The Poor Girl

The Poor Girl
Aku Ingin ke Jakarta


__ADS_3

Elin membenarkan kata Ica. Dia selama ini juga berpikir yang sama seperti apa yang di katakan Ica, terlebih untuk mendapat ijazah SMA tidaklah mudah baginya. Banyak perjuangan yang dia lalui saat akan memasuki SMA dulu. Meski begitu dia tidak bisa bersi keras untuk bekerja karena orang tua tidak menyetujuinya.


Saat ini Elin sangat ingin mendaftarkan diri ke perusahaan yang di sebutkan Ica, terlebih mendengar penuturan Ica mengenai gaji besar yang akan di dapat jika bekerja di sana.


"Aku tertarik tapi aku tidak yakin bisa ikut mendaftar. Bekerja di sini saja sangat sulit untuk mendapatkan izin orang tuaku apa lagi jika bekerja di ibu kota. Itu tidak mungkin." Jawab Elin lemah


"Kau bicarakan dulu dengan orang tuamu, mungkin mendengar pekerjaan yang baik dan gaji yang lumayan besar. mereka akan mengizinkanmu." Saran Ica pada Elin.


Elin mengangguk meneruskan makannya begitupun Ica. Mereka makan dalam diam, setelah memakan habis bakso masing-masing, Ica kembali bersuara.


"Berapa nomor ponselmu?" tanya Ica sambil merogoh isi tasnya dan mengambil ponsel miliknya di dalam sana.


Elin menyebutkan nomor ponselnya yang kemudian di catat Ica dan menyimpannya di kontak yang ada di ponselnya lalu melakukan panggilan. Suara ponsel Elin berbunyi menandakan adanya panggilan masuk.


"Itu nomor ponselku, kau hubungi aku jika sudah ada keputusan. Waktumu hanya tiga hari untuk mengambil keputusan, karena 3 hari lagi aku akan berangkat. Lamaran harus sudah di masukkan seminggu lagi. Waktu kita sudah tidak banyak, jangan terlalu lama berpikir?" Jelas Ica.


"Kita akan berangkat bersama jika kau ikut melamar pekerjaan di sana. Jadi orang tuamu tidak perlu khawatir karena kau tidak sendiri." Sambungnya.


"Baiklah. Akan aku bicarakan dulu dengan orang tuaku, nanti aku kabari secepatnya. jawab Elin


Elin dan Ica pulang ke rumah masing-masing. Elin mengurungkan niat mencari pekerjaan di pasar, dia ingin menyampaikan keinginannya pada orang tuanya. Tiba di rumah Elin memasuki kamar duduk di tepi ranjang memikirkan tawaran dari Ica. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dia dapatkan jika membicarakan keinginannya, tentu penolakan yang dia dapat.


Elin merenung memikirkan jalan agar dia bisa mendapat izin. Terbesit keinginan untuk menanyakan pendapat kak Nita mengenai hal ini. Elin meraih ponsel mencari kontak kak Nita dan melakukan panggilan.


"Hallo, assalamu'alaikum." Terdengar suara kak Nita dari seberang sana.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam kak." Jawab Elin


"Ada kabar apa dek?" tanya kak Nita.


Kak Nita yang masih dalam perjalanan merasa cemas karena belum lama berangkat sudah mendapat panggilan dari Si adik. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada orang tuanya karena kepergiannya.


"Kakak sudah sampai mana?" tanya Elin


"Katakan Elin ada apa?" desak Nita terdengar panik.


"Kak ada yang ingin aku bicarakan." Kata Elin sedikit ragu


"Cepat katakan," Suara Nita sedikit meninggi tidak sabar mendapati Elin bertele-tele.


"Aku ingin ke Jakarta." Akhirnya kata itu yang keluar setelah lama Elin berpikir akan mengawali pembicaraan seperti apa.


"Hah, apa maksudmu?" Nita terkejut mendengar penuturan Elin.


Elin menciut mendapati reaksi kakaknya, dia rasa kakaknya akan bersikap sama seperti orang tuanya, akan menghalangi keinginannya. Dia ragu untuk meneruskan perkataannya. Elin diam menimang-nimang akankah dia menyampaikan keinginannya atau tidak.


"Elin!" teriak Nita di seberang sana, terdengar kesal tidak sabar menunggu.


Elin kembali tersadar, dia memberanikan diri meneruskan perkataannya.


"Aku ingin bekerja, Kak. Aku punya ijazah SMA alangkah sayangnya jika tidak di manfaatkan untuk melamar pekerjaan. Saat ini aku mendapat informasi PT. Indoraya di Jakarta tengah membuka lowongan pekerjaan secara besar-besaran, aku ingin melamar di sana Kak. Temanku yang memberitahuku dan dia juga yang mengajak aku untuk berangkat bersamanya jika aku jadi ke Jakarta." Jelas Elin menerangkan dengan alasan yang mungkin bisa di terima kakaknya.

__ADS_1


Nita bernafas lega setelah tahu ternyata yang di khawatirkannya tidak benar adanya.


"Kau membuat aku takut, ku pikir terjadi sesuatu pada emak atau abah sehingga kau menelpon." Kata Nita


"Maaf kak, Elin bicara di waktu yang tidak tepat. Elin hanya punya waktu 3 hari untuk memutuskan, karena tiga hari lagi teman Elin akan berangkat. Dan waktu memasukkan lamaran juga tinggal seminggu lagi." Terang Elin


"Kenapa mendadak sekali? tadi saat di rumah kau tidak membahas hal ini, kenapa saat kakak sudah berangkat kau baru bicara? jika saja kau memberitahu kakak sebelumnya, kita bisa berangkat bersama." Terdengar Nita berkata sedikit ketus.


"Elin juga baru mendapat infonya tadi kak, saat Elin ke pasar setelah kepergian kakak berniat mencari kerja di sana. Elin bertemu teman Elin di situ dan dia memberi informasi ini." Elin berucap dengan lembut agar Nita mengerti.


"Kakak setuju tidak jika aku ke Jakarta melamar pekerjaan?" tanya Elin hati-hati.


"Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu? jika benar, kakak setuju. Perusahaan itu tempat yang sama di mana tempat Kak Danu bekerja. Kamu benar, perusahaan itu memang sedang membuka lowongan pekerjaan." Tutur Nita


"Ini kesempatanmu untuk menunjukkan pada abah dan emak bahwa ijazahmu berguna. Ingat Lin, kamu susah untuk mendapat ijazah SMA maka dari itu kamu harus masuk ke PT. Indoraya ini agar emak dan abah bangga." Kata-kata Nita membangkitkan semangat Elin.


"Elin tidak yakin emak dan abah mengizinkan, kakak tau sendiri bagaimana mereka menentang Elin selama ini." Ucap Elin lemah


"Semua keputusan di tanganmu. Terlepas emak atau abah tidak mengizinkan, kau harus tetap pada tekadmu. Ini kesempatan baik Elin, belum tentu ada kesempatan lain setelah ini. Kau harus memilih jalanmu sendiri untuk masa depanmu, apa kau mau bernasib sama dengan orang tua kita?"


"Kita yang hanya bisa merubah hidup kita. Jika kamu tetap mengikuti keinginan emak dan abah, hidupmu tidak akan berubah. Lihatlah setahun ini, apa ada perubahan dengan keuangan atau usaha abah? tidak ada bukan? lalu apa yang kamu harapkan terus bertahan dengan keadaan yang sama?" tekan Nita


"Jika kau bekerja, kau punya penghasilan sendiri, kau bisa mandiri tidak lagi bergantung pada emak dan abah. Bukan hanya itu, kau juga bisa membantu keuangan abah nantinya setelah kau berpenghasilan, bukankah itu bisa memperbaiki keadaan orang tua kita? Itu yang akan merubah keadaan, Elin!" Nita memberi penjelasan membuka pikiran Elin.


"Terpenting hidupmu tidak akan begini-begini saja, masa depanmu akan lebih baik. Kamu bisa menabung untuk masa depanmu." Sambung Nita.

__ADS_1


__ADS_2