This Is Cinta

This Is Cinta
Chapter 14


__ADS_3

“Morning Abidzar.”


Abidzar benci suara gadis itu. Dia menatap tajam kearah gadis yang baru saja menyapanya kemudian menyapu pandangan kearah sekitar. Untung saja sepi.


“Sebenernya mau lu apa?” Ketus Abidzar tu the point.


“Gue kangen sama lu. Akhir-akhir ini lu ngehindar dari gue.” Ucap gadis itu dengan tangan yang menyilang didepan dada.


“Gue sibuk urusan eskul jurnalis.” Tanggap Abidzar tenang.


“Urusan eskul apa urusan sama gadis yang dijodohin sama lu?” Tanya gadis itu lagi. Bibirnya sedikit mengerucut kedepan menaandaakan kalau dia benar-benar kesal dengan Abidzar yang akhir-akhir ini menghindar darinya.


“Kalau iya emang kenapa? Masalah?” Tanya Abidzar dengan nada yang kian meninggi.


“Ya masalah dong buat gue, akhir-akhir ini lu ngehindar daari gue cuma gara-gara dia. Bukannya lu nggak cinta sama dia? Lagi pula dia juga tau kan kalau kita pacaran. Terus kenapa lu masih nutup-nutupin hubungan kita?”


Abidzar menatap tajam kearah Raisya. Ya..gadis itu Raisya. Pacar yang sangat-sangat Abidzar cintai, tapi itu dulu. Abidzar mencengkeram kuat lengan Raisya membuat gadis itu sedikit meringis kesakitan.


“Sakit, Bidzar.” Cicit Raisya sembari menyingkirkan cengkeraman tangan Abidzar dilengannya. Namun kalah karena tenaga Abidzar jauh lebih kuat darinya.


“Jangan pernah anggap remeh posisi Zulfa karena posisi Zulfa jauh lebih tinggi dari posisi lu.”


Raisya tersenyum sinis. “Itu dimata keluarga lu kan bukan dimata lu.?”


Abidzar terpaku sebentar. Yang dibilang Raisya itu memang benar, tapi mengapa hatinya seolah memberontak?


“Gue mau kita putus.” Abidzar melepaskan cengkeramannya dilengan Raisya lalu melangkah pergi meninggalkan gadis yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Abidzar minta putus? Dan itu gara-gara Zulfa?


“Bidzar.” Panggil Raisya. Dia mencoba untuk menyamai lahkahnya dengan langkah lebar Abidzar dan menarik pergelangan tangan Abidzar.


Langkah Abidzar terhenti. Dia menatap tajam kearah gadis yang baru saja menyentuh pergelangan tangannya tanpa permini. Berani-beraninya gadis itu menyentuhnya? Zulfa yang memiliki notaben seseorang yang dijodohkan dengannya saja tak pernah berani menyentuhnya.


“Jangan sentuh-sentuh gue.” Abidzar menepis kasar tangan Raisya.


“Perlakuan lu sekarang kasar sama gue, apa itu juga gara-gara gadis sialan itu?” Tanya Raisya sinis.


Plak.


Abidzar menampar pipi Raisya keras. Berani-beraninya dia nyebut Zulfa gadis sialan. “Lu yang gadis sialan. Lu ngaca dong, lu ang udah ganggu hubungan gue sama Zulfa!” Bentak Abidzar penuh amarah.


Raisya tertawa kecil sembari memegani pipinya yang mulai memerah akibat ulah kasar Abidzar. “Lu juga yang udah nyeret gue buat ngrusak hubungan lu sama Zulfa kan?”


“Dan sekarang gue mau lu pergi. Pergi dari hidup gue. Jangan pernah lu gangu hubungan gue sama Zulfa lagi.” Ucap Abidzar penuh penekanan kemudian benar-benar pergi meninggalkan Raisya dikoridor yang sudah mulai sepi.


“Kalau gue nggak mau pergi gimana?” Monolog Raisya.


...


Abidzar masuk kekelasnya dengan mood yang benar-benar hancur. Faiz yang tadi tengah asyik bermain game online degan sekelompok pasukan hp miring dan melihat sihibnya seperti itu langsung menghampiri Abidzar yang sudah mendudukkan dirinya dikursi.


“Kenapa lu?”


Abidzar masih diam tak menjawab. Kakinya melangkah ke meja Shanum untuk meminjam buku PR.


“Lu belum ngerjain PR lagi?”


Abidzar hanya mengedikkan bahu acuh menanggapi pertanyaan Faiz. Tanyannya sibuk menyalin tululisan Shanum ke buku PR nya.


“Lu bisa ngomong nggak sih. Mulut lu udah dilem alteko apa gimana sih?” Tanya Faiz lagi dengan kesal. Pasalnya dari tadi Abidzar menanggapi pertanyaannya dengan bahasa isyarat.

__ADS_1


“Bisa diem nggak sih. Mulut lu kek emak-emak lagi nawar belanjan.” Ck. Kenapa jadi Abidzar yang marah ke Faiz.


Faiz memutar bola matanya malas. “Tadi Raisya kesini. Dia nyariin lu. Emang lu masih ada hubungan sama dia?”


“Gue udah kelarin urusan sama dia tadi. Sekarang gue sama dia udah nggak ada apa-apa.” Jelas Abidzar santai.


Faiz menatap serius ke Abidzar yang masih sibuk menggerakkan pena nya. “Lu udah putus sama Raisnya?” Abidzar mengangguk pelan.


“Dan lu kira itu udah nyelesaiin masalah?” Lanjut Faiz sembari menyinggungkan senyuman sinis. Rupanya Abidzar nggak tahu siapa Raisya.


Abidzar menghentikan aktivitasnya sejenak. “Ya secara kan kita udah nggak ada hubungan apa-apa.”


“Nggak segampang itu, bro. Mendingan lu hati-hati sama dia.” Ucap Faiz memperingatkan.


Tepat setelah Fais berucap seperti itu Aksa masuk ke kelas. Dia sempat menatap tajam kearah Abidzar sebelum dia benar-benar mendudukkan dirinya dikursi pojok belakang.


“Eh lu tau nggak. Katanya si Aksa mau pindah sekolah.”


“Bagus, seenggaknya berkurang orang-orang yang ngerecokin hubungan gue sama Zulfa.”


“Lu beneran udah cinta sama Zulfa.” Abidzar menatap Faiz. Dia bingung mau jawab apa. Apa dia benar-benar mencintai Zulfa? Apa dia benar-benar sudah kalah dengan permainan yang dia mulai sendiri?


...


Kring...kringg...kringgg...


Cepat-cepat Abidzar keluar kelas tanpa membereskan buku-buku pelajarannya yang berserakan dimeja. Bahkan dia belum sempat pamit dengan bu Asma (buas) yang belum menutup jam pelajaran. Untung saja buas sudah cukup sabar meladeni kelakuan Abidzar yang selalu bikin naik darah.


Langkah kakinya membawa dia sampai didepan kelas XI IPS 4. Pandangannya menelisik ruang kelas XI IPS 4 yang sebagian penghuninya sudah berhamburan menuju kantin. Pandangannya terhenti pada gadis yang duduk dipojokan dengan tangan yang sibuk menggeser-geser layar ponsel.


Zulfa sedikit terkejut ketika melihat Abidzar bersandar didekat pintu kelas semabari melempar senyuman manis kearahnya.


Zulfa menggeleng. Dia kembali memfokuskan perhatiannya pada benda persegi panjang yang sering mendapat julukan setan kotak itu.


Abidzar menghampiri Zulfa dibangkunya. “Nggak kekantin?” Tanya Abidzar.


“Ini mau.” Ucap Salsa.


“Oh. Kalau gitu duluan aja. Gue mau ngomong sebentar sama Zulfa.” Salsa mengangguk meninggalkan Zulfa dan Abidzar.


Abidzar menatap Zulfa. “Lu nggak bawa bekal?”


“Bawa.” Kata Zulfa.


“Kenapa nggak dimakan?”


Zulfa melirik sebentar kemudian kembali menatap ponselnya. “Nanti.”


“Bisa nggak sih kalau ada orang ngomong itu di perhatiin.” Ucap Abidzar kesal.


Zulfa meletakkan ponselnya dikolong meja kemudian beralih memperhatikan Abidzar yang katanya mau ngomong sama dia. “Mau ngomong apa?” Tanya Zulfa.


Abidzar menyinggungkan senyumanya. “Nah gitu dong.”


“Cepetan mau ngomong apaan? Malu tuh udah diliatin orang.” Lirih Zulfa. Dia berharap Abidzar cepat-cepat pergi dari kelasnya sebelum para fans-fansnya membakar dia hidup-hidup. Lihat saja sekarang banyak pasang mata anak kelas XI IPS 4 yang menatapnya dengan pandangan maata yang berapi-api.


“Kita hidupnya dibumi jadi jangan malu kalau diliatin orang. Coba lu hidup di bulan bakalan diliatin tuh sama alien.” Ucap Abidzar nggak jelas.


Zulfa memutar bola matanya malas. “Kamu mau ngomong apa?”

__ADS_1


“Ana ukhibbuka.”


“Fillaah?”


Abidzar menempelkan jari telunjuknya didagu seolah sedang berfikir. “Fillaah nggak ya?”


“Harusnya fillaah.”


“Emang kenapa?”


“Biar abadi.”


“Cie yang pengen dicintai sama gue abadi.” Goda Abidzar membuat rona merah dipipi Zulfa. Entah sejak kapan, kalau boleh jujur Abidzar menyukai rona merah dipipi Zulfa.


“Ya kan abadi karena Allah.”


“Iya iya Ana ukhibbuka fillah, Zulfa.”


Zulfa hanya bisa tersenyum simpul menanggapi ucapan Abidzar barusan. Antara yakin dan tidak yakin saat menatap mata Abidzar. Tapi dia mencoba untuk percaya, bukankah dia sudah berjanji kalau mulai sekarang dia akan percaya dengan Abidzar. Percaya kalau Abidzar mencintainya dan percaya kalau Abidzar akan membuat dia cinta padanya?


“Terus kak Raisya?”


“Gue udah putus sama dia demi lu.”


...


Seseorang gadis terlihat menarik kasar pergelangan tangan Zulfa kearah belakang toilet putri yang jarang atau bahkan tidak pernah dilewati seseorang. Dengan kasar gadis itu menghempaskan tubuh Zulfa ketembok sehingga membuat Zulfa meringis kesakitan saat punggungnya membentur tembok dibelakangnya.


Gadis itu menatap tajam kearah Zulfa lalu mencengkeram jilbab yang menutupi rambut Zulfa. “Jauhi Abidzar. Lu tau kan kalau gue pacarnya Abidzar?”


Zulfa melepaskan cengkeraman tangan gadis itu di jilbabnya. “Dan kakak juga tahu kan kalau aku sama kak Bidzar itu udah dijodohin?”


Raisya, gadis itu menatap tajam kearah Zulfa. Berani-beraninya Zulfa bertanya seperti itu padanya seolah menantang? “Gadis bodoh. Lu cuma sia-siain waktu lu buat nunggu seseorang yang nggak akan pernah cinta sama lu.” Ucap Raisya sembari menyinggungkan senyuman sinis.


“Kita emang nggak saling cinta, tapi sekarang kita lagi berusaha buat menumbuhkan cinta itu. Lagian kak Raisya bukannya udah diputusin sama kak Bidzar ya?”


“Gue putus gara-gara lu.”


“Nah itu tau. Kak Bidzar juga udah bilang gitu.”


Raisya hendak menampar pipi Zulfa, namun tertahan oleh tangan seorang laki-laki yang mencekal pergelangan tangannya. “Aksa.” Ya laki-laki itu Aksa. Laki-laki yang selama ini menjadi pelindung Zulfa.


“Awas lu.” Ancam Raisya pada Zulfa kemudian pergi.


“Lu nggak papa?” Tanya Aksa.


“Enggak. Aku harus pergi sekarang.” Ucap Zulfa.


Aksa mencekal tangan Zulfa yang hendak melangkah pergi, membuat Zulfa menatap tajam kearahnya. “Maaf.” Kata Aksa.


“Aku udah pernah bilang kan. Jangan pernah ganggu aku lagi!” Tegas Zulfa penuh penekanan.


“Gue nggak bakalan ganggu lu lagi, Fa. Gue cuma mau pamit sama lu, gue mau pindah sekolah. Orang tua gue pindah tugas keluar kota. Gue bener-bener bakalan pergi dari hidup lu bahkan hidup Zilfa juga. Gue harap kalian semua bahagia tanpa gue. Semoga Abidzar juga bisa jagain lu dari perempuan kayak Raisya.” Jelas Aksa.


“Kita semua akan bahagia tanpa kamu, tenang aja. Dan jangan khawatir, Abidzar bakalan jagain aku lebih baik dari kamu.”


“Aamiin. Semoga dia nggak pernah ngecewain lu. Karena gue nggak akan tinggal diem kalau dia berani-berani bikin lu sedih.” Detik selanjutnya Aksa benar-benar melangkah pergi.


Zulfa memandangi tubuh Aksa yang perlahan menjauh. Baru setelah benar-benar tak terlihat, cairaan bening yang Zulfa tahan sendari tadi meluncur tak terbendung dari pelupuk matanya.

__ADS_1


__ADS_2