
Silvana mengharapkan hadiah yang spesial dari Alucard. Ia tidak peduli harga atau barang apa itu, yang penting itu di berikan oleh pemuda di depannya.
Alucard mengeluarkan 4 botol ramuan yang ia dapatkan dari Faramis sebelumnya.
“Ini adalah ramuan yang aku dapatkan saat membantu seorang Alkemis. Aku berikan pada mu.”
Silvana sedikit kecewa, ia berharap Alucard akan memberikan kalung atau mungkin cincin. Tapi sepertinya ia terlalu berharap pada orang seperti Alucard.
“Jangan meremehkan ramuan ini. Ini adalah ramuan terbaik yang pernah aku lihat,” Alucard bisa melihat wajah kecewa Silvana.
“Aku sudah melihat banyak jenis ramuan. Aku berharap kau bisa memberikan yang lebih bagus.”
“Memangnya apa yang kau harapkan dari ku? Jika kau tidak mau maka aku akan mengambilnya.”
“Ini sekarang adalah milik ku,” Silvana langsung menepis tangan Alucard, “memangnya ramuan apa ini?”
“Ini adalah ramuan pemulih Mana, penetral racun dan menyembuhkan luka luar dan dalam. Serta satu lagi adalah ramuan yang bisa memurnikan mana, memperkuat tubuh dan memperbanyak kapasitas Mana.”
Tiga di antara ramuan itu tidak Alucard butuhkan karena ia sudah memiliki Twilight Orb. Jadi ia berikan pada Silvana saja dari pada tidak berguna di tangannya.
Silvana melihat ramuan itu lebih teliti, ia tidak menemukan perbedaan dengan ramuan pada umumnya. Namun Alucard mengatakan ramuan ini tidak biasa. Ia cukup penasaran seperti apa manfaatnya.
“Karena kau sudah menerima ramuan ini, jadi aku sudah tidak ada urusan lagi. Aku akan langsung pergi.”
“Bagaimana jika kita sparing dulu sejenak? Sudah lama kita tidak bertarung kan? Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan mu sejak terakhir kali aku mengalahkan mu.”
Alucard menaikkan alisnya sebelum tersenyum tipis, “Ide yang bagus, tapi bukankah aku bisa di hukum pancung nanti jika aku melukai mu.”
__ADS_1
“Apa kau yakin bisa melukai ku? Kau harus tau, bahkan sekarang paman Tigreal harus menggunakan kekuatan penuh untuk melawan ku. Jika kau takut maka aku tidak akan memaksa,” Silvana mengangkat pundaknya dengan senyum meremehkan.
“Bagaimana mungkin aku takut. Aku terima tantangan mu. Di mana kita akan bertarung?”
“Ikuti aku.”
***
“Tempat ini kan...”
“Ya, ini adalah tempat di mana kita pertama kali melakukan latih tanding dulu.”
Silvana membawa Alucard ke tempat ini karena ingin merasakan nostalgia.
Berita pertarungan antara Putri Silvana melawan Alucard dengan cepat menyebar hingga banyak ksatria atau prajurit istana yang sedang bebas tugas segera pergi menonton pertarungan.
“Kenapa sudah banyak sekali orang padahal aku bahkan belum setengah jam berada di istana. Berita terlalu cepat menyebar.”
“Jika kau merasa tidak nyaman, aku bisa membubarkan mereka.”
“Karena mereka sudah datang jadi biarkan saja mereka,” Alucard mengeluarkan pedangnya, “jadi mari kita mulai, Tuan Putri Silvana, kau tidak mungkin akan menggunakan gaun untuk bertarung melawan ku kan?”
“Tentu saja tidak,” Silvana mengeluarkan tombaknya, bersamaan dengan gaunnya yang mulai menjadi butiran cahaya, berubah menjadi pakaian pedangnya.
“Aku akan mulai!”
Energi Mana terhimpun pada tomvak Silvana kemudian menusukkan tombaknya. Siluet tombak besar melesat keluar.
__ADS_1
Alucard melakukan putaran lingkaran sempurna, menebas siluet tombak hingga hancur.
Silvana melompat, hak yang sama di lakukan Alucard. Keduanya pun beradu serangan senjata masing-masing, membuat gelombang mana yang menyebar hingga bisa di rasakan oleh para penonton.
Keduanya saling mendorong di udara selama beberapa saat sebelum keduanya sama-sama mengambil jarak.
Mereka tidak mengambil waktu bernafas dan langsung berlari menyerang.
Tombak dan pedang beradu dalam jarak dekat dengan kecepatan tinggi, membuat percikan api.
Orang-orang yang menonton pertarungan mereka, membuka mulut karena kagum. Gerakan Alucard dan Silvana yang begitu cepat membuat tidak sedikit orang yang tidak bisa melihat pergerakan mereka, hanya bisa melihat percikan apa di berbagai tempat di atas arena.
“Kau sudah menjadi lebih baik Alucard, tapi keterampilan mu dalam bertarung masih kurang!” Silvana mengentakkan mata tombaknya ke depan.
Aliran gelombang angin meluncur keluar. Alucard menebaskan pedangnya ke tanah, mengeluarkan gelombang petir ganas.
Kedua serangan itu berbenturan menyebabkan ledakan keras.
“Gaya teknik tidak teratur memang merupakan cara ku bertarung, bukan karena keterampilan ku yang kurang,” Alucard melesat ke depan setelah melapisi kakinya dengan elemen petir.
Seketika Alucard berada di depan Silvana. Gadis itu dengan cepat memasang kuda-kuda, menahan tebasan pedang Alucard.
Silvana terpukul mundur. Alucard melihat kesempatan, bergerak cepat hingga ia berada di belakang Silvana.
Silvana sudah menyadari hal itu, beberapa gelang yang melingkari tombaknya keluar, membentuk lingkaran di sekelilingnya hingga kubah pelindung tercipta.
Tebasan Alucard akhirnya hanya mengenai kubah pelindung itu, membuat pedangnya memantul. Alucard segera melompat mengambil jarak.
__ADS_1