This Is Cinta

This Is Cinta
Chapter 8


__ADS_3

“Lu ngapain pagi-pagi udah ngejogrok didepan rumah gue?” Tanya Zilfa.


“Mau jemput kalian. Sekalian bareng yuk. Satu sekolah juga kan.” Dalam hati Zulfa berdecih. Kalian? Nggak salah. Bukannya cuma Zilfa yag mau dia ajak.


Abidzar membukakan pintu depan untuk Zilfa dan membiarkan Zulfa membuka pintunya sendiri di jok belakang. Zulfa tak mempermasalahkan itu. Justru dia merasa senang. Syukur-syukur kalau Abidzar membatalkan perjodohan ini dia akan merasa sangat-sangat berterimakasih.


Abidzar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hanya ada perbincangan Zilfa dan Abidzar yang terdengar. Zulfa tak memiliki niatan untuk nimbrung percakapan mereka. Dia memilih fokus membaca buku untuk persiapan ulangan nanti, sampai mereka memasuki area parkiran sekolah.


Banyak pasang mata yang melihat mereka. Bukan kearah mereka bertiga, tapi kearah Zilfa dan Abidzar yang lebih dulu jalan didepan membiarkan Zulfa tertinggal dibelakang. Ada yang janggal dibenak mereka. Mengapa Abidzar lebih dekat dengan Zilfa?


“Hei awa.” Sapa Aksa tiba-tiba. Zulfa sedikit terkejut dengan keberadaan Aksa. Sikap Aksa sudah berubah seperti biasa, tak seperti kemarin yang terkesan dingin.


“E.. hai juga, kak.”


“Kaku banget. Sok formal kalau disekolah manggil gue kak.” Sindir Aksa.


Zulfa mengeratkan pelukannya pada buku yang dia bawa. “Jangan keras-keras nanti semuanya denger.” Lirih Zulfa.


“Emang kenapa? Lu takut kalau Abidzar tahu kalau kita deket?” Tanya Aksa sembari memajukan wajahnya mendekat kewajah Zulfa. Sontak perlakuan Aksa membuat Zulfa memundurkan tubuhnya selangkah kebelakang. Ini nggak baik untuk kesehatan jantungnya.


“Aku kekelas duluan.” Ucap Zulfa kemudian pergi. Aksa masih memperhatikan Zulfa sampai gadis itu menghilang dibelokan koridor perpustakaan.


“Tau nggak, Fa. Gue suka rona merah dipipi lu. Lucu.” Gumam Aksa.


Ditegah perjalanan menuju kelas Zulfa teringat sesuatu. Kotak bekal. Zulfa lupa memberikannya pada Aksa. Dia memutar tubuhnya untuk kembali berjalan menuju kelas 12 MIPA 4. Itu Aksa. Untung dia melihat Aksa berjalan penuh kharisma menuju kelas. Jadi ia tak perlu bertemu dengan Zilfa atau Abidzar didalam kelas.


“Kak...” Panggil Zulfa kemudian mendekat.


“Kenapa? Udah kangen?” Tanya Aksa.


“Dih PD.” Zulfa menjeda ucapannya. Dia menyodorkan kotak bekal berwarna biru langit pada Aksa. “Buat kamu.”


Lama Aksa mengamati kotak bekal itu, takutnya Zulfa memasukkan sesuatu yang berbahaya didalamnya. Pasalnya ini baru kali pertama Zulfa memberinya kotak bekal. Jadi Aksa harus waspada. Tapi tak mungkin kan Zulfa berniat jahat padanya? Akhirnya Aksa mengambil kotak bekal itu dari tangan Zulfa dan bilang “Tumben.”


“Orang tuh kalau dikasih harusnya bilang makasih, bukan curiga.” Ucap Zulfa.


“Mau banget gue bilang makasih?” Tanya Aksa.


“Kalau nggak mau nggak papa. Aku ikhlas kok.” Ucap Zulfa kemudian berbalik, hendak pergi. Namun tertahan sejenak saat Aksa berucap “Makasih Awa.”


Zulfa tersenyum simpul, dia berusaha untuk menahan suaranya agar tidak berteriak. Detik selanjutnya dia berlari kecil menuju kelas.

__ADS_1


Aksa berjalan masuk kekelas dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. Dia melirik kotak bekal biru langit yang berada digenggamannya lalu tertawa pelan membuat Faiz teman sekelasnya mendelik ngeri.


“Kenapa lu, Sa? Kena syndrom malam Jum’at kliwon?” Tanya Faiz.


“Alay.” Hanya itu yang dikatakan Aksa lalu mendudukkan tubuhnya di bangku.


“Kenapa lu pagi pagi udah kayak orang menang give away?” Tanya Faiz lagi.


Kali ini Aksa tak menggubrisnya. Tangannya bergerak membuka kota bekal biru langitnya, kemudian memakan roti selai coklat bikinan Zulfa dengan lahap seperti orang yang belum makan tiga hari.


“Yang ngasih sapa tuh. Kayaknya enak. Bagi dong. Gue juga mau.” Ucap Faiz hendak mencomot potongan roti yang ada dihadapan Aksa, tapi dengan kasar Aksa menepis tangan Faiz.


Aksa menjauhkan kotak bekalnya dari jangkauan Faiz. “Nggak boleh. Ini dibuat spesial buat gue. Jadi cuma gue doang yang boleh makan.”


“Pelit amat lu.”


“Biarin.” Aksa kembali memakan rotinya dengan lahap. Rasanya enak. Beda dari yang lain. Aksa suka. Dia harus meminta Zulfa untuk membuatkannya lagi besok, besok, dan besok-besoknya lagi. Nggak nerima penolakan. Pokoknya harus.


Faiz menatap aneh kearah Aksa. Sepertinya dia benar-benar terkena syndrom malam Jum’at kliwon. Faiz yang sekarang duduk disebelah Aksa sedikit menggeser kursinya untuk menjaga jarak takut kalau-kalau penyakit Aksa menular.


Faiz sampai-sampai membayangkan Aksa tertawa berguling-guling sambil memakan roti selai coklat dengan lahap sampai selai coklatnya muncrat melumuri bibir Aksa.


Pertanyaan Aksa membuat Faiz tersadaar dari angan-angannya tentang Aksa barusan. “Enggak. Gue masih penasaran aja. Kenapa pagi-pagi lu udah kumat. Gue kira gara-gara Zilfa. Tapi kayaknya bukan.”


“Emang bukan.”


“Trus?”


“Zulfa.”


“Lu macarin adeknya juga. Eh emang Zulfa mau diajak pacaran?”


“Gue nggak pacaran sama Zulfa. Zulfa kan udah dijodohin sama si buaya darat itu.” Ucap Aksa sambil nunjuk kearah Abidzar yang pagi-pagi sudah tertidur pulas dibangkunya.


“Kenapa lu deket sama Zulfa?”


“Ya karena gue cinta.”


“Lu beneran gila ya Sa.” Ucap Faiz tak percaya. Aksa tak memperdulikan itu.


“Jangan bilang-bilang kalau gue cinta sama Zulfa.” Faiz memutar bola matanya malas. Sobatnya yang satu ini benar-benar aneh. Faiz tak tahu bagaimana jalan pemikiran Aksa.

__ADS_1


“Zilfa...” Panggil Faiz sembari melirik Aksa.


Zilfa yang baru saja berjalan masuk kelas, menoleh. “Kenapa, Iz?”


Faiz memandang Zilfa dan Aksa bergantian. Aksa memberikan tatapan tajam pada Faiz kalau-kalau dia mengatakan yang sebenarnya pada Zilfa. Bahaya.


“Aksa cinta katanya.” Aksa bernafas lega saat mendengarkan ucapan Faiz barusan. Untung ember mulutnya Faiz nggak bocor.


“Sialan lu.” Ucap Aksa. Kali ini Faiz tertawa puas melihat wajah Aksa yang ketar-ketir ketakutan.


...


Dengan langkah penuh kharisma Aksa dan Faiz berjalan menyusuri koridor kelas yang ramai karena bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Banyak pasang mata yang memandang takjub kearah mereka, membuat keduanya berjalan semakin percaya diri.


Mereka berdua memiliki aura yang sama. Kegantengan yang tidak diragukan lagi dan tubuh yang terkesan pas, tidak terlalu tinggi, tidaak terlalu pendek, tidak terlalu gemuk, tidak terlalu kurus. Intinya pas. Ditambah lagi dengan kulit mereka yang putih bersih.


Dilain sisi Zilfa dan Abidzar sudah duduk manis memakan bakso. Sesekali mereka tertawa bersama ditengah-tengah acara makan.


Tawa meeka terhenti saat melihat Aksa tiba-tiba masuk kekantin. Zilfa berdiri, menarik tangan Aksa untuk ikut bergabung dengannya dan Abidzar. Namun Aksa menolak. Dia memilih ikut satu bangku dengan Faiz dengan alasan kasihan kalau Faiz makan sendirian karena Faiz masih betah menjomblo. Zilfa mengangguk percaya. Dia kembali duduk disebelah Abidzar.


“Cowok lu nggak ikut gabung?” Tanya Abidzar.


Zilfa menggeleng. “Enggak. Dia mau nemenin Faiz.” Abidzar hanya bisa mangut-mangut membulatkan bibirnya. “Oh.”


Abidzar mengalihkan pandangannya kembali melihat kearah Aksa yang duduk disebelah Faiz. “Lu nggak takut dia cemburu sama kita?”


Zilfa terkekeh pelan. “Nggak mungkin lah, dia itu tahu kalau lu bakalan jadi adik ipar gue. Lagian dia nggak cemburuan.”


Abidzar tersenyum miring. Zilfa belum tahu aja kalau sebenarnya Aksa nggak cinta sama dia, Aksa cintanya sama Zulfa, seseorang yang dijodohkan dengan orang yang dia sebut calon adik ipar. Kalau Aksa bener-bener cinta sama Zilfa, pasti dia sudah menghajar Abidzar habis-habisan karena berani mengajak ceweknya makan berdua dikantin tanpa sepengetahuannya.


“Lu cinta nggak sih sama Aksa?” Tanya Abidzar.


Zilfa mengehentikan aktifitas mengunyak bakso. “Ya cinta lah. Mana mau gue nerima Aksa kalau gue nggak cinta. Aneh lu.” Abidzar terkekeh pelan.


“Lu percaya kalau Aksa juga cinta sama lu?”


“Kalau dia nggak cinta sama gue ngapain dia nembak gue.” Zilfa memasukkan kembali baksonya kemulut.


“Kan bisa aja.” Ucap Abidzar.


“Bisa aja apa?” Tanya Zilfa.

__ADS_1


__ADS_2