The Poor Girl

The Poor Girl
Kelulusan


__ADS_3

Waktu pengumuman kelulusan waktu yang sangat di tunggu-tunggu semua murid kelas 3 SMP Negeri di mana tempat Elin sekolah.


Tampak semua murid di dampingi orang tua untuk mengambil surat pemberitahuan lulus tidaknya siswa.


Elin berangkat ke sekolah bersama abah, tampak abah akan memasuki ruangan untuk mendapatkan surat itu.


Tidak menunggu lama, setelah mendapat surat tersebut abah berjalan menuju keluar ruangan. Elin yang berada di luar merasa gugup, jantungnya berdebar kencang merasa takut akan kabar buruk yang bisa saja dia terima.


Elin yang melihat abah keluar dari pintu segera menghampiri abah, hatinya kacau masih di hantui rasa takut akan hasil yang akan dia dapat


"Tenanglah nak, abah yakin Elin pasti lulus," abah menenangkan Elin yang sangat gelisah, terlihat dari raut wajahnya yang begitu pucat.


"Elin takut hasilnya akan mengecewakan abah," kata Elin lirih


Abah tersenyum, "apapun hasilnya yang terpenting kamu udah usaha nak," ujar abah membelai pucuk kepala Elin.


"Mau di buka di sini atau di rumah?" tanya abah


Belum sempat Elin membuka suara, terdengar sorak sorai kegembiraan dari sekelompok murid kelas 3 yang tidak jauh dari tempat Elin berada, tampak teman-teman Elin melompat kegirangan menandakan mereka mendapat kelulusan.


Elin tidak sabar ingin segera mengetahui hasil dari kerja kerasnya, dia meminta abah membuka amplop yang berisi surat pemberitahuan kelulusan itu.


Seketika abah dan Elin mengucap syukur setelah melihat tulisan LULUS terpampang jelas tertulis di kertas selembar tersebut.


"Alhamdulillah," ucap Elin dan abah bersamaan


"Alhamdulillah nak, abah bersyukur sekali akhirnya abah bisa melihat keberhasilan anak abah," abah tersenyum terlihat kebahagiaan di wajahnya


"Lihatlah nilaimu sangat bagus, abah bangga sama kamu," abah terharu melihat nilai Elin terpampang jelas dengan nilai rata-rata 8. Terlihat kilatan di mata abah, matanya berkaca-kaca sedetik kemudian keluar setetes bulir bening di ujung matanya.


Abah mengusap ujung matanya dan memeluk Elin.


"Alhamdulillah Bah, do'a Elin terkabul. Elin bisa mendapatkan uang tambahan buat daftar SMA," Elin berkata dalam pelukan abah


Elin melepas pelukan abah, "Tempo hari kepala sekolah memberi kami tantangan, jika murid mampu mendapat nilai NEM rata-rata delapan akan mendapat hadiah uang 500.000," jelas Elin


"Setiap sesudah shalat Elin selalu berdoa minta di beri nilai rata-rata delapan agar mendapat uang buat tambahan daftar SMA." Sambung Elin


"Alhamdulillah Allah mendengar doa kamu nak," abah tersenyum


Terlihat jelas wajah bahagia abah. Di dalam hati Elin tidak henti-hentinya bersyukur karena harapan untuk melanjutkan pendidikan akan terwujud.

__ADS_1


"Kamu mau pulang atau mau tetap di sekolah?" abah bertanya.


"Abah tidak bisa berlama-lama meninggalkan dagangan terlalu lama, sudah waktunya abah pulang karena urusan abah sudah selesai." Sambung abah


Elin mengedarkan pandangan melihat area sekolah masih di penuhi murid kelas 3, dia memutuskan tetap di sekolah.


"Abah pulang duluan, kamu hati-hati nanti pulangnya. Jangan mencoret-coret baju, sayang bajunya." Abah berpamitan sekaligus menasehati Elin.


"Elin gak akan ikut mencoret-coret baju Bah, Elin juga mungkin gak akan lama," terang Elin


"Ya sudah Abah pergi dulu," abah melangkah berjalan meninggalkan Elin menuju keluar gerbang sekolah


Elin mengedarkan pandangan mencari Novi, tampak Novi tengah berkumpul dengan teman lainnya. Elin mendekat ke arah di mana Novi dan temannya berkumpul.


Elin sudah berdiri dekat teman-temannya, tampak mereka tengah membicarakan rencana untuk merayakan kelulusan.


"Kita beli pilox warna merah dan hitam aja," usul Ica. Dari sini Elin paham rencana yang akan mereka lakukan.


"Okey, kalau gitu kita patungan buat beli pilox," sambung Novi yang ternyata akan ikut merayakan.


Elin yang tidak ingin ikut merayakan kelulusan dengan mencoret-coret seragam menjauh dari kumpulan teman-temannya, dia memilih duduk sendiri di depan kelas yang tidak jauh dari tempat temannya berkumpul.


"Kapan aku bisa seperti mereka?" jujur hati kecilnya menginginkan hal serupa yang dilakukan teman-temannya, merayakan kelulusan mencoret seragam penuh canda tawa bersama teman-teman tampak menyenangkan di bayangan benak Elin.


Elin pernah melihat hal itu dulu, di mana tampak segerombolan anak-anak sekolah tertawa bersama, bercanda saling menyemprotkan pilox ke seragam sekolah dengan suka cita. Dia bisa membayangkan berada di sana akan menyenangkan.


Elin mengalihkan pikirannya yang mulai terbawa perasaan, dia sadar dia tidak akan melakukan hal itu hanya untuk bersenang-senang.


"Hai Elin," sapa seseorang menepuk pundak Elin


Elin terkejut mendapat tepukan di pundaknya, dia menoleh.


"Hai Rey," Elin tersenyum canggung mendapati Reyhan berdiri di belakangnya


"Kenapa sendiri?" tanya Reyhan.


"Gak ikut Kumpul sama yang lain?" lanjut Reyhan


"Kamu gak gabung sama mereka?" alih-alih menjawab, Elin justru balik bertanya.


"Mereka udah atur semuanya, aku terima beresnya aja," jawab Reyhan

__ADS_1


"Kamu kenapa sendiri dari tadi aku perhatiin," tanya Reyhan


"Aku gak ikutan Rey," kata Elin


Reyhan menoleh, dahinya mengernyit heran, "Kenapa?" tanya Reyhan heran


"Sayang seragamnya di coret-coret gitu, lebih baik di simpan mana tau nanti bisa ke pake lagi," jawab Elin polos


Reyhan tertawa kecil, "Kita kan mau SMA Lin, gak bakal ke pake juga," kata Reyhan


"Baju seragamnya beda, kalo ini logo SMP, gak mungkin juga sekolah SMA pake seragam berlogo SMP," Reyhan tersenyum menanggapi ucapan Elin


"Iya juga ya," Elin yang tidak bisa membantah hanya mengiyakan perkataan Reyhan yang benar adanya, meski dia berpikir logo SMP bisa di lepas dan di ganti dengan logo SMA.


"Jadi ikutan gak?" tanya Reyhan setelah diam beberapa detik.


"Gak bisa, aku harus cepat pulang," kata Elin


"Kamu gak pengen kumpul-kumpul sama teman? ini waktu terakhir kita bareng teman-teman kita, setelah ini kita gak pernah tau kapan kita bisa bersama lagi," Reyhan memandang jauh ke depan pikirannya jauh menerawang.


Reyhan teringat akan kenangan yang terjadi di awal mula dia masuk ke sekolah ini. Kenangan demi kenangan berputar di benak Reyhan membawa dia ke masa lalu. Dia tersenyum mengingat momen indah selama di sekolah ini.


Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing, sedetik kemudian suara membuyarkan semua yang ada di pikiran Elin dan Reyhan.


"Rey, Ayo kita jalan. Semua udah siap." Panggil teman Reyhan bernama Deo.


"Iya tunggu," Reyhan tersenyum menoleh ke arah Elin, "Elin, aku tinggal ya." kata Reyhan


"Beneran gak mau ikut?" Reyhan memastikan sebelum benar-benar melangkah.


Elin menggeleng, "Gak." Satu kata terucap dari bibir Elin


"Ya udah, aku pergi." Ucap Reyhan berlalu meninggalkan Elin sendiri.


Elin memperhatikan teman-temannya yang mulai menaiki motor berboncengan, mereka tertawa bersama sambil terus bercanda kemudian satu persatu motor melaju meninggalkan Elin sendiri dalam sepi.


Elin terdiam, penglihatannya mulai samar-samar di tutupi genangan air mata yang mungkin akan jatuh dengan sekali kedipan. Mata itu berkilat tampak berkaca-kaca sedetik kemudian tetesan bulir bening menetes di ujung matanya.


Dia sedih dalam kesendirian, dia ingin tapi tidak mungkin. Dia mau tapi tidak mampu.


Tidak ada yang tau di balik senyum menyimpan kesedihan. Tidak ada yang tau di balik kekuatan tersimpan kerapuhan. Tidak ada yang tau dia, dia menyimpan sejuta kepedihan.

__ADS_1


__ADS_2