
Kring...kringg...kringgg.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi nyaring dipendengaran membuat orang-orang yang sudah tidak betah berasa disekolah berhamburan keluar kelas masing-masing memadati koridor dan tempat parkiran yang benar-benar kacau. Para murid tidak sabaran yang menjadi tersangka utamanya.
Zulfa masih duduk manis di bangkunya, padahal kelasnya sudah sepi sejak 15 menit yang lalu. Salsa terpaksa meningalkannya karena ayahnya sudah menjemput, lagipula Zulfa juga memaksa Salsa untuk pulang duluan, dia masih ada acara setelah pulang sekolah. Entah acara apa yang mengharuskan semua anggota organisasi dan eskul inti berkumpul di aula. Sebenarnya Salsa juga anggota eskul tapi bukan anggota inti jadi dia nggak ikut.
Zulfa masih menunggu kakaknya, Zilfa yang katanya mau barengan ke aula tapi sampai sekarang dia belum kunjung datang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, entah karena apa.
Zulfa menelangkupkan kepalanya diatas meja, hari ini rasanya melelahkan. Bukan tubuhnya yang lelah, tapi pikiran dan juga hatinya. Dan bayangan Aksa kembali muncul seakan otaknya memutar rekaman memori kebersamaan dengan Aksa dari awal pertemuan sampai kata perpisahan tadi. Zulfa ingin rasanya menghapus rekaman itu dari memori otaknya namun tak bisa.
Ketika seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya, Zulfa mendongak. “Ayo ke aula.” Abidzar, seseorang yang baru saja duduk disampingnya tanpa permisi.
“Zilfa ngurusin acara di aula makanya dia duluan. Hp nya juga mati makanya dia nyuruh gue buat dateng kesini.” Lanjutnya.
“Oh.” Kata Zulfa datar. Mood Zulfa lagi nggak bagus makanya dia malas untuk bicara.
“Kok cuma oh?” Tanya Abidzar.
“Trus harus gimana?” Tanya balik Zulfa dengan wajah polosnya membuat Abidzar ingin mencubit pipi Zulfa gemas. Gadis itu ternyata aslinya emang polos kayak kata orang kebanyakan.
“Yaudah kita ke aula sekarang. Gue gemes lama-lama ngomong sama lu.”
“Aku izin aja ya?” Tawar Zulfa memohon pada Abidzar, mengingat dia koodinator acara di aula kali ini.
“Nggak bisa.” Tegas Abidzar.
“Emang di aula ada acara apaan sih?”
“Nanti lu juga tau sendiri.”
“Aku lagi nggak mood.”
“Ini acara perpisahan Aksa.”
Deg.
Ternyata Aksa beneran mau pindah sekolah? Zulfa menatap Abidzar yang sudah memalingkan wajahnya setelah dia mengatakan nama Aksa.
“Tumben kamu maksa kalau kamu udah tau ini acara dia? Kamu juga mau jadi koodinator acaranya?”
Abidzar memejamkan matanya sejenak lalu beralih menatap Zulfa. “Dan gue juga yang ngusulin buat ngadain acara ini.”
“Kenapa?”
“Biar Aksa nggak perlu repot-repot bilang ke lu karna pastinya kalian nanti bakalan berduaan.”
Sudah terlambat. Aksa sudah bilang sama Zulfa dibelakang toilet tadi dan asal Abidzar tahu kalau itu yang membuat Zulfa jadi bad mood.
Zulfa menunduk tak berani menatap wajah Abidzar. Apakah dia harus cerita ke Abidzar soal yang tadi? “Lu kenapa?”
“Enggak.”
“Cerita sama gue ada apa?” Tanya Abidzar.
“Tatap mata gue Zulfa, gue ngajak ngomong lu bukan ngajak ngomong tembok.” Lanjutnya.
Zulfa memberanikan diri mendongakkan wajah menatap Abidzar. “Sebenarnya kak Aksa udah bilang sama aku kalau mau pindah sekolah.”
“Kapan? Dimana? Disana ada siapa aja?” Tanya Abidzar kayak gerbong kereta.
“Tadi, dibelakang toilet putri, berdua.” Jawab Zulfa. Dia menatap wajah Abidzar was-was takut Abidzar marah.
Abidzar tertawa pelan. “Ternyata gue kalah cepet sama dia.”
“Dan gue nggak nyangka kalian berdua masih sering ketemuan berdua dibelakang gue.”
Zulfa menggeleng cepat. “Nggak gitu, kak.” Sanggah Zulfa.
“Kalau iya juga nggak papa kok, Za. Gue nggak bakalan marah sama lu. Gue nggak ada hak.”
__ADS_1
“Oh iya Fa.” Zulfa menatap serius keaarah Abidzar. “Bilang sama gue kalau lu udah nyerah sama perjodohan ini.” Abidzar melangkahkan kakinya pergi, namun baru dua langkah Zulfa mencekal pergelangan tangannya membuat langkah lebarnya otomatis terhenti.
“Lepasin Fa. Lu bilang kita bukan mahrom.” Zulfa berusaha mencerna perkataan Abidzar barusan, detik berikutnya dia sadar lalu melepaskan pegangannya pada tangan Adidzar.
“Maaf.” Cicit Zulfa malu-malu. Ini kali pertamanya dia memegang tangan Abidzar.
Abidzar membalikkan tubuhnya menatap Zulfa yang lagi lagi menunduk. Ada rona merah dipipi gadis itu membuat kedua sudut bibir Abidzar tertarik keatas. Dia tersenyum melupakan kekecewaannya pada Zulfa barusan.
“Buat?”
“Buat yang tadi soal kak Aksa, kita nggak janjian buat ketemuan itu cuma kebetulan dan barusan aku nggak sengaja megang tangan kak Bidzar.” Jelas Zulfa.
“Tatap mata gue.”
“Enggak.”
“Tatap, Zulfa atau gue pergi sekarang.”
Zulfa memberanikan diri untuk menatap manik mata Abidzar. Jantung Zulfa tiba-tiba berdegup lebih cepat seperti habis lari maraton saat manik matanya bertemu dengan mata elang milik Abidzar.
“Gue nggak marah sama lu, Fa.” Ada perasaan lega saat Abidzar berkata demikian.
“Bener?” Tanya Zulfa.
“Iya beneran Zulfa. Yang ada kalau lu kebanyakan nanya gue jadi marah.” Jelas Abidzar sambil terkekeh pelan melihat wajah ketakutan Zulfa.
“Kak Bidzar juga janji jangan nawarin yang tadi lagi.”
“Yang mana?” Abidzar menempelkan jari telunjuknya didagu seolah tengah berfikir keras. Perasaan dia tadi nggak ngasih penawaran apa-apa sama Zulfa.
“Soal nyerah tadi.” Ucap Zulfa takut-takut.
“Jadinya lu nggak bakalan nyerah?” Tanya Abidzar. Matanya menatap serius kearah Zulfa.
“Ya kita kan janji buat sama-sama berjuang.”
Abidzar tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang kita ke aula?”
Mereka berdua berjalan beriringan menuju aula dengan Abidzar yang jalan didepan dan Zulfa mengikutinya dari belakang mirip seperti bos dan sekretarisnya.
“Gue kalah sama permainan gue sendiri. Gue beneran jatuh cinta, Fa.” Ungkap Abidzar dalam hati.
...
“Assalamu’alaikum.” Salam Abidzar membuat semua orang yang tengah duduk manis lesehan di aula menoleh kearahnya dan juga Zulfa yang baru saja masuk padahal acara sudah dimulai 15 menit yang lalu. Tak terkecuali Aksa yang menatap tajam kearah mereka.
“Lu duduk disitu. Nanti pulangnya tunggu gue. Kita pulang bareng.” Ucap Abidzar tak memperdulikan tatapan tajam dari orang-orang yang menatap kearah mereka seolah-olah mau menelan mereka hidup-hidup.
Zulfa meninggalkan Abidzar yang masih berdiri diambang pintu. Dia memilih duduk bergabung dengan yang lain, tapi naasnya dia malah duduk disebelah Raisya.
“Gue bilang jauhi Abidzar kan?” Lirih Raisya.
“Kita udah janji buat sama-sama jadi kakak nggak ada hak buat nyuruh aku jauhi kak Bidzar.”
“Lu nantang ya?”
“Kalau iya emang kenapa?”
“Mundur sekarang kalau lu nggak mau sakit hati.”
“Seharusnya aku yang bilang gitu ke kak Raisya.”
Raisya menatap tajam kearah Zulfa. Tak mau kalah Zulfa juga menatap tajam balik kearah Raisya. Mereka sama-sama tak mau menurunkan ego masing-masing. Acara tatap-tatapan antara harimau dan serigala itu terhenti saat Aksa mengucapkan salam tanda acara sudah selesai.
“Pulang yuk.” Ajak Abidzar dengan senyum merekah. Namun senyumnya perlahan memudar saat matanya tak sengaja menatap kearah Raisya.
“Pulang-pulang. Lu ikut beresin dulu nih, jadi koordinator nggak bertanggung jawab banget.” Omel Faiz.
Abidzar mendegus pelan. “Gue bantu apa?”
__ADS_1
“Bawa tuh meja kebawah.” Titah Faiz memerintah.
“Gue bantuin ya?” Tawar Raisya semangat.
“Nggak usah.” Tolak Abidzar ketus membuat Faiz memincingkan matanya.
“Zulfa tolong bantuin gue.” Lanjut Abidzar.
“Iya.” Kata Zulfa.
Zulfa berjalan mendekati Abidzar. “Lu pegang ujung sini. Gue pegang ujung sana. Bisa kan?”
“Iya.”
“Kuat?” Tanya Abidzar memastikan.
“Kurus kurus gini tapi aku strong loh jangan meremehkan.” Jelas Zulfa membuat Abidzar terkekeh. Lagi-lagi Zulfa membuatnya tertawa renyah dengan ekspresi wajahnya yang lucu.
“Cuma nanya.”
“Biar gue yang jalan mundur.” Titah Abidzar saat mereka mulai menggotong meja.
Mejanya lumayan panjang jadinya harus diangkat dua orang, lagi pula jalanannya juga nggak memungkinkan buaat digotong satu orang mengingat mereka harus menurunkan mejaa dari lantai atas ke gudang yang beraada dilantai bawah.
“Kalau nggak kuat bilang ya, gue nggak mau lu kesulitan gotongnya.” Tutur Abidzar.
“Kuat kok. Lagian kita udah ditengah jalan.” Ck. Abidzar terkekeh melihat raut kesal diwajah Zulfa. Menurutnya lucu kalau Zulfa lagi kesel kayak gini.
“Perhatiin jalannya kak, jaangan ketawa nanti jatuh.” Peringat Zulfa.
“Gue juga bisa bawa nih meja sambil merem kali, Fa.”
Gubrak.
Tepat setelah Abidzar berkata demikian dia tersandung batu sampai terjatuh ditaanah. Untung mereka udah selesai menapaki tangga. Kalau belum nggak kebayang jadi apa merekaa berdua.
Darah segar mengalir di telapak tangan Abidzar yang bergesekan langsung dengan batu. “Tuh kan. Makanya jangan sombong.” Omel Zulfa. Dia ikut jongkok melihat luka tangan Abidzar tanpa menyentuhnya.
“Nggak papa kali. Cuma kek gini aja nggak berasa.”
“Kita ke UKS sekarang.”
“Nggak perlu Fa, nanti juga sembuh sendiri.” Tolak Abidzar.
“Biar nggak infeksi, kak. Bisa nggak sih nurut aja.” Ucap Zulfa sedikit membentak membuat Abidzar mau tidak mau harus ikut Zulfa ke UKS.
Zulfa menyuruh Abidzar untuk duduk tenang dikursi sementara dia sibuk mencari obat merah dan kawan kawannya untuk mengobati luka Abidzar tapi hasilnyaa nihil. Almari yang digunakan untuk menyimpan barang-barang itu terkunci dan kuncinya entah dibawa siapa.
“Lu nyari apaan, Fa?” Tanya Abidzar.
“Bisa diem nggak sih!" Bentak Zulfa.
“Kalau nggak ada nggak usah. Kan gue juga udah bilang sama lu. Ngeyel.” Cibir Abidzar.
Zulfa akhirnya pasrah menghampiri Abidzar yang duduk di kursi depan ruang UKS. “Almarinya dikunci kan?”
“Kak Abidzar udah tau ya? Kenapa tadi nggak ngasih tau?”
“Lu udah marah pas gue mau jelasin ke lu, jadi gue nurut aja.”
Zulfa mendegus pelan. Dia sedikit kesal dengan Abidzar. Tapi tak bisa dipungkiri kalau dia juga salah. Yang penting sekarang dia harus menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menghentikan darah di telapak tangan Abidzar.
Ting.
Zulfa punya ide. Dia melepas dasi nya kembudian melilitkannya di telapak tangan Abidzar yang bebelumnya sudah dicuci dengan air bersih.
Abidzar sedikit meringis menahan rasa perih. “Sakit ya?” Tanya Zulfa.
“Enggak.” Kata Abidzar dengan senyuman tulus.
__ADS_1
“Lebih sakit liat lu berduaan sama Aksa.” Lanjutnya dalam hati.