
Elin mengerjap, matanya beralih ke arah seorang wanita cantik yang bersama dengan Reyhan. Sekilas orang melihat akan menilai mereka adalah pasangan serasi, pria tampan dan wanita cantik.
"Siapa perempuan cantik itu?" bisik hati Elin
Meski Elin tau Reyhan sering kali gonta ganti pacar tapi hatinya merasa sakit melihat apa yang ada di depan matanya saat ini setelah satu tahun setengah tidak berjumpa.
Tidak ada niatan Elin untuk mendekat, dia hanya menatap dari kejauhan hingga sosok dua insan yang tampak akrab itu pergi dan menghilang dari bayangan mata Elin.
"Mungkin kau tidak mengingatku," lirih Elin sedih
Kepulangan Reyhan memang tidak di ketahui Elin, karena sejak pertemuan terakhir itu mereka tidak pernah menjalin komunikasi. Bahkan mereka tidak pernah bertemu.
Elin beranjak melanjutkan niatnya yang tertunda.
Pagi menyingsing, matahari memancarkan sinar. Elin mengerjapkan mata berulang-ulang menormalkan penglihatannya yang buram. Dia meregangkan otot, duduk dan bangkit dari tempat tidur.
Selesai dengan pekerjaan paginya Elin bersiap-siap akan berangkat ke sekolah.
Kini Elin sudah berada di dalam kelas, siap menerima pelajaran seperti biasa.
Tiga jam pelajaran sudah berlalu waktunya istirahat.
Elin melangkah keluar kelas hanya untuk duduk di depan kelas, dia tetap Elin yang dulu jarang ke kantin hanya beberapa kali saja. Tampak Elin Duduk di depan kelas dengan beberapa teman sekelasnya.
Mata Elin menangkap sosok laki-laki baik yang bernama Rico berjalan mengarah ke tempat dia duduk saat ini, dari jauh dia bisa melihat Rico tersenyum.
Elin membalas senyum itu, kini Rico mengambil duduk tepat di sebelah Elin. Jantung Elin berdebar, hatinya merasakan ada yang berbeda.
Tidak lama Rico membuka percakapan dengan salah satu anak yang sekelas dengan Elin, ternyata Rico ada keperluan dengan orang tersebut. Elin malu karna salah paham, dia pikir Rico menghampiri karena ingin dekat dengannya. Dia terlampau percaya diri, memalukan.
Elin berniat akan ke kantin guna menghindari Rico karena dia malu. Namun dia tidak ingin pergi sendiri ke kantin, akhirnya dia mengajak teman lain yang juga duduk di bangku panjang itu.
"Tati, temani aku ke kantin yuk!" ajak Elin
"Males ah, bentar lagi waktu masuk," tolak Tati karena jam istirahat sudah lama berlalu, artinya waktu istirahat tidak akan lama lagi berakhir
"Ayolah, aku haus pengen beli minum," pinta Elin dengan alasan
Saat Elin akan berdiri, dia melihat Rudi lebih dulu berdiri menghadap ke Elin dan tersenyum.
"Ayo, aku temani." Ucap Rico
__ADS_1
Elin terperangah, lagi-lagi Rico membuatnya terkejut akan sikap baiknya itu. Rico melangkah lebih dulu, di susul Elin di belakang.
Elin senang, hatinya berbunga-bunga. Katakanlah dia merasa GE-ER sekarang. Tentu dia merasa ada sesuatu dalam hati pria ini karena kebaikannya. Elin benar-benar tersanjung.
Lagi-lagi dia mendapat perlakuan manis dari Rico yang tidak pernah dia dapatkan dari laki-laki mana pun sebelum ini.
Rico yang jalan lebih dulu menghentikan langkahnya untuk mensejajari langkah Elin.
"Kamu mau beli apa?" tanya Rico setelah mereka jalan beriringan
"Beli minum aja," jawab Elin ragu, karena bingung harus menjawab apa. Niatnya ingin menjauh justru membuat dia dan Rico jalan berdua.
"Kamu sendiri mau beli apa?" tanya Elin menoleh menatap Rico
"Aku gak beli apa-apa," jawab Rico
Mereka memasuki kantin hendak membeli minuman untuk Elin, namun bel masuk berbunyi. Elin menatap Rico seakan tatapan itu bertanya apakah mereka akan melanjutkan niat untuk beli minuman atau tidak ?
Rico mengerti, "bukankah kamu haus, beli saja aqua gelas," tutur Rico
"Baiklah," jawab Elin segera melangkah ke dalam kantin. setelah mendapatkan apa yang dia inginkan Elin keluar kantin.
Elin tertegun mendapati Rico masih menunggu sementara bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
"Aku menunggu kamu, tidak mungkin aku meninggalkanmu tanpa pamit," kata Rico lembut menatap Elin
"Baiklah, ayo kembali ke kelas. Kamu keberatan kalau aku tidak mengantarmu ke kelas?" tanya Rico.
"Tidak, tidak keberatan sama sekali. Kita langsung ke kelas masing-masing aja, kelas kita berlawanan arah tidak mungkin kita kembali ke kelas bersama," jawab Elin cepat
"Baiklah, sampai jumpa," Rico tersenyum lalu berbalik, begitu pun Elin ikut berbalik. Mereka berjalan saling memunggungi menuju kelas mereka yang memang berlawanan arah.
Hati Elin menghangat, jantungnya berdebar-debar. Dia merasa senang, merasa di perhatikan.
Elin pernah mencintai namun tidak berbalas. Hatinya belum di miliki seseorang sehingga hatinya akan mudah jatuh ke dalam pesona laki-laki yang dekat dengannya.
"Dia laki-laki paling baik yang pernah aku kenal," bisik hati Elin
Elin tiba di depan kelas tampak anak-anak di dalam tengah ribut, sibuk berbicara satu sama lain, tidak tampak guru di dalam sana.
Elin masuk menuju bangkunya, namun Nina menghadang langkahnya.
__ADS_1
"Kau dari mana saja?" tanya Nina
"Tidak biasanya kau terlambat masuk, aku mencarimu sedari tadi," ketus Nina
"Aku dari kantin," jawab Elin acuh, dia melanjutkan langkah setelah Nina memberi ruang.
Nina melebarkan matanya terkejut, "hah," mulutnya ternganga
"Mimpi apa kau ke kantin sampai jam masuk seperti ini?" sambung Nina
"Aku hanya sebentar ke kantin, aku ke kantin saat jam istirahat sudah akan berakhir," jawab Elin
"Kau ke kantin sendiri?" tanya Nina menyelidik
"Tidak," jawab Elin singkat
"Dengan siapa?" tanya Nina dengan dahi berkerut
"Kau sudah seperti wartawan, banyak tanya." Jawab Elin
"Kau tinggal jawab saja, apa susahnya?" kesal Nina
"Kau ke kantin tanpa mengajakku dan memilih pergi dengan yang lain," ketus Nina kesal
"Aku tidak melihatmu tadi, jadi aku putuskan ke kantin dengan Rico," jawab Elin
Nina melongo tak percaya, matanya melebar menatap Elin.
"Kau-," ucapan Nina terputus setelah Elin melanjutkan perkataannya
"Aku belum selesai bicara," jawab Elin cepat menyela perkataan Nina.
"Saat aku duduk di depan kelas tadi, aku merasa haus dan meminta Tati yang duduk bersamaku untuk menemani ke kantin. Tati menolak, saat itu ada Rico juga duduk di bangku yang sama. Dia menawarkan diri untuk menemaniku ke kantin," jelas Elin benar adanya.
Nina heran dahinya berkerut dalam menelisik wajah Elin apakah ada kebohongan di mata itu, namun dia tidak menemukan kebohongan di mata Elin. Dia paham akan sifat Elin yang tidak akan berbohong padanya.
"Kau yakin hanya itu?" selidik Nina yang tak percaya.
Jelas saja Nina tidak mempercayai yang baru saja dia dengar. Elin bukan tipe orang yang mudah dekat dan akrab dengan orang yang baru saja dia kenal.
Nina tau betul antara Elin dan Rico mereka sama-sama tidak saling kenal selama ini.
__ADS_1
Mendengar cerita Elin, ini menunjukkan seolah mereka sudah sangat dekat, tentu Nina tidak yakin akan hal ini.