The Poor Girl

The Poor Girl
Teman Tapi Mesra


__ADS_3

Di hari pertama sekolah Elin sangat antusias dan bersemangat. Dia menjalani MOS selayaknya anak didik baru.


Tidak ada yang istimewa di hari itu, namun wajahnya tampak selalu berbinar terpancar kebahagiaan dari wajah itu.


Saat ini peserta didik baru di kumpulkan di aula, seseorang di sebelah Elin menyapanya.


"Hem, serius amat." Seseorang itu menyenggol bahu Elin.


Elin yang tengah serius meperhatikan senior yang tengah memberi arahan menoleh. Seseorang itu tersenyum dan berbisik.


"Aku Reza, kamu?" tanyanya dengan tersenyum


"Aku Elin," jawab Elin pelan


"Alumni mana?" tanya Reza


"SMP Negeri 1," jawab Elin


"Aku alumni SMP Negeri 2." tutur Reza yang tau Elin akan balik bertanya.


Tidak lama perbincangan mereka terputus karena pembubaran dari panitia.


Tepat hari ini Elin menduduki kelas XI, tidak terasa setahun berlalu tanpa ada yang istimewa di hari-hari Elin. Semua berjalan seperti biasa layaknya pelajar menuntut ilmu.


Tidak ada kisah cinta, tidak ada waktu bermain-main. Dia tetap Elin yang sama, pemalu dan tidak banyak bicara. Masih sama, dia tidak punya banyak teman. Hanya dekat denga beberapa teman saja dan satu sahabat bernama Nina.


Elin sudah duduk di bangku siap untuk menerima pelajaran hari ini.


"Lin, kamu dan Reza pacaran ya?" tanya Nina teman sebangku Elin. Sejak kelas X mereka sekelas, Nina yang mengetahui kedekatan mereka merasa curiga.


Sejak perkenalan singkat di hari itu Elin dan Reza berteman, mereka tidak sekelas namun Reza selalu menghampiri Elin.


"Ngawur, mana mau dia sama aku." Elin merasa tidak cantik untuk di sukai seorang pria tampan seperti Reza.


Reza Dirgantara


Cowok tampan, humoris, supel, suka sok kenal sok dekat pada semua orang. Selalu narsis, percaya diri tingkat akut.

__ADS_1


"Jadi kalian gak pacaran?" tanya Nina belagak bodoh


"Gak Nina, kami hanya berteman," jawab Elin


"Teman tapi mesra," ledek Nina tertawa


"Apaan sih," Elin menanggapi dengan acuh.


Bel berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir, waktunya sekolah bubar.


Semua murid berhamburan keluar kelas.


Elin keluar kelas bersama Nina, mereka akan pulang naik angkot. Tempat tinggal mereka berdekatan karenanya setiap pulang pergi sekolah mereka akan berangkat bersama.


Murid berdesakan saling berebut memasuki angkot, Elin dan Nina berada pada urutan terakhir. Mereka menunggu semua yang ada di depan benar-benar masuk.


Setelah anak-anak yang di depan mereka memasuki angkot, mereka melangkah ingin masuk namun terhenti saat mereka menyadari hanya tersisa satu bangku di dalam.


Elin dan Nina saling pandang, dari sorot mata itu Elin dan Nina meminta pendapat satu sama lain.


"Hanya itu yang tersisa, gimana ini?" tanya Nina yang keberatan untuk naik.


Laki-laki yang mengenakan seragam yang sama dengan Elin itu tersenyum.


Laki-laki itu menatap Elin dan berkata, "Masuklah," dengan tangan terulur mempersilahkan Elin masuk.


Elin tertegun, sedetik kemudian dia melangkah menaiki angkot. Namun terhenti karena jalan masuk terhalang bangku yang ada di tengah pintu.


Laki-laki itu menyadari hal itu, dengan tergesa-gesa dia mengangkat dan memindahkan bangku itu tepat di pinggir pintu angkot sehingga tidak menghalangi jalan.


Laki-laki itu tersenyum menatap Elin dan mempersilahkan Elin masuk dengan tangan terulur. Elin tertegun, mendapat perlakuan manis layaknya seorang putri yang di persilahkan masuk oleh Si pelayan.


Elin merasa ada yang berbeda dengan hatinya saat ini, dia tidak pernah mendapat perlakuan manis seperti ini dari siapapun, seumur hidup ini pertama kali dia merasa di hargai oleh seorang laki-laki. Dia benar-benar tersanjung, bisa dikatakan Elin keGE-ERan.


"Mau masuk gak Lin?" Nina menyenggol lengan Elin yang hanya diam.


Elin sadar, kemudian memasuki angkot dan duduk di bangku bagian dalam. Nina duduk di bangku dekat pintu yang semula di duduki anak laki-laki tadi. Laki-laki tadi tegak berdiri di pintu angkot, tangannya bergalayut di daun pintu angkot. Laki-laki itu memilih berdiri gelantungan di pintu layaknya kenek angkot.

__ADS_1


"Siapa dia? kenapa dia baik sekali?" muncul pertanyaan di benak Elin, dia tidak percaya akan kebaikan dari seseorang yang tidak dia kenal.


Angkot berjalan membawa Elin dan yang lain, tidak lama angkot berhenti di depan gang rumah Elin. Elin turun bersamaan dengan Nina. Setelah turun Elin melempar senyum pada laki-laki bername tag Rico itu.


"Rico." Elin mnyimpan nama itu di benaknya, dia penasaran akan kebaikan yang di lakukan Rico yang tidak dia kenal.


"Lin, ayo jalan," Nina menarik tangan Elin


Elin tersadar dari lamunan, dia beranjak mengikuti langkah Nina.


"Nin, kamu kenal cowok tadi?" tanya Elin penasaran


"Aku gak kenal, namanya aja gak tau," jawab Nina cuek


"Gak kenal, dia kenapa baik sama kita ya?" Elin ingin mendengar tanggapan Nina setelah mendapat perlakuan manis tadi


"Itu wajar, angkot tadi kan penuh, dia laki-laki sudah seharusnya mengalah pada perempuan," jawab Nina acuh


"Aku marasa gak enak hati karena kita dia jadi gelantungan di pintu," Elin merasa bersalah


"lebay!" ketus Nina


"Berhenti bersikap seperti ini, dia yang mengalah, dia yang meminta kita masuk, dia yang berbuat baik bukan kita yang meminta. Jadi berhentilah merasa bersalah," Nina mulai muak dengan sikap Elin yang berulang kali bersikap sungkan ketika mendapat kebaikan.


"Bisakah kau biasa saja, aku bosan mendengarmu selalu merasa gak enak hati. Selalu saja begitu," Nina menghentikan langkah menatap Elin.


Elin diam tidak menanggapi perkataan Nina.


Kini Elin sudah tiba di rumah, menjalankan pekerjaan seperti biasa. Meski sudah duduk di bangku SMA, Elin tetap melakukan pekerjaan yang sama seperti saat dia masih di bangku SMP.


Elin melangkah keluar rumah, dia akan berbelanja bahan untuk di masak, dia melangkah matanya mencari-cari sesuatu yang dia inginkan. Tidak sengaja matanya menangkap sosok yang dia kenal.


Elin menajamkan mata, menatap tak berkedip ke arah sosok yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Memicingkan mata untuk memastikan apa yang tengah dia lihat benar adanya.


Benar, dia benar. Elin melihat Reyhan tengah berbelanja dari satu tempat ke tempat yang lain. Reyhan sedang berbelanja di pasar? dia tidak sungkan berada di pasar untuk belanja sayur bahkan tangannya menenteng semua belanjaan.


Langkah Elin terhenti, matanya terus menatap pergerakan Reyhan. Muncul pertanyaan-pertanyaan di benak Elin. Bukankah dia di luar kota? lalu kenapa dia ada di sini? apa dia sedang libur?

__ADS_1


Elin bertanya-tanya dalam hati dengan terus menatap Reyhan dari kejauhan, sedetik kemudian wajahnya berubah sendu setelah menyadari keberadaan seseorang di samping Reyhan tampak tersenyum manis ke arah Reyhan.


__ADS_2