
Zulfa menatap pintu didepannya cukup lama, dia jadi ragu-ragu mau pulang setelah melihat motor spot milik Aksa nangkring diteras depan rumahnya.
Tok...tok...tok
Zulfa menoleh kearah laki-laki yang baru saja mengetuk pintu.
“Abidzar...” Lirih Zulfa.
Ya, laki-laki yang baru saja mengetuk pintu itu Abidzar, orang konyol yang berjanji akan membuat Zulfa jatuh cinta padanya dan melupakan Aksa padahal dia tak ada niatan untuk tanggung jawab jika seandainya Zulfa benar-benar mencintainya. Abidzar menganggap hati Zulfa itu permainan belaka.
“Kak.” Sela Abidzar.
Abidzar menatap Zulfa lekat sembari menampakkan senyuman manis yang membuat dia jadi terlihat semakin tampan.
Zulfa menelan salivanya susah payah, tatapan itu seakan mencekat tenggorokannya untuk berhenti bersuara. Tatapan itu membuatnya terpaku menatap satu objek. Senyuman tulus Abidzar membuatnya termenung sebentar. Tampan. Hanya itu yang dapat Zulfa kataakan dalam hati. Tapi buru-buru dia menghilangkan kata pujian tentang Abidzar difikirannya.
“Iya itu maksadnya. Kak Abidzar ngapain ketuk-ketuk pintu?”
“Mau bertamu.” Jawab Abidzar santai.
Tok...tok...tok
Abidzar kembali mengetuk pintunya, kali ini sedikit lebih kuat dari yang tadi.
Zulfa menatap tajam kearah Abidzar. “Jangan ngetuk lagi atau...” Ancam Zulfa sembari menunjuk Abidzar.
“Atau apa?” Tanya Abidzar seolah menantang.
Ada hal yang baru Zulfa ketahui dari seorang Abidzar, ternyata dia ngeselin dan keras kepala, seperti Aksa. Kok jadi nagkut ke Aksa lagi? Au ah bodo.
Ceklek.
Pintu terbuka menampakkan Zilfa dan Aksa yang muncul dari dalam rumah. Zulfa sontak menurunkan jari telunjuknya.
Baru aja diomongin dalam hati uah nongol aja orangnya bikin mulut Zulfa langsung kicep saat pandangan mereka bertemu dalam ruang titik yang sama.
“Eh kalian, sini masuk.” Ucap Zilfa. Zulfa sempat melirik sinis kearah Abidzar sebelum masuk.
Aksa menahan tangan Abidzar saat melihat Abidzar hendak masuk kedalam. Ada sorotan kilat amarah dimatanya. “Lepasin gue.” Ketus Abidzar kemudian masuk tak mengindahkan perlakuan Aksa. Dia malah tersenyum sinis penuh kemenangan melihat raut wajah cemburu seorang Muzaki Hanan Danadyaksa.
Abidzar duduk tepat disamping Zulfa yang tengah menikmati segelas coklat panas. Yah...semua itu semata-mata untuk membuat Aksa cemburu dan melancarkan permainan rasanya pada Zulfa.
Zulfa melirik kearah Abidzar. Dia sedikit mendelik ngeri saat melihat Abidzar menaik turunkan alisnya. Jurus buaya darat Abidzar kayaknya kumat. “Ngapain liat-liat?” Tanya Zulfa sinis.
Abidzar terkekeh pelan. “Emang nggak boleh?”
“Zina pandaangan tau nggak lu.” Ucap Aksa sembari melirik tajam kearah Abidzar.
“Kayak lu nggak pernah aja.”
Aksa tak memperdulikan ucapan Abidzar barusan. Dia mencomot pisang goreng yang ada dimeja kemudian memakannya.
Diam-diam Zulfa memperhatikan tingkah Abidzar dan Aksa. Ada tarikan senyum dari sudut bibir gadis 16 tahun itu. Ada rasa suka sekaligus duka yang menyelimuti hatinya. Suka karena melihat Aksa cemburu dengan Abidzar dan duka karena takdir tak memihak pada mereka.
Zulfa menghembuskan nafasnya kasar. Sudahlah. Toh juga Aksa lebih memilih Zilfa dibanding dirinya. Ucapannya beberapa waktu yang lalu itu semata-mata hanya sebatas rasa peduli sebagai sahabat dan karena Zulfa adalah adiknya Zilfa.
“Kok kalian baru pulang?” Tanya Zilfa. Dia baru saja muncul dari dapur membawakan secankir teh hangat untuk Abidzar.
Abidzar mengambil gelas yang diletakkan Zilfa dihadapannya kemudian meminumnya. Ada rasa hangat saat memasukkan cairan berwarna coklat itu meluncur ketenggorokannya. “Tadi maen hujan dulu.”
“Ada-ada aja kalian ini. Kek anak kecil tau nggak main basah-basahan.” Cibir Zilfa.
__ADS_1
“Yang penting bahagia.” Abidzar sempat melirik kearah Aksa saat berucap. Namun sepertinya Aksa tak memperdulikan itu. “Ya kan, Zulfa.”
“Ha?” Zulfa sedikit terkejut saat mendengar namanya disebut. Tapi detik selanjutnya dia mengangguk.
Aksa menatap Zulfa dengan pandangan yang entah mengartikan apa. Ada segelintir rasa perih saat melihat Zulfa dengan Abidzar. Apakah Zulfa akan melupakan kenangannya dengan Aksa dan mengukir kenangan baru dengan Abidzar?
Zulfa tak pernah suka hujan. Dia lebih suka senja. Itu setahu Aksa. Tapi sepertinya sekarang bukan senja yang menjadi momen favorit Zulfa. Sekarang semua telah berubah. Dia bukan lagi Zulfa yang dulu, Zulfa yang dia kenal.
“Gue pamit duluan.” Ucap Aksa membuat tiga orang diruangan ini serempak menoleh kearahnya.
“Gue nebeng sampai depan ya mau beli cilok.” Kata Zilfa.
Aksa mengangguk, dia sempat menatap Zulfa sebelum beranjak dari ruang itu. Dia berharap Zulfa menatap kearahnya. Jujur saja, Aksa rindu dengan tatapan mata Zulfa yang menyejukkan. Tatapan yang membuat hati Aksa damai saat melihatnya. Namun sepertinya itu hayalah harapan yang sulit terealisasikan.
Mata Zulfa sedikit memanas saat menatap punggung Aksa yang perlahan menjauh. “Udah jangan diliatin terus.” Fokus Zulfa teralihkan mendengar ucapan Abidzar barusan.
“Udah kamu juga pulang. Baju kamu basah tuh nanti masuk angin kalau kamu nggak cepet-cepet ganti baju.” Tutur Zulfa. Manik matanya menatap Abidzar dengan serius.
“Cie perhatian.”
“Aku cuma nggak mau jadi tersangka kalau kamu nanti sakit.”
“Oh gitu.” Abidzar mangut-mangut sambil menaik turunkan alisnya jahil, yang langsung dihadiahi lemparan bantal oleh Zulfa.
Abidzar sediikit meringis. “Sakit, Fa.”
“Salah sendiri ngeluarin jurus buaya disini.” Ketus Zulfa.
“Gue gitu cuma sama lu.”
“Sama kak Zilfa juga gitu.”
“Itu dulu, sebelum gue nerima perjodohan ini setulus hati.” Abidzar menjeda ucapannya. “Sekarang lu jadi satu-satunya cewek yang gue suka, Zulfa. Gue juga bakalan berusaha buat bikin lu suka sama gue.”
“Gue salah ngomong ya?” Tanya Abidzar setelah melihat perubahan sikap Zulfa.
“Enggak.” Kata Zulfa sedikit gugup.
“Gue pulang dulu.” Pamit Abidzar.
“Iya.” Kata Zulfa.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Nggak mau cium tangan?” Ucap Abidzar sembari mengulurkan tangannya kearah Zulfa.
Zulfa menatap tangan Abidzar kemudian beralih menatap manik matanya. “Belum mahrom.”
“Kalau belum berarti nanti balakan jadi dong?”
“Qodarullah.”
“Kak Bidzar.” Panggil Zulfa membuat langkah Abidzar terhenti.
“Kenapa?”
“Makasih.” Cicit Zulfa malu-malu.
“Buat?”
__ADS_1
“Buat yang tadi.”
“Gue bakalan bikin momen yang lebih indah dari yang tadi kalau lu mau.”
...
“Makanya jangan main hujan-hujanan kalau udah tau nggak kuat dingin.” Omel Farida pada anaknya yang menggigil kedinginan habis main hujan-hujanan sama Zulfa, katanya.
Abidzar menatap mamanya yang baru saja keluar lalu menutup pintu setelah meletakkan handuk kecil berwarna putih didahinya. Dengan cepat dia menyingkirkan benda basah yang bertengger didahinya itu kemudian berjalan menuju balkon.
Abidzar duduk dibalkon sambil sesekali memetik senar gitarnya. Pandangan matanya beralih menatap langit yang menghitam. Rintihan hujan perlahan membasahi tanaman bunga kesukaan mamanya yang tumbuh di taman rumahnya.
Otaknya kembali memutar rekaman momen bersama Zulfa, dia sedikit tersenyum saat mengingatnya. Andai Abidzar tahu jika dia yang akan kalah dengan permainannya sendiri, akankah Abidzar mau memulai permainan itu?
Zulfa. Kenapa dia sekarang hobi jalan-jalan difikiran Abidzar?
Dret...dertt...drettt.
Abidzar melirik sekilas kearah layar ponselnya yang kedip-kedip dinarkas. Siapa yang menelponnya malam-malam seperti ini? Sepertinya orang ini tidak pernah belajar adab menghubungi seseorang.
Dengan malas Abidzar berjalan mendekati narkas mengambil ponselnya. Tertera nama Raisya disana. “Halo. Kenapa?” Tanya Abidzar to the point. Dia sudah jengah dengan sikap Raisya akhir-akhir ini.
“Ketus banget jawabnya.” Abidzar yakin gadis disebrang sana sudah memanyunkan bibirnya kesal dan Abidzar sudah tidak memperdulikan itu.
“Gue nggak mau basa basi. Cepetan bilang mau lu apa?” Tanya Abidzar lagi masih dengan nada yang sama, bahkan malah bertambang berkali-kali lipat lebih ketus daripada yang tadi.
“...”
“Ha? Lu gila ya. Jangan macem-macem lu.”
“...”
Tuttt.
Telpon terputus sepihak oleh Raisya.
Abidzar membanting kasar ponselnya asal dikasur. Dia mengacak rambutnya frustasi. Bisa-bisanya gadis itu malah menjebaknya. Dia tidak habis fikir dengan kelicikan gadis yang memiliki notaben sebaagai mantan pacar simpanannya itu.
Abidzar menghempaskan tubuhnya dikasur. Kepalanya bertambah pusing setelah menerima telpon dari Raisya barusan. Dia kembali menempelkan handuk didahinya kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan belseluncur kedunia mimpi.
Dia berharap, semoga esok masalahnya bisa clear.
Dret...drett...drettt.
Ponselnya kembali bergetar membuat amarah Abidzar memuncak.
“Kenapa?” Tanya Abidzar ketus membuat orang disebrang sana tertegun.
“Maaf kalau ganggu waktunya kak. Aku tutup telfonnya ya. Assalamu’alaikum.”
Tut.
Telfon terputus. Abidzar mengecek nama yang tertera diponselnya. Ternyata Zulfa yang nelfon. Abidzar mengetuk-ngetuk jidatnya kesal. Bodoh. Dia salah orang. Zulfa nggak salah apa-apa.
Dia kembali menghubungi nomor Zulfa namun hanya suara operator yang terdengar tanpa pemiliknya belum mengangkat telpon atau enggan mengangkatnya? Abidzar menghela nafasnya frutasi. Sudah kesembilan kali panggilan tapi hasilnya masih sama.
Tak mau menyerah sampai situ akhirnya Abidzar memilih untuk mengirim pesan saja pada Zulfa. Semoga gadis itu membacanya.
To Zulfa.
Maaf gue nggak maksud ketus sama lu. Gue nggak sempet liat siapa yang nelpon, gue kira temen gue. Lu juga nggak ganggu waktu gue kok. Jangan marah ya, sekali lagi gue minta maaf sama lu.
__ADS_1
Send.