This Is Cinta

This Is Cinta
Epilog


__ADS_3

Ucapan Abidzar pada Zulfa tadi ternyata hanyalah ancaman. Sejak 30 menit yang lalu Abidzar masih setia berdiri didepan pintu mobil sambil menyilangkan tangannya didepan dada. Pandangannya masih setia menatap pintu rumah Zulfa yang tertutup rapat. Apa gadis itu benar-benar tidak ada niatan untuk memafkannya dan secara tidak langsung Zulfa membiarkan dia pergi dari hidupnya?


Abidzar menghela nafas kasar. Dia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.


“Dimana?” Tanya Abidzar to the point saat panggilan sudah tersambung.


“Salam dulu kek, atau apa gitu. Jangan kayak orang yang nggak tau sopan santun.” Cerocos orang disebrang sana kesal. Abidzar emang kebiasaan. Kalau lagi gini, pasti dia lagi ada masalah.


“Lu lagi dimana sekarang?” Tanya ulang Abidzar.


“Lu seharusnya tau dimana gue sekarang, Bijar. Bukannya lu yang nyuruh gue buat pimpin rapat eskul jurnalis hari ini. Udah pikun lu ya?” Omel seseorang.


Hari ini Abidzar benar-benar telah membuatnya kesal. Ingin sekali dia mengusir Abidzar dari bumi, tapi sejenak dia ingat. Dia masih membutuhkan Abidzar untuk memimpin rapat Jurnalistik. Dia sama sekali nggak bisa buat mimpin rapat kayak sekarang, kalau nggak terpaksa.


“Batalin rapatnya. Sekarang lu kerumah gue.” Ucap Abidzaar seenaknya.


Dari sebrang sana Faiz mengusap kasar wajahnya. “Lu mau bikin anak-anak marah, batalin rapat gitu aja?”


Abidzar menghela nafas. “Bilang gue yang nyuruh lu buat rapat internal dirumah gue.”


“Yaudah. Gue otw kerumah lu sekarang.”


Tuttt.


Panggilan terputus begitu saja. Abidzar masuk kemobil lalu melajukannya menjauhi rumah Zulfa. Beberapa menit kemudian dia sampai dirumahnya disusul Faiz yang baru saja datang.


“Dari mana lu?” Tanya Fais sembari memainkan kunci mobilnya.


“Rumah Zulfa.” Jawab Abidzar. Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


“Kerumah Zulfa lagi, nggak capek lu minta maaf terus?”


Abidzar menoleh singkat kearah Faiz. Lagi-lagi dia menghela nafas kasar membuat Faiz bisa menyimpulkan keadaan. Abidzaar sudah capek tapi dia belum mau menyerah begitu saja.


“Udah deh lepasin aja.” Ucap Faiz.


“Nggak semudah itu.”


“Bukannya lu dulu yang bilang gitu ke gue. Move on itu mudah, karena lu nggak akan pernah benar-benar jatuh cinta sama cewek. Iya kan?” Tanya Faiz.


“Itu dulu, sebelum gue jatuh cinta sama Zulfa.”


Sekarang giliran Faiz yang menghela nafasnya jengah. “Jadi lu udah beneran jatuh cinta sama Zulfa?”


Abidzar mengangguk pelan.


“Lu nyuruh gue kesini suruh ngapa? Jangan bilang gue suruh nunggu orang galau karena cinta. Nggak banget.” Ucap Faiz.


“Tenang, bukan itu. Gue mau lu temenin gue.”


“Kemana?”


...


“Sebenernya lu tuh gimana sih sama Abidzar?” Tanya Zilfa mengintimidasi. Sesekali tangannya bergerak memasukkan potongan apel kemulutnya.


“Gimana apanya?”


“Ya, sebenernya lu suka nggak sih sama Abidzar?”


Zulfa terdiam sejenak, detik selanjutnya dia mendedikkan bahu. Dia tidak paham dengan rasa apa yang singgah dihatinya untuk Abidzar.


“Emang sih si Abidzar itu playboy, badboy, tapi beda kalau sama lu. Kayak dia bener-bener sayang sama lu, nggak ada niatan buat main-main. Saran gue, mending lu dengerin penjelasan dari dia dulu. Bisa aja kan ada yang lu belum tau, dan mungkin aja lu salah paham sama kejadian waktu itu. Lu juga tau sendiri kalau Raisya itu cewek licik.” Zulfa menoleh kearah Zilfa. Sejenak dia berfikir. Mungkin yang dibilang Zilfa itu benar, tapi sejak kapan dia mulai memihak Abidzar? Bukannya dia yang paling marah sejak kejadian itu?


“Kenapa kak Zilfa malah belain kak Bidzar sekarang?”


“Bukannya belain, tapi ya penjelasan itu penting kan?”


Dret...drett...drettt...


Ponsel Zulfa bergetar. Layarnya menampilkan panggilan dari Abidzar.


“Angkat aja.” Saran Zilfa. Zulfa mengangguk.


“Halo. Assalamu’alaikum.”


"Wa'alaikumussalam. Ini Zulfa kan?" Ucap seseorang disebrang nampak panik.


Tunggu. Itu bukan Abidzar. “Ini siapa ya? Kok pake nomor kak Bidzar? Kak Bidzar mana?”


“Udah lu kesini sekarang. Gue share lok. Abidzar kecelakaan.”


Tut. Telpon terputus satu pihak.


Tubuh Zulfa serasa lemas tak bertenaga saat mendengar berita barusan. Abidzar kecelakaan?


“Kenapa?” Tanya Zilfa.


“Kak Abidzar.”


30 menit kemudian Zulfa sudah sampai dirumah sakit yang dikirim dari nomor whatsApp Abidzar. Dengan sedikit berlari menyusuri koridor rumah sakit hingga langkahnya terhenti diruang bertuliskan “IGD”. Cukup lama Zulfa menatap kosong ruangan itu sampai akhirnya Zilfa menyadarkan lamunan Zulfa.


“Ini hp Abidzar.” Faiz menyodorkan ponsel Abidzar ke Zulfa. “Gue udah telfon orangtuanya. Mereka otw kesini.”

__ADS_1


“Kok bisa kayak gini? Padahal baru beberapa jam yang lalu dia kerumah.” Itu suara Zilfa.


“Tadi dia nelfon gue buat kerumah, bahkan dia nyuruh gue batalin rapat sama anak jurnalistik segala. Akhirnya gue kerumah. Gue kira dia butuh temen buat curhat, eh tau-taunya dia nyuruh gue buat nemenin dia balapan. Awalnya gue sempet nolak, gue juga ngelarang dia balik kedunianya yang dulu. Tapi dia keukuh, gue juga nggak tega ngebiarin tuh anak jalaan sendiri. Akhirnya gue nemenin dia walau cuma lewat kursi penonton, nggak ndampingi dia balapan.” Faiz menjeda kalimatnya. “Baru 15 menit gue duduk dikursi penonton, ada kabar kalau Aabidzar kecelakaan. Dia ditabrak sama mobil pacarnya Raisya. Ternyata balapan liar ini emang udah rencana Raisya buat nyelakai Abidzar.”


“Kenapa kak Raisya mau nyelakai kak Bidzar? Dan kak Faiz tadi nyebut pacar kak Raisya?” Tanya Zulfa. Airmatanya sudah tak terbendung. Secara tidak langsung yang menyebabkan Abidzar seperti ini adalah dirinya.


Faiz menghembuskan nafasnya kasar. “Raisya sama Abidzar udah beneran putus sejak Abidzar bilang kalau dia berjuang demi lu, Zulfa. Emang awalnya dia bodoh, nganggep lu mainan kayak dia nganggep Raisya. Tapi sejak Aksa pindah, dia bener-bener berubah. Dia berusaha mencintai lu, dia juga berusaha buat lu cinta sama dia.”


“Gimana tentang foto dan pelukan waktu itu?”


“Abidzar udah pernah cerita tentang itu ke gue. Dia dijebak sama Raisya. Dia diancem sama Raisya, kalau dia nggak nurutin apa yang dia mau, dia bakalan ngirim foto itu ke lu, Zulfa. Abidzar ngelakuin itu semua demi jaga perasaan lu.”


“Dari awal caranya emang salah, tapi lu juga salah, Zulfa. Lu nggak pernah mau dengerin penjelasan dari dia. Lu juga salah nggak bener-bener bisa ngelupain Aksa.”


“Kok bawa-bawa Aksa?” Zilfa menyela.


Zulfa hanya bisa diam. Dia nggak tahu harus ngomong apa. “Jawab Zulfa!” Bentak Zilfa.


“Asal lu tau, Zilfa. Zulfa itu cinta sama Aksa begitupun sebaliknya.” Ucap Faiz membuat Zulfa dan Zilfa sontak terkejut. Zilfa terkejut kalau tahu adiknya itu mencintai Aksa. Dan Zulfa terkejut kalau Aksa mencintainya.


“Gue tau semua itu dari Abidzar.” Tambah Faiz.


“Sebelum pindah, Aksa emang sempet bilang sama gue. Kalau dia deket sama gue buat dapetin Zulfa, bukan karena dia cinta sama gue. Gue nggak tau kalau sebenernya lu juga suka sama Aksa.” Tunjuk Zilfa pada Zulfa. “Bodoh ya gue. Nggak peka kalau adik gue suka sama cowok yang udah ngenalin cinta ke gue.” Zilfa menyinggungkan senyuman sinis diakhir kalimatanya. Detik selanjutnya Zulfa berhambur memeluk Zilfa.


“Aku kak yang bodoh, seharusnya aku nggak suka sama Aksa. Seharusnya aku nggak cinta sama orang yang kakak cintai. Maafin aku kak.”


Zilfa melepaskan pelukan Zulfa. “Cinta itu muncul dengan sendirinya, Zulfa. Jangan pernah nyalahin rasa lu sama dia. Dan tenang, gue nggak akan pernah nyalahin lu. Gue yang salah, gue yang jadi penghalang di hubungan kalian.”


“Sekarang kalian nggak perlu ngerasa bersalah. Kaliaan berdua nggak salah. Yang salah itu Aksa. Aksa yang udah bantuin Raisya buat jebak Abidzar.”


Sejenak otak Zulfa kembali memutar rekaman waktu itu.


Flasback on


“Suatu saat lu bakalan tau kalau orang yang lu cinta itu cuma mainin perasaan lu, dia nggak pernah bisa membalas cinta lu.”


“Dan kalau lu udah sadar dengan kenyataan itu, gue harap lu bisa lihat ada gue yang tulus mencintai lu. Ada gue yang selalu ada buat lu. Ada gue yang mau nerima lu kembali. Gue harap perpisahan kita itu cuma sementara.”


Flasback off


Yang dibicarakan Aksa waktu itu bukan Abidzar tapi dirinya sendiri. Tangis Zulfa kembali pecah. Mengapa jalan takdirnya serumit ini?


Tak lama kemudian Farida, Ghofur, Aisya, dan Irsyad datang. “Gimana keadaan Abidzar?” Tanya Farida cemas membuat tiga orang yang ada didepan ruang IGD menoleh kearahnya.


“Duduk dulu tante.” Titah Faiz. Farida hanya nurut.


“Dokter belum keluar jadi kita belum tau bagaimana keadaan Abidzar. Doanya saja tante semoga Abidzar baik-baik aja.” Ucap Faiz.


...


Zulfa merasa bersaalah dengan keadaan Abidzar sekarang. Seharusnya dia dengar penjelasan Abidzar dari awal, semuanya nggak bakalan kayak gini.


“Lu beneran nggak mau masuk?” Tanya Zilfa. Sudah berkali-kali dia menanyakan hal yang sama pada Zulfa, tapi jawaban Zulfa masih sama. Dia menggeleng.


“Aku mau pulang, kak.” Ucap Zulfa membuat Zilfa menghebuskan nafasnya kasar.


“Yaudah. Kalau gitu gue masuk dulu, abis itu kita pulang.” Zulfa mengangguk.


Zulfa kembali menatap kosong kearah lantai. “Masuk gih. Ngapain lu masih disini. Nggak baik ngehindar dari masalah.” Ucap Faiz.


“Aku malu.”


“Malu kenapa?” Tanya Faiz.


“Malu karena udah salah faham sama kak Abidzar. Dan secara nggak langsung aku yang udah nyebapin kak Abidzar kayak sekarang.” Jelas Zulfa.


Faiz tersenyum kecil. “Pantes Abidzar bisa cinta sama lu.”


“Kenapa?”


“Unik. Nggak ada duanya.” Ucapan Faiz barusan membuat dahi Zulfa berkerut bingung.


“Masalah itu dihadapi, bukan dihindari.” Tutur Zulfa.


Faiz benar, masalah itu ada buat dihadapi, bukan untuk dihindari. Kalau menghindar terus kapan selesainya?


Zulfa meyakinkan diri, kemudian ikut Zilfa masuk keruangan Abidzar. Terlihat dari kejauhan Abidzar yang tersenyum kecil kearahnya.


“Kita tinggal dulu ya. Kalian selesaikan berdua.” Ucap Ghofur.


Ruangan ini sekarang tinggal menyisakan mereka berdua. Abidzar dan Zulfa. “Sini, Fa.” Abidzar menginstruksi Zulfa untuk duduk dikursi dekat ranjangnya.


“Gue bersyukur lu udah mau ketemu gue, Zulfa.” Ucap Abidzar tulus.


“Lu tau nggak, Fa. Pas lu marah sama gue, perasaan gue jadi galau, gundah, gulana.”


Zulfa masih enggan menatap Abidzar. Dia masih malu. “Lu masih marah ya sama gue?” Tanya Abidzar. Zulfa menggeleng.


“Alhamdulillah.” Kata Abidzar. Ada rasa lega saat tahu kalau Zulfa udah nggak marah sama dia. Ini pasti karena Faiz yang ngasih wejangan. Pasalnya Faiz udah ngotot dari awal kalau dia yang akan bertindak seumpama Zulfa masih keukuh nggak mau dengerin penjelasan Abidzar.


“Fa?” Panggil Abidzar.


“Iya?”

__ADS_1


“Tatap mata gue.”


“Nggak mau.”


“Kenapa? Katanya udah nggak marah.”


“Aku malu.”


Dahi Abidzar berkerut. “Malu kenapa?”


“Aku udah salah paham. Seharusnya waktu itu aku dengerin penjelasan kak Bidzar dulu.” Jelas Zulfa.


Abidzar tersenyum simpul. “Lu nggak salah, Fa. Gue yang salah.”


“Enggak kak, aku yang salah. Aku minta maaf ya.”


“Kalau mau dimaafin, tatap mata gue.”


Zulfa nurut, tanpa pikir panjang dia langsung menatap manik mata Abidzar, membuat Abidzar lagi-lagi menyinggungkan senyum. Zulfa ini bener-bener polos.


“Mungkin masalah ini jadi penguat hubungan kita, Fa. Dari masalah ini bikin kita saling interospeksi juga kan?”


“Iya.”


“Jadi mulai sekarang hubungan kita udah baik-baik aja kan?”


Zulfa mengangguk. “Iya.”


“Umi...abi... Zulfa udah maafin Abidzar.” Teriak Abidzar membuat Ghofur mengacungkan kedua jempolnya didepan pintu.


“Ibu...ayah... kak Zilfa... Bentar lagi saya bakalan jadi bagian dari keluarga kalian. Mohon izin, doa dan restunya.” Teriak Abidzar lagi.


“Tanya sama Zulfa dulu, dia mau nggak sama lu. Kalau mau, lu bakalan keterima jadi bagian dari keluarga kita.” Balas Zilfa dari luar ruangan.


“Lu mau kan, jadi makmum gue.” Abidzar menjeda ucapannya. “Ralat, makmum hidup gue maksudnya.” Zulfa mengangguk pelan.


“Kak Zilfa, katanya Zulfa mau.” Teriak Abidzar untuk yang ketiga kalinya.


Zulfa memukul pelan bahu Abidzar. “Udah, jangan brisik. Ini rumah sakit bukan hutan.”


“Pipi lu kenapa merah Fa? Marah apa malu?”


“Bisa diem nggak?”


“Ana ukhibbuka fillah, Zulfa.” Ucapan Abidzar barusan mampu membuat kedua pipi Zulfa memerah. Malu.


“Udah kak.”


“Iya. Iya udah.”


“Sekarang aku mau nanya.”


“Iya nanya aja.”


“Kenapa kakak milih aku, padahal diluar sana masih banyak perempuan yang lebih cantik, lebih pinter, lebih dewasa, lebih modis, intinya lebih-lebih dari aku?”


“This is cinta.”


“Tapi-"


“Stttt.” Abidzar mendekatkan jari telunjuknya dibibir Zulfa, tapi nggak sampai nempel. “This is cinta. Nggak ada tapi.”


“Nggak mau tau, kita nikah habis ini.”


“Loh kok...”


“Habis gue lulus kuliah Zulfa, maksudnya.”


...


4 tahun kemudian Abidzar benar-benar membuktikan ucapannya dirumah sakit waktu itu. Setelah menyelesaikan studi S1nya, satu minggu kemudian Abidzar dan keluarga mempersiapkan semuanya. Memang banyak masalah dalam hubungan mereka, akhirnya hari ini adalah puncaknya. 5 menit yang lalu Abidzar Syahidan Baqir dengan lantang mengucap ijab qobul atas nama Zulfa Fahiratumahwa.


“This is cinta, cinta yang sesungguhnya.” Bisik Abidzar tepat ditelinga Zulfa membuat pipi Zulfa bersemu merah.


“Akhirnya gue punya adik ipar juga.”


“Hadiahnya mana?”


“Yang sopan dong lu sama gue.”


“Iya kakak.”


Mereka bertiga tertawa setelahnya.


“Kapan nyusul?” Tanya Abidzar pada Zilfa.


“Kapan ya?” Zilfa menempelkan jari telunjuknya didagu.


“Kalau mau sekarang, gue udah siap, Zil.” Ucap Faiz sembari melingkarkan tangannya dileher Zilfa.


“Singkirin tuh tangan dari leher ipar gue. Bukan mahrom.” Ujar Abidzar. “Kayak gini dong udah mahrom, udah halal. Jadi bebas pegang-pegang.” Ejek Abidzar sembari mengaitkan jemari tangannya dijemari tangan Zulfa.


Faiz memutaar bola matanya malas. “Nikah yuk biar bisa kayak mereka.” Ajak Faiz pada Zilfa.

__ADS_1


Zilfa mengangguk. "Hayuk."


__ADS_2