The Poor Girl

The Poor Girl
Kepergian Elin


__ADS_3

"Iya bapak benar," ucap abah menimpali perkataan ayah Ica.


Perbincangan mereka terhenti karena bus akan segera berangkat. Elin dan Ica pamit pada keluarga masing-masing. Mereka masuk ke dalam bus mengambil tempat duduk. Bus mulai berjalan, tampak Ica dan Elin melambai ke arah keluarga mereka.


Perasaan bahagia dan sedih mengahmpiri Elin. Untuk pertama kalinya dia keluar rumah dan langsung pergi sejauh ini dari orangtuanya. Dia sedih mengingat wajah emak merasa kehilangan dirinya.


Mobil melaju dengan kencang, Elin menatap ke luar kaca mobil menikmati pemandangan yang tidak pernah terjamah oleh matanya. Dia bahagia bisa keluar kota mencari pengalaman hidup yang tidak pernah dia rasakan.


"Apa yang kau lihat?" tanya Ica heran melihat Elin sejak tadi hanya fokus menatap ke luar kaca.


Elin menoleh, "melihat pemandangan yang kita lewati, aku ingin merasakan nikmatnya perjalanan ini," jawab Elin. Dia menyimpan memori ini ke dalam benaknya.


"Apa kau senang?" tanya Ica.


"Iya, tapi juga sedih," wajah Elin mendadak sendu.


"Jangan pasang wajah sedihmu itu, kau pergi untuk masa depan yang lebih cerah, seharusnya kau bahagia," ucap Ica


"Kau akan tersenyum lebar jika saja kau tahu perusahaan itu sangat lah besar, dan kita akan bekerja di sana dengan gaji yang juga lumayan besar," sambungnya.


"Ini pertama kali untukku, aku belum terbiasa jauh dari orangtuaku. Aku mencemaskan mereka yang sekarang mungkin sedang menangisiku," ucap


Elin.


"Kita sama, ini juga pertama kali untukku. Lihatlah aku biasa saja." Timpal Ica.


Elin tidak lagi menanggapi Ica, dia diam menatap lurus ke depan. Ica berdecak melihat Elin seketika diam. Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu 6 jam. Tidak lama Elin sudah terlelap begitupun Ica.


Jam makan siang bus berhenti tepat pukul 13.00, artinya tinggal separuh parjalanan yang akan mereka tempuh. Elin memakan bekal yang dia bawa dari rumah. Lima belas menit berlalu, seluruh penumpang mulai memasuki bus dan bus kembali melaju.


Bus memasuki terminal Kalideres, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Tampak Ica dan Elin turun dari bus lalu menuju bangku yang ada di terminal, mereka duduk menunggu jemputan.


"Alhamdulillah sampai juga akhirnya," ucap Elin setelah menduduki bangku tunggu.

__ADS_1


"Kita baik-baik saja bukan? benar bukan yang aku katakan?" ungkit Ica mengenai perkataannya yang mengatakan mereka akan baik-baik saja selama di perjalanan.


"Ya, kau benar. Sudahlah semua kan baik-baik saja, tidak perlu membahas hal itu," balas Elin.


"Lain kali jangan meragukan aku, percayalah aku tidak mungkin menjerumuskan teman baik sepertimu, meski kadang-kadang menyebalkan," ucap Ica.


"Kau akan tinggal di mana?" tanya Elin.


"Aku akan tinggal di rumah bibiku di dekat sini, mereka dalam perjalanan menuju kemari. Sebenarnya rumahnya dekat dari sini, tapi aku lupa jalannya," jawab Ica.


"Nanti kita masukkan lamarannya barengan ya," pinta Elin.


"Ya, nanti kau kuhubungi, pantau terus ponselmu." Kata Ica.


Perbincangan mereka terhenti saat wanita paruh baya menghampiri Ica, yang ternyata bibinya Ica.


"Hallo bibi, apa kabar?" sapa Ica dengan tangan terulur meraih tangan bibinya dan mengecup punggung tangan itu.


"Bibi jangan terlalu memuji, aku serasa melayang karenanya," kata Ica dengan tersenyum.


"Kenalin Bi, ini temanku dari Kota Bumi juga. Kami akan melamar pekerjaan di tempat yang sama," ucap Ica memperkenalkan Elin pada bibinya.


"Hallo bibi, saya Elin," sapa Elin


"Jadi kamu yang berangkat ke sini bersama Ica, terima kasih sudah mau menemani Ica. Semoga kalian berdua di terima kerja di sini," ucap bibi pada Elin


Elin mengernyit mendapat pernyataan terima kasih dari bibi Ica, seharusnya dia yang berterima kasih. Tapi kenapa justru terbalik, memalukan. Dia merasa tidak enak mengingat dirinya tidak pernah mengucap sekalipun rasa terima kasih pada Ica.


"Seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih ke Ica, Bi. Karenanya saya bisa mendapat kesempatan ini. Dia yang sudah berjasa memberikan informasi lowongan ini pada saya," jawab Elin menjelaskan pada bibi.


"Tetap saja bibi harus berterima kasih padamu, ayo kita ke rumah. Kamu bisa tinggal juga di rumah bibi, bibi hanya punya satu anak dan tinggalnya tidak di sini. Rumah tidak sepi lagi jika kalian tinggal bersama bibi," bibi tampak tulus mengajak Elin.


"Maaf bi, Elin juga sedang menunggu kakak yang akan menjemput. Elin tidak bisa ikut bibi, lain kali insha Allah Elin akan mampir," Elin menolak dengan halus.

__ADS_1


"Baiklah, bibi dan Ica akan menemanimu hingga kakakmu tiba," ucap bibi.


"Tidak usah Bi, bibi pulang saja. Ica pasti lelah dia harus istirahat," ucap Elin


"Tidak baik gadis sendirian di sini, bisa-bisa kamu di ganggu orang. Bibi tidak akan pergi sebelum kakakmu datang, bibi ingin memastikan dirimu aman," jawab bibi.


"Terima kasih bibi, Elin jadi merepotkan," Elin merasa tidak enak dengan kebaikan yang di tunjukkan bibi.


"Tidak boleh bicara seperti itu, kamu itu sama seperti keponakan bibi. Tidak ada kata merepotkan. Jangan sungkan," ucap bibi


Tidak lama tampak kak Nita berjalan mendekat ke arah Elin. Elin memberitahu bibi bahwa kakaknya sudah datang, bibi dan Ica menoleh mengikuti jari telunjuk Elin yang mengarah pada kakaknya.


Elin memperkenalkan kak Nita pada bibi dan Ica setelahnya mereka kembali ke rumah masing-masing setelah terlibat perbincangan.


"Kakak lega kamu tiba dengan selamat, kamu tahu kakak tidak bisa tenang saat kamu di perjalanan tadi. Kakak takut terjadi sesuatu padamu yang akan jadi tanggung jawab kakak karena kakak yang bersikeras padamu untuk kemari," ucap Nita.


"Terima kasih kak, berkat kakak Elin bisa merasakan pengalaman yang berbeda. Elin bahagia bisa menginjak kota Jakarta. Elin tidak pernah bermimpi untuk ke Jakarta, Elin benar-benar tidak percaya ini," kata-kata Elin penuh semangat.


"Mulai saat ini bersikaplah lebih berani, tekan dirimu melakukan hal yang berbeda. Jangan menutup diri dari dunia liar, kamu perlu melihat dunia luar agar wawasanmu bertambah. Tapi harus dalam hal yang positif," jelas Nita.


"Kapan kamu akan masukkan lamaranmu?" Sambung Nita


"Empat hari lagi kak, aku akan pergi nanti bersama Ica," jawab Elin.


"Iya tidak apa, perusahaannya juga dekat sini. Jadi kalian tidak perlu kakak temani." Kata Nita


Empat hari berlalu, tepat hari ini Elin dan Ica akan mengajukan surat lamaran mereka. Ica optimis mereka akan di terima dia tampak tenang. Berbeda dengan Elin yang terlihat gelisah setelah lamaran di ajukan. Tiga hari ke depan mereka akan melakukan interview.


"Kau tampak begitu percaya diri," ucap Elin heran.


"Tentu saja, apa kau tidak tahu?" tanya Ica ambigu membuat Elin mengerutkan dahi dengan berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2