
Drettt.
Zulfa meraih ponselnya dinarkas kemudian mendekatkaannya ketelinga. “Zulfaaa.” Teriakan nyaring itu membuat Zulfa menjauhkan ponselnya dari telinga. Dia melihat nama yang tertera dilayar ponsel. Salsa. Pantas saja. Lihat telinga Zulfa sudah berdenyut akibat teriakan Salsa yang paripurna membahana.
“Wa’alaikumussalam.” Sindir Zulfa.
“Eh. Kelupaan. Assalamu’alaikum.” Zulfa memutar bola matanya malas. Selalu aja kayak gini.
“Kenapa?” Tanya Zulfa. Suaranya masih terdengar lemah. Dia memang belum sembuh, namun kondisinya sudah lebih membaik dari tadi pagi.
“Sejak kapan lu hobi ke empang, malem-malem lagi sama kak Bidzar ampe kejebur. Jadi sakit kan. Lu ketinggalan pelajaran kesukaan lu.” Cerocos Salsa dari sebrang sana.
“Siapa yang nebarin rumor kalau aku kecebur empang?” Tanya Zulfa.
“Kak Bidzar.” Dia emang ngeselin.
Zulfa kejebur kan juga gara-gara dia yang tiba-tiba pergi nggak ngasih tahu. Eh ini malah nyebar fithnah kalau Zulfa kejebur empang. Bukankah memfitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan?
“Enak aja kecebur empang. Aku kecebur di danau. Lagi pula aku kesana nggak cuma berduaan sama kak Abidzar tapi sama kak Zilfa sama Aksa.” Jelas Zulfa panjang kali lebar. Sama-sama kecebur juga kan sebenernya?
“Lu kesana sama cowok-cowok ganteng kok ngajak-ngajak gue?”
“Mana aku tahu sebelumnya, yang nyuruh ayah habis makan malem.”
“Eh yaudah ya guru udah masuk. Bye.”
Tuttt. Sambungan telpon terputus satu pihak. Zulfa meletakkan kembali ponselnya dinarkas.
Drettt.
Ponselnya kembali bergetar. Zulfa mengambilnya. Lagi. Kali ini bukan notifikasi telpon dari Salsa. Tapi notifikasi chat dari Aksa. Buru-bru Zulfa membukanya dengan semangat.
aAk,sa.ja
Gws awa uwu...
Tau nggak gue kangen sama kerecehan lu. Padahal baru sehari lu absen.
Makasih. Besok juga masuk jangan lebay.
__ADS_1
Kok dikatain lebay sih, gue terluka tau nggak
Enggak mau tau
Jahat.
Udah sana belajar. Nanti hp nya disita sama guru.
Kalau nanti hp gue disita, gue sita balik hp nya. Biar greget.
Garing
Dibalik biar nggak gosong
Nggak ada spatula.
Pinjem sama squidword
Iyain. Biar cepet. Sana belajar.
Iya bosque. Doain biar pinter
Doaku menyertaimu
Cepetan offlina nggak
Iya. Iya. Galak amat kek guru BK. Eh iya nanti gue mampir ke rumah lu pulang sekolah biar lu nggak kangen. Dandan yang cantik yeee...tuan putri, kan mau ketemu ama pangeran.
Zulfa meng off kan data selulernya habis itu. Dia jingkarak-jingkrak kegirangan pas tahu kalau Aksa mau main kerumah. Mungkin ini nanti jadi momen pertama kalinya Aksa main kerumah. Saking senengnya Zulfa sampai lupa kalau dia tengah sakit. Apa ini yang disebut kekuatan cinta. Entahlah. Zulfa tak peduli itu.
Zulfa menaruh poselnya kembali dinarkas untuk yang kedua kalinya. Dan lagi-lagi ponselnya kembali bergetar. Kali ini Zulfa hanya membiarkannya. Dia menutup tubuhnya kembali dengan selimut tebal kemudian memasuki dimensi alam mimpi.
Dilain sisi Abidzar merasa kesal karena pesan yang dia kirim ke Zulfa tak mendapatkan jawaban. Jangankan jawaban, dibuka aja enggak. Hanya centang dua abu-abu yang menyakitkan. Kan sad. Sok jual mahal amat tuh cewek. Cih. Kenapa dia jadi galau? Toh dia kan kerumah Zulfa buat nemui Zilfa bukan buat nemui Zulfa. Nggak ada kerjaan.
Abidzar melempar ponselnya dimeja. Dia tak ingin memperdulikan soal Zulfa dan apapun hal yang menyangkut tentang gadis itu. Dia berjalan keluar kelas dengan santainya tanpa memperdulikan guru yang mengajar dikelasnya.
“Mau kemana Abidzar?” Tanya guru.
“Maaf bu mau kekantin bentar. Tadi saya nggak sempet sarapan.” Kata Abidzar.
__ADS_1
Bu Nunik (Bunun) selaku guru yang mengajar dikelas Abidzar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Abidzar yang ada-ada aja. Dia hanya membiarkan Abidzar keluar kelas tanpa merasa bersalah. Nggak ada gunanya kalau ditahan. Toh dia akan kekeuh dengan pendiriannya.
Dengan langkah penuh kharisma Abidzar berjalan menyusuri koridor yang sepi karena memang bel istirahat belum berbunyi. Sesekali dia melempar senyuman khas raja buaaya akut pada siswi yang duduk didekat pintu kelas. Pekikan histeris dari siswi yang mendapat senyuman Abidzar tak dapat terhindar lagi. Bahkan guru sampai memarahi mareka. Hal itu membuat Abidzar tersenyum penuh kemenangan.
Disinilah Abidzar sekarang, berada disalah satu bangku kantin yang kosong tak berpenghuni. Hanya ada dia dan ibu kantin yang berduaan dimeja menikmati semangkuk soto panas dan es teh. Kalau fans-fans nya melihat mereka pasti nggak akan terima kalau idolanya tengah makan berdua dengan emak-emak.
“Mau nambah lagi, den?” Tanya emak kantin.
Abidzar berfikir sebentar. “Eummm...enggak. Mau belajar dulu biar pinter.” Belajar apaan. Dikelas aja Abidzar memilih pergi kekantin saat guru menerangkan kayak sekarang. Dan yang lebih parah dia tidur saat ada ulangan. Mau pinter dari mana coba. Makanya nilainya selalu anjlok. Jangan harap dia dapat juara kelas, bisa naik kelas aja udah bersyukur pakai banget.
Setelah menaruh selembar uang berwarna hijau, Abidzar berjalan keluar kantin. “Nanti siang lagi ya. Makasih lup. I lope you.” Ucap Abidzar tanpa menoleh ke emak kantin yang sudah teriak histeris. Ternyata bukan hanya gadis perawan yang jadi korban buayanya si Abidzar, tapi emak kantin juga udah jadi korban. Dasar. Abidzar ganas amat jadi buaya. Semuanya main caplok tanpa saring.
Dengan langkah sok cool Abidzar berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai karena beberapa menit yang lalu bel istirahat sudah berbunyi. “Mau kemana abang?” Tanya Raisya, pacar Abidzar dengan manjanya.
“Mau ke ruang jurnalistik. Mau ikut?” Tawar Abidzar. Jangan lupakan senyuman khas raja buaya yang melekat diwajahnya.
“Enggak deh aku mau kekantin dulu laper.” Jawab Raisya.
“Makan gih. Gue nggak mau kalau lu sakit gara-gara kelaperan. Bye bye cintah.” Ucap Abidzar kemudian berlalu.
Raisya menjerit histeris ditempat. Dia mengibas-ngibas wajahnya dengan tangan seperti syaiton habis denger ta’awudz. Kepanasan.
“Eh bro. Besok ada tugas ngliput hasil penelitian dikelas 11 IPS 4.” Kata Faiz. Teman se eskulnya.
“Penelitian apaan?” Tanya Abidzar.
“Mana gue tau. Gue cuma dibilangin gitu. Lu tanya Zulfa sana. Dia kan kelas 11 IPS 4.” Abidzar mangut-mangut sambil berfikir. Darimana Faiz tahu kalau Zulfa kelas 11 IPS 4?
“Emang dia kelas 11 IPS 4?” Tanya Abidzar.
“Kebangetan lu. Seharusnya lu yang tau dia kan dijodohinnya sama lu, kok lu malah nanya gue.” Abidzar tak memperdulikan celotehan Faiz. Dia berjalan mengambil kamera milik eskul jurnalistik yang berada di almari.
...
Setelah tidur seharian, Zulfa merasa badannya malah semakin pegel-pegel. Biasanya dia nggak bisa seanteng itu seharian berdiam diri dikasur kalau nggak sakit. Dia beranjak dari kasur, berniat ke ruang tamu menonton serial tv favoritnya setelah mengambil jilbab instan berwarna toska dinarkas.
Zulfa menatap rumahnya yang sepi, ayah dan ibunya sedang keluar. Katanya mau belanja bulanan gitu. Kakaknya juga masih disekolah menimba ilmu.
Disinilah Zilfa sekarang. Duduk di sofa depan tv ditemani segelas coklat panas dan beberapa makanan ringan. Tangaannya sibuk mencari chanel tv yang menayangkan serial tv favoritnya. Nah ketemu. Zulfa membaringkan tubuhnya dengan nyaman diatas sofa sambil sesekali memasukkan makanan ringan kemulutnya.
__ADS_1
Perhatiannya kini teralihkan pada pintu yang diketuk berkali-kali oleh seseorang. Zulfa berjalan membuka pintu. Dia berfikiran kalau itu pasti Aksa. Dia kan janji pulang sekolah mau kesini.
“Selamat datang.” Teriak Zulfa setelah membuka pintu.