
“Enggak.”
“Bagus. Sekarang lu ikut gue.”
Aksa menarik paksa tangan Zulfa, sontak membuat mata Zulfa membulat kaget. Aksa mau membawa Zulfa kemana? Apa telinganya nggak denger cibiran-cibiran penghuni kelas XI IPS 4 yang mengumpat Zulfa.
Aksa melepaskan tangan Zulfa saat mereka sampai di taman belakang sekolah. Disini hanya ada mereka berdua. Aksa dan Zulfa.
Aksa menatap lurus kedepan, dengan tatapan datar. Dia menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Zulfa. “Gue mau nanya. Tapi lu harus jawab jujur.” Ucap Aksa.
Zulfa menatap manik mata Aksa yang menatapnya serius lalu mengangguk pelan. Jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya Aksa mau nanya apa? Kok kayaknya serius banget.
“Apa lu suka sama Abidzar?” Tanya Aksa. Itu bukan pertanyaan yang diharapkan Zulfa. Kenapa nama Abidzar yang Aksa sebut?
“Atas dasar apa lu berani nanya gitu ke Zulfa?” Suara itu kontan membuat Aksa dan Zulfa menoleh kompak. Laki-laki itu berjalan mendekat dengan tangan yang disilangkan didepan dada. Matanya menatap tajam kearah Aksa. Jangan lupakan senyuman sinis yang menghiasi wajah tampannya.
Tak mau kalah, Aksa membalas tatapan laki-laki itu dengan tatapan yang tak kalah tajam. Suasana berubah mencekam. Hawa di taman ini berbah menjadi dingin. Zulfa menelan salivanya berat. Apakah akan terjadi perang?
“Gue mau mastiin aja. Dan gue harap Zulfa nggak cinta sama cowok brengsek kayak lu.” Ucap Aksa menunjuk Abidzar. Ya laki-laki yang barusan datang itu Abidzar.
Abidzar tertawa sinis menatap Aksa. “Apa bedanya gue sama lu? Bahkan lu lebih brengsek daripada gue.”
“Udah-udah. Kalian itu kenapa sih, tiap ketemu pasti berantem.” Akhirnya Zulfa angkat bicara.
Aksa dan Abidzar menghentikan perdebatan mereka. Tatapan mereka beralih menatap Zulfa. Aksa mendekat kearah Zulfa membuat Abidzar memincingkan mata. “Lu harus nentuin. Lu pilih gue apa dia?” Tanya Aksa.
Zulfa menatap Aksa dan Abidzar bergantian. Dalam lubuk hati terdalamnya dia menginginkan Aksa. Tapi bukankah dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia mau membuka hati untuk Abidzar. Toh Aksa juga sudah pacaran dengan Zulfa, kakanya. Jika dia tetap memilih Aksa itu artinya dia egois.
Zulfa memegang pundak Aksa lembut membuat Aksa mengembangkan senyum. Sementara Abidzar sudah melengoskan wajahnya menatap objek lain. Ada desiran beda dihatinya. “Gue tau lu bakalan milih gue.”
Zulfa menggeleng pelan. Dia menatap Aksa dengan senyuman tak terdefinisikan. Entah senyuman itu mengisyaratkan apa. “Maaf Aksa, tapi aku lebih milih Abidzar.” Satu tetes air meluncur dari pelupuk mata Zulfa tanpa permisi.
Zulfa berjalan menjauh dari Aksa. “Jelas aku lebih milih Abidzar, karena aku udah dijodohin sama dia, Sa. Aku yakin sama pilihan orang tuaku kalau dia emang yang terbaik buat aku.” Jelas Zulfa.
“Lu nerima dia cuma karena perjodohan. Lu nggak pernah cinta sama dia. Lu cintanya sama gue.”
Lagi-lagi Zulfa menggeleng. “Aku nggak pernah cinta sama kamu, Sa. Aku cuma nganggep kamu itu sahabat, nggak lebih.” Aksa tersenyum sinis mendengar penjelasan Zulfa.
__ADS_1
“Tatap mata gue, Fa. Bilang kalau lu nggak cinta sama gue. Baru gue bisa percaya kalau ucapan lu itu dusta.”
Aksa kembali tersenyum sinis. “Gue tau kalau lu nggak akan bisa bilang gitu, karna sebenarnya lu itu cintanya sama gue.”
“Dan lu.” Aksa menunjuk kearah Abidzar yaang dari tadi haanya bungkaam tak bersuara. “Jauhi Zulfa dan batalkan perjodohan ini.”
“Nggak ada yang bisa batalin perjodohan ini.” Ucap Zulfa tegas.
Dia menatap mata elang Aksa. Sekuat tenaga Zulfa menahan air mataanya agar tidak jatuh dihadapan Aksa. “Aku nggak cinta sama kamu, aku cinta sama kak Abidzar. Dan aku minta kamu pergi dari hidupku Aksa. Jangan pernah nemui aku lagi. Lebih baik kita bersikap layaknya dua orang yang tak pernah saling mengenal. Lupakan kenangan kita, dan semoga kamu bisa bahagia sama kak Zilfa.” Aksa menatap Zulfa tak percaya. Aksa yakin kalau Zulfa itu mencintainya juga. Tapi kenapa Zulfa bisa berbicara seperti itu?
Aksa membuang pandangannya. “Suatu saat lu bakalan tau kalau orang yang lu cinta itu cuma mainin perasaan lu, dia nggak pernah bisaa membalas cinta lu.” Zulfa melirik sekilas kearah Aksa.
“Dan kalau lu udah sadar dengan kenyataan itu, gue harap lu bisa lihat ada gue yang tulus mencintai lu. Ada gue yang selalu ada buat lu. Ada gue yang mau nerima lu kembali. Gue harap perpisahan kita itu cuma sementara.” Kata Aksa kemudian pergi.
Zulfa tak bisa membendung air matanya saat Aksa pergi menjauh. Hatinya sesak. Kakinya serasa tak bertulang. Dia terduduk diatas hamparan rumput hijau sambil sesekali menghapus sisa air matanya yang enggan berhenti mengalir deras.
“Gue janji bakalan bikin lu lupa sama Aksa dan gue janji bakalan bikin lu beneran jatuh cinta sama gue.” Ucap Abidzar.
...
Zulfa mengulurkan tangannya kedepan, membiarkan titik-titik air membasahi telapak tangannya. Bau khas tanah menguasai indra penciumannya saat ini. Pandangannya menatap langit yang kian menggelap dan koridor disekitarnya sudah mulai sepi.
Zulfa menutup matanya rapat-rapat mengingat perlakuan Abidzar yang tak pernah menganggap kehadirannya. Abidzar yang mencintai Zilfa dan sering mengabaikannya. Tapi kini Abidzar telah berubah, dia bisa menerima Zulfa bahkan dia ingin membantu Zulfa melupakan Aksa. Tapi entah kenapa hatinya masih belum cukup percaya, apakah dia bisa melupakan Aksa? Apakah dia bisa menggantikan posisi Aksa dengan Abidzar?
Tangan seseorang menahan ujung hijabnya agar tidak berkibar bebas, membuat Zulfa menoleh. Seseorang dibelakangnya berhasil membuat mata Zulfa sedikit membola, terkejut. Sudut bibir Zulfa sedikit tertarik keatas saat melihat seseorang yang ada dihadapannya menyinggungkan senyuman.
“Maaf lama, tadi gue ada urusan bentar sama anak jurnalistik.” Abidzar, seseorang yang tadi menahan ujung hijab Zulfa menatap lembut mata hitam berbinar milik Zulfa.
Zulfa mengangguk pelan lalu mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri untuk menghangatkan badan karena udara dingin menusuk kulit putihnya.
Abidzar membuka jas jurnalistik berwarna merah maroon yang ia kenakan kemudian Abidzar menyodorkan jasnya pada Zulfa. Zulfa menatap lama jas itu, dia bingung mau menerimanya apa enggak. Dia memang kedinginan, tapi Abidzar pasti juga sama kedinginannya kayak dia. Dia nggak boleh egois kan?
Abidzar tersenyum tipis lalu tiba-tiba memasangkan jasnya ditubuh Zulfa. Zulfa sedikit terpaku. Dia berusaha mati-matian menahan degupan asing didalam hatinya.
“Pulang sekarang?” Tanya Abidzar setelah berhasil memasangkan jasnya ditubuh Zulfa. Terlihat kegedean, tapi malah terlihat lucu.
Zulfa menganggukkan kepalanya yang sudah menunduk dari tadi karena dia malu jika menatap wajah Abidzar.
__ADS_1
Abidzar tersenyum melihat rona merah pada pipi Zulfa yang bersemu akibat malu. “Yuk.”
Zulfa mendongak menatap kearah Abidzar yang sudah siap menjadikan tangannya sebagai payung untuk Zulfa. Sontak perlakuan Abidzar membuat Zulfa kembali menyinggungkan senyuman.
“Cepetan kak keburu basah.” Teriak Zulfa agar dapat didengar oleh Abidzar, karena suara tetesan air hujan yang membentur tanah seolah meredam suara Zulfa.
Abidzar tertawa jahil, dia malah semakin memperlaambat langkahnya membuat Zulfa mendegus kesal. Tubuh mereka benar-benar basah kuyup sekarang. Abidzar menghentikan langkahnya membuat langkah Zulfa otomatis ikut terhenti. Abidzar mengacak pelan pucuk kepala Zulfa yang tertutup hijab.
Abidzar mendekatkan wajahnya kearah Zulfa membuat keringat dingin menetes dari pelis Zulfa. Zulfa sontak mendorong tubuh Abidzar menjauh membuat Abidzar sedikit terlempar kebelakang. Dan...
Bugh..
Abidzar terjatuh dengan posisi tidak elit. Abidzar terjatuh dengan bokong yang mendarat lebih dulu daripada badannya tepat ditengah-tengah kubangan lumpur. Seragam putih yang dia kenaakan berubah warna menjadi coklat.
“Zulfa!” Teriak Abidzar membuat Zulfa tertawa puas. Tapi detik selanjutnya tawa Zulfa terhenti secara paksa saat Abidzar menarik tubuhnya kearah lumpur.
“Impas kan?” Tanya Abidzar sembari menyinggungkan senyuman devil. Zulfa memukul bahu Abidzar membuat laki-laki itu sedikit meringis kesakitan.
Zulfa berdiri sambil mengusir lumpur yang hinggap dibaju sragamnya. Sesekali dia melempar tatapan tajam kearah Abidzar, tapi malah dibalas dengan senyuman jahil oleh Abidzar.
“Udah pulang yuk, nanti ibu nyariin.”
Abidzar mengulurkan tangannya kearah Zulfa membuat dahi gadis itu berkerut. “Ngapain?”
Abidzar memutar bola matanya jengah. Zulfa ini nggak peka beneran apa pura-pura nggak peka? “Bantuin.”
“Belum mahrom.” Ucap Zulfa sambil berjalan meninggalkan Abidzar.
Abidzar berdiri kemudian berlari mengejar Zulfa. “Belum mahrom berarti nanti bakalan jadi mahrom dong?” Tanya Abidzar membuat Zulfa sedikit tersentak.
“Nggak tau.”
“Percaya sama gue kalau suatu saat nanti gue bakalan ngegeser, atau bahkan ngehapus posisi Aksa di hati lu.” Ucap Abidzar serius.
Zulfa terhenyak sebentar. “Semoga berhasil.”
Hanya dua kata semangat yang pasaran itu nyatanya mampu membuat kedua sudut bibir Abidzar tertarik keatas.
__ADS_1