The Poor Girl

The Poor Girl
Tidak Bisa!


__ADS_3

Elin membenarkan semua perkataan Nita. Setahun lamanya dia membantu abah dagang namun tidak ada peningkatan sama sekali, hal ini mebulatkan tekad Elin.


Apa gunanya di rumah membantu dagang abah yang usahanya kecil dan kekurangan modal. Bukankah usaha membutuhkan modal yang besar jika ingin usaha itu menjadi besar.


Tekadnya sudah bulat, dia akan pergi ada atau tidaknya izin dari abah maupun emak.


Elin keluar kamar mencari abah dan emak, ingin menyampaikan niatnya. Tampak abah sedang duduk bersandar di ruang tengah. Elin mendekat, dia akan menyampaikan niatnya pada abah terlebih dulu, setelahnya akan memberitahu emak.


Abah lebih bijak mengambil sikap mengenai hal ini, dia yakin abah tidak akan emosi menanggapi permintaannya nanti berbeda dengan emak dia. Elin duduk di depan abah dan mulai membuka suara.


"Abah, Elin ingin membicarakan sesuatu." Ucap Elin pelan.


Abah membenarkan posisi duduknya dan mulai memasang pendengarannya. Anak gadisnya ini terlihat serius, seperti akan menyampaikan sesuath yang penting, karenanya dia memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan ucapan Elin selanjutnya.


"Ada PT. besar yang sedang membuka lowongan pekerjaan, Bah. PT. Indoraya namanya. PT. Indoraya adalah perusahaan besar, gajinya juga besar. Kak Danu juga bekerja di sana." Elin memulai penjelasan dengan memberitahu sedikit mengenai perusahaan yang akan dia masukkan lamarannya.


Elin ingin abah terpikat dengan perusahaan ini dengan menyebutkan gaji besar, begitu pikirnya. Namun dia salah.


"Elin ingin melamar pekerjaan di perusahaan ini, Elin ingin memanfaatkan ijazah SMA yang Elin punya. Izinkan Elin untuk bekerja di perusahaan ini, Bah." Pinta Elin.


"Bukankah abah sudah mengizinkanmu bekerja, kenapa harus minta izin lagi?" Abah tidak memahami maksud Elin.


"Jika tempat bekerjanya di luar kota, abah bisa mengizinkan Elin?" Ucap Elin hati-hati.


Abah mengerutkan dahi, "Tidak bisa!" jawab abah tegas.

__ADS_1


Elin menghela napas panjang, benar dugaannya. Akan sulit membujuk abah jika sudah tegas menolak keinginannya. Meski begitu dia terus mencoba membujuk abah.


"Tolonglah, Bah. Ini demi kebaikan kita semua. Elin ingin memperbaiki keadaan ekonomi kita. Jika Elin bekerja, Elin akan punya penghasilan. Gaji yang Elin dapat bisa buat nambah modal usaha abah, usaha abah bisa lebih maju nantinya." Bujuk Elin.


"Abah tidak akan kasih izin jika tempatnya di luar kota. Kamu tidak bisa di tukar dengan uang." Ucap abah dengan penekanan.


"Meski di luar kota, Elin tidak sendiri, di sana ada kakak. Elin pun berangkat dengan teman tidak sendiri. Ini kesempatan buat Elin, tolong abah beri kesempatan untuk Elin mendapat pengalaman yang lebih." Elin memohon.


Abah menggeleng. Elin tidak mengerti jalan pikiran abahnya, jelas niatnya baik untuk memperbaiki mehidupan mereka yang sulit, tapi kenapa abah susah untuk memahami hal itu. Ingin dia teriak, ingin dia berontak, tapi semua hanya di pikirannya. Dia tidak bisa melakukan itu.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Elin ingin tahu alasan abah melarangnya.


"Kamu itu perawan. Anak gadis tidak baik bepergian jauh denga tidak ada yang mengawasi. Jika terjadi sesuatu padamu, abah tidak akan tahu karena jauh. Abah tidak bisa menggadaikan anak gadis abah hanya untuk uang."


"Abah tenang saja, dari sini Elin berangkat naik bus langsung ke Jakarta. Sampai di sana Elin turun di terminal, nanti kakak yang akan menjemput Elin ke terminal, Bah." Ucap Elin meyakinkan abah.


"Tetap tidak boleh." Abah bersikeras.


"Elin akan tetap berangkat, tolong abah doakan Elin. Maafkan Elin." Ucap Elin kemudian berlalu meninggalkan abah.


Elin melangkah keluar rumah, duduk di tempat biasa dia menumpahkan keluh kesahnya. Dia menelepon Nita, mengatakan bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk pergi.


*****


Pagi hari ini Elin tampak rapi dengan kemeja dan rok selutut yang dia kenakan. Hari ini dia akan mengurus berkas-berkas yang di butuhkan untuk melamar pekerjaannya.

__ADS_1


Elin pulang di waktu sore setelah selesai mengurus semua yang dia butuhkan. Esok sebelum berangkat, dia akan mengambil semua surat yang sudah dia urus di hari itu.


Saat makan malam emak dan abah meminta Elin untuk membatalkan kepergiannya, namun Elin tetap keukeuh dengan pendiriannya.


"Doakan Elin agar semua di permudah, Elin butuh doa dan restu abah dan emak. Maafkan Elin tidak bisa menuruti kemauan emak dan abah. Elin ingin mencoba hal baru yang bisa memberi kebaikan pada keluarga ini. Elin tidak bisa mundur, semua sudah Elin urus. Semua akan sia-sia jika Elin batalkan." Kata Elin.


"Emak akan selalu mendoakanmu, tapi bukan berarti kamu bisa pergi. Emak tidak bisa tenang selama kamu jauh. Kamu perempuan, banyak kejahatan di mana-mana, emak khawatir kamu kenapa-napa." Ucap mak.


"Doakan yang baik-baik, Mak. Kita tidak bisa mencegah jika dia sudah mengambil keputusan, biarkan dia mencobanya. Mudah-mudahan dengan Elin bekerja kehidupan dia lebih baik. Siapa tau nanti dia ketemu jodohnya di sana." Ucap abah.


"Baiklah. Elin jaga diri kamu. Nanti di sana jangan aneh-aneh, di kota banyak orang nakal. Berhati-hati lah memilih teman. Jangan terpengaruh hal-hal yang tidak baik. Emak izinkan kamu dengan catatan, kamu harus tetap jadi anak yang baik," Ucap emak.


Elin mengangguk, "Elin pasti jaga diri di sana, Elin akan selalu jadi anak baik, Mak." Ucap Elin


"Rumah akan sepi tanpa kamu." Emak mulai berkaca-kaca berucap dengan sedih.


Mereka berpelukan, Elin lega akhirnya emak dan abah luluh. Sekeras apapun orangtua, jika Si anak memohon demi kebaikan tentu orangtua akan luluh.


Malam itu Elin tidur dengan tenang, dia tidak sabar menunggu pagi. Dia akan mencoba peruntungan mengadu nasib ke ibu kota dengan sejuta harapan.


Subuh menjelang Elin mengerjap. Dia turun dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya dan berwudhu untuk melakukan kewajibannya. Selesai dengan aktivitasnya di kamar, Elin menyiapkan keperluan pribadinya untuk di bawa.


Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, dia sudah berada di terminal dengan di antarkan emak dan abah. Elin memperkenalkan abah dan emak pada keluarga Ica yang juga ikut mengantarkan Ica ke terminal. Di sana terjadi perbincangan antara keluarga Ica dan Elin.


"Anak zaman sekarang berbeda denga kita dulu, Pak. Bukan anak menuruti kemauan orangtua justru kebalikannya. Saya juga tidak rela melepas kepergian putri saya, tapi tetap saja kita tidak bisa mencegahnya karena ini sudah kemauannya dan terpenting ini suatu yang positif," ayah Ica menimpali abah setelah mendengar keberatan abah akan kepergian Elin.

__ADS_1


__ADS_2