This Is Cinta

This Is Cinta
Two


__ADS_3

[Bandar Lampung, 17 Agustus 2010]


Pagi ini merupakan pagi kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Siapa yang tidak tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun bagi Negara Indonesia tercinta. Karena tepat pada hari ini siapapun dan dimanapun mereka berada pasti akan melaksanakan upacara untuk menghormati para pejuang yang telah membela Negara ini dengan nyawa mereka sebagai taruhannya.


Tepat pada hari ini pula seorang gadis manis datang ke SMA Bintara sebagai murid pindahan dari tanah Jawa serta mengikuti upacara tersebut saat pertama kali menginjakkan kaki ke ruang lingkup SMA Bintara. Akankah ada cerita baru dalam hidupnya setelah memasuki sekolah tersebut.


**


Menjadi murid pindahan yang anggun dan pintar serta lulus dengan kedamaian adalah keinginan dari gadis itu. Siapa yang akan menyangka bahwa hidupnya yang selama ini lurus akan berubah menjadi penuh dengan kelokan.


Terlihat seorang gadis mengenakan seragam putih abu dengan atribut yang sedikit berbeda dari murid lainnya berjalan tepat disamping bu Ani.


“Ayla barisnya disini ya gabung sama yang lain” ujar bu Ani pada gadis yang beliau panggil Ayla. “Ica kamu temenin ponakan ibu ya” sambung bu Ani.


“Iya bu” seorang siswi lain menyanggupi permintaan bu Ani kala itu.


Seorang gadis cantik dengan rambut hitam bergelombang yang tergerai cukup panjang dengan poni dua samping menambah kesan cantiknya. Tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 155 cm. Memiliki kulit kuning langsat, bergolongan darah A dan berstatus Jomblo. Ica namanya. Lebih tepatnya Ica Sartina.


“yaudah Ayla, bude tinggal ya kamu sama Ica dulu. Ica ibu titip Ayla sama kamu ya” ucap bu Ani sebelum benar-benar pergi meninggalkan dua gadis itu.


“iya bude”, “iya bu” jawab dua gadis itu berbarengan.


‘titip? Dikira gue barang kali ya maen titip segala !’ pikir Ayla dalam hati.


“hey gue Ica, lo Ayla kan ?” ucap Ica seraya memerkenalkan dirinya pada Ayla dengan mengulurkan tangan sebagai tanda pertemanan.


“he’m iya gue Ayla, salam kenal” terkesan memaksakan senyuman pada Ica kala itu.


“salam kenal. Lo murid baru ya disini ?”


“iya, baru daftar kemaren”


“oh, pindahan darimana? Trus masuk kelas apa ?”


“gue pindahan dari Jawa Tengah, gak tau bakal masuk kelas apa, tadi bude belum sempet kasih tau gue”


“haa… seriusan dari Jawa? Jauh banget !” ucap gadis bernama Ica sambil ternganga saat mendengar kata Jawa keluar dari mulut Ayla.


“lah emang kenapa, ada yang aneh ?” tanya Ayla cuek.


“gpp sih, cuma kaget aja. Yaudah deh baris aja udah mulai upacaranya”


“ok”


Obrolan antara dua gadis itu berhenti disana. Selanjutnya mereka mengikuti upacara dengan khidmat. Karena mereka memang sangat menghormati para Pahlawan yang telah gugur untuk memerjuangkan kemerdekaan Negara ini.


Upacara selesai Ayla segera menghampiri bu Ani untuk menanyakan dimana letak kelasnya, sedangkan murid lain ada yang langsung pulang kerumah, ada juga yang langsung menuju kantin untuk sekadar mengisi kekosongan perut. Karena hari ini sekolah diliburkan jadi semua murid bebas pelajaran dan hanya ada kegiatan upacara saja dipagi hari.


“bude kelas Ayla dimana ya ?”

__ADS_1


“besok Ayla dateng aja ya, nanti ditunjukin sama pak Ujang” bukannya memberitahukan dimana letak kelasnya bu Ani justru terkesan sedang bermain teka-teki dengan gadis itu.


“yaudah deh, trus Ayla pulang sama siapa ?”


“nanti ayah jemput kok tadi udah nelpon bude, katanya Ayla suruh tunggu aja”


“oh gitu, yaudah deh Ayla tunggu disini aja”


“yaudah, bude pergi dulu ya masih ada kerjaan yang harus bude urus”


“iya bude”


Menunggu adalah hal yang paling membosankan dalam hidup ini. Begitulah pemikiran gadis yang sedang duduk didepan kantor guru sendirian menunggu jemputan datang. Tidak ada teman yang bisa diajak bicara karena memang ia tidak mengenal siapapun disana.


**


Disisi lain ada dua pemuda sedang berjalan beriringan sambil sesekali berdebat dengan memukul satu sama lain.


“lo abis dari ruang BK kagak nongol seharian kemane aje mas bro ?”


“tumben lo perhatian sama gue? Takut gue kenapa-napa gitu ?”


“bukan gitu, kan kelas sepi tanpa lo yang bikin ricuh”


“sialan lo”


“tapi serius deh, emang lo kemana seharian kemaren ?”


“ha! Serius lo ?”


“beneran lah, awalnya gue gak mau tapi diancem dapet hukuman lain. Yaudah dengan terpaksa gue ikutin deh”


“wah enak dong bisa bolos kelas tanpa dicariin”


“haha itulah enaknya, yang gak enak itu pas disuruh bawa belanjaan, persis kuli panggul”


“haha emang pantes lo begitu”


“sialan lo, sini lo”


“haha”


Asik main kejar-kejaran tiba-tiba bu Ani sudah berada didepan kedua anak nakal itu sambil bertolak pinggang.


“ini koridor bukan lapangan !”


“maaf bu”


“cepat bantu persiapan diaula sekarang !”

__ADS_1


“baik bu”


Setelah meng’iya’kan perintah bu Ani keduanya langsung berlari kearah aula untuk membantu persiapan, tapi lagi-lagi keduanya membuat keributan dijalan.


“eh yang disuruh kan lo, kenapa gue juga ikutan ya ?”


“karena semua itu ide lo, dan lo harus ikut tanggung jawab atas hukuman yang gue dapetin dari bu Ani hari ini, mengerti tuan Dion Mahendra”


“aye aye aye siap kapten”


Seperti seorang awak kapal yang siap dengan perintah apa saja dari sang kapten, begitulah Dion menyetujui perintah dari Bima daripada laki-laki itu kembali dengan pukulan yang akan didaratkan pada tubuh nya lagi.


****


[Bandar Lampung, 18 Agustus 2010]


Hari ini adalah hari pertama Ayla masuk sekolah. Tidak, lebih tepatnya hari kedua karena kemarin Ayla sudah terbilang masuk meskipun hanya mengikuti upacara bendera saja.


“assalammualaikum”


“waalaikumsalam. Tunggu sebentar ya Ayla”


“ya bude”


Terlihat bu Ani masuk kembali ke ruangannya dan mengobrol dengan seorang bapak-bapak, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas setelah selesai bicara bapak-bapak tadi berjalan menghampiri Ayla yang saat ini sedang berdiri didepan pintu masuk kantor guru.


‘sadis, bukannya suruh masuk kek atau suruh duduk gitu’ pikir Ayla dalam hati.


“namamu Ayla ?” ucap seorang bapak-bapak yang tadi berjalan kearahnya.


“iya pak”


“ikut bapak” seketika Ayla mengingat ucapan bu Ani kemarin bahwa ia akan ditunjukan kelas bersama dengan pak Ujang. ‘apa beliau yang namanya pak Ujang ?’ ucap lirih Ayla sambil terus mengikuti kemana bapak itu membawanya.


Ayla berjalan lurus dari kantor lalu belok kanan menaiki anak tangga yang berliku lalu belok kanan lagi setelah itu sampai dikelas. Ayla masuk tanpa ragu mengikuti pak Ujang didepannya.


Ayla berdiri menatap murid yang berada dalam kelas tersebut yang saat ini juga sedang menatapnya. Mata Ayla masih terus mencari seorang anak perempuan yang ia ketahui sebagai tetangganya, dan yaps ia menemukannya. Tapi sepertinya ia tidak akan dekat dengan gadis itu karena kursi disekelilingnya sudah penuh.


Sedangkan pak Ujang sedang berbicara pada seorang guru yang tengah mengajar Matematika saat ini, terlihat dari berbagai macam angka dan rumus yang tertulis dipapan. Bisa ditebak bahwa saat ini para murid sedang diberikan soal latihan oleh guru itu.


“Anak-anak, ini Ayla murid baru yang selanjutnya akan menjadi teman baru kalian. Pak saya titip anak ini, kalau begitu saya permisi” setelah memerkenalkan seorang murid baru seadanya pada seisi kelas, pak Ujang kembali ke kantor.


‘lagi-lagi gue dititipin sama orangtua, hel to the low gue bukan barang yang bisa dititipin dimana aja’ umpat Ayla dalam hati.


“siapa namamu, kenalkan pada murid disini” titah guru Matematika itu pada Ayla.


“baik pak. Halo nama saya Ayla Asyifa saya pindahan dari SMA N 1 Jawa Tengah, salam kenal semua” terang Ayla saat memerkenalkan diri.


Yah, itulah dia. Seorang gadis yang memiliki senyum manis telah datang ke SMA Bintara sebagai murid pindahan. Ayla Asyifa namanya, sebuah nama yang mudah untuk diingat. Memiliki tinggi 162 cm dengan rambut hitam lurus dibawah bahu ditambah poni pinggir yang membuatnya terlihat imut.

__ADS_1


Berkepribadian sederhana, cuek, mudah kesal dan lebih banyak mengumpat. Gadis ini juga memiliki otak yang cerdas, itulah yang membuatnya sangat mencolok dibandingkan murid lainnya. Gadis itu juga merupakan keponakan dari ibu Ani Almaheera, itu sebabnya Ayla selalu memanggil bu Ani dengan sebutan ‘bude’.


__ADS_2