The Poor Girl

The Poor Girl
Kita Berteman


__ADS_3

Kebersamaan Elin dan Reyhan sudah harus terpisah, Reyhan dan Elin sudah berada di depan gang rumah Reyhan, yang itu artinya Elin akan melanjutkan langkahnya berjalan sendirian.


"Maaf ya Lin, aku gak bisa antar kamu," ucap Reyhan dengan wajah bersalah.


"Gak apa-apa Rey, aku sudah biasa sendiri," Elin merasa Reyhan berlebihan.


"Lagian rumahku sudah dekat," lanjut Elin


"Aku gak enak tadi kita jalan bareng, harus berakhir dengan aku yang meninggalkanmu," Reyhan merasa bersalah tidak bisa mengantar Elin sampai rumah.


"Mampir dulu yuk ke rumahku," ajak Reyhan. Setelah lama berpikir hal apakah yang bisa menebus rasa bersalahnya.


"Kamu pasti haus, cuaca panas begini di tambah perjalanan kita tadi lumayan bikin tenggorokan kering." Reyhan membujuk Elin yang sangat terlihat dari raut wajahnya kalau dia keberatan.


"Gak Rey, aku mau langsung balik aja lagian gak jauh lagi," Elin menolak


"Ayo lah Lin sebentar aja," ajak Reyhan sedikit memaksa. Reyhan menggenggam tangan Elin dan menariknya berjalan menuju rumah Reyhan.


Kini mereka berdua duduk di teras.


"Aku masuk mau ambil minuman dulu Lin, kamu ku tinggal bentar gak apa kan?" Reyhan tidak mungkin membawa Elin masuk rumah, karena di rumah tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Maaf gak bisa ngajak kamu masuk, di rumah gak ada orang," terang Reyhan.


"Iya aku ngerti," ucap Elin


"Tunggu bentar ya Lin." Kata Reyhan sembari berjalan menuju pintu masuk.


Tidak menunggu lama Reyhan kembali dengan membawa nampan berisi minuman dingin dan 2 toples kue.


"Ini Lin ayo diminum," ucap Reyhan, "gak ada apa-apa Lin, cuma ada ini aja," ucap Reyhan terdengar seperti basa basi.


"Maksih Rey, ini sudah cukup. Bahkan berlebihan," kata Elin,


"Maaf merepotkanmu," Elin merasa tidak enak.


"Ini tidak berlebihan dan ini juga tidak merepotkan aku sama sekali Elin," jawab Reyhan tersenyum manis menatap Elin dengan lembut, tatapan yang selalu membuat Elin selalu salah mengartikannya.


"Tolong jangan begini jangan membuat aku salah mengartikan sikap manismu ini," batin Elin berbisik.


"Kenapa kau bersikap seolah-olah kau memberiku harapan?" batin Elin. Elin masih diam dengan segala pikirannya.

__ADS_1


"Elin ayo di minum," Reyhan yang sedari tadi melihat Elin tidak bergerak mengambil minum, kambali menawarkan minum untuk Elin.


"Eh, iya Rey." Elin segera meraih gelas yang di sodorkan Reyhan kearahnya.


"Segernya, berasa gak minum seharian aku Lin," ucap Reyhan, "cuaca panas begini kamu masih kuat aja," sambung Reyhan


"By the Way, lulus sekolah mau lanjut kemana?" tanya Reyhan


"Belum tau," jawab Elin singkat. Reyhan mengernyit heran mendengar perkataan Elin.


"Belum tau? kenapa?" tanya Reyhan penasaran


"Aku masih bingung, belum bisa memilih karena tidak tau SMA yang terbaik," jawab Elin apa adanya


"Di sini hanya ada 2 SMA negeri, ku rasa keduanya sama-sama bagus,"


"Kamu lebih tertarik SMA yang mana? pilih sesuai keinginanmu." Lanjut Reyhan


"Aku belum bisa memilih, aku ingin fokus menghadapi ujian nasional terlebih dahulu," jelas Elin


"Kamu sendiri akan lanjut ke SMA mana?" Elin berkata penuh semangat. Ini yang dia tunggu- tunggu, mengetahui kelanjutan sekolah Sang idola.


"Aku pengen lanjut sekolah di luar kota, aku akan lanjut ke SMK Bakti Ibu jurusan otomotif," jawab Reyhan


"Ini cita-citaku dari dulu, aku berharap dari sana aku bisa memulai semuanya," Reyhan berkata wajahnya menerawang jauh terbayang saat itu terjadi saat di mana ia mampu meraih impiannya.


"Semoga cita-citamu berhasil," ucap Elin mendoakan


"Amiiin...." Reyhan mengamini doa Elin


"Aku sudah cerita tentang cita-citaku, bisakah kamu menceritakan apa yang menjadi cita-citamu," Reyhan menoleh ke arah Elin siap mendengarkan cerita Elin.


"Cita-citaku ingin menjadi guru," ucap Elin.


Dia mengatakan dengan sedikit ragu, karena dia sendiri masih belum bisa memahami cita-citanya. Keadaan orang tuanya yang serba kekurangan membuat Elin tidak pernah memikirkan cita-cita, baginya mustahil meraih cita dalam keadaan serba kekurangan. Pikiran yang realistis.


"Perkataanmu penuh keraguan," ucap Reyhan yang bisa melihat jelas keraguan di wajah Elin.


"Aku tidak tau apa cita-citaku, yang aku tau cita-citaku membahagiakan kedua orang tuaku, bagiku kebahagiaan mereka adalah cita-citaku," jawab Elin yang terdengar ambigu.


"Itu sudah pasti. Keinginan seorang anak melihat orang tua bahagia, itu pasti Elin. Di sini aku mau tanya keinginanmu sendiri akan masa depanmu?" perkataan Reyhan terdengar bijak.

__ADS_1


"Tadikan sudah aku jawab," ucap Elin


" Iya tapi tidak meyakinkan," ucap Reyhan, "tapi semoga tercapai," sambung Reyhan


" Di makan kuenya Lin," merasa camilan kue belum tersentuh Reyhan membuka toples dan menyodorkan ke arah Elin.


Elin mengambil kue tersebut dan memakannya, meski malu ia tetap memakan kue pemberian Reyhan.


"Orang tuamu mana Rey?" tanya Elin setelah kue benar-benar tertelan habis.


"Mama dan papa lagi di toko, biasanya pulang sore," jelas Reyhan


"Oh..," hanya itu yang keluar dari mulut Elin.


Merasa hari semakin siang, Elin pamit pulang.


"Aku mau pulang Rey, nanti orang tuaku cemas," pamit Elin yang baru tersadar ia telah lama di rumah Rey.


"Aku antar naek motor ya," kata Reyhan.


"Gak usah Rey, udah dekat juga," tolak Elin lembut


"Yakin gak mau di anter cowok ganteng, rugi Lin nolak ajakanku," canda Reyhan kembali kumat keusilannya menggoda Elin.


Wajah Elin memerah malu, dia memalingkan wajahnya dari Reyhan, "becanda Lin," ucap Reyhan yang menyadari Elin tidak bisa di ajak bercanda


"Aku pulang Rey, makasih minuman dan kuenya," kata Elin.


"Iya sama-sama," balas Reyhan.


"Senang bisa mengenalmu lebih dekat, aku harap setelah ini kita berteman," ucap Reyhan menatap mata Elin


Dahi Elin mengernyit heran mendengar perkataan Reyhan. "Bukankah kita memang berteman," kata Elin, "kita tidak dalam bermusuhan" sambung Elin


"Tidak ada teman menjauhi temannya, tidak ada pertemanan saling menjauh. Pertemanan tidak akan terjalin jika salah satu menjauh atau menjaga jarak." Perkataan Reyhan membuat Elin tertohok, seakan Reyhan tau Elin menjauhinya.


Elin terdiam, lidahnya kelu tak mampu berkata. Dia tidak lagi bisa berpikir setelah mendengar perkataan Reyhan. Ternyata sikapnya selama ini terlihat jelas di mata Reyhan.


" Apa iya Reyhan bisa melihat jelas sikapku yang menjaga jarak?" batin Elin


"Apa kamu mau berteman denganku Elin?" Reyhan berkata dengan mengulurkan tangan seakan ingin berjabat tangan.

__ADS_1


"Iy iya aku mau berteman denganmu," jawab Elin sedikit tergagap berusaha menutupi dengan sedikit tersenyum


"Sudah pasti Reyhan bisa melihat kegugupanku sekarang." Batin Elin


__ADS_2