
Lagi-lagi Elin menangis, menangis terdiam ingat ekspresi abah tak berdaya saat keributan itu terjadi.
Kenapa abah tidak membela diri? kenapa abah diam saja ketika mak merendahkan abah seperti itu? kenapa seorang suami tidak berusaha menasehati istrinya di kala istrinya melampaui batas?
Banyak pertanyaan di benak Elin, kenapa? kenapa? Elin tidak habis pikir, di usia pernikahan yang sudah berlalu dari seperempat abad ini kenapa emak dan abah sering bertengkar. Tidak seperti pasangan lain yang terlihat harmonis saat usia pernikahan berjalan cukup lama. Begitu pikirnya.
Terlebih lagi di usia abah dan emak yang tidak muda lagi kenapa tampak seperti kekanakan. Tidak, bukan abah. Abah tidak kekanakan tapi emak lah yang kekanak-kanakan. Selalu tidak bisa menjaga sikap di saat emosi menguasai dirinya.
"Kasihan abah tidak ada lagi rasa hormat emak untuk abah," batin Elin.
"Tidakkah emak merasa iba melihat abah diam tertunduk seperti tadi?" pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan di benak Elin.
Elin tidak habis pikir perjuangan abah dalam menyambung hidup untuk keluarga ini seperti tidak ada apa-apanya di mata emak jika dilihat dari pertengkaran tadi.
Wajah hitam berkilat abah, wajah penuh garis kerutan, badan yang mulai membungkuk. Punggung yang selalu terasa sakit ketika abah memposisikan badannya akan berbaring. Itu semua tampak jelas, bahwa itu hasil dari perjuangan abah demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga ini.
Begitu keras abah berusaha mencari nafkah, mencari nafkah di bawah teriknya matahari, memanggul barang. Belum lagi ketika malam harus begadang membungkus mentega hingga tengah malam, semua itu perjuangan yang tidak mudah.
Jika hidup ini begini-begini saja itu bukan kesalahan abah, ini adalah takdir. Mungkin hanya ini rezeki keluarga ini. Elin yakin ini semua adalah jalan hidup mereka, tapi kenapa mak tak bisa menerima ini semua?
Elin masih terdiam dengan segala pemikirannya, tatapannya tak beralih sedikitpun, masih mengarah pada satu titik. Sedetik kemudian suara membuyarkan pemikirannya.
"Elin kamu di panggil emak." Suara abah menyadarkan Elin dari semua pemikirannya.
"Emak dari tadi manggil kamu, sana Elin cepat." Lanjut abah karena Elin tidak kunjung bersuara dan tetap diam di tempat.
Pikiran kacau Elin membuat dia tidak mendengar panggilan emak yang ternyata sedari tadi memanggil Elin. Tidak mau membuat mak marah, Elin segera berjalan meninggalkan dapur menemui emak.
Sebelum meninggalkan dapur, Elin menjawab perkataan abah, "Iya Bah."
Elin memasuki ruang tengah, dia berpapasan dengan mak yang ternyata akan meuju dapur menemuinya.
"Kamu ngapain aja, lama sekali. Mak panggil dari tadi gak nongol?" tanya mak.
"Tadi Elin di dapur, gak dengar mak." Ucap Elin
"Kenapa lama?" lanjut mak masih dengan nada yang tidak enak di dengar, sepertinya amarah itu belum sepenuhnya hilang.
__ADS_1
"Maaf mak." Hanya kata itu yang bisa Elin ucapkan, tidak mungkin dia mengatakan kalau dia lama karna terlalu lama melamun. Bukan, bukan melamun. Lebih tepatnya terdiam dengan segala pemikirannya.
"Sudah masaknya?" tanya emak lagi memastikan pekerjaan Elin.
"Sudah mak?" jawab Elin
"Sudah makan?" tanya mak lagi
"Belum mak," jawab Elin singkat
"Sekarang makanlah, setelah itu bantu mak nyapu halaman dan potong rumput halaman belakang," pinta emak.
"Iya mak." Jawab Elin
Usai mendapat perintah Elin beranjak ke dapur untuk makan, sementara emak berjalan keluar rumah melalui pintu depan.
Ketika akan menyuap nasi Elin teringat abah, "apakah abah sudah makan?" batin Elin.
Mengingat abah barusaja bertengkar tidak mungkin rasanya abah sudah makan, Elin mengurungkan niatnya untuk menyuap nasi. Dia beranjak dari duduk berniat mencari abah yang tidak terlihat sedari Elin tinggal di dapur tadi.
Baru saja Elin berbalik, Elin mendapati abah yang tampak baru usai mandi. Elin langsung menanyakan apa yang terlintas dipikirannya.
"Nanti saja." Jawab abah singkat.
"Kamu makan saja." Lanjut abah
"Elin ambilin makan ya Bah." Elin mencoba membujuk abah yang tampak tak bersemangat.
"Abah gak lapar Lin, nanti kalau lapar abah ambil sendiri." Abah menolak.
"Ini sudah lewat jam makan siang Bah." Elin tidak menyerah masih mencoba membujuk.
"Ayo kita makan sama-sama, emak lagi di belakang nyapu halaman." Jelas Elin mencoba mengajak abah makan.
Elin merasa abah segan untuk makan karena malu jika nanti di lihat emak. Dia memberi tau mak sedang bekerja, tidak mungkin masuk ke dapur selama abah makan, begitu maksud Elin.
"Abah makan aja, emak lagi nyapu halaman tidak mungkin mak tau abah sedang makan, abah tidak usah malu bah, kan Elin yang masak." Kata Elin
__ADS_1
"Elin, abah memang tidak lapar, bukan karena malu sama emak." Jelas abah.
"Elin pikir abah malu untuk makan karena baru saja bertengkar dengan mak." Elin mengutarakan pikirannya.
"Kamu kan tau abah, abah tidak akan menahan jika merasa lapar. Jangan khawatir nanti abah akan makan." Abah berkata tersenyum seolah-olah dia baik baik saja.
Meski tersenyum Elin masih bisa melihat kesedihan di mata abah. Elin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Abah boleh Elin bertanya?" Elin bertanya
"Kamu mau tanya apa?" abah berkata
"Kenapa abah diam saja ketika mak marah-marah seperti tadi?" tanya Elin
"Kenapa abah membiarkan emak merendahkan abah seperti itu?
"Kenapa abah tidak pernah membela diri, Bah?" Elin tidak bisa menahan diri lagi, dia terus mengeluarkan pertanyaan yang ada di benaknya. Dia ingin tau alasan abah.
"Kamu lihatkan, mak tadi sedang berapi-api. Kalau abah menanggapi, itu akan memperburuk keadaan Lin." Abah berkata menatap mata Elin.
"Abah diam saja, emak masih berapi-api. Bagaimana jika abah membela diri, kamu bisa bayangkan emosi emak akan semakin tidak terkendali." Jelas abah
"Tidak baik menanggapi emak dalam keadaan emosi seperti itu, karenanya abah memilih diam." Sambung abah
"Tidak usah dipikirkan abah baik baik saja, ini sudah biasa." Kata abah seolah- olah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu lanjut makan lagi saja." Perintah abah.
Elin tidak puas dengan alasan abah, kembali bertanya.
"Kenapa abah membiarkan ini terus terjadi berulang kali, tidakkah abah ingin menasehati emak?" Elin mengutarakan rasa penasarannya kenapa pertengkaran selalu saja terjadi.
"Ini semua memang salah abah," abah menjawab dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. Tampak sedih dan kecewa. Makin dilihat tatapan abah tampak kosong menatap jauh, entah apa yang ada di pikiran abah.
"Kamu makanlah, emak pasti membutuhkan bantuanmu." Sambung abah.
Mendengar perkataan abah, Elin teringat akan tugas yang diberikan emak tadi. Buru-buru Elin menuju meja makan untuk melanjutkan makan yang tertunda.
__ADS_1
Elin makan dengan cepat, tidak peduli hanya nasi putih yang dia makan terpenting baginya perut terisi dan kenyang. Iya benar, saat ini Elin makan nasi putih saja. Tidak ada lauk juga tidak ada sayur. Miris.