
Elin tidak bisa menguasai perasaannya, jantungnya berdebar kencang, hatinya sudah tidak tenang, dia tidak bisa fokus akan kejadian saat ini. Terlebih tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Reyhan saat dia menyambut uluran tangan itu.
Di dalam hati Elin merutuki dirinya yang tidak bisa menutupi kecangguangan ini. Iya benar, Elin benar-benar merasa canggung, dia mulai merasa tidak nyaman mendengar perkataan terakhir Reyhan.
Tidak ingin membuat dirinya bertambah malu, Elin segera pamit pulang
"Aku harus pulang Rey," Elin masih menunduk menyembunyikan wajah yang sudah memerah karena malu. Elin berlalu tanpa menunggu jawaban Reyhan.
"Iya hati-hati," Reyhan berkata dengan melambaikan tangan, karena Elin sudah melangkah keluar pagar. Elin menoleh dan balas melambaikan tangan ke arah Reyhan.
Sepanjang perjalanan pulang Elin tampak terus tersenyum, pancar kebahagian terlihat di wajahnya.
"Akhirnya aku bisa berteman dengan Reyhan," Elin merasa senang keinginannya untuk dekat dengan Reyhan terwujud
"Semoga aku bisa bersikap baik kepadanya, semoga aku bisa bersikap layaknya teman." Elin berharap dirinya bisa membawa diri beradaptasi dengan status barunya. Dengan begitu dia akan bisa banyak belajar komunikasi sesama teman.
Dia paham akan dirinya yang kurang bergaul membuat dia sering kali banyak terdiam ketika dia tengah berkumpul dengan teman-temannya. Dia memang tidak bisa benyak bicara, tapi untuk kali ini dia ingin merubah dirinya agar bisa membuat Reyhan merasa nyaman menjadi temannya.
Jam menunjukkan pukul 04.30. Di kamar berukuran 2×3 meter tampak Elin mengerjapkan mata berusaha menormalkan penglihatannya yang buram karena baru bangun tidur.
"Jam berapa ini?" gumam Elin matanya melirik jam dinding yang tergantung di atas lemari plastik yang ada di kamarnya.
Kamar 2×3 meter ini tidak tampak layaknya kamar, ruangan sempit hanya bersekat dinding triplek rapuh yang hanya berisi satu tempt tidur kecil dan satu lemari plastik. Tidak banyak ruangan tersisa, ruang tersisa hanya cukup untuk melakukan shalat saja.
Elin memulai aktivitas pagi seperti biasa. Tepat pukul 06.00 Elin berangkat menuju ke sekolah. Ketika akan melewati gang rumah Reyhan, Elin berhenti sesaat menoleh mencari keberadaan Reyhan, berharap ia bisa melihat Reyhan. Namun yang di cari tidak terlihat, tampak rumahnya masih sepi.
Elin melanjutkan langkah hingga tiba di gerbang sekolah. Ia bertemu Ica berdiri di depan gerbang.
"Elin gimana kemarin? ngomong apaan Si Reyhan?" tanya Ica mendesak yang memang sengaja menunggu Elin untuk menanyakan hal ini.
__ADS_1
"Gak ada yang penting," jawab Elin yang tidak mau menceritakan yang sebenarnya.
"Pelit kamu Lin, gak mau cerita sama aku. Ayolah Lin aku udah banyak cerita tantang aku ke kamu." Ica memelas, tangannya bergelayut di lengan Elin.
"Dia merasa punya salah sama aku, kemarin saat pulang sekolah Reyhan meminta maaf," kata Elin sembari berjalan menuju kelas.
Dahi Ica mengernyit heran, "Minta maaf?" ulang Ica
"Minta maaf perihal apa?" Ica berjalan cepat menyusul Elin yang meninggalkannya. "Hei Elin, tunggu aku." panggil Ica
Setelah berhasil menyusul langkah Elin, Ica membrondong Elin dengan pertanyaan.
"Kenapa Reyhan minta maaf sama kamu Lin? kesalahan apa yang dia lakukan? Kenapa kamu gak mau cerita sama aku? Lin ayolah aku ini temanmu," pertanyaan itu keluar tanpa memberi celah Elin untuk menjawab setiap pertanyaan.
"Gimana aku mau jawab, kamu dari tadi nanya terus gak kasih aku kesempatan buat ngomong," ucap Elin kesal
"kalau nanya satu-satu," lanjut Elin
"Aku gak bisa cerita hal apa yang membuat Reyhan merasa bersalah dan minta maaf, ini privasi Ica." Kata Elin menatap wajah Ica,
"Maaf," Elin merasa bersalah melihat wajah kecewa Ica saat dia menolak untuk menceritakan apa yang membuat Ica penasaran.
"Kamu gak asyik." Ica kesal meninggalkan Elin begitu saja.
Pengumuman pelaksanaan Ujian Nasional sudah terpampang di papan pengumuman, semua siswa siswi mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional terhitung seminggu lagi ujian akan diadakan.
Selama satu minggu ini semua murid kelas 3 atau IX di liburkan, agar bisa menggunakan waktu libur untuk belajar.
Kenyataannya tidak dengan Elin, tidak ada yang berbeda dengan aktivitas Elin. Dia tetap bekerja membantu abah berdagang, dan juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga layaknya ibu rumah tangga. Ketika malam barulah ia bisa menggunakan waktunya untuk belajar.
__ADS_1
"Abah, maaf Elin tidak bisa membantu abah beberapa hari ini?" Elin merasa tidak tega melihat abah sendirian mengerjakan pekerjaan malam yang tidak sedikit.
"Gak apa Nak, nanti emak juga bantuin abah, kamu belajar aja." Jelas abah
"Malam ini gak terlalu banyak mentega yang datang, jangan pikirkan abah. Kamu harus fokus karena ini menyangkut hasil belajar kamu 3 tahun ini Lin." Abah menatap Elin untuk meyalinkan Elin.
"Baiklah, Elin belajar di kamar aja Bah," Elin berlalu menuju kamarnya. Elin belajar hingga hampir tengah malam.
Selama libur Elin tidak pernah melewatkan waktunya untuk hal yang tidak penting. Tak henti-henti Elin belajar dan berdoa untuk kelulusannya.
Hari senin hari yang telah di tentukan untuk mengaadakan ujian nasional. Tepat hari ini ujian di laksanakan, tampak semua murid telah siap di depan ruang ujian masing-masing.
Elin duduk dengan memegang buku dalam keadaan terbuka, dia sedang serius membaca dan mempelajari apa isi dari buku itu, sedetik kemudian datang Ica membuyarkan konsentrasi Elin.
"Woy, serius amat. Gak usah tegang gitu napa, Kalo emang nasib lulus ya tetap lulus, tapi kalo udah nasibnya gagal ya... tetap gagal," Ica berujar dengan santai, berasa tidak punya beban.
Elin tidak memberi tanggapan, dia tetap melanjutkan membaca buku pelajaran, bagi Elin kelulusan keharusan yang mutlak, tidak ada waktu untuk bermain-main menanggapi perkataan Ica.
"Aku di kacangin nih," kata Ica dengan wajah memelas, "kamu tu gak pernah berubah ya... banyak diemnya, gak bosen apa diem mulu," Ica sedikit kesal di abaikan.
"Aku lagi belajar, jangan ganggu," kata Elin tanpa melihat wajah Ica.
Sikapnya yang seperti inilah yang membuat dirinya tidak memiliki banyak teman, sikapnya yang terkesan cuek dan tidak banyak bicara membuat lawan bicara bosan.
"Gak asyik!" cetus Ica dengan nada ketus, dia berlalu meninggalkan Elin yang terus fokus dengan bukunya.
"Pantesan anak-anak gak mau berteman dengannya, terlalu pendiam gak asyik," Ica yang kesal terus menggerutu sambil berjalan.
Bel berbunyi, pertanda ujian akan di mulai. Semua murid masuk ke ruang masing-masing.
__ADS_1
Elin sudah duduk di bangkunya, dia tampak siap menghadapi ujian. Meski terlihat tenang, di dalam hati dia gelisah. Akankah dia bisa menjawab soal ujian dengan benar? dia terus berdoa untuk kelancaran ujiannya.