The Poor Girl

The Poor Girl
Aku Tidak Mau!


__ADS_3

Elin mendengar pertanyaan Nina segera menoleh menatapnya dengan tatapan tajam.


"Diamlah." Ketus Elin


Nina meringis, "Lin, kenapa kau terlihat tidak suka begitu?" tanya Nina pura-pura bodoh


"Kau bertanya yang kau sendiri sudah tau jawabannya," kata Elin


"Iya aku tau, aku pikir kau berubah pikiran setelah kau dekat dengan Rico," Nina mengutarakan apa yang ada di benaknya.


"Kau terlihat suka padanya, dia juga sepertinya suka padamu, apa tidak sebaiknya kau lebih mendekatkan diri padanya?" asumsi Nina membuat Elin tidak suka.


Elin menatap Nina tidak suka, kemudian berkata, "aku sudah pernah katakan padamu, jika aku tidak akan menjalin hubungan asmara atau pacaran sebelum aku tamat SMA!" tegas Elin


"Meski kau menyukai seseorang?" tanya Nina memastikan


"Iya!" balas Elin


"Jika ada seseorang menyukaimu dan memintamu menjadi pacarnya bagaimana? kau tetap tidak mau?" tanya Nina yang heran dengan pikiran kolot Elin.


"Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, aku tidak akan pacaran semasa sekolah. Aku tidak akan melanggar janjiku!" kata Elin mantap.


"Tidak mudah bagiku sampai di titik ini, sulit bagiku untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah ini. Kesulitan yang aku lalui membuatku bertekad untuk fokus dalam belajar. Aku tidak ingin kisah cinta atau asmara menjadikan aku tidak fokus belajar. Aku tidak mau itu mengganggu pikiranku." Jelas Elin


"Kau serius sekali," timpal Nina


"Aku pikir kau akan goyah karena sudah jatuh cinta?" ledek Nina


"Kau tidak tau, aku sudah lama merasakan jatuh cinta. Kau tidak tau itu. Bahkan itu lebih dalam dari yang aku rasakan saat ini." Batin Elin


Elin terdiam. Mengingat cinta, bayangan wajah Reyhan terlintas di benaknya. Ingatan tentang Reyhan saat awal-awal dia kenal dengan pria itu melintas di pikirannya.


Saat di mana dia mulai dekat dengan pria itu, pulang sekolah bersama, hingga terakhir dia bertemu Reyhan saat pria itu pamit pergi melanjutkan cita-citanya. Semua itu berputar di memorinya, membuat matanya berkaca-kaca seakan ingin mengeluarkan sesuatu yang tertahan di sana.

__ADS_1


Nina yang memperhatikan Elin menunggu tanggapan akan pertanyaannya yang menggantung mengerutkan dahi melihat perubahan raut wajah Elin. Wajah itu mendadak sendu menampakkan kesedihan.


"Hei, kau kenapa?" tanya Nina heran.


Elin terlonjak sedikit terkejut, namun dia berusaha menutupi. "Kenapa apanya?" tanya Elin pura-pura bodoh meski dia yakin itu akan sangat terlihat.


Nina mendengus, "cih, kau masih pura-pura tidak tau?" timpal Nina


"Aku bisa melihat wajahmu tadi, tidak ada sebab berubah sedih. Dan itu matamu tadi seperti akan berair?" Nina yang apa adanya mengatakan apa yang dia lihat.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Nina penasaran


"Kau berubah sendu saat aku bertanya untuk memastikan apa prinsipmu akan goyah setelah kau merasakan jatuh cinta?" tanya Nina mengulang pertanyaannya.


"Apa kau merasa terjebak karena prinsipmu?" cibir Nina


"Kau seharusnya berpikir jauh sebelum benar-benar berjanji pada dirimu. Kita tidak tau apa yang akan terjadi di kehidupan kita selanjutnya, jangan gegabah mengambil keputusan. Ini bukan sebuah kejahatan atau kesalahan, tidak perlu kau berpegang pada prinsip konyolmu itu!"


"Prinsip apa itu? tidak ada yang salah jika kita menjalin hubungan asmara dengan laki-laki. Jika kau takut itu akan mempengaruhi nilaimu, itu tergantung pada dirimu sendiri. Bagaimana kau menyikapinya. Lihatlah Yuna, dia cantik, berprestasi, dia mempunyai kekasih tapi lihat apa prestasinya menurun? tidak bukan?" terang Nina dengan membandingkan seseorang yang menjalin kasih namun tetap berprestasi.


"Aku tidak merasa terjebak sama sekali dengan prinsipku!" jawab Elin tegas menatap tajam Nina


"Itu kulakukan untuk menghargai perjuanganku. Aku hanya berjaga-jaga dan tidak mau ambil resiko jika menyangkut hati. Hatiku lemah, mudah rapuh. Aku tidak mau saat hatiku sakit, lemah dan rapuhnya membuat aku tidak fokus belajar dan aku takut hal itu mempengaruhi nilaiku.


Aku tau akan diriku. Masa sekolah bagiku hanya untuk belajar, aku tidak ingin pikiranku terbagi untuk hal lain yang bisa memecah fokusnya pikiranku." Jelas Elin


"Terserah kau saja," balas Nina yang merasa muak akan perkataan Elin


"Aku tidak munafik. Jujur, aku ingin seperti yang lain menjalin hubungan dengan orang yang kusukai, aku ingin ada yang menyatakan cinta padaku, aku ingin mendapat perhatian dari orang yang aku sukai. Tapi itu hanya sebuah keinginan," Elin menarawang jauh ke depan diam sesaat


"Sampai detik ini tidak ada satu laki-laki pun yang menyatakan suka padaku, tidak ada. Sungguh pun aku menyukai seseorang tidak mungkin aku menyatakan rasa sukaku. Aku perempuan tidak pantas melakukan hal itu," tutur Elin dengan nada sedih di setiap kata yang terucap.


Kata-kata itu meluncur seiring ingatannya mengulik mengilas balik kisah kedekatannya dengan Reyhan yang sempat terjalin walau hanya sesaat.

__ADS_1


Nina tertegun mendapati ungkapan Elin. Dia tidak lepas memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


"Itu semakin meyakinkan aku untuk ingat akan janjiku," sambung Elin menoleh beralih menatap Nina sendu


Nina mengerjap sedikit tidak percaya mendengar pernyataan Elin.


"Seandainya ada seseorang yang menyatakan suka padamu, akankah kau berubah pikiran?" tanya Nina sekali lagi memastikan


Elin mendesah, "tidak ada seandainya, aku tidak ingin berandai-andai," jawab Elin


"Jawab saja!" pinta Nina


"Tidak mau," balas Elin


"Hei, kau hanya perlu menjawab. Apa susahnya?" ketus Nina


"Aku tidak mau, tidak usah memaksa!" tegas Elin


Nina mencibir lalu membuang muka, Elin tidak memperdulikannya. Dia memilih melanjutkan tugas menulisnya.


Nina menggerutu, "payah, memang payah bicara dengan dia," gerutu Nina


Percakapan berakhir dengan mereka yang saling diam.


Bel berbunyi pertanda jam belajar berakhir, waktu menunjukkan pukul 13.00 waktunya murid pulang.


Elin dan Nina tampak seperti biasa jalan bersama, meski adanya perdebatan tidak membuat mereka saling menjauh. Bagi Elin dan Nina itu hal yang biasa terjadi di antara mereka berdua. Berdebat kemudian berbaikan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Kini Elin sudah tiba di halaman rumahnya. Saat kakinya menapak di lantai rumah tepat di depan pintu, samar-samar dia mendengar suara teriakan dari dalam rumah. Mendadak tubuhnya lemas, dadanya sesak, hatinya perih.


Tubuh lemahnya membawa Elin berbalik badan melangkah tak tentu arah, pikirannya melayang jauh, hatinya hancur sehancur-hancurnya. Matanya memanas terasa perih! terasa air mata akan jatuh meluncur namun dia menahannya.


Kakinya terus melangkah menjauh dari rumah. Tdak tau harus kemana, saat ini pikirannya kacau. Dia ingin mengadu tapi kepada siapa? dia ingin memuntahkan keluh kesah hidupnya yang penuh kepedihan tapi pada siapa? siapa yang peduli?

__ADS_1


"Adakah seseorang yang peduli akan diriku?" batin Elin


__ADS_2