
Masih di tempat yang sama, di belakang kelas Elin dan Ica nampak sama-sama terdiam mungkin sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebelum sedetik kemudian sebuah suara membuyarkan keheningan mereka.
"Ternyata kamu di sini Elin?" terdengar suara yang ternyata berasal dari mulut Reyhan yang datang tiba-tiba mengejutkan Elin dan juga Ica.
"Aku nyariin kamu dari tadi, gak taunya di sini." Sambung Reyhan menatap Elin yang diam tidak memberi tanggapan.
Elin tersenyum dan berkata, "ada apa mencariku?"
"Pulang sekolah tungguin aku, ada yang mau aku omongin ke kamu," kata Reyhan.
"Mau ngomong apa kamu? ngomong aja sekarang gak harus nunggu waktu balik kan?" tanya Elin yang tidak bisa menahan rasa penasaran dalam dirinya.
"Nanti aja, waktu istirahat akan berakhir. Aku rasa waktunya tidak akan cukup kalau aku ngomongnya sekarang," jelas Reyhan yang terus menatap mata Elin.
"Baiklah," kata Elin dengan mengalihkan pandangan, merasa malu terus di tatap seperti itu, yang membuat Elin salah tingkah karenanya.
Ica yang sedari tadi merasa tidak di anggap akhirnya mulai bersuara "Keterlaluan kalian berdua, aku di kacangin," ucap ica dengan wajah yang di buat pura-pura kesal.
"Heh, Rey. Aku sedari tadi di sini, aku gak di ajak ngomong juga? cuma Ica aja nih yang di ajak ngomong?" Ica melayangkan protes tak terima
"Aku dah keseringan ngomong sama kamu, bosen aku," ucap Reyhan sambil tertawa kecil menanggapi perkataan Ica
"Aku lagi ada perlu ngomong berdua sama Elin," perkataan Reyhan mengundang rasa curiga Ica, dia menatap Reyhan penuh selidik.
"Kenapa liatin aku begitu?" tanya Reyhan yang tidak suka melihat Ica memandangnya dengan curiga.
"Kamu mencurigakan, gak biasanya ngajak ngomong Elin. Tiba-tiba sekarang pengen ngomong sama Elin dan itu hanya berdua, gimana gak mencurigakan?" Ica mengungkapkan semua yang ada di benaknya.
"Gak usak mikir macam-macam," kata Reyhan dengan menatap tajam Ica.
"Jangan lupa Lin," lanjut Reyhan memandang Elin sebelum meninggalkan tempat itu.
Reyhan meninggalkan Ica dan Elin menuju ke kelas.
__ADS_1
"Eh Lin, kamu lagi PDKT ya sama Reyhan?" tanya Ica menatap mata Elin
"PDKT?" ucap Elin tak percaya, merasa tidak mungkin akan hal itu terjadi.
"Di tanya malah balik nanya, kamu beneran PDKT sama Reyhan? jawab Elin!" desak Ica yang mulai tidak sabar.
"Gak," jawab Elin singkat
"Itu Reyhan ngajak ngomong berdua, apa coba kalo bukan pendekatan namanya, apa dia mau nembak kamu ya Lin?" cerocos Ica yang berhasil membuat Elin tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk uhuk uhuk," Elin yang terkejut tersedak ludahnya sendiri.
perkataan Ica mengingatkan kejadian beberapa hari lalu saat Reyhan memintanya untuk menjadi pacarnya. Pernyataan itu sampai saat ini masih menggantung dengan tidak adanya pembahasan lebih lanjut dari Reyhan. Setelah kejadian itu Reyhan tidak lagi menanyakan perihal itu bahkan Elin merasa Reyhan bersikap biasa saja seolah itu tidak pernah terjadi.
"Itu gak mungkin Ca, dia sudah punya pacar, semua tau itu," Elin menyangkal prasangka Ica
"Iya juga sih," kata Ica, "tapi aku penasaran apa yang mau dia omongin ke kamu ya?"sambung Ica.
"Aku juga gak tau," ucap Elin polos .
Mereka berdua meninggalkan tempat itu berjalan menuju kelas masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 12.00 siang, waktunya siswa-siswi pulang sekolah.
Elin tampak sedang menyusun buku di atas meja, dan memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya. Sesuai janjinya dengan Reyhan, Elin duduk di kelas menunggu kedatangan Reyhan.
Tidak lama terlihat Reyhan memasuki kelas Elin, dia tersenyum manis menatap lembut ke arah Elin.
"Maaf membuatmu menunggu," Reyhan merasa bersalah karena sedikit terlambat.
"Aku terlambat menyelesaikan tugas jam pelajaran terakhir, membuatku keluar kelas paling akhir," jelas Reyhan merasa bersalah
"Gak apa-apa Reyhan, aku nunggu juga gak lama," kata Elin menunduk tidak berani menatap mata Reyhan yang terus menatap matanya.
__ADS_1
"Kamu mau ngomong apa Rey?" tanya Elin. Elin merasa tidak nyaman dalam keadaan mereka berdekatan dan Reyhan selalu menatap ke dalam matanya.
Reyhan tersenyum penuh arti, "kita ngobrol nya sambil jalan pulang aja, kalo ngobrol di sini bisa-bisa kita terkunci pak satpam," Reyhan melihat ke luar kelas yang mulai sepi tampaknya anak-anak semua sudah pulang, sudah pasti gerbang sekolah akan di kunci dan mereka masih di sini.
"Ayo Elin! di luar sudah sepi sebentar lagi gerbang sekolah akan di kunci," Reyhan memegang dan menarik tangan Elin berjalan keluar kelas.
"Ah, iya." Elin merasa dikejutkan dengan perlakuan manis Reyhan, hatinya senang layaknya seorang gadis yang di pegang oleh Sang kekasih, hatinya berbunga-bunga.
Mereka berdua melangkah beriringan dengan tangan Reyhan terus memegang tangan Elin.
"Apa Reyhan lupa tangannya masih memegang tanganku," Elin merasa heran Reyhan tidak juga melepas pegangannya.
"Reyhan tanganmu kenapa masih memegang tanganku?" tanya Elin dengan wajah polosnya.
Reyhan tersenyum, "Gak boleh ya, aku pegang tanganmu begini?" Reyhan berkata sambil mengangkat tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Elin.
Elin gelagapan karenanya, sedetik kemudian dia berkata, "aku bukan anak kecil yang harus di tuntun," ucap Elin.
"Dengan begini kita bisa jalan beriringan, kalo aku lepas nanti kamu ketinggalan. Gak bisa ngobrol kita," kata Reyhan.
"Langkahku panjang jadi lebih cepat dari kamu, sedangkan kamu pake rok gitu mana bisa kamu ngimbangi jalanku. Jadi biar aku yang ngimbangi jalanmu." Sambung Reyhan
Mereka melanjutkan perjalanan. Terdiam sesaat, sedetik kemudian Reyhan memecah kesunyian diantara mereka.
"Hem, aku minta maaf untuk kejadian tadi pagi, karena menertawakanmu," setelah cukup siap akhirnya Reyhan mengungkapkan maksudnya mengajak Elin jalan pulang bersama. Ya, Reyhan merencanakan meminta maaf kepada Elin di waktu pulang sekolah seperti saat ini.
"Kenapa minta maaf, kamu gak berbuat salah apapun ke aku," Elin menyangkal. Dia merasa Reyhan mengetahui suasana hatinya saat pagi tadi dan dia berusaha menutupinya.
"Aku ngerasa candaanku berlebihan, mungkin kamu tersinggung. Kamu meninggalkan aku begitu saja," Reyhan menghentikan langkahnya ia menatap Elin dengan wajah bersalah.
"Gak apa-apa Rey, aku hanya tidak biasa bercanda, tidak tau harus menanggapimu seperti apa. Akhirnya aku memilih pergi," ucap Elin berbohong, tapi tidak sepenuhnya berbohong karena memang itu salah satu alasannya.
"Ternyata kamu orangnya terlalu serius, aku tidak tau itu," ucap Reyhan jujur
__ADS_1
"Selain serius kamu juga terlalu jujur," Reyhan tertawa kecil
"Kamu lucu." kata Reyhan tersenyum dengan pendangan terus ke depan.