
Di bawah terik matahari tampak Elin berjalan dengan senyum menghiasi wajahnya, terlihat jelas dia sedang bahagia.
"Benarkah Reyhan punya perasaan yang sama denganku?" batin Elin. Pikirannya tak pernah hilang dari kejadian di sekolah tadi saat Reyhan memintanya untuk jadi pacarnya.
"Semua seperti mimpi." Elin tersenyum namun senyum itu mulai surut
"Tapi tidak mungkin, jika dia punya perasaan yang sama, tidak mungkin dia bersikap acuh padaku selama ini?" Elin teringat sikap Reyhan yang akan bersikap seperti teman bila butuh, jika tidak butuh bersikap acuh.
"Tidak. Aku tidak boleh berharap. Dia tidak mungkin tertarik padaku." Elin meyakinkan diri agar tidak kecewa. Dia yakin Reyhan cowok tampan terkenal playboy di sekolah itu tidak akan mungkin mempunyai perasaan kepadanya.
"Apa tujuannya memintaku untuk menjadi pacarnya?" Elin masih bertanya tanya.
"Pasti hanya candaan. Ya.. itu hanya candaan." Batin Elin
Pikiran yang sedari tadi fokus pada kejadian di sekolah tadi membuat Elin tidak menyadari langkahnya telah sampai di halaman depan rumahnya.
Baru saja langkah kaki Elin memasuki pintu rumah, dia mendengar suara keributan dari dalam rumah. Elin terkejut. Merasa ada keributan Elin mempercepat langkahnya.
Semakin dekat Elin berjalan ke arah keributan, Elin bisa menangkap apa yang sedang terjadi, dia tidak melanjutkan langkahnya. Dia berhenti tepat di balik pintu ruangan tengah.
Di tempat Elin berdiri samar-samar Elin mendengar suara jeritan amarah emak. Benar dugaannya, iya benar. Emak dan abah bertengkar.
"Mana tanggung jawabmu!!"
"Mana uang belanjaku!! Pernahkah kau memberiku uang belanja!! tidak pernah kan!!"
"Kalau bukan karena perbuatanmu tidak mungkin hidupku susah seperti sekarang ini!!"
__ADS_1
"kembalikan emasku!!" Ceraikan aku, bosan aku hidup dengan mu!!"
Suara itu terdengar jelas di telinganya, benar-benar jelas. Elin melihat jelas wajah murka emak. Emak yang emosi mengatakan semua itu dengan berapi-api dan nada tinggi. Tidak ada rasa hormat lagi dalam diri emak untuk abah saat ini. Apa ini? apa penyebab mak murka kali ini?
Elin tidak terkejut, memang ini sering terjadi. Pertengkaran ini memang sudah biasa terlihat. Di kala emak tidak sependapat dengan abah, setiap bertengkar selalu kata-kata kasar seperti itu keluar dari mulut emak, emak tidak seperti emak yang Elin tahu.
Entah apa kesalahan abah kali ini yang membuat emak kembali murka. Setelah beberapa hari dalam kedamaian, pertengkaran ini terjadi lagi... lagi.... dan lagi. Bukan, bukan pertengkaran lebih tepatnya keributan. Ya, keributan yang di ciptakan emak sendiri. Karena di sini abah sama sekali tidak menjawab setiap kata-kata kasar itu terlontar dari mulut emak, abah hanya diam tertunduk.
Pertengkaran akan terjadi jika kedua belah pihak sama-sama tak mau kalah, tapi ini bukan pertengkaran, ini adalah keributan. Keributan yang di dasari rasa amarah emak terhadap abah. Emak yang ribut-ribut, tapi abah hanya diam tertunduk. Elin menyimpulkan emak lah yang mencari keributan, begitu pikirnya.
Terus di tempat tidak berniat melanjutkan langkah, Elin terus mengintip dari pintu. Sedetik kemudian emak terlihat menangis, emak menangis mulutnya meracau. Iya benar, emak menangis dan terus meracau tak jelas.
Tangis itu semakin dalam, jelas sekali tangisan kepedihan, penyesalan, amarah terlihat di mata itu. Elin tak bisa menahan sesak di dada, hatinya sakit melihat pemandangan di depan matanya ini. Ibunya menangis pilu, sementara abah tertunduk.
Perih. Tidak cukupkah penderitaan ini? kenapa hidup yang susah ini harus di tambah dengan pertengkaran yang membuat hidup mereka semakin menyedihkan.
"Hidup yang menyedihkan." ucap Elin.
Sedetik kemudian air mata turun dari mata itu, air matanya terus meluncur begitu saja, bersamaan dadanya terasa sesak, amat sesak.
Dia menangis, perasaannya hancur, tidak bisa menerima kenyataan. Dua orang yang disayanginya bertengkar lagi... dan lagi...
Elin terduduk masih dengan tangisan.
"Tidak cukupkah ekonomi sulit yang jadi bebanku, Tuhan tolong jangan tambah bebanku," batin Elin
"Aku sanggup jika hidupku susah, tapi aku tidak sanggup melihat orang tuaku bertengkar terus."
__ADS_1
"Tolong Tuhan damaikan orang tuaku, kasihanilah mereka yang telah susah menanggung beban kehidupan." Doa Elin di dalam tangisnya.
Di dalam hati Elin mengucapkan banyak doa, meminta ketenangan dari Sang pemilik hidup ini, hanya itu yang bisa dia lakukan. Berharap kepada yang memberi kehidupan.
Meski berdoa banyak tidak membuat tangisnya reda, air matanya turun. Terus mengalir deras menggambarkan kesedihan yang menyesakkan, matanya terpejam dan hatinya hancur.
Masih dalam tangisan Elin berjalan menuju kamarnya, setiba di kamar Elin berganti pakaian sambil sesekali menarik napas berusaha menenangkan diri. Tidak mudah baginya menekan rasa sakit ini, berusaha susah payah menahan air mata yang akan kembali keluar. Nyatanya, air mata itu kembali menggenang jatuh mengalir deras.
Selang beberapa menit terdengar panggilan dari emak.
"Elin ngapain kamu di kamar, cepetan sana masak." Emak berkata dengan nada tinggi terdengar serak dan berat, jelas sekali terdengar habis menangis.
"Iya Mak, tunggu sebentar." Dengan cepat Elin menghapus air matanya dan buru-buru berjalan menuju keluar kamar.
"Tidak perlu mesti di ingatkan lagi kamu itu Lin, kamu itu sudah besar. Seharusnya sudah paham apa yang harus kamu kerjakan." Emak berkata dengan nada sedikit tinggi terdengar masih menyimpan amarah.
"Iya mak, maaf." Elin menjawab cepat, tidak mau menambah masalah.
Setelah berkata begitu Elin melanjutkan langkahnya menuju dapur, hal pertama yang akan di lakukan Elin memasak. Tidak butuh waktu lama, nasi sudah terhidang di atas meja makan. Hanya nasi putih.
Nasi putih tanpa lauk ataupun sayur, karna tidak adanya bahan makanan lain yang bisa buat lauk makan nasi. Dalam keadaan ini Elin tidak berani menanyakan uang belanja.
Sudah biasa dalam keadaan emosi begini, emak tidak akan memberi uang belanja buat lauk makan.
Kalau kata Emak 'nanti abah kamu keenakan di kasih makan, biarin aja dia makan nasi putih aja' terdengar kejam bukan? ntahlah. Elin tak habis pikir di usia abah yang sudah tua begini kenapa mak bisa sekejam itu pada abah?
Itu hanya berlaku saat mak dalam keadaan marah saja, beliau terlihat kejam di kala marah. Terlihat kebencian, kemarahan di mata itu. Entah... dosa apa abah, sehingga emak bisa semurka itu.
__ADS_1
Namun jika sedang tidak bertengkar mak akan kembali bersikap baik layaknya seorang istri.
Elin masih terdiam berdiri bersandar di tepi meja makan, matanya menatap kosong nasi putih di atas meja. Makin lama makin terlihat jelas kilatan di matanya, kilatan itu mennggenang di ujung mata dan akhirnya air mata itu kembali jatuh mengalir membasahi pipinya. Lagi... lagi... dia tak mampu menahan air mata itu.