This Is Cinta

This Is Cinta
Chapter 11


__ADS_3

Zulfa sudah menebak siapa yang datang pagi-pagi ini. Pasti Abidzar. Siapa lagi. Mana mungkin Aksa. Ah, Aksa kenapa bukan dia yang datang kerumah? Zulfa menghapus pemikiran anehnya. Ingat Aksa sudah punya pacar.


Zilfa ngacir keluar duluan setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya. Sementara Zulfa? Dia berjalan santai menuju dapur meletakkan gelas kotor ditempat cuci piring kemudian menyalami punggung tangan ibu dan ayahnya.


Sekarang dia melangkahkan kakinya malas kearah pintu depan. “Assalamu’alaikum Zulfa.” Salam seseorang. Itu suara Abidzar. Apa Zulfa tidak salah lihat. Apa dia juga tidak salah dengar.


“Permainan dimulai.”


Zulfa terdiam sebentar. “Wa’alaikumussalam.” Jawab Zulfa akhirnya.


Mereka berdua mematung didepan pintu sambil sesekali melempar senyuman canggung. Hingga teriakan nyaring Zilfa mencairkan suasana. “Woy cepetan.” Teriak Zilfa yang sudah duduk manis dijok belakang kemudi.


Zulfa hendak membuka jok belakang, namun Abidzar menahannya. “Kamu mau jadiin aku supir kalau kamu duduk dibelakang sama kak Zilfa.” Ha? Apa Zulfa nggak salah denger? Abidzar pakai sebutan aku-kamu pas ngobrol sama Zulfa barusan?


Abidzar membukakan pintu sebelah kemudi untuk Zulfa. “Makasih.” Kata Zulfa kemudian masuk kedalam mobil milik Abidzar.


Hanya butuh waktu 15 menit mobil hitam milik Abidzar sudah memasuki gerbang sekolah, dan deperti biasa banyak pasang mata yang memandang kearah mereka bertiga. Kali ini mereka bertanya-tanya saat melihat Zilfa jalan duluan diikuti Abidzar yang menyeimbangkan langkahnya dengan Zulfa.


“Zulfa.” Panggil Abidzar.


“Iya kak.” Ini kali pertamanya Zulfa memanggil Abidzar dengan sebutan kak. Jadi terdengar agak aneh.


Abidzar mengambil buku diary peach milik Zulfa dari dalam tas kemudian menyodorkannya pada Zulfa. Zulfa memandang lama kearah diary itu. Dari mana Abidzar mendapatkannya? “Kemarin jatuh di mobil aku.” Zulfa mengambil buku itu dari tangan Abidzar.


“Makasih.” Kata Zulfa kemudian pergi. Tapi lagi-lagi Abidzar menahannya.


“Lupain Aksa.” Abidzar menjeda kalimatnya. “Dan terima perjodohan ini sepenuh hati.” Zulfa memejamkan matanya sejenak. Satu tetes air keluar dari pelupuk matanya. Buru-buru Zulfa menyerkanya.


“Kamu tahu, siapa orang yang aku sebut pacar Aksa kemarin? Dia Zilfa. Kakak kamu. Kamu harus melupakan Aksa, demi Zilfa. Seteidaknya demi Aksa, orang yang kamu cintai. Kamu nggak boleh egois, Fa. Zilfa dan Aksa saling mencintai.” Jelas Abidzar mampu menyayat hati Zulfa. Lagi. Tapi kini sayatannya semakin dalam dan begitu menyakitkan.


“Aku emang nggak sebaik Aksa. Tapi bantu aku buat bisa seperti Aksa. Buka hati kamu buat aku, Fa. Kamu juga berhak bahagia, meski tanpa orang yang kamu cintai. Disini masuh ada aku yang berusaha mencintaimu tanpa henti.” Zulfa menyerka air matanya yang kembali jatuh. Kali ini dia benar-benar pergi menjauh dari hadapan Abidzar. Dia tidak ingin mendengarkan kata-kata Abidzar yang bisa menyayat hatinya. Lagi. Dan lagi.


Baru beberapa meter dia berlari meninggalkan Abidzar namun kakinya terasa lema, dadanya kembali sesak bahkan lebih sesak daripada tadi. Bukan hal menyenangkan yang dia lihat, tepat beberapa langkah didepannya dia melihat Aksa yang tengah menyelipkan rambut Zilfa dibelakang telinga.


Brak.


Buku yang dipegang Zulfa terlepas dari pegangannya membuat Aksa kontan menjauhkan dirinya dari Zilfa. Zulfa berjongkok memunguti bukunya yang berserakan dilantai dibantu... Abidzar.


“Semakin kamu mencintainya, semakin kamu terluka.” Lirih Abidzar tepat ditelinga Zulfa. Zulfa menoleh kearah Abidzar.


“Aku akan berusaha mencintaimu dan melupakan Aksa.” Hati Zulfa bersuara.


Zulfa mempercepat gerakan tangannya membereskan buku kemudian pergi meninggalkan mereka Zilfa, Abidzar dan Aksa yang dipenuhi tanda tanya. Kenapa Zulfa?


...


Kelas XI IPS 4 saat ini nampak begitu kacau, sebab utamanya tentu karena jamkos. Diantara semua kegaduhan penghuni kelas, terlihat dua orang sahabat yang duduk pojokan bangku paling belakang dengan posisi saling berhadapan. Mereka Zulfa dan Salsa.


Salsa melipat tangannya didepan dada. Matanya menatap lekat seorang Zulfa yang tak bersemangat. “Lu kenapa sih, kayak orang nggak punya semangat hidup?”

__ADS_1


Zulfa membaringkan kepalanya dimeja dengan tangan sebagai bantalan. Otaknya kembali memutar kejadian tadi pagi. Bukan. Bukan, bukan tentang Abidzar. Tapi tentang Aksa.


Brak. Salsa menggebrak meja. Membuat penghuni kelas memandang tajam kearah Salsa. Tak terkecuali Zilfa.


“Lu bisa sans nggak sih?” Celetuk yang lain.


“Ya maap. Salahin tuh Zulfa.” Ucap Salsa menunjuk Zulfa.


Zulfa memutar bola matanya malas. Kenapa jadi dia yang disalahkan? “Loh kok aku sih?”


“Habisnya lu ditanya malah bengong. Tau nggak jiwa kepo gue meronta-ronta.”


Zulfa kembali diam membuat Salsa ingin membakar hidup-hidup Zulfa saking keponya. Untung sahabat. “Karena kak Abidzar apa kak Aksa nih?” Tanya Salsa sembari mengguncang pelan tubuh Zulfa.


Zulfa mendegus pelan. “Aksa.”


“Kenapa lagi tuh sama babang tamvan?” Zulfa hampir muntah mendengar sebutan yang diberikan Salsa untuk Aksa.


Zulfa menarik nafasnya sejenak kemudian menghembuskannya dengan kasar. “Udah nggak usah bahas itu lagi.”


“Ih Zulfa kenapa?” Salsa masih menanyakan pertanyaan yang sama.


Zulfa membenarkan posisi jilbabnya yang sedikit miring. “Kepo.” Hanya satu kata itu yang dikeluarkan oleh Zulfa untuk menjawab pertanyaan Salsa.


“Lu harus tanggung jawab sebab udah bikin jiwa kepo gue meronta-ronta.”


“Salah sendiri, kepo dilestariin.”


“Nah kan, dari diri kamu sendiri. Kenapa aku yang harus tanggung jawab.”


Salsa menghembuskan nafasnya frustasi. Sahabatnya yang satu ini memang keras kepala. “Kasih tau nggak?”


“Nggak.”


“Kok lu tega sih. Gue sedih nih.”


“Sedih aja, emang aku pikirin.”


“Gue nggak bakal ngasih contekan pas ulangan.”


“Kamu kali yang biasanya melas-melas minta contekan ke aku.”


Salsa menampilkan cengiran yang membuat Zulfa ingin mencakar-cakar wajah Salsa. Sayangnya dia nggak tega untuk melakukan itu.


Salsa kembali memasang wajah seriusnya yang justru malah terlihat aneh. “Tadi kenapa dateng dateng mukanya kayak abis nangis, ingusan, jelek, kayak kucing habis ketahuan nyolong ikan asin abis itu kecebur got?”


“Kamu nanya apa ngehina sih, Sa?” Cuek Zulfa.


“Dua-duanya.”

__ADS_1


Zulfa kembali meletakkan kepalanya dimeja menoleh membelakangi Salsa kemudian memejamkan matanya. Dia lelah. Ingin istirahat sebentar. Salsa malah menghujaminya dengaan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin Zulfa jawab.


“Kasih tahu dong, Fa.”


“Enggak mau bahas.”


“Gue tanya sama kak Aksa nih kalau lu nggak mau ngasih tau.” Ancam Salsa.


“Tanya aja.”


Zulfa yakin Salsa nggak akan berani nanya ke Aksa jadi dia bisa berbicara seperti itu. Boro-boro mau nanya soal Zulfa, ketemu Aksa aja Salsa langsung diam seribu bahasa saking syok liat ketampanan seorang Muzaki Hanan Danadyaksa.


“Bener nih?” Tanya Salsa tak dipedulikan oleh Zulfa.


Zulfa merasakan kalau kursi dibelakangnya sudah kosong. Itu artinya Salsa sudah beranjak entah kemana. Dia yakin kalau Salsa hanya pura-pura pergi untuk mengelabuhi Zulfa agar mau cerita. Zulfa sudah hafal dengan tak-tik seorang Muaudy Salsabila.


Tak lama kemudian Zulfa merasa kursi dibelakangnya perlahan bergerak. Itu pasti Salsa. Pikir Zulfa. “Udah nanya?” Mata Zulfa membulat saat menoleh kebekalang. Itu bukan Salsa.


“Aksa?” Ya orang itu Aksa. Zulfa menatap tajam kearah Salsa didepan pintu. Salsa menjulurkan lidahnya penuh kemenangan kemudian berlari keluar kelas. Zulfa harus meminta pertanggung jawaban Salsa setelah ini. Dia tidak ingin bertemu Aksa.


“Salsa yang minta gue kesini, katanya tadi pagi lu dateng kekelas sambil nangis. Apa bener?”


“Enggak.”


“Yakin?”


“Iya.”


“Beneran?”


“Hemmm.”


“Gue cuma mau mastiin, jangan sampai ada orang yang nyakitin lu.” Padahal yang udah nyakitin Zulfa itu dia sendiri.


Suasana berubah sunyi seketika, Zulfa merasa semua penghuni kelas menatap kearah mereka. Perlahan Zulfa mengedarkan pandangan menatap penghuni kelas yang semula gaduh menjadi hening. Detik selanjutnya ada bisik-bisik fans Aksa yang bersuara, mereka nggak terima kalau idolanya itu dekat-dekat dengan Zulfa.


“Maruk banget sih Zulfa, kak Abidzar diembat, kak Aksa juga. Sisain kek buat gue satu.”


“Gue kira dia alim, eh tapi kek gitu ya kelakuannya.”


“Zulfa pake pelet apaan sih? Manjur banget bisa dapetin cowok-cowok cakep.”


Kurang lebih seperti itu.


“Kamu ngapain kesini?”


“Emang ada larangan?”


“Ya enggak. Maksaudnya...”

__ADS_1


“Lu takut Abidzar marah?”


__ADS_2