
“Enggak. Udah makan kayaknya lu beneran laper sampai kuahnya kenama-mana.”
Abidzar mengambil tisu kemdian menghapus noda kuah dibibir Zilfa dengan lembut. Zilfa sempat terpaku dengan perlakuan Abidzar. Jantungnya kembali berdegup kencang.
Sontak perlakuan Abidzar membuat penggemarnya teriak histeris. Suasana berubah menjadi gaduh. Mereka menyoraki Abidzar dan Zilfa tanpa memperdulikan perasaan Aksa yang ada disana. Tapi Aksa tak ambil pusing. Toh dia juga nggak cemburu. Buat apa cemburu? Cinta aja enggak.
...
“Zulfaaa.” Teriakan Salsa barusan membuat ketenangan Zulfa memakan roti selai strauberi terganggu. Dia memutar bola mata malas saat melihat Salsa teriak masuk kelas ditambah lagi dia meminum minuman Zulfa dimeja.
“Kenapa?” Tanya Zulfa.
“Lu tau nggak?”
“Enggak.”
“Yaudah. “ Zulfa menyeritkan dahi. Sahabatnya ini benar-benar aneh.
“Eh kok yaudah sih.” Monolog Salsa pada dirinya sendiri.
“Zul...Zulfa. Lu tau nggak?” Salsa sedikit mengguncang lengan Zulfa pelan. Zulfa hanya bisa berdehem pelan sembari melahap bekalnya.
“Dikantin tadi ada adegan romantis kak Zilfa sama kak Abidzar.” Ucap Salsa bersemangat.
“Trus?” Tanya Zulfa membuat dahi Salsa berkerut heran. Harusnya Zulfa cemburu. Ini kok biasa-biasa aja. Nggak ada ekspresi terkujut juga diwajah Zulfa. Seakan Zulfa sudah biasa dihadapkan dengan situasi ini.
“Kok lu nggak cemburu?” Tanya Salsa.
“Emangnya harus?” Tanya balik Zulfa.
“Ya haruslah. Secarakan lu sama kak Abidzar udah dijodohin.” Ucap Salsa.
“Aku nggak cinta, ngapain cemburu?”
Salsa membekap mulutnya tak percaya. Sahabatnya ini benar-benar tak ingin dijodohkan dengan Abidzar rupanya. Salsa kira Zulfa hanya gengsi mengatakan padanya kalau dia menolak perjodohan ini. Ternyata dia serius nolak.
“Kenapa sih lu nolak. Kurang apa coba dia?”
“Kurang agamanya.”
“Emang agama lu udah bagus.”
“Maka dari itu aku mau orang yang paham agama terus bisa bimbing aku.” Ucap Zulfa sok bijak.
“Kak Abidzar dari keluarga yang top agamanya ya.”
“Dia ngerti agama, tapi nggak paham agama.”
“Alesan lu lebih milih kak Aksa apa?”
“Aksa emang nggak pinter-pinter amat soal agama, tapi setidaknya dia paham.” Jelas Zulfa.
“Gue nggak paham sama omongan lu.” Zulfa memutar bola matanya malas.
__ADS_1
“Serah. Males nerangin. Aku nggak punya bakat jadi guru.” Ucap Zulfa pasrah.
Dia menutup kotak bekal baby pinknya dan memasukkannya kedalam tas. Zulfa meneguk minumannya kemudian mengucapkan hamdalah.
Salsa masih menatap Zulfa dengan tatapan penasaran. “Udah nggak perlu dipikirin. Nanti kamu pusing. Mendingan kamu pikirin penelitian nanti.”
Mata Sals berbinar. Dia menyodorkan dokomen penelitian Zulfa yang sudah rapi dengan jilid an mika warna putih dimeja kemudian menengadahkan tangan. “Kenapa?” Tanya Zulfa tak paham.
“Duit. Lu kira gue bayar pake daun, bikin beginian.” Ucap Salsa sewot.
“Kalau urusan duit aja cepet.” Cibir Zulfa sembari memberikan selembar uang berwarna hijau dan selembar uang berwarna ungu. Totalnya 30rb.
“Makasih.” Salsa memeluk Zulfa sayang.
“Kembali 5rb.” Ucap Zulfa. Salsa langsung melepas pelukannya.
“Gue kira dikasih semua.”
Perdebatan mereka berakhir saat bel masuk kelas atau biasa disebut sebagai bel kesengsaraan berbunyi diiringi dengan masuknya guru kekelas.
...
XI IPS 4
Begitulah papan tulisan yang digantung didepan kelas yang dimasuki seorang Abidzar setelah mengentuk pintu dan meminta izin pada guru yang mengajar. Sunyi. Suasana sekolah berubah hening seketika setelah dia masuk. Bukan tanpa alasan dia kesini, tapi karena mendapatkan panggilan tugas dari eskul jurnalistik untuk meliput kegiatan.
Abidzar memperkenalkan dirinya dan memberitahu maksud kedatangannya kemari. Semua siswi semangat memperhatikan penuturan Abidzar kecuali satu gadis yang enggan mendongakkan wajahnya memperhatikan Abidzar.
Zulfa. Iya dia memang Zulfa. Entah mengapa kalau setiap lihat wajah Abidzar suasana hatinya jadi galau. Jadi dia memilih untuk tidak menatap Abidzar sedikitpun.
Abidzar tiba-tiba merebut pena yang Zulfa kenakan, membuat Zulfa terlonjak kaget. Tatapan mereka bertemu. Zulfa dan Abidzar. Hanya sebentar, sekitar tiga detik lamanya karena Zulfa buru-buru memutus kontak mata. “Kalau ada orang ngomong itu diperhatiin.” Ucap Abidzar kemudian pergi membawa serta pena milik Zulfa. Zulfa berdecak kesal. Itu pena kesayangannya.
Zulfa hanya bisa diam dan melihat kesekeliling kelas yang mulai ramai karena tingkah Abidzar barusan. Dia hanya bisa memutar bola mata malas mendengar celetukan teman-temannya.
“Aduh kak Abidzar romanis banget sih.” Romantis dari mana. Kek kitu romantis? Nggak sopan namanya.
“Zulfa beruntung banget dijodohin sama kak Abidzar.” Beruntung? Ambil tuh ambil Zulfa nggak mau kali dijodohin sama dia.
“Kak Abidzar keliatan tambah cool ya kalau gitu.” Emang es, cool? Mau cool? Masuk kekulkas.
“Cie.” Kata Salsa sambil menyenggol pelan lengan Zulfa.
“Sekali lagi bilang gitu. Aku marah.” Ancam Zulfa.
“Galak amat lu nan-“
Ucapan Salsa terpotong saat bu Asma (buas) yang tiba-tiba masuk kelas.
“Sekarang kita mulai penilaiannya ya.” Ucap buas dengan riangnya masuk kekelas membawa kabar yang membuat suasana kelas XI IPS 4 menegang seketika.
“Nggak ada yang membantah. Yang tidak ingin nilai bisa keluar, dengan mudah saya memberikan nilai merah diraport kalian!”
Belum sempat ada siswa mendemo, buas sudah mengeluarkan ancaman andalannya. Mau tidak mau mereka harus mengikuti penilaian itu meski belum siap.
__ADS_1
Abidzar menarik senyuman saat melihat wajah tegang Zulfa dari kamera. Zulfa lucu juga ya kalau diperhatiin. Buru-buru Abidzar menghapus pikiran baik tentang Zulfa. Ingat cintanya hanya untuk Zilfa. Tak pernah ada cinta untuk Zulfa. Perempuan itu telah mempersulit cintanya pada Zilfa.
...
Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Zulfa menatap suasana kelasnya yang mulai ramai. Sesekali dia terkekeh pelan ketika melihat kelakuan aneh dan perdebatan unfaedah penghuni kelas XI IPS 4.
“Kas..kas.” Teriak bendahara yang sering mendapat julukan preman kelas.
“Kok kas lagi, bukannya kemarin udah ya.”
“Kemarin-kemarin pale lu, bulan lalu noh.”
“Santung dong, mae.”
“Mae mae gue bukan emak lu, bambang.”
“Maemunah geblek.”
“Uang kas berape duit sih?”
“Serebu aje.”
“Serebu doang aelah pake lu tagih?”
“Sok lu. Serebu doang aje lu udah nunggak lima bulan.”
“Jangan buka aib lu, jomblo.”
“Ngaca dong, situ juga sama jomblonya.”
Zulfa hanya bisa geleng-geleng kepala kalau udah denger temen-temennya debat soal uang kas. Zulfa lebih memilih pergi keperpustakaan daripada mendengarkan perdebatan mereka yang tak pernah mencapai kesepakatan damai.
Matanya menatap sekeliling perpustakaan yang sangat sepi di jam istirahat seperti ini, hanya beberapa orang yang mengunjungi tempat yang dipenuhi tumpukan buku-buku tebal ini.
Zulfa mengambil satu novel yang menurutnya bagus kemudian menarik kursi untuk duduk. Novelnya bagus membuat Zulfa nyaman membaca hingga dia tak sadar bahwa ada orang yang duduk disampingnya.
Zulfa mendongak dan melihat Aksa sudah ada disampingnya bertobang dagu sembari mengamati wajahnya. “Jangan liatin gitu ih.” Kata Zulfa. Dia menutup wajahnya dengan novel karena malu. Aksa terkekeh pelan melihatnya. Tangannya tergerak menyingkirkan novel dari wajah Zulfa.
“Jangan ditutupin mukanya Fa.”
“Emang kenapa?”
“Cantiknya ketutupan.” Zulfa memukul lengan Aksa dengan novel, kesal. Namun dia menyinggungkan senyuman setelahnya.
Zulfa teringat sesuatu. Kado. Iya. Ini saatnya. “Kamu tunggu disini sebentar jangan kemana-mana.” Ucap Zulfa kemudian pergi.
Aksa meraih novel yang dibaca Zulfa barusan. Dia penasaran gadis seperti Zulfa suka baca buku yang gimana sih. Aksa membuka lembaran-lembaran novel bergenre romance tersebut dan membacanya. Cewek suka ya sama yang romantis-romantis gitu?
Tak lama kemudian Zulfa datang dengan membawa serta kota kecil berwarna biru laut kemudian memberikannya pada Aksa. Aksa mengamati kotak itu sebentar, detik selanjutnya Aksa menerima pemberian Zulfa dengan senyuman yang belum memudar.
“Apa ini?” Tanya Aksa.
“Buka aja.”
__ADS_1
Aksa antusias membuka kadonya. Lembar demi lembar bungus kado telah dia robek. Sekarang menampakkan kotak berwarna hitam didalamnya. Aksa menatap kearah Zulfa sebelum membuka kotak itu.
“Lu yang bukain dong biar sweet.” Zulfa nurut membuka kotak hitam hadiahnya untuk Aksa.