The Poor Girl

The Poor Girl
Terjawab Sudah


__ADS_3

Elin sedikit tenang, dia menegakkan posisi duduk dan mengangkat wajahnya. Imam menurunkan tangannya dari pundak Elin. Mereka berniat akan kembali ke rumah.


"Kamu sudah merasa lega bukan?" tanya Imam


Elin mengangguk, kemudian berdiri menghadap Imam.


"Aku harus pulang, sudah terlalu lama aku di sini. Nanti mereka mencariku?" kata Elin


Imam mengangguk, kemudian ikut berdiri dan melangkah mendekati Elin. Imam


menjulurkan tangannya mengusuk puncak kepala Elin dengan tersenyum.


"Semua akan baik-baik saja." Ucap Imam dengan tangan mengusuk puncak kepala Elin.


Elin mengangguk, Imam menurunkan tangannya kemudian melangkah mendahului Elin.


"Ayo kita pulang!" ajak Imam saat memulai langkahnya.


Elin berjalan mengikuti Imam dari belakang, rumah Elin dan Imam bersebelahan. Mereka sudah lama saling kenal namun hari ini adalah hari pertama mereka berbicara banyak. Hari pertama yang mengesankan bagi keduanya.


Imam mengantar Elin sampai ke depan pintu rumahnya. Dia ingin memastikan pertengkaran itu masih berlanjut atau sudah berakhir. Di tempat mereka berdiri tidak terdengar suara jerit atau teriakan seperti tadi. Elin menatap Imam sejenak kemudian beralih menatap ke dalam rumah.


"Aku masuk dulu." Kata Elin kembali menatap Imam.


Merasa keadaan di dalam sudah tenang, Imam mengangguk. Setelahnya dia pamit pulang pada Elin sebelum Elin benar-benar melangkah ke dalam rumah.


Elin masuk ke dalam setelah Imam melangkah ke rumahnya, Elin berjalan perlahan memasuki ruang tengah. Tampak sepi di sana, tidak terlihat emak mau pun abah. Elin memasuki dapur, di dapur juga tampak sepi. Muncul perasaan cemas di hati Elin.


Dugaan bermunculan di benak Elin, namun dia menepis dugaan yang terlintas di benaknya. Elin dengan cepat mencari keberadaan orang tuanya, dia takut dugaannya benar terjadi. Ada ketakutan dalam hatinya. Takut jika abah dan emaknya melakukan hal yang di luar batas.

__ADS_1


Tersisa kamar orang tuanya yang belum Elin masuki setelah dia memeriksa ruang yang ada di rumahnya. Dengan hati-hati Elin melangkah perlahan mendekati kamar orang tuanya. Semakin mendekati kamar semakin besar rasa takut Elin, rasa takut akan sesuatu yang buruk di dalam sana.


Pintu kamar tampak sedikit terbuka, Elin mendekat mengintip di celah pintu yang terbuka. Dia tertegun mendapati emak sedang menangis di tepi tempat tidur. Tangis itu tidak mengeluarkan suara namun mampu menyayat hati Elin.


Tampak air mata mengalir deras dengan tatapan kosong jauh ke depan. Elin terenyuh dengan keadaan saat ini, dia berjalan memasuki kamar mendekati emak. Elin duduk di sebelah emak, tidak ada niatan dia untuk bersuara.


"Abahmu tidak pernah berubah," ucap emak dengan tangisnya.


"Dia tidak pernah berubah. Setiap emak minta tolong tidak pernah ikhlas, selalu terpaksa." Lanjutnya


"Mak minta tolong dia menebas rumput di belakang, dia tebas asal-asalan. Dia melakukan itu mau tak mau," sambung emak


"Mak lelah Lin, mak lelah menghadapi abahmu. Susah sekali untuk meminta tolong padanya." Lirih mak.


Emak kembali menangis terisak. Elin tidak tau jalan pikiran mak, setelah tadi mak meradang karena marah sekarang tiba-tiba menangis. Elin menarik napas dalam-dalam kemudian menghelanya.


Dengan memberanikan diri Elin membuka suara.


Mak tidak bergeming dia masih menangis. Tidak lama tangis mak mereda, mak menatap Elin.


"Masalah tadi yang emak ceritakan. Dia tidak ikhlas melakukan apa yang mak minta." Ucap mak


"Hati mak sakit melihat dia menggerutu melakukan itu. Melihat dia seperti itu mengingatkan mak akan sakit hati mak padanya di masa lalu." Sambung mak


"Setiap dia membantah, hati mak sakit mengingatkan luka yang pernah dia beri di hati ini. Dada ini sakit setiap mak ingat luka itu. Hati ini terlalu sering di sakiti, terlalu sering di khianati.


Berulang kali dia melakukan kesalahan, berulang kali juga dia meminta maaf. Setelahnya dia ulangi lagi.


Dulu saat kau belum ada, saat kakakmu masih kecil abahmu memiliki cewek, dia selingkuh. Sering dia melakukan itu, setiap kali ketahuan dia meminta maaf.

__ADS_1


Setelah di beri maaf dia kembali berulah, begitu terus berulang kali. Tidak hanya sekali dia melakukan itu. berkali-kali dia selingkuh di belakang emak." Racau mak dengan tangis.


Elin tertegun mendengar penuturan mak mengenai perbuatan abah di masa lalu. Dirinya menyambungkan kejadian demi kejadian setiap kali keributan bermula selama ini. Dia gagal mencerna meski dia mencoba denga keras.


"Sekali saja dia membentak, luka itu kembali terbuka. Sakit itu kembali terasa, mengingatkan kelakuan buruknya di masa lalu. Setiap keburukan itu terlintas, dada ini bergemuruh membangkitkan amarah yang dulu terpendam." Mak kembali bersuara setelah beberapa saat terdiam.


Di kalimat terakhir Elin mulai paham. Dia bisa menyimpulkan ini adalah amarah yang meledak setelah cukup lama di pendam.


"Emak, itu masa lalu. Elin rasa abah tidak mungkin masih melakukan hal itu." Ucap Elin hati-hati.


"Abah sudah tua mak." Sambung Elin, "maafkan lah abah." Lanjutnya dengan pelan.


"Kau tidak tau betapa sakit hati ini, dia sudah banyak menyakiti mak." Timpal mak


"Walaupun mak memaafkan abahmu, tetap saja mak tidak bisa melupakan apa yang sudah dia perbuat. Mak tidak akan bisa melupakan itu." Sambung emak


"Mak tidak akan pernah lupa." Lanjut emak setelah diam sesaat.


Elin mendesah, kerasnya sikap mak tidak akan bisa dia lemahkan. Dia terdiam tidak tau harus berkata apa.


"Kau tau, mak bertahan selama ini hanya karena kalian. Mak bertahan untuk anak-anak mak. Saat itu kakakmu masih anak-anak. Kakakmu dekat sekali dengan abahmu. Tidak ingin terpisah, itu yang membuat emak memilih menerimanya kembali." Jelas mak yang berhasil membuat Elin mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.


Di detik ini terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaan di benak Elin. Pertengkaran selalu terjadi, namun orang tuanya tetap bersama. Ternyata ini alasannya.


"Emak tidak mau pada saat kalian dewasa, kalian menyalahkan mak jika saat itu mak memilih berpisah. Mak menentang keluarga untuk mempertahankan abahmu, itu untuk kalian. Sekarang kalian sudah besar, kalian sudah mengerti." Jelas mak.


Elin terenyuh mendapati kenyataan sesungguhnya. Dia ikut merasakan sakitnya mak saat itu, terbesit rasa sesal di hatinya karena di hatinya dia selalu menyalahkan emak saat keributan itu terjadi.


Namun dia tidak bisa menyalahkan abah saat ini, karena itu terjadi di masa lalu. Masa lalu tetaplah masa lalu, dan itu tidak bisa kembali untuk di perbaiki. Saat ini yang harus di lakukan sama-sama memperbaiki diri. Memperbaiki keadaan, saling memaafkan dan berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


"Emak, maafkanlah abah!" pinta Elin dengan pelan dan hati-hati.


__ADS_2