The Poor Girl

The Poor Girl
Kak Ryan?


__ADS_3

Pagi ini Elin sudah rapi, hari ini dia dan Ica akan melakukan inerview ke PT. Indoraya. Tampak Elin tengah membenahi tempat tidur saat Nita memasuki kamarnya. Elin tinggal di rumah kak Nita untuk sementara hingga dia di terima bekerja.


"Ini kamu bawa, nanti saat nterview kamu serahkan dan terima barang bukti serah terimanya. Ingat, jangan sampai lupa," ucap kak Nita dengan meraih tangan Elin dan meletakkan amplop coklat di telapak tangan Elin.


Alis Elin bertaut dengan dahi mengerut, dia menatap penuh tanya pada Nita.


"Apa ini kak?" tanya Elin penasaran.


"Ini yang akan membuatmu di terima kerja di sana, saat seseorang yang menginterviewmu menanyakan 'apa kamu bawa persyaratannya', segera kamu serahkan ini," kata Nita dengan telunjuk mengarah pada amplop coklat yang ada di genggaman Elin.


Elin tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia membuka amlop itu. Mata Elin melebar dengan wajah terkejut saat dia mengetahui isi dari amplop itu, dia menatap Nita meminta penjelasan kakaknya.


"Jangan di pikirkan, nanti saat kamu gajian, kamu bisa mengganti uang itu dengan gaji pertamamu," ucap Nita enteng.


"Gaji pertamamu tidak akan habis membayar uang kak Danu itu, gaji karyawan di perusahaan itu besar, gajimu masih bersisa," jelas Nita melihat reaksi Elin yang terpaku menatapnya.


Elin terpaku di tempat. Dia mencerna setiap perkataan yang meluncur dari bibir kakaknya, 'persyaatan' kata itu benar-benar menggangu pikiran Elin. Apa itu artinya dia menyuap Si interview? apa harus dengan cara menyuap seseorang untuk bisa bekerja di tempat itu? itu artinya dia di terima bukan karena kemamapuan yang di milikinya? berbagai pertanyaan bermunculan di benak Elin.


"Elin!" Nita sedikit meninggikan suaranya. Berulang kali menanyakan hal yang sama namun tidak mendapat tanggapan, membuatnya kesal karena Elin diam terpaku bak patung tak bernyawa.


Elin tersadar, dia menatap Nita yang terlihat kesal.


"Kamu berangkat jam berapa? dari tadi kakak tanyakan berulang, kamu diam saja," ucap Nita kesal


"Mikirin apa sampai bengong gitu?" tanya Nita.


"Apa ini untuk menyogok Si interview nanti?" tanya Elin hati-hati.

__ADS_1


"Iya, itu kewajiban pelamar jika kamu mau di terima kerja di sana?" jawab Nita


Elin syok. meski dia sempat berpikir begitu namun pengakuan kebenaran ini membuat Elin ternganga. Bagaimana bisa perusahaan besar seperti itu menerima suap seperti ini? apa mereka kekurangan dana? tidak mungkin rasanya perusahaan besar meminta bayaran untuk tambahan usaha mereka.


"Mukanya biasa aja," ucap Nita mengusap wajah Elin yang terlihat syok.


"Kak Danu sudah lebih dulu bekerja di tempat ini dia lebih tahu prosedur yang mempermudah pelamar untuk di terima. Ini juga dia yang berinisiatif meminjamkan kamu uang, karena kak Danu ingin kamu berhasil," jelas Nita


"Perusahaan besar tidak mungkin menerima suap, Kak. Ini tidak masuk akal," Elin merasa janggal dengan prosedur yang di katakan kak Nita.


"Kak Danu lebih tahu, Elin. Dia sudah lebih dulu melalui proses ini kamu ikuti saja, yang penting kamu ke terima. Sudah bersiaplah, kamu sebentar lagi harus berangkat." Ucap Nita mendorong Elin keluar kamar.


Elin merasa ada yang janggal dengan perusahaan itu. Moodnya berubah setelah tahu dia harus menyuap seseorang hanya untuk mendapaat pekerjaan. Seketika semangatnya hilang, dia menjadi lemah. Ingin dia membatalkan interview hari itu, namun dia tidak ingin mengecewakan kak Nita.


Elin dan Ica dalam perjalanan menuju perusahaan, hatinya meragu untuk melanjutkan niatnya, namun dia tidak bisa. Akhirnya dia hanya mengikuti alur, dia berharap tidak di terima bekerja di sana jika memang harus menyogok.


"Kamu tahu hal itu?" selidik Elin


Ica tersenyum miring, "ini sudah menjadi rahasia umum," ucap Ica


"Rahasia umum?" Elin mengulang pernyataan Ica.


"Jadi ini memang prosedur wajib? bagaimana bisa perusahaan besar melakukan hal serendah ini? tidak pantas rasanya perusahaan besar memilih karyawan dengan memprioritaskan bayaran sebagai timbal balik. Bukankah perusahaan besar seharusnya memilih karyawan berdasarkan kompeten dan kemampuan yang di punya," berbagai pertanyaan Elin lontarkan sebagai bentuk protes.


Ica tersenyum sinis, "kamu itu polos atau apa sih? ini zamannya uang yang berbicara, tidak ada yang gratis Elin, bahkan untuk buang kotoran saja kita mesti bayar, apalagi untuk mendapatkan seuatu yang besar, tentu butuh pengorbanan sebagai bentuk usaha kita meraih yang kita inginkan," jawab Ica sinis


"Kita ingin bekerja di sini karena gaji yang lumayan, mereka meminta imbalan hanya dari setengah dari gaji kita sebulan. Bukankah itu sepadan dengan apa yang akan kita dapatkan, bahkan kita lebih diuntungkan karena setelah itu kita akan punya penghasilan berkali lipat dari uang yang kita keluarkan," terang Ica.

__ADS_1


"Ikuti saja prosedurnya, jika kau ingin di terima. Kau tenang saja, setelah kita memberikan persyaratan yang mereka pinta, maka itu artinya kita telah di terima." Sambung Ica.


Elin diam tidak menanggapi. Elin ingat akan sikap Ica tempo hari yang percaya diri bahwa mereka akan di terima, ternyata ini sebabnya.


Elin keluar dari ruang interview setelah dia berhasil melalui interview yang ternyata hanya bentuk formalitas semata. Di dalam sana tidak ada pertanyaan seputar kemampuan yang di milikinya, menunjukkan bahwa yang di katakan Ica dan Kak Nita benar adanya.


Perusahaan ini hanya mengutamakan 'persyaratan' berupa uang. Setelah uang di berikan mereka akan menerima pelamar dengan senyum merekah.


Ica menyambut Elin dengan senyum pepsodent, dia terlihat bahagia dan puas. Sementara Elin menekuk wajahnya merasa kecewa akan pilihan yang menjadi jalan hidupnya. Akankah gaji yang dia dapat nanti berkah untuk dia dan orangtuanya? Apakah dia akan berdosa karena tetap memilih jalan yang sudah jelas salah. pertanyaan itu menggangu pikirannya.


"Hei, kenapa wajahmu tidak senang begitu?" tanya Ica heran.


"Aku lelah," jawab Elin berbohong.


"Baiklah, kita langsung pulang. Lusa kita mulai bekerja, siapkan staminamu. Banyak istarahat agar kau tidak lelah begini saat pertama masuk kerja." Kata Ica memperingati Elin.


Elin mengangguk, dia tidak berminat untuk membicarakan pekerjaan yang sama sekali tidak dia inginkan. Dia memilih pekerjaan ini karena tidak ingin mengecewakan orang yang telah mendukungnya.


Hari ini tepat hari pertama Elin masuk kerja, dia telah siap untuk berangkat. Dengan kendaraan umum dia menuju pabrik tempat dia bekerja. Pekerjaan sebagai operator yang dia peroleh di pabrik itu.


Letak pabrik dan kantor perusahaan tidak lah jauh, Elin berangkat sendiri karena dari kantor interview kemarin bisa terlihat pabrik yang berada di belakang kantor tersebut dengan jarak yang masih bisa di jangkau dengan berjalan kaki.


Elin memasuki kawasan pabrik yang nampak ramai, banyak karyawan hilir mudik memasuki ruang kerja masing-masing.


Dari tempat dia berdiri, mata Elin menangkap sosok yang dia kenali, seseorang di sana nampak berbincang serius dengan mengenakan jas hitam dan celana bahan yang melekat di tubuhnya.


"Kak Ryan?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2