
“Nggak papa tante cuma mau ngobrol aja.”
“Oh. Diminum teh nya, Abidzar.” Ucap Aisya mempersilahkan. Abidzar meneguk pelan teh yang dibuatkan Aisya. Otaknya masih lalu lalang memikirkan Zulfa. Bukannya tadi udah pulang?
Merasa Abidzar canggung dengan keberadaannya, Irsyad dan Aisya memilih untuk kedapur. Membiarkan Abidzar sendiri diruang tamu.
30 Menit kemudian Abidzar masih stay diruang tamu. Sesekali tangannya bergerak menghidupkan ponsel, sekedar untuk mengecek pesan masuk. Tapi nihil tak ada pesan masuk sama sekali.
“Assalamu’alaikum.” Ucapan salam diiringi decitan pintu terbuka membuat Abidzar mendongak.
“Mau ngapain kamu disini?” Tanya Zulfa emosi. Ya, orang yang baru saja mengucapkan salam dan membuka itu Zulfa. Kali ini dia datang sendiri. Tidak dengan Zilfa.
“Gue mau jelasin soal tadi.”
“Aku nggak butuh penjelasan kamu!” Tunjuk Zulfa tepat di wajah Abidzar. Kejadian tadi sudah cukup menjelaskan semuanya.
“Gue mohon dengerin penjelasan gue dulu baru lu bisa menyimpulkan.” Ucap Abidzar frustasi.
Abidzar harap Zulfa sedikit menurunkan egonya untuk mau mendengarkan penjelasannya dulu baru dia bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi, walau dia tahu, dia emang salah tapi setidaknya jika diaa menjelaskan semuanya Zulfa tak terlalu salah paham dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Semua ini juga dia lakukan semata-mata untuk Zulfa.
“Dari awal kak Abidzar nentang perjodohan ini kan? Kak Abidzar nggak pernah tulus mau cinta sama aku. Semua yang kak Bidzar janjiin semua itu dusta. Itu hanya omong kosong. Dan aku benci pembohong seperti kakak!”
“Oke aku ngaku emang gue udah bohong. Tapi aku lakuin semua itu demi lu, Zulfa. Gue nggak mau lu sakit hati lagi gara-gara gue.” Jelas Abidzar.
“Sekalinya pembuhong akan tetap menjadi pembohong!” Tukas Zulfa.
Abidzar mencoba mendekati gadis yang berdiri beberapa langkah didepannya. Tapi semakin Abidzar mendekat, Zulfa memundurkan langkahnya, hingga Zulfa memilih untuk berlari menuju kamarnya. Matanya memburam dipenuhi air mata yang siap meluncur. Dadanya sesak. Kenapa semua ini begitu menyakitkan?
Tok...tok...tok...
Abidzar mengetuk pintu kamar Zulfa yang sepertinya dikunci dari daalam. “Zulfa...” Panggilnya lirih.
“Pergi!” Bentak Zulfa dengan suara serak. Abidzar yakin Zulfa sudah menangis didalam sana. Dan ini semua gara-gara dia. Lagi-lagi dia yang terus menyakiti hati Zulfa.
Abidzar terduduk lemas didepan pintu kamar Zulfa. Semua sudah terlambat. Apakah hubungannya dengan Zulfa bisa diperbaiki? Ataukah akan berakhir sampai disini?
Seseorang tiba-tiba datang mencengkeram kerah baju Abidzar membuatnya terpaksa berdiri. “Mau ngapain lagi lu disini!” Bentak Zilfa yang baru saja datang.
“Gue mohon lu ada dipihak gue, Zilfa.”
Zilfa tertawa sinis. “Dipihak lu? Gue nggak akan pernah memihak orang yang salah.”
“Zilfa sudah!” Ucap Irsyad menengahi. Aisya berusaha menarik Zilfa yang sedang emosi.
“Semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, jangan dengan emosi.” Jelas Irsyad. Dia menyuruh Aisya untuk membawa Zilfa keluar.
Irsyad beralih menatap Abidzar yang tertunduk. “Sebaiknya kamu pulang sekarang.”
“Saya mau disini sampai Zulfa mau mendengar penjelasan saya, om.”
Irsyad menepuk pelan bahu Abidzar. “Beri dia waktu.”
“Tapi-“
“Semua orang butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan saya mohon kamu mengerti itu.”
Abidzar menghembuskan nafasnya pasrah, tapi akhirnya dia mengangguk. Mungkin benar. Zulfa butuh waktu.
“Saya mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apapun yang akan terjadi, itulah yang terbaik untuk kalian.”
“Ingat, hubungan yang diawali dengan kebohongan itu tidak baik.”
Abidzar menatap Irsyad. Dia menarik nafasnya, berusaha jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi. Irsyad sama-sama laki-laki, mungkin dia akan mengerti. “Saya sudah berbohong padanya.” Ucap Abidzar pelan.
“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tapi saya harap kamu ada niatan untuk memperbaiki semuanya. Karena tidak ada kata terlambat untuk orang yang mau memperbaiki kesalahan.”
__ADS_1
Abidzar menunduk. “Iya, om. Saya janji saya akan berubah.”
Irsyad tersenyum kecil kearah Abidzar. “Buktikan.”
Abidzar mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah Zulfa setelah berpamitan pada Irsyad.
...
Zulfa menatap kosong aquarium yang ada dihadapannya. Kejadian kemarin membuatnya patah semangat.
“Ikan mulu yang ditatap. Natap gue kapan?” Tanya seseorang membuatnya menoleh kesumber suara. Benar saja itu dia, laki-laki yang membuatnya patah semangat. Laki-laki yang membuatnya sakit hati. Laki-laki yang membuatnya terhempas dari pengharapan yang tak akan pernah terealisasikan. Zulfa benci laki-laki itu.
“Pergi!” Bentak Zulfa.
Abidzar menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi Zulfa mengusirnya dengan cara tidak terhormat. “Lu belum maafin gue.” Lirih Abidzar.
“Setelah apa yang kakak perbuat sama aku, kakak pikir aku bisa dengan mudahnya maafin kakak?” Senyuman sinis tercetak jelas diwajah Zulfa.
“Semua nggak seperti yang kamu pikirin, Fa. Denger dulu penjelasan gue. Gue sama Raisya enggak-“ Ucapan Abidzar terpotong saat Zulfa kembali bersuara.
“Aku nggak mau denger penjelasan!” Tegas Zulfa penuh penekanan disetiap katanya. Dia sudah benar-benar muak melihat wajah Abidzar apalagi dengan sikapnya.
“Kasih gue kesempatan sekali lagi, Fa buat memperbaiki semuanya.”
“Aku udah ngasih kak Abidzar kesempatan. Tapi apa? Kak Abidzar malah mengecewakan.” Zulfa tak bisa membendung air mata yang meluncur bebas dari pelupuk matanya tanpa permisi.
Abidzar tertunduk. Dia menyadari kesalahannya. “Sekarang pergi!” Usir Zulfa dengan suara serak.
Lagi-lagi Abidzar hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. “Gue pergi sekarang, tapi gue janji bakalan balik lagi kesini besok, sampai lu mau maafin gue dan ngasih gue kesempatan lagi buat perbaiki hubungan ini.” Zulfa memalingkan wajah menatap kearah lain.
“Inget, Fa. Saat gue udah mutusin buat jatuh cinta sama lu, gue nggak akan berpaling pada hati yang lain.” Ucap Abidzar kemudian pergi. Baru sampai diambang pintu dia berbalik menatap Zulfa. Berharap kalau gadis itu melihat kearahnya. Namun rasanya tidak mungkin. Apa hubungannya engan Zulfa benar-benar berakhir? Apa tidak ada alasan untuk mempertahankan hubungan ini? Apa Zulfa nggak cinta sama Abidzar?
Abidzar menghembuskan nasanya kasar. Dia menutup pelan pintu rumah Zulfa, berjalan mendekat kearah mobilnya.
“Mau apa lagi lu kesini?” Itu suara Zilfa yang baru saja datang dari arah pagar.
Zilfa memincingkan matanya. “Trus Zulfa maafin lu?”
Abidzar menggeleng pelan membuat Zilfa menyinggungkan senyuman sinis. “Sekarang lu pergi dan jangan pernah balik lagi. Karena kedatangan lu kesini malah semakin bikin hati Zulfa sakit.”
Abidzar menatap Zulfa. Ternyata kakak adik itu sama saja. Sama-sama keras kepala. Tapi Abidzar cukup sadar. Memang ini murni kesalahannya. “Gue bakalan balik lagi sampai Zulfa mau maafin gue.”
Zilfa berdecih kemudian menghilang disebalik pintu masuk.
Abidzar tertunduk lesu didepan pintu mobil. Dia menatap kearah rumah Zulfa yang tertutup rapat. Bolehkan dia berharap kalau Zulfa keluar dari rumah dan mengatakan padanya kalau hubungan mereka akan baik-baik saja?
Di waktu yang sama, Zulfa masih setia menatap kosong kearah aquarium yang dihuni beberapa elkor ikan ****** kesayangan Zilfa, kakaknya.
“Ngalamun aja.” Celetuk Zilfa membuat wajah Zulfa terangkat.
“Kak Zilfa ngagetin aja.”Ucap Zulfa tanpa energi.
“Lu aja yang kebanyakan ngalamun.”
“Udah sono mandi. Lu belum mandi kan?” Tebak Zilfa membuat Zulfa mengerucutkan bibirnya kesal.
“Enak aja aku udah mandi kali. Kak Zilfa tuh yang belum mandi.”
Zilfa terkekeh pelan. “Iya ya.”
“Dasar pikun.” Cibir Zulfa.
...
Ini hari yang kesekian kalinya Abidzar datang kerumah Zulfa untuk mendapatkan maaf dan kesempatan ketiga. Kali ini dia tidak datang dengan tangan kosong. Dia membawa bunga favorit Zulfa. Mawar putih. Dia tahu kalau Zulfa suka bunga mawar putih dari Salsa.
__ADS_1
“Gue harap lu suka, Zulfa.” Gumam Abidzar sembari mencium bunga mawar putih yang dia bawa. Dia melangkah masuk keteras rumah Zulfa. Lalu mengetuk pintu.
Ceklek. Beberapa detik kemudian pintu terbuka menampakkan Aisya yang mengerutkan dahinya menatap Abidzar. Apakah ada yang salah dengan Abidzar?
“Assalamu’alaikum, tante.” Abidzar mencium punggung tangan Aisya.
“Wa’alaikumussalam.” Aisya menjeda ucapannya. “Abidzar mau cari Zulfa?” Lanjut Aisya.
“Iya, tante. Zulfa nya ada?” Tanya Abidzar.
“Zulfa lagi keluar.” Ucap Aisya sedikit gugup.
Abidzar sedikit curiga. Tadi pas ditoko bunga Abidzar sekalian tanya sama Salsa, apa Zulfa sekarang dirumah dan Salsa memberitahu kalau Zulfa masih enggan beranjak keluar padahal ini weekend. Zulfa juga bukan tipikal orang yang suka pergi-pergi keluar.
“Kemana, tan?” Tanya Abidzar lagi.
“Nggak tau, dia cuma bilang mau keluar.” Abidzar dibuat semakin curiga. Sejak kapan orangtuanya mengizinkan Zulfa keluar tanpa izin yang jelas?
“Yaudah kalau gitu Abidzar tunggu disini saja, tan.” Ucap Abidzar. Dia yakin ini rencana Zulfa yang menyuruh ibunya untuk berbohong. Sebenci itukah Zulfa padanya?
“Tapi tante ada acara diluar. Kamu nggak papa nunggu sendiri?” Tanya Aisya ragu.
Abidzar mengangguk mantap. Aisya kedalem sebentar. Beberapa menit kemudian Aisya keluar rumah rapi dengan baju khas bepergian ditambaah lagi dengan tas berwarna silver.
“Tante pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi tante.” Ucap Aisya kemudian pergi setelah mengucap salam dan Abidzar mencium punggung tangannya.
Beberapa menit kemudain setelah Aisya benar-benar pergi dia mencari jendela kamar Zulfa. Abidzar yakin Zulfa ada disana.
Tok...tok...tok...
Abidzar mengetuk pelan jendela kamar yang diyakini Abidzar itu kamar Zulfa. Dia ingat persis dimana posisi kamar sula setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
“Gue tau lu ada didalem, Fa.” Lirih Abidzar yang masih bisa didengar Zulfa didalem sana.
“Udah genap seminggu gue kesini, tapi lu belum maafin gue juga.” Abidzar menghela nafasnya pasrah.
“Dan gue pernah bilang sama lu dulu, kalau lu nyerah bilang aja. Tapi sekarang gue meretuki diri gue sendiri. Seharusnya gue nggak pernah bilang gitu sama lu. Karena pada kenyatannya, gue nggak akan pernah ngebiarin lu nyerah. Gue nggak berpendirian banget ya.” Abidzar terkekeh pelan diakhir kalimatnya.
“Gue juga pernah bilang sama lu kalau ada kalanya orang itu lelah berjuang.”
Abidzar mendengar isakan tertahan didalam sana. Tebakannya memang benar. Zulfa ada didalam sana dan Zulfa mendengar semua yang dia katakan.
“Gue udah targetin kalau gue bakalan dapet maaf lu nggak lebih dari seminggu. Kalau dalam seminggu gue nggak bisa dapet maaf dari lu berarti kesalahan gue memang udah bener-bener fatal. Dan gue berhak dapet hukuman.” Entah kenapa tenggorokannya mulai tercekat.
“Gue nggak minta lu buat hukum gue, Fa. Gue yakin bahkan lu nggak sudi buat ngasih hukuman ke gue. Gue udah siapin hukuman buat hukum diri gue sendiri.”
Abidzar menjeda ucapannya. Dia memejamkan matanya. Menghirup sebanyak-banyaknya oksigen karena dia merasa pasokan oksigennya mulai menipis. Tenggorokannya mulai tercekat. “Hukumannya gue harus pergi dari hidup lu, lu berhak bahagia Zulfa. Tanpa gue.” Kalimat itu sisaah payah dia paksa untuk terucap meskipun berat.
“Gue sayang lu, Zulfa. Asal lu tau. Lu perempuan pertama yang gue cintai dengan hati.” Isakan tangis Zulfa terdengar semakin jelas.
Abidzar menghela nafasnya kasar. Dia benci Zulfa seperti ini karena dirinya. Dimana Zulfa yang tanguh? Dahkan dia tetap terlihat baik-baik saja saat dia mengatakan kalau dia tidak mencintai Zulfa daan malah mencintai Zilfa.
Abidzar megacak rambutnya frustasi. “Jangan nangis gara-gara gue, Zulfa. Gue nggak pantes dapat air mata lu. Gue lebih pantas dapat perlakuan kasan dan umpatan lu.”
“Pergi!” Final. Akhirnya Zulfa bersuara.
“Gue udah janji dari awal, Zulfa kalau gue bakalan pergi kalau nggak dapetin maaf dari lu lebih dari 7 hari.” Abidzar bangkit dari duduknya. Dia menatap lamat-lamat jendela kamar Zulfa yang tertutup ramat. Tak ada sedikitpun celah untuk Abidzar melihat wajah Zulfa, yang terakhir kalinya.
“Gue pergi, Fa. Jangan lupa bahagia. Assalamu’alaikum.” Ucap Abidzar kemudian pergi.
Dari sebrang sana Zulfa masih setia berjongkok didepan jendela kamar menahan isakan tangis. “Wa’alaikumussalam.” Lirihnya.
Apa Abidzar benar-benar pergi? Mengapa dia merasa kehilangan? Bukankah ini yang dia inginkan?
Zulfa memukul dadanya sesak. Semenyakitkan ini mendengar kalau Abidzar benaar-benar kan pergi dari hidupnya? Tapi mengapa? Apa dia sudah mulai cinta dengan Abidzar?
__ADS_1
Tidak. Itu tidak boleh terjadi.