This Is Cinta

This Is Cinta
Chapter 16


__ADS_3

“Nggak mau mampir?” Tanya Zulfa ketika mereka berdua berada tepat di halaman depan rumah Zulfa. Ya setelah dari UKS tadi, Abidzar mengantarnya pulang. Sebenarnya Zulfa sudah menolak mengingat luka di telapak tangan Abidzar, tapi Abidzar terlalu kekuh memaksa untuk mengaantarnya pulang. Katanya dia bisa nyetir pake satu tangan.


“Boleh?” Tanya Abidzar memastikan.


“Boleh.” Jawab Zulfa seadanya.


“Nggak jadi deh.”


Zulfa mengerutkan dahinya. “Kenapa?”


“Gue ada acara.”


“Oh.”


“Jangan sedih gitu dong.”


“Siapa yang sedih?”


“Ya elu lah. Gue janji nanti malem bakalan kesini lagi.” Pernyataan Abidzar barusan sukses membuat sudut bibir Zulfa tertarik kearas. Tak bisa dipungkiri kalau Zulfa senang mendengar Abidzar nanti malem mau main kerumahnya. Entah kenapa dia sekarang mulai nyaman berada didekat Abidzar.


“Terserah.” Zulfa berkata demikian kemudian melenggang masuk kedalam rumah. Bahkan dia sampai lupa belum mengucapkan salam.


Abidzar memperhatikan Zulfa yang menghilang disebalik pintu. Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, dia segera masuk ke dalam mobil.


Ting.


Satu pesan masuk. Dari Raisya?


Cepetan gue udah nunggu ditempat biasa.


Abidzar melempar ponselnya kasar, dia mencengkeram stir mobilnya kuat kuat kemudian melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


...


30 menit kemudian Abidzar sampai ditempat yang dimaksud Raisya lalu mengahmpiri gadis yang duduk sendiri dipojokan kafe.


Raisya tersenyum puas saat melihat Abidzar datang. “Gue tau lu pasti dateng. Sebenernya lu masih cinta kan sama gue?” Ucap raisya masuh dengan senyuman yang sama.


“Mau apa lagi lu? Asal lu tau gue kesini cuma mau nyelesaiin masalah kita.” Tanya Abidzar kesal.


“Duduk dulu, Dzar.”


Abidzar mendegus pelan kemudian mendudukkan dirinya dikursi. Dia malas ribut sama Raisya kalau dia membantah apalagi ini ditempat umum.


“Mau minum?” Tawar Raisya.


“Udah bagus gue mau duduk. Sekarang bilang mau lu apa atau gue pergi.” Abidzar menatap sekeliling. Takut-takut kalau ada orang yang memergoki mereka berdua.


Raisya tersenyum kecil. Sikap Abidzar memang sudah berubah. Dia bukan lagi Abidzar yang romantis dan berturur manis padanya. Dan ini semua gara-gara Zulfa. Raisya sejujurnya tahu kalau Abidzar malas berada didekatnya. Tapi mau gimana lagi. Dia harus membujuk Abidzar agar kembali padanya kan? Apapun caranya Raisya akan lakukan.


“Gue mau kita balikan.” Ucap Raisya.


Abidzar menatap tajam kearah Raisya. “Gila lu. Gue nggak mau balikan sama cewek licik kayak lu.”


Raisya tersenyum sinis. Dia berjalan mengintari Abidzar yang duduk dikursi lalu memeluknya dari arah belakang. “Gue masih cinta sama lu, Abidzar.”


Hanya 5 detik pelukan itu bertahan, Abidzar langsung melepaskan pelukan itu kasar membuat Raisya tersungkur kelantai.


“Jangan berani-beraaninya lu pegang gue.” Ucap Abidzar penuh amarah kemudian beranjakl. Lagi-lagi Raisya mencekal tangan Abidzar membuat Abidzar meringis sakit karena Raisya tepat memegang luka ditangannya.


Darah segar kembali mengalir di telapak tangan Abidzar. “Loh itu tangannya kenapa?” Tanya Risya panik.


“Bukan urusan lu.” Kali ini Abidzar benar-benar melangkah pergi meninggalkan Raisya yang berdiri mematung ditempat.


Raisya menyinggungkan senyuman sinis. Dia mengacungkan jempol pada seseorang yang duduk dipojokan kafe.


Silain sisi Abidzar membuka gusar pintu mobilnya.


“Sialan.”


Abidzar memukul kasar stir mobilnya tak memperdulikan cairan merah pekat kembali mengucur ditelapak tangannya. Nafasnya berhembus tak beraturan menahan amarah sebelum akhirnya ada sebuah pesan masuk yang membuatnya bingung. Dari Zulfa? Tumben gadis itu mengiriminya pesan?


Zulfa


Habis Isya’ kak Abidzar ditunggu ayah dirumah. Kakak jadi kesini kan?

__ADS_1


Abidzar melirik jam yang melingkar ditangannya. Jam menunjukkan pukul 06.30. Pantesan langit sudah menghitam.


Iya, Fa.


Send.


Abidzar memukul jidatnya pelan. Dia belum shalat maghrib. Buru- buru dia melajukan mobil menuju rumah dengan kecepatan penuh.


...


Zulfa senyum-senyum sendiri dimeja makan, tangannya bergerak mengudak-udak coklat panas yang sekarang mulai berbusa karena kelamaan diudak. Entah apa yang ada difikiran gadis itu sampai-sampai dia tidak fokus sekarang.


“Nggapain lu senyum-senyum.” Suara gadis yaang baru saja duduk didepannya membuat Zulfa sedikit terkejut.


Zulfa meneguk pelan coklat panasnya. “Emang bahagia nggak boleh.” Ucap Zulfa sembari melirik sinis kearah Zilfa.


“Tumben bahagia?”


“Kak Zilfa itu harusnya bahagia lihat adiknya bahagia bukannya curiga.” Cibir Zulfa pada kakaknya.


“Gue cuma nanya nggak curiga.” Sanggah Zilfa.


“Udah debatnya.” Lerai Irsyad yang baru saja muncul dari arah ruang tamu.


“Zulfa, tadi udah bilang sama Abidzar?” Lanjut Irsyad bertanya pada Zulfa.


“Udah, yah.” Jawab Zulfa.


“Sekarang kamu siap-siap udah jam 07.30 tuh.”


“Iya.” Kata Zulfa kemudian beranjak menuju kamar. Dia berjalan kearah lemari lalu mengeluarkan semua pakaiannya. Setelah menghabiskan waktu lama, akhirnya dia menemukaan pakaian yang dia rasa cocok untuk dikenakan malam ini.


Zulfa berdiri didepan cermin, menatap pantulan dirinya disana. Dia tersenyum dan mulai memasangkan jilbab dikepalanya. Setelah selesai urusan jilbab, Zulfa memoleskan sedikit bedak bayi diwajahnya. Setelah dirasa cukup, Zulfa mengambil ponselnya dinarkas untuk sekedar mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang, waktu shalat Isya’ sudah berlalu beberapa puluh menit yang lalu tapi tidak ada tanda-tanda Abidzar mau datang, bahkan Abidzar tidak memberinya kabar lewat pesan.


Zulfa menghembuskan nafas kasar lalu berjalan keluar kamar. Alahkah terkejutnya Zulfa saat mendapati Zilfa sedang nguping didepan pintu kamarnya.


“Ehm.” Zulfa berdehem membuat Zilfa sedikit terkejut. Dia kepergok nguping, padahal dari tadi kamar Zulfa hening.


Sedangkan diwaktu yang sama, Abidzar terlihat masih santai berbaring di atas ranjang bermain game online. Memang setelah shalat isya’ tadi dia memutuskan untuk merefresh otaknya sebentar dengan bermain game online.


Dia nampak bersorak-sorak gembira sebelum akhirnya sebuah panggilan masuk membuat game nya terhenti seketika. Ingin sekali Abidzar mengumpat orang yang menelponnya tanpa permisi, tapi urung saat membaca nama Zulfa yang tertera dilayar panggilan.


“Halo kak. Assalamu’alaikum. Kak Abidzar jadi dateng apa enggak ini udah jam 8.” Suara dari sebrang sana membuat Abidzar sontak memandang jam yang tertera dilayar ponselnya.


“Wa’alaikumussalam Zulfa, iya ini udah mau otw.”


“Yaudah kak, ditunggu dirumah ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa...”


Beep.


Telpon terhenti sepihak membuat ucapan Abidzar terjeda.


“Alaikumussalam.”


Abidzar menghembuskan nafasnya pelan memudian meraih jaket dan kunci mobilnya dinarkas. Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya Abidzar berangkat kerumah Zulfa.


Hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai dirumah Zulfa mengingat jalanan malam ini nampak ramai lancar.


Tok...tok...tok...


Ceklek.


“Udah lama nunggu?” Tanya Abidzar pada gadis yang baru saja membuka pintu.


“Wa’alaikumussalam.”


Abidzar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia lupa mengucapkan salam saking buru-burunya. “Eh iya lupa. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam. Kak Abidzar udah ditunggu ayah didalem.” Ucap Zulfa kemudian mengajak Abidzar masuk.


Abidzar membuntuti langkah Zulfa menuju ruang tamu. Disana sudah ada Irsyad, Aisya dan Zilfa yang menoleh kearah Abidzar saat mereka sampai diruang tamu. Abidzar mencium punggung tangan Irsyad dan Aisya bergantian lalu duduk tepat disebelah Irsyad.

__ADS_1


“Abi umi sehat?” Tanya Irsyad sembari menepuk pelan punggung Abidzar.


Abidzar mengangguk. “Alhamdulillah sehat, om.”


30 menit sudah obrolan canggung antara Abidzar dan Irsyad, ayahnya Zulfa. Kadang Aisyah dan Zilfa juga ikut nimbrung tati tetap saja suasana serasa canggung dan terkesan dingin mencekam.


“Yaudah kalian ngobrol bertiga ya, om sama tante mau kekamar duluan.”


“Iya om.”


Setelah Irsyad san Aisya benar benar menghilang dibalik pintu kamar baru Abidzar memberanikan diri untuk memulai obrolan santai dengan Zulfa dan Zilfa.


“Nonton yuk.” Ajak Abidzar.


Zulfa mengerutkan keningnya. “Tadi kata ayah suruh dirumah aja kan?”


“Nonton di youtube lewat laptop.” Ucap Abidzar santai.


“Zilfa, eh maksudnya kak Zilfa boleh pinjem laptopnya?” Lanjut Abidzar.


“Bentar gue ambil.” Zilfa berjalan kekamar mengambil laptop. Di ruang tamu hanya menyisakan Zulfa dan Abidzar yang sibuk bermain ponsel. Lebih tepatnya hanya Zulfa yang pura-pura sibuk dengan ponselnya dan Abidzar yang sesekali melirik kearah Zulfa.


“Zulfa.” Panggil Abidzar.


“Iya.” Kata Zulfa. Dia sempat melirik kearah Abidzar lalu mengalihkan kembali fokusnya pada ponsel.


“Hp aja di kasih apel, giliran gue dikasih anggur. Sebenernya yang dijodohin sama lu itu Hp apa gue sih?” Grutu Abidzar.


“Aku nggak ngasih Hp apel sama ngasih kak Abidzar anggur loh.” Ucap Zulfa tidak paham dengan perumpamaan yang dibuat Abidzar.


Abidzar menghembuskan nafanya frustasi. “Udah lupain nggak penting.”


“Apa yang nggak penting?” Tanya Zilfa. Dia baru saja keluar dari kamar menenteng laptop ditangannya.


“Nih laptopnya.” Zilfa menyodorkan laptopnya pada Abidzar.


“Mau nonton apa?” Tanya Abidzar.


“Horor.” Ucap Zulfa dan Zilfa serempak.


“Emang berani?” Tanya Abidzar seolah meragukan pilihan mereka berdua.


Lagi-lagi Zulfa dan Zilfa kompak mengangguk walau sebenarnya jauh dilubuk hati mereka sedikit merasa takut. Tujuan mereka memilih film horor karena mereka penasaran, karena seumur hidup mereka berdua belum pernah menonton film horor. Kakak beradik itu memang memiliki syndrom ketakutan akut.


“Apaan tuh.” Teriak Zilfa nyaring. Sementara Zulfa sudah menutup matanya dengan telapak tangan sambil sesekali melirik kelayar monitor laptop dari sela-sela jarinya.


Abidzar memutar bola matanya malas. Baru beberapa detik filmnya diputar mereka berdua sudah ketakutan gimana mau nonton? “Katanya tadi berani.”


“Lah itu filmnya serem.” Ucap Zulfa.


“Iya, nyari yang nggak serem dong.” Bala Zilfa.


Abidzar mengerutkan keningnya bingung menatap dua gadis di sampingnya. “Kalian ini gimana sih? Film horor itu ya serem.”


“Ada yang nggak serem.” Sanggah Zulfa.


“Coba sebutin apa judulnya.”


“Lupa. Tapi kita pernah nonton ya, kak.” Zulfa meminta pembelaan dari kakanya.


“Iya. Horor tapi nggak serem. Cuma lupa apa judulnya.”


“Dua garis biru?” Tebak Abidzar.


Zulfa mengerutkan keningnya bingung. “Emang itu masuk genre film horor ya?” Tanya Zulfa polos membuat Abidzar terkekeh pelan.


“Pikiran Abidzar tuh yang horor.” Ucap Zilfa ikut menimpali.


Abidzar mengeraskan tawanya saat melihat wajah bingung Zulfa. Gadis itu benar-benar polos ternyata.


“Adek lu bener-bener polos apa pura-pura polos sih?” Tanya Abidzar pada Zilfa membuat Zulfa memutar bola matanya malas.


“Kadang suka lemot aja buat mencerna soal gituan.” Ucap Zilfa langsung mendapatkan pelototan dari Zulfa.


“Ngomongin apaan sih. Katanya mau nonton.” Akhirnya Zulfa buka suara. Dia sedikit kesal dengan Abidzar dan Zilfa yang dari tadi membicarakannya.

__ADS_1


Akhirnya malam itu mereka bertiga nonton film yo wis ben 1 dan 2.


__ADS_2