The Poor Girl

The Poor Girl
Janji Imam


__ADS_3

Elin tertunduk dengan air mata terus mengalir. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat jeritan tadi yang dia dengar.


Emak dan abahnya kembali bertengkar. Setelah dua hari kemarin baru saja terjadi pertengkaran, dan sekarang pertengkaran itu terulang lagi.


Dia lelah dengan pertengkaran kedua orang tuanya, dia merasa hidupnya semakin tidak berarti.


Hatinya sakit, teramat sakit hingga air mata tak henti mengalir, terus meluncur membasahi pipinya. Dia tidak menyadari di dekatnya berdiri seseorang di sana tampak menatap iba padanya.


Imam sedari tadi mengikuti langkah Elin, saat Elin mengurungkan niatnya masuk ke rumah. Dia terus memperhatikan Elin, ada rasa sakit di hatinya saat dia menyaksikan Elin menangis terisak seperti saat ini.


Imam mengambil posisi duduk di sebelah Elin namun Elin belum menyadari kehadiran Imam di sisinya.


Imam diam menunggu waktu yang tepat untuk membuka suara.


Dari jarak sedekat ini Imam bisa merasakan kesedihan mendalam dari tangisan itu.


Hatinya ikut merasakan kesedihan Elin, matanya nampak berkilat seakan menyimpan bendungan di sana. Dia mendongak, mengerjapkan mata agar air itu tidak menetes.


Suara tangisan Elin mulai mereda, tangannya menyeka air mata yang masih mengalir. Suara tangisannya sudah tidak terdengar, tangannya terus mengusap pipi menghapus air mata yang tersisa.


Elin terlihat sedikit tenang, dia berniat akan bangkit. Saat Elin mengangkat wajahnya, ekor matanya menangkap seseorang berada di sebelahnya.


Elin menengok dan terkejut saat dia mendapati Imam tengah duduk tepat di sebelahnya yang juga tengah menatapnya. Dengan cepat Elin membuang muka dia tidak ingin Imam melihat mata sembabnya.


"Duduklah, aku sudah melihatnya," Imam tau Elin tengah menutupi tangisnya.


Masih berdiri, Elin menoleh mendapati Imam tengah mengangguk. Elin pun duduk kembali ke tempat semula.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Elin tanpa menatap Imam.


"Sejak tadi, saat pertama kau duduk di sini." Jawab Imam


Elin terkesiap dan menoleh menatap Imam.


"Kau melihatku menangis?" tanya Elin

__ADS_1


Imam tersenyum, "aku melihat semuanya," Imam menjeda ucapannya.


"Sejak kau memilih berbalik mengurungkan langkahmu memasuki rumah." Ucap Imam lembut.


Elin melebarkan matanya, dia terkejut.


"Elin, aku ikut prihatin dengan keadaanmu saat ini," ucap Imam lirih


"Aku ikut sedih akan keadaan orang tuamu, aku sedih melihatmu menangis," sambungnya.


"Kau menguping?" tuduh Elin


"Aku tidak menguping, suara teriakan itu terdengar sampai ke kamarku. Aku bisa mendengar semuanya dari kamarku. Aku selalu tau saat orang tuamu bertengkar." Jelas Imam.


"Suara emakmu sangat keras Lin, karena itu aku bisa tau." Sambungnya.


Elin menunduk, dia kembali sedih. Elin sedih masalah orang tuanya diketahui orang lain.


"Kamu yang sabar Elin, kamu yang tabah. Aku yakin kamu bisa melalui semua ini, kamu gadis yang kuat." Imam menatap Elin dengan lembut. Ingin rasanya dia memeluk Elin saat ini. Ingin dia menenangkan Elin namun dia sadar itu akan terlihat tidak sopan.


"Tetaplah menjadi gadis yang kuat. Tetaplah jadi gadis yang sabar. Semua akan berlalu, suatu saat kau akan bahagia." Sambung Imam


"Aku lelah," ucap Elin lemah masih dengan menunduk.


"Aku lelah menyaksikan pertengkaran mereka, aku tidak kuat." Sambung Elin.


Imam menggenggam tangan Elin menyalurkan kekuatan untuknya.


"Kau terlalu banyak menyimpan kesedihan, kau terlalu banyak melalui kepahitan hidup. Terlalu banyak kesulitan yang kau lalui sendiri." Tutur Imam


"Berbagilah. Berbagilah denganku. Bagilah kesedihanmu padaku, ceritakan rasa pahit yang kau rasa. Bagilah kesulitan itu padaku." Sambung Imam dengan lembut.


"Jangan menyimpannya sendiri. Aku siap mendengar keluh kesahmu," sambung Imam mengusap lembut rambut Elin


Elin menarik napas dalam. Pandangannya menatap lurus ke depan. Tatapan kosong jauh menerawang tampak di mata itu.

__ADS_1


"Aku tidak lah kuat seperti yang terlihat. Aku tidak setegar yang kau kira." Suara Elin terdengar serak dan berat


"A..ku ti...dak se...kuat itu." ucap Elin terbata-bata mulai terisak.


Air mata itu kembali meluncur saat ucapan itu keluar mengingatkan rasa perih di hatinya.


"Aku gadis lemah. Aku kuat untuk mereka, untuk menjaga perasaan mereka. Tapi lihatlah, mereka terus saja bertengkar tanpa peduli perasaanku. Berulang kali mereka bertengkar seakan tidak melihatku ada," akhirnya Elin menumpahkan beban di hatinya.


"Aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran mereka. Selalu bertengkar namun tetap bersama. Bersama tapi saling tersiksa. Mereka bersama saling menyakiti. Bahkan aku di sini ikut tersiksa dan tersakiti." Tutur Elin


"Kau tau, aku cukup lelah dengan kehidupan yang sulit. Kenapa harus di tambah lagi dengan pertengkaran ini." Sambungnya


"Aku tidak kuat lagi." Lanjut Elin


Imam menarik wajah Elin, membuat Elin menoleh dan menatapnya.


"Aku di sini, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan siap mendengar setiap kau ingin menumpahkan keluh kesahmu. Kau tidak sendiri, aku bersamamu." Ucap Imam menatap dalam mata Elin.


"Sudah ku katakan, berbagilah. Setiap kau lelah, kau butuh seseorang. Datanglah padaku saat itu, aku akan selalu ada." Tutur Imam lembut.


Imam duduk mendekat memeluk Elin dengan tangan mengusap lengannya. Imam tidak peduli akan tatapan orang yang melihat mereka saat ini. Dia hanya peduli pada Elin, dia ingin Elin tidak merasa sendiri.


Elin sedikit lega setelah mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Terlebih ada seseorang yang peduli padanya, dia merasa sedikit tenang.


Cukup lama mereka duduk berdampingan dengan lengan kiri Imam bertumpu pada pundak belakang Elin dan mengusap bahu kiri Elin.


"Suatu saat aku akan memberimu kebahagiaan. Aku akan menghapus kesedihanmu. Aku akan berjuang keras meraih masa depanku untuk masa depanmu. Aku akan merubah hidupmu Elin. Aku janji!" bisik hati Imam.


Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Imam membayangkan waktu saat di mana Elin lepas dari kesedihan dan bahagia bersamanya.


Ya, Imam memiliki rasa suka pada Elin. Namun dia tidak memiliki keberanian mengungkapkan perasaannya, karena dia merasa Elin selalu mengabaikannya selama ini. Dengan adanya kejadian ini dia bertekad akan menyatakan perasaannya nanti di waktu yang tepat.


Elin sudah sedikit tenang. Dia mengangkat wajahnya yang sejak tadi terus menunduk, Elin menoleh namun tidak berani menatap Imam.


"Terima kasih sudah peduli padaku." Ucap Elin masih dengan wajah muram.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Aku harap kau akan menjaga semua yang kau tau. Aku tidak ingin orang lain tau masalah keluargaku. Cukup hanya kau saja, tolong ini kau simpan baik-baik." Pinta Elin lirih.


"Aku akan menjaganya. Tidak kau pinta pun aku akan menyimpan semua yang aku tau tentangmu. Kau tenang saja aku orang yang bisa di percaya. Aku janji untukmu!" jawab Imam


__ADS_2