
Teriakan girangnya membuat dua insan yang ada didepan pintu sedikit terkejut. Zulfa juga ikut terkejut setelahnya. Dia sedikit malu saat tahu kalau orang yang baru saja mengetuk pintu rumah itu Zilfa yang datang bersama Abidzar bukan Aksa, seseorang yang dia harapkan.
“Eh maaf. Salah orang.” Ucap Zulfa.
Zilfa berjalan kedalam kemudian menjatuhkan tubuhnya disofa diikuti Abidzar dibelakangnya. “Kenapa dia keseni?” Tanya Zulfa pada Zilfa.
“Emang nggak boleh? Lagian tadi gue udah bilang sama lu, tapi pesannya nggak dibuka.” Gerutu Abidzar.
“Apa iya?” Tanya Zulfa masih belum percaya.
“Kalau nggak percaya cek aja sekarang.” Zulfa diam sebentar. Mungkin pesan yang dia abaikan tadi dari Abidzar.
“Nih gue bawain bubur kacang ijo. Kata Zilfa lu suka.” Ucap Abdzar sembari memberikan kantung plastik berisi bubur kacang ijo pada Zulfa. Seenggak sukanya Abidzar sama perjodohan ini, dia harus tetap berlaku baik pada Zulfa didepan keluarganya dan keluarga Zulfa tentunya.
Zulfa mengambil kantung plastik dari tangan Abidzar. “Makasih.” Abidzar mengangguk mengiyakan.
Zulfa berjalan kedapur meletakkan pemberian Abidzar disana kemudian berjalan kekamar untuk mengambil ponsel dinarkas. Banyak panggilan tidak terjawab disana. Dari Aksa. Zulfa menelpon balik Aksa. Tersambung.
“Halo. Assalamu’alaikum Aksa. Ada apa?” Tanya Zulfa.
“Wa’alaikumussalam. Dirumah ada motor siapa? Abidzar?” Tanya Aksa dari sebrang sana. Kali ini nadanya berbeda. Terkesan dingin. Tak seperti biasanya.
“Iya.” Kata Zulfa ragu.
“Gue nggak jadi kesitu.” Ucap Aksa kemudian menutup telponnya sepihak.
Zulfa menghembuskan nafasnya kasar. Ada semburat rasa kecewa saat tahu kalau Aksa nggak jadi datang kesini.
Zulfa menaruh ponselnya kembali dinarkas kemudian berjalan keluar kamar menemui Zilfa dan Abidzar. Dari pintu kamar sudah terlihat Zilfa dan Abidzar yang berbincang ramah didepan tv. Zulfa mengurungkan niat menemui mereka. Dia kembali masuk kedalam kamar kemudian menutup pintu.
Zulfa memilih duduk dibalkon kamar ditemani buku diary warna peach. Matanya memandang langit yang tertutup awan hitam. Sebentar lagi hujan pasti akan turun, senyum manis nan tulus terukir jelas diwajah Zulfa. Dia suka hujan. Namun senyumnya memudar saat melihat laki-laki bersragam mengendarai motor keluar dari pelataran rumahnya. Itu Abidzar.
Abidzar. Mendengar namanya saja sudah membuatnya lelah dan terluka. Sejak hadirnya Abidzar dalam hidup Zulfa, semuanya berubah. Hari-hari sukanya berubah menjadi duka. Abidzar banya menorehkan luka dan tak pernah berniat sekalipun untuk menyembuhkannya.
Tatapannya kini beralih pada buku diary yang ada digenggamannya. Hadiah pertama yang diberikan Aksa beberapa bulan yang lalu saat dia ulang tahun. Memikirkan nama Aksa mampu menerbitkan senyuman diwajahnya. Andai yang dijodohkan dengannya itu bukan Abidzar tapi Aksa. Pasti Zulfa merasa sangat-sangat bahagia.
Zulfa menutup pintu balkon dan segera naik keatas ranjang dengan buku diary yang ada dipangkuannya. Zulfa menatap buku diary itu dengan tatapan sayang. Tangannya beralih membuka diary yang masih bersih tanpa coretan. Zulfa menuliskan kata demi kata yang ada dipikirannya diatas kertas putih bergaris itu menjadi sebuah kalimat.
Dihalaman pertama dia menuliskan.
Aku mencintaimu. Kamu mencintai dia. Dia mencintaimu juga. Lalu siapa aku?
Aku tak pernah menginginkan dia dijodohkan denganku. Dia jugaa tak menginginkan aku. Lalu apa arti hubungan ini tanpa cinta?
Diamku mengagumimu, diamku mengharapkanmu, dan pasrahku menolak dia untuk secepatnya pergi dari kehidupanku.
Zulfa Fahiratumahwa
__ADS_1
Zulfa menyerka air mata yang keluar tanpa permisi dari pelupuk matanya. Takdir memang berkata beda dengan keinginannya.
Drettt.
Ponselnya kembali bergetar. Tertera nama Aksa disana. Buru-buru Zulfa mengangkatnya.
Zulfa menunggu Aksa bersuara. “Halo? Zulfa?”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Abidzar udah pulang?”
“Udah. Kenapa?”
“Nanya aja. Zilfa dirumah?”
“Kenapa nanyain kak Zilfa?”
“Cuma nanya aja. Nggak boleh?”
“Boleh. Kenapa enggak?”
“Yaudah.”
“Iya.”
“Siapa?”
“Elu.”
“Iya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Zulfa menghembuskan nafasnya kasar. Ada rasa penasaran dibenaknya. Aksa kenapa? Kok tiba-tiba berubah.
“Zulfa buburnya mau nggak? Keburu dingin nanti.” Teriak Zilfa dari luar.
Zulfa beranjak dari ranjangnya kemudian pergi kedaur. Dia mengambil semangkuk bubur kacang ijo dari tangan Zilfa. Tadinya Zilfa mau menyuapkan pubur itu kemulutnya, namun urung saat Zulfa tiba-tiba mengambilnya.
“Yeee.. main ambil aje lu.” Ucap Zilfa.
“Kan buburnya buat aku.” Zulfa berucap sambil sesekali memasukkan bubur kacang ijo kemulutnya. Buburnya enak. Zulfa jadi nggak bisa berhenti menyunyah. Sepertinya Zulfa harus menanyakan pada Abidzar, dimana beli bubur kacang ijo seenak ini.
...
__ADS_1
Malam telah tiba. Zulfa masih setia didepan cermin menghafal bait-bait kalimat tentang kelompok sosial. Kata Salsa besok ada ulangan sosiologi.
“Menurut Emile Durkhim kelompok sosial dibedakan menjadi dua... eh astaghfirullah.” Zulfa menepuk jidatnya. Dia teringat sesuatu. Besok kan ada pengambilan nilai buat penelitian yang kemarin? Duh kenapa Zulfa bisa lupa.
Dia mengobrak-abrik rak buku miliknya mencari sesuatu. Namun nihil. Tidak ditemukan. Zulfa duduk diranjangnya. Mencoba mengingat-ingat dimana terakhir kali dia menaruh flasdisknya. Padahal dokomen penelitiannya belum di print out. Bagaimana ini?
Drettt. Ponselnya berbunyi membuyarkan fokusnya. Dia mengambil ponselnya dinarkas. Tertera nama Maudy Salsabila disana.
Dokumen penelitian lu udah gue print out. Print nya habis 20rb ditambah ongkos 5rb jadi 25rb. Jangan lupa bilang makasih.
Makasih sobat tercantek, terbaek.
Sama-sama lup
Zulfa menghembuskan nafasnya lega. Untung ada Salsa. Tapi kenapa dia jadi melupakan hal-hal penting? Difikirannya saat ini hanya ada bubur kacang ijo. Dia masih bertanya-tanya. Dimana Abidzar membelinya? Kok enak pake banget.
...
Bunyi alarm yang sangat nyaring membangunkan Zulfa dari alam mimpi. Zulfa berguling kesisi ranjang sampai. Bugh. Dia terjatuh. Zulfa sedikit meringis kesakitan kemudian bangkit duduk disisi ranjang. Dia mengucek matanya yang masih berat untuk dibuka. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa, Zulfa membereskan tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Pukul 05.45 Zulfa sudah rapi dengan seragam putih abunya yang agak sedikit kegedean. Jangan lupakan jilbab yang melekat dikepala menutupi rambutnya yang menjadi ciri khas Zulfa. Zulfa meraih tasnya kemudian keluar kamar.
“Assalamu’alaikum semua.” Zulfa menyapa Zilfa, Aisya dan Irsyad yang sudah duduk manis dimeja makan. Zulfa langsung duduk kemudian mengambil piring berisi nasi goreng yang sudah disiapkan Aisya.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab mereka serempak.
Setelah makan, Zulfa menyiapkan 2 kotak bekal. Kotak bekal yang berwaarna baby pink berisi potongan roti selai straubery kesukaannya dan kotak bekal warna biru laut berisi roti selai coklat kesukaan Aksa.
“Kok dua buatnya?” Tanya Aisya.
Zulfa memang sengaja membuatkan juga untuk Aksa. Itung-itung buat nasih sarapan anak orang yang tak pernah memiliki waktu untuk sarapan dirumah sekaligus menjadi pembuka dari hadiah utama yang disiapkan Zulfa untuk hadiah Aksa dihari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu. Nggak papa telat, biar dia ngira kalau Zulfa melupakan hari pentingnya itu.
“Buat Abidzar bu... dia mau belajar romantis kayaknya.” Celetuk Zilfa.
“Enggak kok ini buat temen.”
“Sejak kapan lu punya temen?”
“Kepo ih.”
“Udah-udah cepetan berangkat. Nanti telat.” Ucap Aisya menengahi perdebatan dua putrinya. Zulfa segera mencium punggung tangan orang tuanya diikuti Zilfa dibelakangnya.
Senyuman Zulfa memudar saat melihat mobil Abidzar sudah terparkir dipelataran rumahnya. Berbeda dengan Zilfa yang kian mengembangkan senyuman saat melihat Abidzar duduk dikursi kemudi.
“Morning calon adik ipar.” Sapa Zilfa dengan senyuman manisnya.
“Morning too akak lup.” Balas sapa Abidzar. Zilfa sedikit terkekeh saat mendengar sapaan Abidzar memanggilnya. Akak lup? Terkesan berlebihan. Zilfa jadi geli mendengarnya. Sedangkan Zulfa udah mual-mual sekarang.
__ADS_1