
[dihari lain]
“Ayla kamu gantikan Tania untuk jadi sekertaris kelas ya, karena mulai hari ini dia sudah mengurus surat pindah sekolah” pinta wali kelas Ayla yang bernama Nurhayati.
Seorang wanita paruh baya yang memiliki potongan rambut hitam pendek, suara khas dari seorang guru tegas dan juga kulit putih serta sedikit kerutan disekitar mata yang menandakan usianya tak lagi muda. Beliau adalah wali kelas yang merangkap sebagai guru Bahasa Indonesia dikelas Ayla.
Permintaan dari seorang wali kelas tentunya tidak bisa diabaikan oleh Ayla begitu saja. Selain kepercayaan yang sudah ia terima dari bu Nurhayati, Ayla juga harus menjaga kepercayaan tersebut.
Tapi disisi lain, pekerjaan itulah yang sangat membuat Ayla frustasi. Karena menjabat sebagai sekertaris kelas berarti ia harus siap untuk selalu tertinggal catatan dan pekerjaannya bertambah dua kali lipat dari biasanya. Tangannya akan bekerja dua kali lebih ekstra karena harus mencatat dipapan juga menyalinnya dibuku catatan.
Hal itu ia alami sewaktu sekolah dasar sampai menegah pertama, meskipun ia bertugas sebagai ketua kelas tetap saja Ayla merangkap sebagai sekertaris untuk membantu temannya bergantian menulis dipapan. Tapi akhirnya dengan pikiran matang dan juga hati yang berat Ayla memberi jawaban,
“baik bu”
Hanya dua kata itu yang mampu ia keluarkan sebagai jawaban dari permintaan bu Nurhayati atau yang kerap disapa bu Nur. Sejak saat itu ia telah resmi menjadi bagian terpenting dalam struktur kelas 10B.
‘siap-siap gue hapal nama anak murid di kelas deh, plus kerjaan bakal bertambah mulai dari sekarang. Ok Ayla lo harus siap, semangat !’ ucapnya lirih setelah kepergian wali kelasnya pada dirinya sendiri untuk sekedar memberi semangat sebelum ia melangkahkan kaki keluar kelas dan kembali ke rumah.
__ADS_1
****
[Bandar Lampung, 30 November 2010]
Setiap detik, menit dan jam telah berlalu hingga haripun terus berganti. Tak terasa sudah tiga bulan Ayla menyandang status sebagai murid baru yang artinya kini status tersebut sudah tidak berlaku lagi bagi dirinya.
Menjalani hari yang tenang selama tiga bulan terakhir terasa sangat nyaman bagi gadis itu. Tak ada berita buruk maupun gosip mengenai dirinya, ia hanya menikmati kebersamaan dengan keempat sahabatnya.
Sampai pada hari ini semua ketenangannya mulai hilang hanya karena perkataan jahil seseorang……
“hapus dulu papan tulisnya” seru guru keterampilan yang kerap disapa bu Nana. “siapa sekertarisnya maju kedepan, tolong hapus lalu tulis catatan ini dipapan ya” sambung guru tersebut yang langsung ditanggapi oleh Ayla yang sedang mengeluarkan buku catatan miliknya.
“nah Ayla kamu tulis catatan dari halaman 10-12 ya, ada bagian yang ibu tandai itu tidak perlu ditulis” pinta bu Nana pada Ayla sambil menunjukkan catatan yang harus ditulis oleh gadis itu. Tapi belum sempat Ayla menjawab perintah tersebut, seseorang telah terlebih dahulu menimpalinya.
“eh eh eh, bu jangan kebanyakan nyatetnya. Ayla kan dari tadi udah nulis nanti dia nya kecapekan karena nulis kebanyakan, gimana kalo nanti tangannya bengkak” berbicara dengan nada dibuat-buat seolah anak tersebut sedang menolong Ayla dari siksaan penjahat.
Setelah laki-laki itu selesai mengucapkan kata yang ingin ia sampaikan, tepat disaat itulah sorak-sorai dari seisi kelas memenuhi ruangan tersebut.
__ADS_1
“cieeeeeeeeeeee” terdengar seperti berita buruk yang tak lama lagi akan menghampiri kehidupannya.
Terlihat rona merah sudah mewarnai pipi gadis yang saat ini sedang berdiri disamping bu Nana. Ia hanya bisa menundukkan wajah malu akibat ledekan yang dilontarkan padanya. Ia segera mengambil buku dari meja dan ingin menuliskan apa yang sebelumnya diperintahkan oleh gurunya itu.
“kamu suka sama Bima, Ay ?” tapi langkahnya terhenti saat sang guru memberikan pertanyaan yang membuatnya makin merasa terintimidasi, “ng… engga bu” jawab gadis itu sedikit tergagap akibat kebingungan.
“menurut ibu dia lumayan loh Ay” bukannya berhenti justru bu Nana semakin gencar meledek muridnya itu.
“engga bu. I-ini dari mana sampai mana tadi bu” dengan segera Ayla mengalihkan pembicaraannya pada catatan yang saat ini akan ia tulis di papan.
“dari halaman 10-12, dan abaikan tulisan yang sudah ibu tandai sebelumnya” ucap bu Nana sambil tersenyum melihat kegugupan muridnya itu.
“baik bu”
Yaps kali ini Ayla berhasil mengelak dari pertanyaan yang menurutnya ‘gak penting’. Segera ia mulai melakukan apa yang menjadi tugasnya saat itu. Karena pelajaran ini adalah mata ajar terakhir, Ayla berpikir bahwa ia akan terbebas dari semua ledekan setelah kelas berakhir. Tapi yang terjadi bukanlah seperti yang diinginkan olehnya.
Setelah pelajaran usai bukan berarti masalah ledek-meledek ikutan selesai, tidak secepat itu. Justru ini merupakan awal yang baru bagi kehidupan Ayla, jika sebelumnya hanya terdapat warna hitam dan putih dalam hidupnya maka dengan awal ini, semua warna akan datang menghampiri keseharian gadis itu.
__ADS_1
‘kenapa harus ada kejadian begini sih, bakal jadi bahan gosip nih nantinya’ umpat Ayla dalam hatinya. Sebuah permulaan tidak selalu berjalan mulus bagi setiap orang yang menjalaninya, termasuk bagi seorang Ayla Asyifa. Karena baginya ini merupakan permulaan yang sangat buruk.
Siapa yang akan menyangka bahwa beberapa bulan kedepan kehidupan tenangnya di SMA Bintara akan kedatangan tamu tak diundang seperti Bima, laki-laki usil yang terkenal suka membuat masalah dengan guru BK di sekolah itu. Sangat bertolak belakang dengan kepribadian yang telah Ayla bangun selama ini.