The Poor Girl

The Poor Girl
Dia pergi!


__ADS_3

Elin melangkah berniat akan menuju pulang ke rumah, namun langkahnya terhenti mendapat suara memanggil namanya.


"Elin." Panggil seseorang yang ternyata salah satu guru di sekolahnya


"Ya, ada apa bu?" tanya Elin


"Kamu belum mengumpulkan formulir pendaftaran SMA?" tanya guru yang bernama Ida.


"Besok wajib kamu bawa ke sekolah agar kamu bisa terdaftar. Kalau tidak, pendaftaran lusa sudah di tutup artinya kamu gak punya kesempatan untuk lanjut ke sekolah negeri." Jelas ibu Ida


"Iya bu, besok akan saya bawa," jawab Elin


"Baiklah, besok jangan lupa kumpul ke ibu." Kata bu Ida


Elin kini telah tiba di rumah, beberapa minggu ke depan dia libur sekolah. Tidak ada kegiatan lagi di sekolahnya. Tujuan selanjutnya mendaftar ke sekolah Menengah Atas.


Pilihannya jatuh pada SMA Negeri 1 yang ada di kota itu, Kota Bumi tempat ia di besarkan. Ada 2 SMA Negeri di kota itu.


Jarak antara rumah Elin dan SMA Negeri 1 lumayan jauh, namun dia menjatuhkan pilihannya pada SMA Negeri itu.


Ada satu lagi SMA Negeri yang jarak tempuhnya tidak sejauh jarak SMA Negeri 1, yaitu SMA Negeri 2.


Meski begitu Elin tidak memilih SMA Negeri 2 dengan alasan letak sekolah itu dekat dengan tempat tinggal Elin dulu, pada saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Yang artinya jika dia memilih SMA Negeri 2 akan ada kemungkinan besar dia satu sekolah dengan teman semasa dia duduk di bangku Sekolah Dasar dulu.


Dia tidak ingin bertemu dengan teman SD nya. Elin tidak ingin satu sekolah dengan teman semasa dia duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, Elin trauma dengan masa lalu dia sewaktu di Sekolah Dasar dulu.


Hari ini sesuai janjinya, Elin datang ke sekolah untuk mengumpulkan formulir yang berisi data untuk mendaftar ke sekolah selanjutnya.


Setelah selesai dengan urusan sekolah, Elin segera berjalan pulang. Saat melintasi rumah Reyhan, Elin melihat Reyhan tengah berjalan keluar dari rumahnya dengan koper di tangannya.


Dahi Elin mengernyit dalam, melihat Reyhan berpakaian rapi seakan hendak berpergian jauh, Reyhan belum sadar Elin sedang memperhatikan dia.


Reyhan berjalan menuju mobil yang ada di depan pagar rumahnya, sesaat dia menghentikan langkahnya. Matanya memicing untuk memastikan penglihatannya. Dia semakin yakin di depan sana Elin berdiri tengah melihat ke arahnya.


Reyhan berjalan mendekati Elin, dia tersenyum. Elin terkejut, Elin gelagapan seolah kepergok tengah mencuri.

__ADS_1


Reynan tersenyum, "Hai Elin." Sapa Reyhan


"Hai Rey," Elin tersenyum kikuk, dia malu.


"Kamu dari mana, bukankah kita sudah libur?" Reyhan heran melihat penampilan Elin menggunakan seragam sekolah.


"Aku dari ngumpul formulir pendaftaran SMA," jawab Elin


"SMA mana pilihanmu?" tanya Reyhan


"SMA Negeri 1," jawab Elin,


"Kamu sepertinya akan pergi," kata Elin mengungkapkan apa yang ada di benaknya.


"Iya aku akan pergi ke ibu kota, melanjutkan pendidikan di sana seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu." Jawab Reyhan


Elin sedih, "secepat ini?" Elin menatap sendu Reyhan


"Iya, besok lusa waktunya daftar ulang. Aku harus berangkat hari ini, Waktu masuk sekolah di sana lebih awal dari pada waktu masuk sekolah di kota ini," jelas Reyhan.


Reyhan bisa melihat kesedihan di wajah Elin, perubahan mimik di wajah polos itu membuatnya gemas. Tidak sadar Reyhan mengusap puncak kepala Elin dan berkata, "sampai jumpa di lain waktu," Reyhan berkata hendak berlalu.


Reyhan tersenyum kemudian kembali mengusap puncak kepala Elin beberapa kali, Elin tertegun mendapati perlakuan manis Reyhan.


Hatinya menghangat, ada perasaan berbeda di sana. Entah perasaan seperti apa itu, tapi yang jelas dia benar-benar tersanjung saat ini.


Setelah itu Reyhan berbalik badan meninggalkan Elin, kemudian masuk ke mobil. Dia duduk di bangku penumpang. Tidak lama mobil mulai berjalan, kaca mobil yang terbuka menampakkan wajah Reyhan dengan tangan melambai ke arah Elin.


Elin melihat jelas mobil itu berjalan. Dia.... Reyhan cinta pertamanya pergi setelah dia mulai dekat dengannya menjalin pertemanan, Reyhan pergi setelah sedikit memberi harapan untuk cinta Elin.


"Dia.... pergi..." lirih Elin. Di saat dia berhasil lebih dekat dengan Reyhan, keadaan membuat mereka kembali menjauh.


"Bahkan takdir tidak ingin kami berdekatan," bisik hati Elin, seiring dengan itu setetes bening bulir menetes di ujung matanya.


Elin mengusap ujung matanya, kesedihan mendalam membuat Elin lupa membalas senyum dan lambaian tangan Reyhan. Dia sadar setelah bayangan mobil yang membawa Reyhan menghilang.

__ADS_1


"Kisahku dengannya benar-benar berakhir," Elin menarik kesimpulan, kepergian Reyhan adalah akhir dari cerita cintanya.


Elin melanjutkan langkah menuju rumah, tiba di rumah Elin mengganti seragam dan memulai aktivitasnya.


Tahun ajaran baru sudah di mulai, tepat hari ini Elin mulai sekolah di SMA Negeri 1 Kota Bumi. Hari ini dia sangat bersemangat memulai hari baru di sekolah baru dia akan merajut asa.


Tampak Elin sudah bersiap dengan seragam putih abu-abu. Senyum di wajahnya terus mengembang, terpancar kebahagiaan di wajahnya.


"Alhamdulillah mak, Elin masih gak nyangka bisa lanjut sekolah," kata Elin yang merasa impiannya terwujud.


"Kamu sekolah yang benar, belajar yang rajin. Betapa sulit untuk kamu menggapai keinginanmu, ingatlah selalu masa-masa sulit saat kamu berjuang meraih keinginan untuk tetap lanjut ke SMA ini. Ingatlah saat- saat susah itu agar kamu bersyukur," emak menasehati Elin.


"Elin akan mengingat semuanya mak, Elin akan rajin belajar. Elin tidak akan mengecewakan emak dan abah," Elin berkata dengan penuh keyakinan.


"Apa kamu tidak apa-apa memakai sepatu itu," emak berkata dengan menunjuk ke arah sepatu yang Elin kenakan.


Tampak sepatu lusuh warnanya terlihat pudar, warna yang seharusnya hitam tampak keabu-abuan. Terlihat jelas sepatu itu bukan sepatu baru.


"Maafkan mak tidak bisa membeli sapatu baru untukmu," emak merasa bersalah karena di tahun ajaran baru Elin tidak memakai sepatu baru layaknya anak-anak lain.


"Gak apa-apa mak," Elin tidak mempermasalahkan sepatu baru atau lama, baginya sekolah untuk menambah ilmu. Bisa lanjut sekolah SMA saja sudah membuatnya beruntung.


"Koyak di bagian tapak sepatu akan terlihat jika kamu melangkah, kamu yakin gak apa-apa?" emak tahu persis sepatu yang di pakai Elin saat ini tidak layak, di bagian tapak sepatu itu koyak dan itu bisa membuat Elin malu.


Iya, Elin sekolah dengan menggunakan perlengkapan lamanya. Tidak ada sepatu baru, tidak ada tas baru, bahkan seragam yang ia gunakan pakaian lamanya sewaktu masih duduk di SMP, yang terlihat berbeda hanya rok abu-abu. Hanya rok itu yang dia beli baru selebihnya pakaian lama.


Faktor uang jadi alasan kuat dalam hal ini, hidup serba kekurangan membuat Elin memutar otak agar bisa tetap lanjut sekolah.


Dia memperbaiki jahitan pada seragamnya, dia mengganti logo pada seragam itu, benar terjadi apa yang dulu pernah dia pikirkan.


Akan ada masanya seragam sekolah itu akan di gunakan, terbukti hari ini semua yang dia pikirkan.


"Gak apa-apa mak," jawab Elin


Elin sejujurnya merasa kurang percaya diri menggunakan perlengkapan lama, meski dia menerima keadaan ini.

__ADS_1


Dia tetaplah anak SMA yang menginginkan tampil seperti layaknya peserta didik baru.


Dia juga manusia biasa, yang punya keinginan dan rasa malu ketika berbeda dengan yang lainnya.


__ADS_2