
Setelah urusannya selesai di Necrokeep, Alucard pun langsung kembali ke Moniyan Empire.
Setibanya di Serikat Pemburu Iblis, Alucard menyerahkan bukti selesainya misi pada Gista dan Giska. Ia tidak menceritakan tentang penemuannya di Lantis Mountains dan kejadian di Necrokeep.
“Kali ini anda menjalankan misi cukup lama Tuan Alucard. Apakah anda menemukan masalah saat melawan iblis?” Gista bertanya sambil memeriksa bagian-bagian tubuh iblis yang di serahkan Alucard.
“Tidak ada,” Alucard menjawab singkat dan Gista pun tidak bertanya lebih jauh karena tau sifat Alucard seperti apa.
Gista dan Giska selesai memeriksa dan memberi Alucard imbalan atas misinya. Seperti biasa Alucard langsung memesan makan dan minum setelahnya ia pergi ke kamar untuk istirahat.
Keesokan harinya, Alucard pergi menuju Istana Moniyan Empire. Ia ingin menemui Silvana untuk meminta maaf sekaligus memberinya ramuan yang ia dapat dari Faramis.
Alucard tiba di depan gerbang Istana Moniyan Empire yang mana di jaga oleh dua prajurit dengan armor lengkap.
“Berhenti. Orang luar tanpa keperluan tidak diizinkan masuk.”
Kedua prajurit itu langsung menggalangi jalan.
“Aku adalah pemburu iblis tingkat Legend,” Alucard mengeluarkan sebuah lencana yang merupakan bukti kalau ia adalah pemburu iblis tingkat Legend.
Salah satu prajurit mengambil lencana tersebut lalu memeriksanya. Setelah memastikan keasliannya, ia menyerahkannya kembali.
“Jadi ternyata anda Tuan Alucard, ada keperluan apa di Istana Moniyan Empire?”
Kedua prajurit itu kini menjadi lebih sopan setelah mengetahui identitas Alucard.
“Aku ingin bertemu Tuan Putri Silvana.”
“Apa anda sudah memiliki janji sebelumnya dengan Yang Mulia Putri?”
“Tidak.”
“Kalau begitu maafkan kami Tuan Alucard, kami tidak bisa membiarkan mu masuk. Ini adalah tugas kami, mohon pengertiannya.”
“Hah.. sudah ku duga ini tidak akan mudah,” Alucard bergumam dalam hati.
“Lalu apa kalian tidak bisa membantu ku menyampaikan pada Tuan Putri Silvana kalau aku datang ingin bertemu dengannya? Jika dia menolak maka aku akan langsung pergi.”
__ADS_1
Dua prajurit itu saling memandang kemudian mengangguk secara bersamaan.
“Kalau hanya itu tidak masalah. Jadi mohon tunggu sebentar, saya pergi dulu.”
Salah satu prajurit sedikit membungkuk kemudian bergegas pergi menjalankan permintaan Alucard untuk memberitahu Silvana.
Alucard menunggu sampai hampir setengah jam di depan pintu gerbang Istana Moniyan Empire, barulah prajurit itu kembali bersama seorang gadis yang berjalan di depannya. Gadis itu tidak lain adalah Silvana.
Silvana datang dengan ekspresi judes menatap Alucard. Sepertinya dia masih kesal karena sebelumnya Alucard meninggalkan pesta ulang tahunnya tanpa bertemu dulu dengannya.
“Selamat pagi Tuan Putri,” Alucard memberi salam hormat pada Silvana.
“Tidak perlu banyak omong, katakan saja apa tujuan mu mencari ku?”
Alucard menatap ekspresi kesal Silvana sebelum menjawab.
“Aku...”
“Apa?”
“Jika Tuan Putri memang tidak suka dengan keberadaan ku di sini, maka aku akan pergi,” Alucard pun langsung berbalik.
“Tunggu tunggu! Kemana kau ingin pergi? Apa aku mengizinkan mu untuk pergi!” Silvana dengan cepat memegang belakang baju Alucard, menahan pemuda itu untuk pergi.
“Tapi tadi...”
“Aku tidak menyuruh mu pergi!”
“Lalu...”
“Tetap di sini!”
“Aku...”
“Kau harus tetap di sini!”
“Setidaknya biarkan aku selesai bicara!” Alucard berkata dengan nada tinggi membuat tidak hanya Silvana yang terkejut namun juga dua prajurit penjaga gerbang.
__ADS_1
Ini baru pertama kalinya mereka melihat ada orang yang berani berteriak di depan Silvana. Bahkan jenderal tertinggi Moniyan Empire akan berbicara dengan hati-hati di hadapan Silvana.
Namun pemuda ini.. dia seorang pemburu iblis tapi berani bersikap seperti itu?
“Kau! Beraninya berteriak di hadapan Tuan Putri!”
“Bahkan jika kau pemburu iblis tingkat Legend, kami tidak akan membiarkan mu!”
Kedua prajurit itu langsung mengacungkan senjata mereka. Apa yang di lakukan Alucard sudah sepatutnya untuk di hukum.
“Tunggu! Hentikan itu, kembali ke tempat kalian!” Silvana langsung tersadar dan menghentikan para prajurit itu.
Silvana baru sadar jika citranya sebagai tuan putri baru saja hilang. Ia tidak marah Alucard berteriak karena ia sadar itu merupakan kesalahannya.
“Tapi Tuan Putri, orang ini...”
“Kalian berani menolak perintah?”
“K-kami tidak berani, Tuan Putri.”
Kedua penjaga langsung kembali ke posisi mereka sebagai penjaga gerbang.
“Alucard, ikuti aku!” Silvana pun berjalan memasuki gerbang, diikuti oleh Alucard.
Silvana membawa Alucard menuju sebuah taman kecil terdekat dengan gazebo di tengahnya.
Setelah mereka duduk di sana, barulah Silvana kembali memasang ekspresi judesnya.
“Jadi untuk apa kau menemui ku?”
“Aku ingin meminta maaf tentang kejadian sebelumnya saat aku pergi saat acara pesta ulang tahun mu.”
“Hanya minta maaf saja? Kau tidak membawa sesuatu?”
“Kau ini seorang Tuan Putri, barang macam apa yang kau tidak bisa dapatkan hingga kau harus meminta sesuatu dari orang biasa seperti ku.”
“Setidaknya aku ingin meminta hak atas hadiah ulang tahun ku,” Silvana menatap tajam Alucard.
__ADS_1