The Poor Girl

The Poor Girl
Seperti Mimpi


__ADS_3

"Maaf... maaf... aku gak sengaja." Elin meminta maaf tanpa melihat ke arah wajah orang yang dia tabrak, dia hanya fokus mengelus pelan bahu orang yang baru saja di tabraknya. Berharap dengan mengelus bahu itu, orang yang di tabrak tidak marah.


Kepanikannya membuat dia tak sadar bahwa bahu yang di elus sama tingginya dengan kepala Elin, tentu itu pertanda orang tersebut jauh lebih tinggi posturnya.


Sadar orang itu tak kunjung bersuara, Elin mengalihkan pandangan ke wajah si pemilik bahu. Betapa terkejut Elin setelah menyadari wajah orang itu, dia terpaku terdiam mendadak sulit bernapas. Bagaimana tidak, ternyata orang itu laki-laki yang sedang dia hindari, dia Reyhan.


"Ya Allah, aku harus gimana ini." Batin Elin.


Elin bingung akan bersikap seperti apa. "Berusaha menjauh, yang ada malah tabrakan begini," batinnya lagi.


Masih di posisi yang sama terdiam sesaat menanti tanggapan dari Reyhan, namun Reyhan tak kunjung bersuara. Akhirnya Elin mengulang perkataannya.


"Maaf ya Rey, aku gak sengaja." Elin memberanikan diri menatap mata Reyhan, jantungnya terasa berdetak kencang, tangannya saling meremas, itu semua tidak lepas dari pandangan Reyhan.


Reyhan tersentak terlihat seperti baru sadar dari lamunan, "no problem Lin" ucap Reyhan tersenyum.


"Aku baik baik aja, kamu tidak perlu minta maaf seperti itu," ucap Reyhan masih dengan senyumannya. "Itu berlebihan sayang..." Reyhan menggoda Elin.


Deg. Kata kata terakhir yang terucap dari bibir Reyhan mampu membuat Elin tersipu malu, wajahnya menunduk.


Dia berusaha menetralkan perasaan yang melambung agar tak terhempas jauh ke jurang dalam.


Dia meyakinkan dirinya bahwa ini candaan. Ya... ini hanya lelucon.


Sementara Elin masih berkelut dengan perasaannya, berbeda dengan Reyhan terus menatap dalam Elin, dia menunggu tanggapan Elin.


"Ngomong apo kau ni." Akhirnya kata itu terlontar bagitu saja dari mulut Elin. Dia berkata sambil berlalu.


Jika keluar bahasa khas daerah pertanda Elin tak suka. Menunjukkan sikap protes dan tak suka melalui berbahasa. Ya... mereka yang sama-sama paham akan bahasa itu, reflek akan berucap dengan khas bahasa daerah Palembang jika salah satu mereka melayangkan protes atau marah.


Sebelum benar-benar berlalu, Elin merasa tangannya tertahan. Benar saja, ternyata tangannya di tahan Reyhan.


Elin mngerjap bingung, matanya memandang ke arah tangan yang tertahan. "Apa lagi ini, please... jangan seperti ini." Batin Elin


Reyhan yang mendengar kalimat terakhir Elin tak bisa melepas Elin berlalu begitu saja. Dia sudah memperjelas bahwa dia baik baik saja dan Elin tak perlu minta maaf tapi kenapa Elin masih mempertanyakan dan berucap, ngomong apo kau ni.


Reyhan berpikir apa Elin tidak mendengar jelas perkataannya atau mungkin dia tidak bicara dengan jelas.


"Kamu dengar gak tadi aku bicara apa?" Reyhan mengutarakan apa yang jadi pikirannya.

__ADS_1


Elin merasa aneh hal yang jelas sudah pasti bisa di dengar masih di pertanyakan. Kenapa dia?


Berdecak Reyhan mengulang pertanyaannya, "kamu dengar gak?"


"Ah, iya aku dengar." Ucap Elin cepat karena tersadar dari pikirannya.


"Kamu dengar apa?" tanya Reyhan.


"Dengar kamu ngomong." Jawab Elin dengan muka polos nan bingung dengan pertanyaan Reyhan.


"Ck, kau tadi dengar aku ngomong apo Elin?" Reyhan yang mulai kesal berdecak dan kembali bertanya dengan menekan pada kata Elin.


"Yang mana?" Elin yang masih bingung balik bertanya dengan muka polosnya.


"Oh my god. Elin... tadi aku bilang, aku baik-baik saja dan kau tak perlu meminta maaf karena itu berlebihan. Apa kau mendengar semua itu?" terang Reyhan.


"Tentu aku dengar," jawab Elin mantap.


"Jika kau mendengarnya kenapa masih menanyakan kepadaku seperti ini ngomong apo kau ni Reyhan berkata dengan terus menatap mata Elin.


"Jadi dia hanya ingin tau kenapa aku mengucap ngomong apo kau ni. Astaga, dia tak paham rupanya." Batin Elin


Reyhan yang melihat Elin tak kunjung bicara akhirnya kembali berkata, "Hallo " tangan Reyhan melambai di depan wajah Elin.


"Kau sering kali melamun jika bicara denganku, apa kau sadar aku masih di sini, jika ingin melamun nanti ketika kau sendiri." Ucap Reyhan kesal


"Maaf, aku harus ke kelas." Ucap Elin yang ingin menghindari pertanyaan Reyhan.


Dengan cepat Reyhan menarik tangan Elin, "ikut aku!" Reyhan berkata sembari menarik tangan Elin ke arah gedung belakang sekolah.


Elin kaget, dia bertanya akan di bawa kemana dia.


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Elin.


Sesampai di belakang gedung sekolah Reyhan melepas pegangannya dan bertanya.


"Jelaskan padaku maksudmu berkata ngomong apo kau ni ke aku, apa maksudmu?" tanya Reyhan yang berhasil membuat Elin heran akan sikap Reyhan yang berlebihan menanggapi ucapan Elin tadi.


"Hah, ya.. Samman... dio masih betanyo-tanyo tentang ini dari tadi, katik guno." batin Elin

__ADS_1


"Hah, ya... ampun... dia masih bertanya-tanya tentang ini dari tadi, gak penting." batin Elin


"Jadi kau ngajak aku ke sini nak betanyo ini?" tanya Elin dengan wajah heran.


Bagaimana tidak heran, Elin sedari tadi di tahan Reyhan hanya karena ingin menanyakan ucapan Elin yang mengatakan ngomong apo kau ni yang sebenarnya lebih mengarah ke perkataan akhir Reyhan yang menyebutnya sayang yang tentu membuat elin salah tingkah dan keluar kata itu begitu saja.


"Emang penting?" ucap Elin


"Jelaskan!" perintah Reyhan tak sabar.


"Kamu tadi meminta maaf dengan kata akhir menyebut aku 'sayang'." Jelas Elin


"Itu yang membuatku berbicara seperti itu." Sambung Elin


"Jelas aku panggil kamu sayang, kenapa kamu masih tanyakan kalau aku ngomong apa? apa kamu marah aku panggil kamu sayang?" tanya Reyhan menatap dalam mata Elin.


"Kamu tidak suka?" sambung Reyhan


"Aku bukan pacarmu." Kata Elin


"Apakah kamu mau jadi pacarku agar aku bisa menyebut dan memanggilmu sayang?" tanya Reyhan dengan wajah serius, matanya menatap dalam ke bola mata Elin yang sulit diartikan Elin.


Elin tidak bisa menebak apa maksud tatapan itu, tatapan berbeda dari biasa dia menatap Elin. Tatapan seperti mendamba tapi tampak seperti tatapan kasihan... Ya tatapan kasihan. Pasti hanya tatapan kasihan.


Mereka masih saling memandang, sedetik kemudian Reyhan tertawa. Reyhan terus tertawa seakan mengejek Elin yang terperangkap dalam candaan Reyhan.


Elin tersinggung, tersadar dia sedang di permainkan dia berbalik ingin pergi meninggĂ lkan tempat itu tapi tangannya kembali di tarik Reyhan.


"Kamu tidak bisa pergi, aku belum selesai bicara." Ucap Reyhan masih dengan tawanya.


"Kamu kenapa sedari tadi selalu menahanku?" tanya Elin geram.


"Kalau tidak ada yang penting aku akan pergi." Geram Elin


Hati Elin sakit. Cara Reyhan tertawa seolah mengejek Elin seolah-olah dirinya di permainkan di rendahkan karena perasaan dan sikapnya yang mungkin tampak jelas sekarang. Begitu pikirnya.


Reyhan menahan tawanya dan berkata, "kamu mau gak jadi pacarku agar aku bisa menyebut dan memanggilmu sayang." Ucap Reyhan dengan lembut.Tatapannya serius seakan-akan mengutarakan perasaan terdalam.


"Hah, Reyhan nembak aku yang benar saja. Ini seperti mimpi, aku pasti mimpi. Batin Elin

__ADS_1


__ADS_2