
Malam menjelang, Elin merebahkan tubuhnya di atas ranjang usang yang terbuat dari kayu berukuran 2×1 meter, kecil sekali. Hanya muat untuk satu orang saja.
"Badanku sakit semua," gumam Elin
"Begini rasanya menebas rumput, begitu melelahkan." Elin teringat akan abah yang sering kali menebas rumput terhitung 1 bulan sekali kegiatan itu di lakukan abah.
Tidak berniat tidur, hanya ingin mengistirahatkan badan namun yang terjadi Elin justru tertidur, dia lelah sehingga tertidur tanpa makan malam.
Pagi hari Elin terbangun, dia bangkit lalu duduk. Dia berusaha menghilangkan rasa kantuk dengan sesekali mengerjapkan mata menormalkan penglihatannya yang buram.
"Jam berapa ini?" gumam Elin
"Kenapa abah dan emak tidak membangunkanku?" batin Elin. Matanya mengarah ke jam dinding yang ada di kamar.
"Pantas saja tidak ada yang membangunkan aku, ternyata masih terlalu pagi." Batin Elin sembari beranjak dari tempat tidur.
Elin berjalan menuju kamar mandi berwudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelahnya Elin mencari keberadaan emak dan abah yang tidak terlihat sejak Elin bangun.
"Apa abah dan emak sudah ke pasar? tidak mungkin rasanya ke pasar tanpa mnembangunkanku?" pikir Elin
Elin berjalan ke arah ruang depan ingin memastikan apa benar yang ada di pikirannya saat ini.
"Semua barang masih di tempat, itu artinya abah belum berangkat ke pasar." Gumam Elin.
Elin berniat menuju kamar abah ingin membangunkan abah karena memang abah jam segini waktunya pergi ke pasar. Baru saja Elin berbalik badan akan melangkah, abah muncul dari dalam rumah.
"Abah sudah bangun?" tanya Elin.
"Elin baru saja akan membangunkan abah, Elin tau abah belum bangun karena semua barang masih utuh." Ucap Elin
"Iya semalam abah tidur terlalu malam jadi kesiangan." Ucap abah
"Ayo kita ke pasar, ini sudah mulai siang Elin." Ajak abah karena kali ini mereka berangkat lebih terlambat dari biasanya. Siang maksud abah terdengar berlebihan, namun itu memang jadi prinsip abah jika terlewat dari waktu yang semestinya itu di katakan siang bagi abah.
"Apa emak belum bangun Bah?" tanya Elin
"Sepertinya sudah, tadi ketika abah akan keluar, abah dengar suara air dari kamar mandi." Ucap abah
"Ya sudah ayo kita jalan, kita bisa terlambat Elin." Abah mengingatkan.
__ADS_1
Abah dan Elin memulai pekerjaan seperti hari-hari biasanya, selesai dengan pekerjaannya seperti biasa Elin bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Di Sekolah
Tampak Elin berjalan memasuki gerbang sekolah, tampak wajahnya suram tak terlihat semangat seperti biasa yang menghiasi hari-harinya. Elin berjalan gontai dengan menunduk.
Bruukk
Elin yang berjalan menunduk menabrak seseorang.
"Aaww." Elin sedikit menjerit.
Tabrakan kuat itu menyebabkan dahi Elin terasa sakit. Elin mengelus dahinya yang terasa sakit masih dengan posisi menunduk.
"Kamu hobi banget ya... nabrak aku." Suara itu yang amat di kenal Elin membuat Elin mengangkat kepala dan melihat jelas Si pemilik suara.
"Reyhan." Bisik Elin pelan dengan wajah bengong.
Reyhan yang bisa melihat wajah bengong Elin berniat menggoda Elin
"Senang banget yah nabrak orang ganteng." Goda Reyhan tersenyum dengan alis naik turun.
"Ini memalukan, aku selalu gugup berhadapan dengan Reyhan." Bisik hati Elin
"Hallo..." Reyhan berkata dengan tangan melambai di depan wajah Elin.
"Lagi... lagi... kamu melamun, bisa-bisanya kamu melamun saat aku ada didepanmu. Oh, aku tau, kamu lagi mengagumi ketampananku kan." Reyhan terus saja menggoda Elin.
"Aku memang tampan, jangan melihatku terlalu lama nanti kau jatuh cinta." Ucap Reyhan percaya diri. Reyhan yang menyadari Elin salah tingkah makin bersemangat ingin terus menggoda Elin.
"Apaan sih." Ucap Elin dengan wajah merah padam menahan malu.
Elin yang tidak terbiasa di perlakukan seperti ini tidak tau akan menanggapi seperti apa, pada akhirnya dia berlalu meninggalkan Reyhan.
Elin sudah tidak tahan berhadapan dengan Reyhan membuatnya salah tingkah dan dia tau itu karenanya dia memilih pergi. Dia tidak bisa mengendalikan suasana hatinya.
"Hahahaha." Reyhan tertawa merasa lucu melihat wajah Elin memerah karenanya.
Tawa Reyhan terdengar jelas di pendengaran Elin. Dia merasa di tertawakan karena tingkahnya yang malu-malu. Seketika hatinya sakit merasa di permalukan.
__ADS_1
"Kenapa dia harus menunjukkan bahwa dia memang bisa melihat aku salah tingkah? kenapa dia sengaja memperlakukan aku seperti ini?" batin Elin sakit karena merasa di tertawakan akan sikapnya yang mungkin sangat terlihat memalukan di depan Reyhan, begitu pikir Elin.
Elin mempercepat langkahnya, ingin segera menjauh menyembunyikan matanya yang mulai terasa panas mungkin sebentar lagi air mata itu akan mengalir deras.
Air mata menetes di ujung mata Elin, rasa sakit mendorong air mata itu tetap menetes meski Elin berusaha kuat untuk menahannya.
"Sulit sekali bagiku bersikap biasa saja ketika berhadapan dengannya." Elin mengeluh pada diri sendiri.
"Kenapa aku tidak seperti yang lain, bisa bersikap normal berhadapan dengan laki-laki tampan, kenapa aku harus begitu malu?" Elin putus asa dengan dirinya yang memang bersifat pemalu.
Elin yang selalu sibuk dengan pekerjaan rumah dan sekolah membuatnya tidak mempunyai banyak waktu untuk bergaul sesama teman sebayanya sehingga membuat Elin susah berinteraksi dan beradaptasi.
Keadaan ekomomi yang sulit dan hubungan orang tua yang kurang harmonis membuat Elin menghadapi kehidupan yang keras. Kerasnya kehidupan dan sikap keras emak pada Elin tanpa disadari mempengaruhi perkembangan mental Elin.
Pertengkaran orang tua yang sering terjadi di depan mata Elin, membuat mentalnya ciut. Semua itu tidak disadari oleh kedua orangtua Elin atau pun Elin sendiri.
Elin sadar sepenuhnya sikapnya yang pendiam dan pemalu ini bagai boomerang baginya, dia sulit membawa diri dan susah beradaptasi. Tapi dia juga tidak bisa untuk mengubahnya.
Elin terus melangkah menuju kelas, dia sudah sedikit tenang.
"Hai Elin." Sapa Ica. Ketika Elin melewati kelas 3B atau lebih tepatnya kelas 9B.
"Hai." Elin kembali menyapa.
"Setelah lulus kamu mau lanjut SMA mana Lin?" tanya Ica to the poin
"Belum tau." Jawab Elin yang memang belum mempunyai pilihan. Bukan, bukan belum punya pilihan tapi lebih tepatnya belum terpikir akan lanjut ke sekolah mana.
"Kamu sendiri mau lanjut SMA mana Ca?" tanya Elin ke Ica
"Aku belum memutuskan, masih bingung aku Lin. Orangtua aku menginginkan aku masuk SMA unggulan tapi aku merasa gak sanggup Lin, otak aku gak akan mampu bersaing di sekolah yang semuanya anak pintar." Kata Ica terdengar seperti mengeluh.
"Aku capek Lin, aku rasa otak aku ini mulai lelah berpikir. Aku gak mau lanjut sekolah rasanya." Keluh Ica yang berkata penuh penekanan pada kata otak.
Elin terkesiap dengan ucapan Ica, dia tidak menyangka ada juga anak yang menginginkan putus sekolah dengan alasan otak yang tidak mampu.
Berbanding terbalik dengan Elin, Elin sangat ingin melanjutkan pendidikan tapi kehidupan ekonomi sulit menjadi penghalang bagi Elin untuk melanjutkan keinginannya.
Elin geram mendengar perkataan Ica, "Bukan otakmu yang lelah tapi kamunya yang malas." Ucap Elin geram
__ADS_1