
Abidzar terlihat masih memainkan game online diponselnya padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Dia nampak teenang sebelum akhirnya ada sebuah pesaan masuk yang membuatnya bingung.
Raisya
Besok kan weekend, lu temenin gue joging ya. Jemput gue jam 7 dirumah. Nggak ada penolakan! Kalau lu nggak mau gue bakalan ngirim foto ini ke Zulfa.
Abidzar menatap gusaar foto yang baru saja dikirim Raisya.
“Sialan.”
Abidzar mmencengkeram kuat ponselnya. Gadis itu benar-benar licik. Dia tidak bisa meremehkan ancaman Raisya, bagaimanapun caranya Abidzar harus bisa menghapus foto itu dari ponsel Raisya sebelum Raisya mengirimnya ke Zulfa.
Abidzar membuang ponselnya asal lalu melangkah kearah balkon kamar. Abidzar mendongak menatap kearah langit malam ini yang berwarna hitam pekat. Mungkin sebentaar lagi akan turun hujan.
“Sekarang cuma cinta sama lu, Zulfa.”
Di waktu yang bersamaan, Zulfa tengah menatap langit yang sama, langit yang ditatap Abidzar dari jendela kamarnya. Pandangannya masih setia menguhus langit hitam pekat yang menaandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Senyuman sendu tercetak diwajah gadis berusia 16 tahun itu. Dia masih belum bisa melupakan Aksa, meski tak bisa dipungkiri kalau dia sudah mulai ada rasa dengan Abidzar.
“Kenapa harus ada cinta?” Monolongnya.
...
“Bangun!”
Teriak Zilfa membuat Zulfa sedikit terganggu tapi Zulfa tetap memejamkan matanya mengabaikan kakaknya yang kini mulai mengguncang tubuhnya.
“Bangun, Zulfa. Temenin gue joging.”
Zulfa mendudukkan tubuhnya. Tanyannya bergeraak mengucek matanya yaang masih lengket enggan terbuka. “Jam berapa?”
“7” Kalau sekarang jam 7 itu artinya Zulfa baru tidur 2 jam yang lalu, mengingat dia baru bisa memejamkan mata setelah shalat subuh.
“Gue kasih lu waktu 10 menit buat siap-siap.” Seletah berucap demikian, Zulfa meninggalkan Zulfa yang masih berusahaa mengumpulkan nyawa.
Setelah selesai mandi, Zulfa memakai atasan kaos navy yang dipadupadankan dengan running spotrs berwarna hitam. Ia menutup rambutnya dengan hijab instan berwarna navy. Setelaah selesai memakai sepatu nya, Zulfa menghampiri Zulfa yang ternyata sudah duduk diteras rumah menikmati segelas susu putih.
“Katanya mau lari, kok malah nyantai minum-minum?”
Zilfa merampungkan tegukan terakhirnya. “Lu tuh kelamaan, siap-siap apa balik tidur lagi sih?”
“Mandi dulu.” Ucap Zulfa santai lalu berjalan menuju gerbang rumah.
“Woy, Fa tungguin. Udah ditungguin malah duluan lagi.” Gerutu Zilfa sembari berlari kecil mengejar langkah Zulfa.
“Mau sampai mana?” Tanya Zulfa.
“Gue kira lu tau.” Zulfa hanya tersenyum gigi pepsodent menanggapi ucapan Zilfa barusan. Dia tadi jalan duluan biar nggak kebanyakan interogasi bukan karena udah tahu mereka aakan joging sampai mana.
“Sampai taman depan aja.” Ucap Zilfa lalu memulai lari kecilnya dan diikuti Zulfa disebelahnya.
30 menit kemudian mereka baru sampai ditaman yang terlihat ramai karena weekend. Zulfa dari tadi sudah sangat kesal dan berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah mau lagi diajak joging. Dia yang mengajak tapi dia juga yang merengek karena alasan lelah dan haus membuat mereka harus istirahat berkali-kali dipinggir jalan.
“Sampai juga.” Ucap Zilfa dengan nafas tergenah-engah . Zilfa berjalan tertatih-tatih lalu duduk di salah satu bangku taman.
Seharusnya mereka bisa lebih cepat sampai ditaman kalau saja Zilfa tidak terus meminta istiraahan ditengah perjalanan. Zulfa mendudukkan dirinya di samping Zilfa lalu meneguk air mineral yang sempat mereka beli ditengah perjalanan.
Pandangan Zulfa tertuju pada dua insan yang tengah bermadu asmara dibaawah pohon mangga yang menjadi spot favoritnya dengan Aksa kalau mereka mengunjungi taman. Ia tersenyum kecil melihat dua insan didepan sana yang asyik tertawa bersama. Zulfa jadi berfikir, apakah dia bisa merasakan kebersamaan seperti itu lagi sekarang? Dan apa kabar dengan Aksa sekarang? Apa dia sudah menemukan sahabat baru disana?
Mengabaikan urusan Aksa, Zulfa sekarang menatap lalu lalang orang yang berjalan dipinggir jalan. Matanya melihat sebuah mobil yang tidak asing dipandangannya. Itu kan mobil Abidzar. Dia disini juga?
“Lu liatin apaan sih, Fa?” Tanya Zilfa.
“Itu bukannya mobil kak Bidzar ya?” Tunjuk Zulfa pada mobil yang terparkir didekat taman.
Zilfa mengikuti arah jari telunjuk Zulfa. “Iya. Kenapa?”
Zulfa menggeleng pelan lalu meneguk air mineralnya lagi. “Abidzar kan emang suka olahraga.” Ucap Zilfa.
__ADS_1
Iya juga. Zulfa juga pernah ketemu sama Abidzar ditaman waktu itu. “Gue malah jadi keinget sama Aksa. Dia juga suka olahraga kayak Abidzar.” Ungkap Zilfa sembari tersenyum kecil.
“Gue kangen sama dia.”
“Aku juga kak.” Batin Zulfa.
“Kan bisa ketemu.”
“Lu lupa kalau dia udah pindah ke luar kota?” Zilfa menjeda ucapannya. “Lagi pula dia juga udah mutusin buat nyudahi hubungan kita dan nyuruh gue buat nggak ngerecoki hidup dia lagi. Gue nggak tau kenapa dia berubah.”
Zulfa berfikir sejenak. Apa Aksa benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali di kehidupannya lagi? Kenapa dia juga memilih pergi dari kehidupan Zilfa? Bukankah dia mencintai Zilfa?
...
“Lu liatin siapa sih?” Tanya Raisya.
Abidzar mengalihkan tatapannya lalu menggeleng pelan.
Raisya mengedarkan pandangannya mencoba mencari objek yang dari tadi ditatap Abidzar hingga pandangannya terhenti pada satu objek. Dia melihat Zulfa. Pantas saja Abidzar mengabaikan keberadaannya dari tadi. Ternyata karena ada Zulfa. Pasti Abidzar berjaga-jaga kalau-kalau Zulfa lihat mereka berdua.
Raisya memegang tangan Abidzar, namun buru-buru ditepis kasar oleh Abidzar. Raisya tersenyum sinis. “Kenapa? Bukannya kita dulu sering kayak gini? Kenapa lu berubah?” Tanya Raisya.
Abidzar menatap tajam kearah Raisya. Gadis dihadapannya ini benar-benar telah terang-terangan mengemis cinta padanya. Dulu Abidzar merasa bangga saat ada cewek yang mengemis cinta padanya namun sejak dia mulai ada rasa dengan Zulfa, dia benci dengan cewek yang mengemis cinta padanya.
“Karena Zulfa?” Tanya Raisya lagi sembari membelai lembut pipi Abidzar.
“Lu tau nggak, secara nggak langsung lu ngemis cinta sama gue.” Final. Abidzar tak bisa mengontrol amarahnya.
“Duduk dulu, sayang. Lu mau kalau Zulfa tau kita disini.”
Sejenak Abidzar ingat dengan misinya. Dia harus menghapus foto yang menjadi ancaman gadis ini.
“Jangan panggil gue dengan sebutan itu lagi. Inget kita udah nggak ada hubungan apa-apa.”
Raisya berusaha sabar menghadapi Abidzar. Dia harus tetap bersikap manis pada Abidzar agar Abidzar luluh dan mau kembali lagi padanya.
“Kita emang udah nggak ada hubungan apa-apa, tapi gue masih cinta sama lu.”
“Gue kayak gini cuma sama lu.” Abidzar mengacak rambutnya frustasi.
“Gue nggak ada waktu buat dengerin omong kosong lu.” Ucap Abidzar kemudian beranjak. Dia tidak peduli dengaan misi untuk menghaapus foto yang menjadi bahan ancaman Raisya gagal. Dia bisa menyusun misi itu lagi lain kali, sekarang yang terpenting dia harus pergi dari tempat ini sebelum Zulfa melihat mereka bersama.
Tapi langkahnya terhenti saat Raisya berucap. “Padahal gue udah ada niatan buat ngehapus foto itu kalau lu mau sedikit sabar.”
Abidzar menoleh kearah Raisya. “Mau lu apaan sih?”
“Gue cuma pengen deket lagi sama lu, Dzar. Apa itu salah?”
“Jelas salah” Abidzar menjeda ucapannya. “Sekarang hapus tuh foto.”
Lagi-lagi Raisya tersenyum sinis. “Ada syaratnya.”
“Apa?”
“Cium gue.”
“Lu udah gila ya?” Tanya Abidzar emosi.
“Untuk yang terakhir.”
“Gue nggak akan pernah lakuin itu.” Tegas Abidzar.
“Anggep aja ini perjuangan lu buat pertahanin Zulfa.”
Abidzar berfikir sejenak. Ini yang terakhir kan? Setelah ini semua akan baik-baik saja? Abidzar menoleh kearah Raisya. Jika dengan ini akan membuat hubungannya dengan Zulfa baik-baik saja, maka Abidzar akan lakukan.
“Gimana?” Tanya Raisya.
“Gue turutin apa mau lu, tapi lu janji bakalan hapus tuh foto.” Ucap Abidzar.
__ADS_1
...
“Kita pulang sekarang?” Tanya Zilfa.
“Yuk.” Kata Zulfa.
Drettt. Ponsel Zulfa bergetar.
“Bentar-bentar.” Langkah Zulfa terhenti membuat langkah Zilfa yang ada disampingnya otomatis ikut terhenti.
Ada pesan masuk. Dari nomor tak dikenal. Siapa?
Kalau lu mau tau tentang foto ini dan kejelasan hubungan gue sama Abidzar, datang ke kafe deket taman kota sekarang!
Zulfa sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Foto yang dikirim perempuan tak dikenal itu sudah mengungkapkan siapa pengirimnya.
Zulfa tak habis fikir kalau Abidzar telah membohonginya. Zulfa tak peduli kalau Abidzar terang-terangan membencinya dan mengabaikannya seperti dulu, tapi dia tidak terima kalau Abidzar berbohong kalau dia mulai mencintainya dan berusaha ingin membuatnya jatuh cinta pada dia. Ucapan laki-laki itu dusta.
Dengan langkah lebar Zulfa berjalan menuju tempat yang dibilang gadis itu, tanpa memperdulikan pertanyaan dari kakaknya yang sekarang membuntuti langkahnya dibelakang. Tujuannya hanya satu. Zulfa ingin mengungkap kebusukan laki-laki pendusta itu.
Kaki Zulfa tiba-tiba lemas tak bertulang saat mendapati Abidzar yang ingin mencium pipi Raisya. “Oh jadi selama ini kamu cuma mau permainin perasaan aku?” Teriak Zulfa membuat bibir Abidzar tak jadi menempel dipipi Raisya.
Abidzar benar-benar terkejut dengan keberadaan Zulfa dan Zilfa disini. Sejenak dia melirik kearah Raisya yang tersenyum sinis. Ini semua pasti rencana Raisya. Cewek itu benar-benar licik.
“Semuanya nggak kayak yang lu pikirin, Fa.” Jelas Abidzar.
Zulfa memaalingkan wajahnya. Dia berusaha menahan air mata yang siap meluncur dari pelupuk matanya. “Aku nggak butuh penjelasan. Semua udah jelas.” Ucap Zulfa.
Abidzar hendah menyentuh tangan Zulfa, tapi dengan cepat Zilfa menepisnya. “Jangan berani-berani lu sentuh adik gue. Gue nggak habis fikir ya kalau lu sebusuk ini. Gue kecewa sama lu!”
“Gue mohon kalian dengerin gue, jangan percaya sama dia.” Tunjuk Abidzar pada Raisya.
“Aku bisa aja nggak percaya sama kak Raisya tentang foto ini.” Zulfa mengarahkan ponselnya tepat diwajah Abidzar. “Tapi sekarang aku udah liat langsung.”
Abidzar mematung ditempat menatap punggung Zulfa yang kian menjauh.
“Jangan berani lu nyakitin adik gue lagi, atau lu harus berurusan sama gue.” Ancam Zilfa kemudian pergi menyusul Zulfa.
Ini semua memang salahnya. Tapi Raisya juga salah.
Abidzar menoleh kearah Raisya yang tersenyum penuh kemenangan. “Ini semua rencana lu kan?” Tanya Abidzar penuh amarah.
“Kalau iya emang kenapa?” Tanya balik Raisya seolah menantang.
“Dasar cewek licik.” Umpat Abidzar.
“Salah siapa yang berani mainin perasaan gue.” Raisya mengambil tasnya tang ada dimeja kemudian beranjak. Sampai didepan pintu dia berbalik menatap Abidzar. “Sekarang kita selesai.” Dia benar-benar pergi setelah berucap seperti itu.
Abidzar mengacak rambutnya frustasi. Kenapa semuanya jadi kacau?
Abidzar berjaalan gontai memasuki mobilnya. Ia memutuskan untuk kerumah Zulfa menjelaskan semuanya, semua tentang dia dan Raisya.
15 menit kemudian Abidzar sudah berdiri tepat di depan gerbang rumah Zulfa. Dia memandang sejenak rumah ber cat dominan warna putih itu. Abidzar menghembuskan nafas kasar lalu masuk kepelataran. Rumahnya nampak sepi. Apa tidak ada orang dirumah.
Tepukan pelan dibahunya diiingi ucapan pelan membuatnya sedikit terkejut. “Kenapa nggak masuk?” Itu suara Irsyad.
“I...iya om.” Abidzar membuntunti langkah Irsyad dari belakang. Jantungnya mulai berdegup tak beraturan. Ada rasa takut dan kalut yang dirasakan sekarang. Takut kalau-kalau Zulfa sudah menceritakan kejadian tadi pada Irsyad dan kalut kalau-kalau hubungan mereka akan berakhir sekarang.
“Eh ada Abidzar. Duduk dulu. Tante buatin teh ya?” Sapa Aisya yang baru saja muncul dari arah dapur.
“Nggak udah tante, ngerepoti.” Ucap Abidzar sungkan.
“Nggak papa cuma teh.” Setelah berkata seperti itu, Aisya kembali kedapur membuatkan teh untuk Abidzar.
“Tumben kesini pagi-pagi.”
Abidzar menatap Irsyad was-was. “Mau ketemu Zulfa. Zulfa nya ada, om?”
“Zulfa tadi keluar Zilfa belum pulang kayaknya.”
__ADS_1
Aisya menauruh segelas teh dimeja. “Kenapa nyariin Zulfa, Abidzar?” Tanya Aisya.