard adalah seorang rakyat jelata yang tidak tau tata krama dalam kebangsawanan.


Tatapan sinis dan jijik langsung di arahkan padanya, namun Alucard sama sekali tidak peduli.


“Hm, siapa yang telah membawa rakyat jelata ini masuk, sungguh memuakkan!” seorang pria muda menatap Alucard dengan jijik.


Alucard tidak peduli dan menghabiskan sepotong kue di tangannya.


“Kau berani mengabaikan ku!” pria muda itu kesal lalu melemparkan gelas kaca kosong di tangannya.


Dengan mudahnya Alucard menangkap gelas tersebut.


“Jangan bermain-main dengan api,” Alucard menoleh, memberikan tatapan dingin pada pria muda itu, “kau bisa terbakar lho.”


Pria muda itu langsung menahan nafas, melihat mata itu membuatnya merasa seperti berada di depan kematian.

__ADS_1


__ADS_2