
"Kak Ryan?" gumam Elin.
Elin menatap laki-laki yang bernama Ryan itu, Ryan tampak berbicara serius dengan lawan bicaranya. Elin memperhatikan sahabat lama kakaknya itu, Ryan adalah sahabat kakak laki-laki Elin yang kini berada Riau.
Elin melangkah mendekati Ryan yang tengah berdiri memperhatikan tenaga kerja baru yang berlalu lalang di tempat itu.
"Kak Ryan?" ucap Elin yang kini berdiri di belakang Ryan.
Ryan berbalik mendapati seorang gadis yang menyebut namanya, dengan dahi berkerut Ryan menatap Elin menelisik wajah itu, seperti familiar. Ryan mengingat di mana dia pernah bertemu gadis ini? namun dia tidak menemukan jawabannya.
"Kak Ryan tidak mengenaliku?" tanya Elin heran menyaksikan wajah datar Ryan.
Ryan mengerutkan dahi dengan alis bertaut, dengan menunduk Ryan memiringkan kepalanya menatap Elin lebih dekat.
"Aku Elin, Kak," ucap Elin memberitahu Ryan dengan harapan Ryan akan mengenalinya.
"Elin adiknya kak Alex, sahabat kakak waktu SMA," kata-kata Elin mengingatkan Ryan pada sahabatnya itu.
Ryan menegakkan badannya, dia menatap Elin dengan alis bertaut. Senyum terbit di wajah itu, saat dia telah mengingat gadis yang ada di hadapannya kini.
"Kamu Elin, Si bocil pemalu dulu?" tanya Ryan menyebut Elin dengan julukan kecilnya.
Wajah Elin berubah cemberut dengan bibir sengaja di monyongkan membuat Ryan terkekeh.
"Sudah besar kamu Bocil, makan apa kamu bisa setinggi ini, gak nyangka Bocil pemalu tumbuh besar menjadi gadis cantik seperti ini," ledek Ryan
Elin mencibir. Ryan yang dia kenal tidak berubah, sejak dulu saat dia berusia 13 tahun Ryan sering kali usil dan jahil suka mengganggunya. Saat itu Ryan sering berkunjung ke rumahnya menemui kakak Alek, kakak laki-laki Elin satu-satunya.
Persahabatan keduanya terjalin lama membuat Elin akrab dengan kak Ryan. Ryan sering main ke rumahnya waktu itu, Ryan sudah seperti kak Alex di mata Elin, dia menganggap Ryan sebagai kakaknya.
"Elin sudah gadis Kak, jangan lagi jayus sama Elin," ucap Elin.
"Sudah gadis to, tapi wajahmu seperti anak-anak," timpal Ryan
"Ini babyface Kak, banyak gadis menginginkan wajah seperti ini. Aku salah satu gadis yang beruntung," ucap Elin bangga dengan mengelus wajahnya.
"Dasar bpBocil," ucap Ryan mengacak rambut Elin.
__ADS_1
"Hentikan kak, kakak membuat rambutku berantakan," ucap Elin dengan wajah cemberut.
"Biarin," ledek Ryan tertawa kecil.
Elin merapikan rambutnya dengan menyisir menggunakan jari kedua tangannya sembari menggerutu karena kesulitan.
"Tuh kan susah rapinya. Sudah tahu Elin akan bekerja, kakak justru mengacaukan penampilan Elin," gerutu Elin.
Ryan lagi lagi terkekeh, "sudah sana kerja, ini waktunya jam kerja," ucap Ryan mendorong punggung Elin.
"Jangan dorong Elin Kak, Elin bisa jalan sendiri," ucap Elin kesal.
"Sudah sana," ucap Ryan menarik tangannya dari punggung Elin.
Elin melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja, Redo menatap Elin tak berkedip. Tatapan yang sulit di artikan. Melihat Elin mengingatkan Ryan pada kejadian 5 tahun silam di mana waktu itu terakhir dia melihat sahabatnya Alex duduk di pelaminan, sejak saat itu dia tidak lagi mengetahui kabar sahabatnya itu.
Mengingat 5 tahun silam membuat wajah Ryan berubah sendu, matanya berkaca-kaca menampakkan kilatan di dalam sana. Dia menatap Elin yang sudah menjauh dengan tatapan nanar, matanya memerah.
*****
Hari pertama bekerja terasa sangat melelahkan. Jam kerja 11 jam membuat badannya lemah, saat ini menunjukkan pukul 19.00 WIB, dia hendak pulang.
Elin melangkah menuju gerbang pabrik yang tidak jauh dari ruang kerjanya, namun karena cuaca gelap dan pabrik tampak sudah sepi jalan menuju gerbang terasa jauh baginya.
"Kenapa sepi sekali?" gumam Elin.
Teman kerja Elin menggunakan kendaraan sendiri sehingga dengan cepat meninggalkan pabrik, hanya Elin yang tersisa di tanah lapang itu. Elin bergidik ngeri, dengan langkah sedikit berlari Elin menuju gerbang.
Perasaan Elin tak menentu, rasa takut menyelimuti dirinya. Kejadian buruk terlintas di benaknya saat dia menyadari dia hanya sendiri, dia berlari tanpa menengok ke belakang. Entah kenapa dia merasa seseorang tengah mengikutinya.
KLONTANG!
Suara kaleng yang nyaring itu menambah ketakutan Elin, langkahnya di percepat. Ekor matanya menangkap bayangan yang ada di sisi kirinya, bayangan seseorang yang mengikutinya dengan berlari mengikuti langkah kaki Elin
Hati Elin kacau, hidupnya terasa di ujung tanduk saat bayangan itu berada dekat di belakangnya, dengan wajah tertunduk Elin menutup wajahnya dengan berteriak.
"TOLOOONG!" Teriak Elin sekuat tenaga merasa dirinya terancam.
__ADS_1
Elin merasakan seseorang memegang pundaknya, Elin menghentikan langkahnya dan melirik bayangan yang saat ini tengah memegang pundaknya.
Elin terpaku dengan jantung berpacu dengan cepat, napasnya tersengal-sengal. Dia terdiam pasrah tidak berani menengok ke belakang, Elin membayangkan hal buruk yang akan terjadi jika dia menengok. Dia pasrah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Bocil," terdengar suara yang sangat familiar, suara itu terasa dekat di telinganya.
"Bocil lugu," ucap seseorang yang ternyata Ryan menepuk pundak Elin.
Bahu Elin yang tegang tampak turun, dia merasa lega. Perasaan takut itu menguap tatkala seseorang datang memberikan rasa perlindungan bagi Elin.
Elin berbalik menghadap Ryan, "kakak sengaja menakutiku?" ucap Elin kesal.
"Menakuti?" jawab Ryan heran.
"Ini gak lucu, kak Ryan membuatku jantungan," Ziya menatap kesal Ryan.
"Siapa yang menakuti? kakak ingin mengantarmu pulang. Tadi kakak melihatmu sendirian berjalan, kakak ingin menghampirimu, tapi kamu malah lari," jelas Ryan.
"Jadi kakak yang tadi mengikutiku?" tanya Elin.
"Iya, emang kamu pikir siapa? hantu?" kata Ryan.
Elin bergidik ngeri mengingat saat dia sendiri tadi, "kenapa sepi sekali, Kak?" tanya Elin.
"Tidak ada lembur malam ini, semua karyawan sudah pulang. Beginilah keadaan pabrik saat malam, sepi," ucap Ryan
"Ngeri Kak," timpal Elin.
Elin pulang ke rumah kak Nita dengan di antar Ryan, Ryan hanya mengantar sampai gang rumah kak Nita. Ryan beralasan terburu-buru saat Elin mengajaknya untuk mampir.
Tiba di rumah Elin memasuki kamar dan terlelap. Adzan subuh berkumandang membangunkan Elin dari tidurnya. Dia bangun dan menjalankan kewajibannya sebagai muslim, setelahnya keluar kamar hendak membantu kak Nita menyiapkan sarapan.
Di tempat lain seseorang tengah menatap foto seorang gadis yang sejak lama dia cintai, namun tidak bisa dia raih. Dengan tangan terkepal tatapan menerawang membuat emosinya memuncak.
"Aku akan balas perbuatanmu!" gumamnya dengan rahang mengeras.
Laki-laki itu menyimpan kembali bingkai foto tersebut, dia melangkah berlalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Kau akan merasakan sakit yang aku rasakan! aku pastikan itu!" ucapnya setelah masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi.
Wajah itu tampak memerah manahan amarah yang mulai menguasainya, rahangnya mengeras dengan tangan menggenggam kuat kemudi seakan melepas paksa setir itu.