
“kalo mau liat tuh bilang dulu kenapa sih” bukan berarti Ayla tidak ingin memberikan jawabannya, hanya saja gadis itu lebih suka mengajarkan cara yang ia gunakan pada temannya jika bertanya daripada hanya menyalin jawaban tanpa mengerti cara mendapatkan hasilnya.
“iya deh maap”
“huft ya udah, lain kali bilang dulu” kali ini sepertinya gadis itu sudah mulai melunak.
Ketahuilah teman-teman, bahwa Ayla ini tipe orang yang sangat teliti dalam pelajaran. Bisa dibilang ia memiliki sifat pelit dalam hal pelajaran, karena menurutnya kemampuan bisa terbentuk dengan kemauan yang keras dalam belajar. Jika hanya mengandalkan orang lain tanpa bisa menyerap ilmunya maka semua itu hanya akan sia-sia.
“iya”
“wih Ay, lo kalo marah sadis juga ya”
“gak juga”
Sifat pendiam Ayla yang menjadikan dirinya dianggap memiliki sikap jutek atau cuek pada orang lain, padahal kenyataannya tidak seperti itu loh. Ia hanya tak tau bagaimana cara bersikap dengan orang baru. Dengan kata lain, begitulah caranya bersosialisasi.
Setelah beberapa menit pak Heru langsung mengetuk penghapus ke papan tulis pertanda waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal sudah habis. Tak lama beliau berdiri dan berjalan kearah papan untuk menuliskan jawabannya.
Bukankah seharusnya beliau menunjuk seorang murid untuk maju dan mengerjakan soal dipapan yang nantinya akan beliau koreksi benar ataupun salah, tapi yang terjadi justru beliau lah yang menjawab soal tersebut. Entahlah, mungkin cara mengajar guru Ayla yang satu itu memang unik.
“siapa yang jawabannya sama seperti dipapan tunjuk jari dan bawa bukunya kedepan” tukas pak Heru pada muridnya.
Rupanya beliau hanya ingin mengetahui cara yang digunakan muridnya tanpa memakan waktu lama. Setelah mengucapkan hal itu, seorang murid perempuan mengangkat tangan dan berbicara pada pak Heru.
“saya pak, tapi saya pakai cara lain tidak persis seperti yang bapak gunakan”
__ADS_1
“tidak apa-apa, tunjukan pada saya”
“baik pak”
Gadis itu berjalan kedepan ingin menunjukkan pada sang guru apa yang sudah ia kerjakan pada lembar jawabannya. Saat ia sampai dimeja guru semua pandangan mata mengarah padanya tanpa disadari oleh gadis tersebut.
“kamu murid baru itu kan, siapa namamu ?”
“iya pak, nama saya Ayla”
Ayla, gadis itulah yang mengangkat tangan untuk menunjukkan bahwa hasil pekerjaannya sama dengan yang diberikan oleh sang guru. Sejak saat itu ia masuk kedalam jajaran murid pintar disekolah itu. Saat ia berbalik ingin kembali ketempat duduk, pandangan seluruh kelas tak henti tertuju padanya.
Ia baru menyadari hal itu saat sampai dikursi singgasanahnya. ‘emang gue artis ya pake diliatin segala’ pikir Ayla dalam hati. Ayla ini termasuk gadis yang suka mengomel dengan pikirannya. Tidak heran jika ia sering berbicara pada diri sendiri tanpa mendapat jawabannya.
“baik kita lanjutkan pelajarannya” seru pak Heru untuk menghentikan aktivitas muridnya dalam memandangi Ayla.
Bima Aldriansyah dan teman sebangkunya Dion Mahendra adalah dua anak biang rusuh dikelas itu, ternyata berada dikelas yang sama dengan Ayla, sungguh kebetulan atau memang takdir sudah ditetapkan bagi mereka untuk bertemu, entahlah.
Sampai seluruh pelajaran selesai dibahas, para murid SMA Bintara tidak langsung pulang karena akan diadakan lomba Agustusan yang memang dilaksanakan setelah pulang sekolah. Karena pendaftaran sudah dilakukan jauh hari, oleh sebab itu hari ini mereka semua langsung bersiap mengikuti pertandingan masing-masing.
Ada begitu banyak perlombaan yang digelar mulai dari makan kerupuk, memasukkan pensil dalam botol, balap karung, menggiring bola dengan terong, lomba kelereng dalam sendok, memecahkan balon dengan mata tertutup, menyanyi, menghias, melukis, basket, sepak bola, voli dan masih banyak lainnya.
Seluruh siswa maupun siswi juga ikut serta dalam perayaan Agustusan tersebut, hampir semua murid berpartisipasi, termasuk juga para guru. Mereka semua sangat antusis dalam perlombaan. Ayla yang tidak ikut serta hanya bisa menonton teman-temannya yang mengikuti lomba.
‘ayo Bima semangat’
__ADS_1
‘Dion, Bima semangat’
Teriakan gadis-gadis terdengar saat lomba basket dimulai, dan salah dua peserta tersebut adalah Dion juga Bima. Ayla yang mendengar teriakan tersebut hanya menggelengkan kepala.
“emang mereka siapa sih ?” tanya Ayla pada Tari yang saat itu berdiri tepat disampingnya.
“lo gak tau mereka ?”
“emang harus gue tau siapa mereka ?”
“hm gak juga sih, gak penting juga menurut gue. Tapi yang jelas mereka itu cukup famous di sekolah, karena termasuk dalam jajaran cowok populer. Lo bisa liat sendiri mereka itu ganteng, putih, tinggi, jago main basket dan jangan lupa mereka itu kaya, salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah ini, tapi sayang mereka biang onar dan selalu bermasalah sama bu Ani”
“bude? Bukannya bude Ani itu guru BK ?”
“emang iya”
“jadi maksud lo mereka itu murid yang bermasalah ?”
“yah semacam itulah, soalnya Bima itu sering ketangkep ngelompatin pager belakang sekolah tiap pagi karena telat masuk, padahal rumah dia itu deket sekolah loh”
“males maksud lo ?”
“entahlah, mereka bukan tipe gue, jadi cuma segitu yang gue tau”
“oh”
__ADS_1
“kenapa? Lo tertarik sama dia ?”
“hehe… enggak deh makasih !” ucap Ayla dengan tawa dipaksakan dan tampang juteknya lalu kembali fokus menyaksikan pertandingan. Hari itu ditutup dengan lomba terakhir, sedangkan pemenang setiap lomba akan diumumkan esok harinya.