The Poor Girl

The Poor Girl
Aku Akan Merindukanmu


__ADS_3

Elin tengah serius menyapu halaman belakang saat Imam datang menghampirinya. Dia tidak menyadari kehadiran Imam yang cukup lama memperhatikannya. Imam tau Elin tidak mengetahui kehadirannya, dia berdehem.


mendengar suara deheman Elin berbalik mendapati Imam tengah tersenyum padanya, Elin membalas dengan senyuman berjalan menghampiri Imam yang tengah duduk di bangku panjang di bawah pohon Seri yang ada di dekatnya.


"Serius sekali, sampai tidak tahu aku di sini?" ledek Imam setelah Elin mendekat.


"Kau tidak bersuara, bagaimana aku bisa tahu?" jawab Elin


Imam terkekeh, "kau terlalu serius bekerja." Imam mengacak rambut Elin.


"Hentikan, rambutku jadi berantakan." Elin merengut


Imam tertawa, menurunkan tangannya dari kepala Elin. Tawanya terhenti berubah menjadi sendu, dia sedang berpikir cara menyampaikan sesuatu yang akan dia katakan. Elin heran dengan perubahan secara tiba-tiba di wajah Imam. Kenapa dia?


"Ada apa?" tanya Elin heran


Imam menarik napas dalam-dalam, berat baginya mengatakan apa yang akan dia sampaikan.


"Katakanlah apa yang ingin kau katakan." Ucap Elin seakan tau apa yang ada di benak Imam.


Imam menatap sendu Elin, "aku akan ke Jakarta, melanjutkan pendidikan di sana." Ucap Imam pelan.


"Aku akan kembali tinggal dengan orang tuaku." Suara Imam tertahan bersamaan dengan sesak yang dia rasakan.


Imam meraih tangan Elin dan menggenggamnya, Elin sedikit terkejut mendapat perlakuan itu. Imam menatap sendu Elin. Mereka saling menatap dalam diam, Elin canggung dengan keadaan saat ini, dia mengalihkan pandangannya menutupi perasaan yang tak menentu.


"Maafkan aku tidak bisa menepati kata-kataku." Ucap Imam merasa bersalah


"Percayalah, aku pergi untukmu, untuk masa depanmu. Aku akan meraih masa depanku untuk masa depanmu, Elin."


Imam menarik napas dalam, "aku menyukaimu,"


"Bukan, bukan hanya suka. Aku bahkan mencintaimu, Elin. Sejak lama aku menyimpan perasaan padamu, namun aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Sekarang aku tidak bisa menahannya lagi, aku ingin kamu tahu.


Sebelum aku pergi, aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu ada meski kita berjauhan.


Aku akan datang suatu hari nanti, aku akan menjemputmu membawamu pergi untuk bersama hidup denganku.


Mungkin ini terdengar gila. Tapi ini yang aku inginkan. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku nanti. Kamu perempuan yang mampu merubah hidupku. Kamu membuatku semangat untuk meraih masa depanku. Kamu perempuan yang baik, kuat, sabar. Aku ingin kamu menungguku.


Aku akan kembali setelah berhasil, aku akan datang untukmu." Semua isi hatinya Imam tumpahkan saat itu juga.

__ADS_1


Elin terdiam, tercengang mendapati Imam menyimpan rasa untuknya. Imam yang usil berubah serius kali ini di hadapannya, tidak tampak candaan di wajahnya seperti biasa. Elin mengerjap mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Imam.


Dia paham. Ada perasaan senang saat dia tahu ada seseorang yang menyayanginya, menyukainya seperti ini. Sangat jelas terlihat ada cinta dalam mata itu saat Imam mengungkapkan perasaannya pada Elin, suara itu menunjukkan rasa yang terdalam. Dia yakin Imam tidak main-main dengan ucapannya, dia terharu.


Imam terlihat berkaca-kaca dengan wajah sendunya menatap ke dalam mata Elin. Ingin dia merengkuhnya membawa ke dalam pelukannya namun dia tidak melakukannya karena bisa saja Elin tidak suka dengan perlakuannya.


"Aku tidak menuntutmu untuk membalas cintaku saat ini, aku tahu ini sangat mengejutkan bagimu. Aku berharap kamu tetaplah jadi Elin yang kuat selama aku tidak ada. Bersabarlah, aku yakin kamu bisa melewati masalah apapun itu.


Aku mohon jangan menangis lagi, berusahalah untuk bahagia. Aku akan senang jika kau bahagia, jangan pernah bersedih lagi." Imam berucap dengan lembut


"Satu hal yang harus kamu pahami, aku pergi untuk kembali. Aku pergi untukmu dan masa depanmu. Tunggu aku." Imam kembali meyakinkan Elin.


Elin tersanjung. Hatinya menghangat mendengar pengakuan Imam. Tanpa sadar Elin mengangguk samar.


"Aku mengerti, terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah memperhatikan. Terima kasih sudah mencintaiku, memikirkan masa depanku." Tampak air mata mengalir dari sudut mata Elin saat dia mengucapkan kata itu.


"Aku bahagia setelah tahu seseorang benar-benar memikirkan kehidupanku, aku merasa tidak sendiri lagi." Sambungnya.


Imam mengusap air mata Elin, " jangan menangis, hatiku sakit setiap melihatmu menangis begini." Ucap Imam


"Aku terharu, ini tangis bahagia setelah tahu seseorang begitu mencintaiku. Selama ini aku pikir aku tidak cantik untuk di sukai seorang laki-laki. Aku merasa tidak ada seorang pun tertarik padaku." Kata Elin


"Kamu istimewa, Elin. Kamu berbeda dengan perempuan lain. Itu yang membuatku menyukaimu." Ucap Imam.


"Lusa, aku sudah melewati ujian akhir hanya menunggu pengumuman kelulusan saja. Sambil menunggu aku akan mengurus pendaftran SMA di Jakarta. Do'akan aku agar di permudahkan." Jawab Imam


"Pasti aku doakan. Baik-baik di sana, salam untuk orang tuamu." Ucap Elin


"Akan aku sampaikan. Apa kamu punya ponsel?" tanya Imam


Elin menggeleng pelan yang membuat Imam mendesah.


"Bagaimana aku tahu kabarmu jika begini?" Lirih Imam


"Kamu bisa menghubungi nenekmu jika ingin tahu kabarku. Bukankah orang tuamu selalu menghubungi nenekmu? kau bisa melakukan itu nanti." Timpal Elin


"Iya kamu benar, nanti jika aku meminta nenek memberi teleponnya padamu, kamu terima ya." Pinta imam


"Iya." Ucap Elin.


"Aku ingin peluk kamu, bolehkah?" tanya Imam hati-hati tidak ingin Elin tersinggung.

__ADS_1


Elin mengangguk. Dengan cepat Imam merengkuh Elin ke dalam pelukannya, pelukan yang sejak lama ingin dia lakukan saat Elin tengah menangis sedih sendiri. Dia yang sejak lama dalam diam memperhatikan Elin, dia yang sejak lama mencintai Elin kini berhasil mengungkapkan isi hatinya dan memeluk perempuan yang dia cintai.


Pagi hari tepat setelah dua hari Imam mengungkapkan perasaannya tampak Imam tengah berdiri di depan pintu rumah Elin. Dia mengetuk pintu itu, tidak lama pintu terbuka dengan kemunculan Elin di depannya. Imam mengembangkan senyumnya berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Selamat pagi cantik." Ucap Imam.


Seketika wajah Elin memerah mendengar pujian itu, Imam membuatnya malu.


"Selamat pagi." Elin balik menyapa dengan senyuman


"Aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik." Ucap Imam.


"Kau pergi sepagi ini? dengan siapa?" tanya Elin


"Boleh aku masuk?" Pinta Imam


"Maaf aku pikir kau terburu-buru, jadi tidak aku persilahkan masuk." Jawab Elin merasa tidak enak.


"Masuklah." Sambungnya


Imam masuk berjalan mendekati tempat duduk, namun tidak segera duduk. Tangannya melambai meminta Elin untuk mendekat. Dia tidak bersuara, tenggorokannya tercekat mendadak kering, dadanya sesak, matanya panas terlihat berkaca-kaca dengan kilatan jelas di mata itu.


Elin mendekat, dia terkejut saat Imam menarik dan memeluknya erat. Imam tidak peduli jika emak dan abah melihatnya, dia tidak bisa menahan diri untuk menumpahkan perasaannya. Dalam-dalam dia simpan momen ini di benaknya, dia ingin mengenang saat ini jika dia merindukan cinta pertamanya itu.


Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu. Berpelukan dalam diam. kemudian Elin melepaskan pelukannya yang di ikuti dengan Imam. Imam sedikit membungkuk menatap wajah yang akan dia rindukan ini nantinya. Lama dia menatap Elin menyimpan wajah itu di memorinya.


"Aku akan merindukanmu." Ucap Imam mengelus lembut rambut Elin


"Bisa kita foto bersama?" tanya Imam merogoh saku celananya dan meraih ponselnya.


Elin mengangguk. Imam mengambil gambar mereka berdua dengan senyum yang terlihat di paksakan. Momen ini sebenarnya tidak tepat untuk mengambil gambar mereka berdua yang terlihat wajah sedih di keduanya namun Imam tidak ada kesempatan lain. Ini waktu terakhirnya untuk menyimpan wajah gadis yang di cintainya itu di ponselnya. Belum ada satu foto pun yang dia miliki.


"Ini nomor ponselku, jika kau punya ponsel tolong hubungi aku." Pinta Imam dengan suara tercekat sembari menyodorkan kertas bertuliskan beberapa angka.


"Aku ingin jadi orang pertama yang kamu hubungi setelah kamu mempunyai ponsel." Ucap Imam dengan suara berat terdengar serak.


Imam sudah tidak mampu membendung perasaannya, air mata itu akan kembali jatuh, buru-buru Imam mengucap pamit tidak ingin Elin mengetahui rapuhnya dia.


"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Salam untuk abah dan emak." Ucap Imam berlalu meninggalkan Elin.


Imam melangkah keluar rumah bersamaan air mata mengalir di ujung matanya. Dia melangkah tanpa menengok ke belakang. Jika dia menengok ke belakang dia tidak akan mampu untuk pergi, dia akan lemah jika melihat kembali wajah Elin. Dia tidak menyadari di belakangnya Elin tengah terpaku menatap punggungnya dengan uraian air mata.

__ADS_1


Elin tidak mampu menahan tangis saat mengetahui orang yang paling peduli padanya pergi meninggalkannya. Tidak ada lagi pelipur laranya, tidak ada yang akan mendengar keluh kesahnya. Dia sudah pergi.


__ADS_2