
Baru saja Balmond ingin mengambil tubuh Alucard, dia melompat ke belakang karena bisa merasakan sesuatu melesat kearahnya.
*BAM!
Sebuah palu besar menghantam tepat di tempat Balmond berdiri sebelumnya.
Balmond mengerutkan keningnya, dia jelas mengenal siapa pemilik senjata itu. Palu besar dengan gagang sepanjang tombak.
Tidak salah lagi, itu adalah milik manusia itu.
“Tidak ku sangka akan bertemu dengan Komandan Tigreal disini,” Balmond menoleh kearah datangnya serangan, “tempat ini sangat tersembunyi, bagaimana kau bisa menemukannya?”
Balmond melihat seorang pria setinggi 2 meter dengan baju zirah lengkap dan sebuah perisai. Pria itu terlihat berusia 30 tahun, memiliki wajah yang tegas.
Dia adalah Tigreal, komandan tertinggi Monian Empire.
“Tentu saja dengan pancaran energi yang sangat kuat serta intensitas pertarungan hingga menyebabkan getaran kuat, aku bisa mengetahuinya,” Tigreal mengambil kembali palunya, “jadi kau dalang dibalik hilangnya banyak penduduk desa, Balmond!”
Pihak Monian Empire mendapatkan banyak laporan pedesaan yang dihancurkan namun hanya sedikit mayat yang ditemukan.
Tigreal memperkirakan jika itu adalah ulah para iblis. Para iblis menculik penduduk desa, karena itulah hanya sedikit mayat yang ditemukan.
Tigreal yang memiliki rasa keadilan tinggi, tentu sangat marah saat mendengar laporan tersebut. Dia segera membawa banyak pasukan untuk menyelidiki kasus ini.
Tigreal mencari di banyak tempat hingga dia berada di wilayah sebuah hutan, ia merasakan pancaran energi kuat serta getaran-getaran akibat pertarungan.
Tigreal bergegas ke tempat kejadian dan menemukan sebuah goa. Saat dia memasuki gua, ia menemukan banyak mayat iblis yang tergeletak di tanah.
Tigreal menelusuri gua dan secara tidak terduga dia melihat Balmond dan seorang pemuda yang tergeletak di tanah.
“Apakah bocah ini yang membunuh semua iblis di tempat ini?” Tigreal melihat Alucard yang berbaring tidak sadarkan diri di belakangnya.
Sulit dipercaya jika pemuda berusia belasan tahun dapat membunuh 200 iblis dan bahkan bertarung melawan Balmond.
Jika dugaannya benar maka pemuda itu tidak bisa dia biarkan tewas. Ia harus menyelamatkan pemuda itu agar kelak bisa menjadi pedang untuk Monian Empire yang membasmi para iblis.
“Cih, manusia ini benar-benar mengganggu. Aku bukan tandingannya jadi sebaiknya aku mundur,” Balmon bergumam dalam hati.
“Sepertinya aku tidak bisa meladeni mu, Komandan Tigreal. Aku harus pergi,” Balmond mengangkat kapaknya kemudian dengan kuat menghantamkan ke tanah.
*BAAMM!
__ADS_1
Tanah bergetar kuat, retakan-retakan semakin banyak, tempat ini akan segera runtuh.
“Jadi apa kau ingin bertarung, Komandan Tigreal?” Balmond menyeringai.
“Sial,” Tigreal berdecak kesal.
Dia tidak takut meskipun tempat ini runtuh, namun ada Alucard disini. Pemuda itu tidak akan bisa bertahan jika tertimbun tempat ini.
Tigreal akhirnya memilih mengabaikan Balmond, ia mengambil tubuh Alucard kemudian berlari keluar gua.
Balmond sendiri memilih jalan lain karena dia mengetahui jalan rahasia untuk keluar dari tempat ini.
***
“Ugh..”
Alucard perlahan membuka matanya, kepalanya terasa sakit, ia tidak mengingat apa yang ia lakukan terakhir kali.
Mata Alucard terbuka sepenuhnya, namun pandangannya sedikit buram hingga beberapa saat barulah ia bisa melihat dengan normal.
“Dimana ini?”
Alucard menemukan dirinya berada di sebuah ruangan yang sangat asing. Ia melihat kanan kiri kemudian mengerutkan keningnya.
Alucard menoleh kebawah dimana dia berbaring di ranjang yang sangat empuk dan nyaman.
“Apa aku sedang bermimpi?” Alucard memijit keningnya yang terasa sedikit nyeri, berusaha mengingat apa yang terjadi terakhir kali.
Alucard berniat bangun namun dia merasakan seluruh tubuhnya sakit hingga sulit digerakkan.
Tidak berselang lama, pintu kamar terbuka, Alucard refleks menoleh kesana.
Seorang gadis cantik seumuran Alucard melangkah masuk. Gadis itu mengenakan gaun putih yang indah dengan matanya berwarna biru safir, ditambah dengan kulitnya yang putih mulut membuat kecantikannya terlihat lengkap.
Meskipun ini pertama kalinya Alucard melihat wanita yang begitu cantik, namun entah kenapa dia tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa kagum sedikitpun.
Mungkin karena hatinya hanya ada rasa dendam. Entahlah, Alucard juga tidak memahami dirinya.
“Ah, kau sudah bangun,” gadis itu menghampiri Alucard dengan membawa semangkuk bubur diatas nampan.
“Siapa kau? Dimana ini?”
__ADS_1
“Jangan banyak bicara dulu, kau sudah pingsan selama 1 minggu, makan dulu baru kita bicarakan apa yang ingin kau ketahui,” gadis itu tersenyum sederhana kemudian menaruh bubur diatas meja di samping ranjang.
“Biar aku bantu kau duduk,” gadis itu membantu Alucard duduk kemudian mengambil mangkuk bubur serta sendok.
“Buka mulut mu!” Gadis itu berniat menyuapi Alucard.
“Aku bukan anak kecil yang harus di suapi, aku bisa makan sendi.. kgh!” Alucard langsung merasakan nyeri di seluruh tubuhnya saat berniat menggerakkan tangan.
“Sudah ku bilang jangan bicara dulu! Diam dan biarkan aku menyuapi mu atau akan ku lempar bubur panas ini ke wajah mu!” Nada suara gadis itu menjadi sedikit keras.
Alucard akhirnya diam menurut, dia tidak menyangka gadis anggun ini akan marah seperti itu. Ia jadi mengingat almarhum ibunya yang dulu memarahinya.
Dengan begitu, gadis tersebut mulai menyuapi Alucard. Mereka berdua tidak ada yang berbicara.
Alucard diam menatap wajah gadis itu, pandangannya sama sekali tidak berpaling.
Gadis itu sendiri entah kenapa tidak merasa risih dengan tatapan Alucard, namun dia merasa malu.
5 menit berlalu dan Alucard pun habis memakan bubur dengan disuapi gadis cantik.
“Baiklah, sekarang apa yang ingin kau ketahui?”
“Dimana ini? Apa yang terjadi pada ku?” Alucard langsung bertanya.
“Paman Tigreal bilang kalau dia menemukan mu sedang bertarung melawan Orc. Dia menyelamatkan mu dan membawa mu ke Istana Monian Empire.”
Alucard terdiam, apakah itu artinya sekarang dia berada di dalam Istana Monian Empire?
“Meskipun aku tidak bisa membaca pikiran, tapi aku tau apa yang kau pikirkan. Benar, sekarang kau berada di Istana Kerajaan, dan..” gadis itu berdiri kemudian memberikan salam formal ala bangsawan, “aku Silvana, putri Monian Empire.”
Alucard masih diam, bukan karena dia gugup ataupun terkejut, namun dia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
Alucard kini mengingat apa yang terjadi padanya, namun dia hanya mengingat sampai dimana ritual kristal sihir yang dimasukkan kedalam tubuhnya.
Dia tidak mengingat bagaimana dirinya membantai para iblis dan bertarung melawan Balmond.
“Aku Alucard, seorang anak desa biasa,” Alucard memperkenalkan dirinya.
“Alucard, nama yang cukup aneh. Jika dibalik akan menjadi dracula, apa jangan-jangan kau suka menghisap darah?”
“Jika benar maka aku pasti akan sangat suka menghisap darah semua iblis di dunia ini,” Alucard berkata dengan suara dingin.
__ADS_1
Ingatan kematian kedua orang tuanya kembali muncul di kepalanya.
Tanpa dia sadari, energi merembes keluar dari tangan kanannya yang diperban sepenuhnya.