This Is Cinta

This Is Cinta
Chapter 10


__ADS_3

Aksa melebarkan senyumannya saat melihat kado yang Zulfa berikan. Sebuah jam tangan warna hitam yang dia idam-idamkan selama ini.


“Pakein dong.”


“Manja ih pake sendiri.”


“Gue kira lu suka adegan romantis kayak di novel itu.” Ucap Aksa sembari menunjuk novel diatas meja.


“Kamu baca?”


“Liat-liat aja tadi.” Zulfa mengangguk pelan.


“Gimana cocok nggak?” Tanya Aksa memamerkan jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


“Cocok. Kelihatan keren.”


“Gue keren dari dulu kali, Zulfa. Lu baru nyadar.”


Zulfa memutar bola mata malas. Aksa ini memang memiliki tingkat kePDan yang sangat-sangat over. Tapi dalam hati Zulfa mengakui kalau Aksa itu keren dari dulu pas lihat untuk yang pertama kalinya.


...


Kring...kring...kring...


Bunyi bel kebebasan sudah berbunyi membuat murid SMA Bina Bangsa bersorak gembira. Setelah seharian duduk dikursi dengan tangan bertopang dagu dan memandang malas buku-buku tebal pelajaran mereka akhirnya diperbolehkan untuk kembali keasal mereka masing-masing, eh maksudnya kerumah mereka masing-masing.


Zulfa memasukkan barang-barangnya ketas kemudian mengeluarkan ponsel menghubungi Zilfa. “Gue pulang duluan, Fa. Papa udah jemput.” Pamit Salsa.


“Iya, Sal. Hati-hati.”


“Pake hati jangan.”


“Jangan. Pake kaki.”


“Bye Zulfa. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


Drettt.


Satu notifikasi pesan dari Zilfa.


Kak Zilfa Ajwa


Pulang duluan gih gue ada rapat sama anak eskul junralistik.


Zulfa tak berniat membalas pesan dari Zilfa. Dia melangkahkan kaki menuju gerbang depan. Pandangannya menelisik setiaap kendaraan yang berlalu dijalan raya. Jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Biasanya kalau jam segini bus atau angkot jarang ada yang lewat.


“Hei Zulfa.” Sama seseorang. Zulfa tak mengenalnya.


“Zulfa kan?” Tanya orang itu. Zulfa mengangguk pelan mengiyakan. Laki-laki bername tag Faiz Ramadhan itu berdiri tepat disebelah Zulfa.

__ADS_1


“Nggak pulang sama Zilfa?” Tanya Faiz.


“Kak Zilfa ada rapat sama anak jurnalistik.” Jelas Zulfa.


“Sama Abidzar juga ya?” Zulfa menggeleng. Dia tak tahu apapun tentang Abidzar. Dia tau sih Abidzar ketua eskul jurnalistik, tapi dia nggak tahu apakah Abidzar ikut rapat hari ini atau enggak.


Faiz terkekeh pelan. “Masa lu nggak tahu sih, katanya lu dijodohin sama Abidzar.”


“Dari mana kakak tahu?”


“Semua murid SMA Bina Bangsa udah tau kali, Fa. Kalau lu sama Abidzar itu dijodohin.” Jelas Faiz. Zulfa tak menyangka hal itu. Dia juga nggak peduli. Yang penting dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia menolak.


Hening setelah itu tak ada perbincangan diantara mereka. Zulfa sangat tidak nyaman berada pada posisi ini.


“Faiz!” Panggil seseorang. Itu Abidzar. Dia melambaikan tangan kearah Faiz. Abidzar sedikit mengerutkan dahi. Sejak kapan Faiz kenal sama Zulfa.


Cukup lama Abidzar berbincang dengan Faiz. Samar-samar Zulfa mendengar mereka membahas soal eskul jurnalistik. Bukannya mau menguping, suara mereka agak kencang jadi dia bisa mendengarnya meski samar-samar. Faiz juga ikut eskul jurnalistik ya?


“Belum pulang, Fa?” Tanya seseorang membuat Zulfa sedikit terkejut.


“Belum.” Jawab singkat Zulfa. Ya setidaknya dia menghargai keberadaan Abidzar beberapa meter dibekalangnya. Dia tidak ingin Abidzar melihat keakrapannya dengan Aksa. Dia cukup menghargai status Abidzar.


“Mau bareng?” Tawar Aksa. Zulfa menggeleng.


“Kenapa? Karena kamu nggak enak sama Abidzar?”


“Kalau iya emang kenapa?” Itu suara Abidzar yang menanggapi. Suara Abidzar mampu membuat Aksa dan Zulfa menoleh kompak kearahnya. Abidzar jalan mendekat kearah mereka, kearah Zulfa lebih tepatnya.


“Ikut gue, dan lu mendingan nunguin pacar lu selesai rapat.” Abidzar menunjuk Aksa dengan jari telunjuknya. Ucapan Abidzar barusan mampu membuat Zulfa bertanya-tanya. Aksa sudah punya pacar. Siapa?


Megetahui Zulfa masih diam ditempat membuat Abidzar menyerut tangan Zulfa menuju parkiran. Zulfa sempat terpaku, detik selanjutnya dia berusaha mengikuti langkah lebar Abidzar menuju parkiran.


Setelah keduanya masuk, Abidzar menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Sedangkan Zulfa masih sibuk bertaanya-tanya dalam hatinya. Aksa sudah punya pacar. Siapa dia? Kok Aksa nggak bilang-bilang?


Setelah mereka sampai dipelataran rumah, Zulfa langsung turun tanpa mengucapkan terimakasih pada Abidzar. Abidzar memperhatikan Zulfa sampai gadis itu menghilang disebalik pintu. Abidzar merasaa aneh dengan sikap Zulfa sore ini. Apa dia ada masalah? Kenapa Abidzar jadi memperdulikan gadis itu. Mau dia ada masalah atau enggak itu bukan urusannya kan?


...


19.30


Begitulah angka yang tertera di layar ponsel milik Abidzar, ia memasuki rumahnya dengan santai lalu menaiki tangga untuk masuk kedalam kamar sembari menenteng buku diary warna peach. Dia yakin ini milik Zulfa yang jatuh dimobilnya.


Abidzar menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan tubuh yang membentuk seperti patrick, bintang laut. Saat memejamkan mata, Abidzar mengingat wajah murung Zulfa saat dia mengatakan pada Aksa tentang pacarnya. Apa Zulfa belum tahu?


Abidzar bangkit dari ranjang lalu masuk kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. 10 menit kemudian Abidzar keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi dan handuk yang melingkar dilehernya.


Ia mengacak rambutnya frustasi karena fikirannya masih tak bisa lepas dari Zulfa. “Ngapain gue mikirin dia. Nggak ada kerjaan banget.”


Abidzar duduk disisi ranjang, pandangannya beralih menatap buku diary warna peach dinarkas. Abidzar meraihnya membuka lembar pertama buku diary itu dan membacanya.


Buku itu mengungkapkan fakta yang belum Abidzar ketahui sebelumnya. Cinta Aksa pada Zulfa berbalas. Begitupun dengan cinta Zulfa pada Aksa. Mereka tak boleh tahu tentang ini. Jadi yang membuat wajah Zulfa mmurung saat dia menyebut kata pacar pada Aksa ini? Fakta ini? Kalau Zulfa mencintai Aksa. Abidzar fikir Zulfa mencintainya makanya dia mau menerima perjodohan ini. Ternyata dia salah besar.

__ADS_1


Abidzar membanting buku diary peach milik Zulfa dilantai. Dia tidak boleh membiarkan gadis itu dan Aksa bahagia diatas penderitaannya. Mereka tidak boleh bersatu sebelum Zilfa bisa mencintainya.


Senyum sinis terukir jelas diwajah tampan milik Abidzar. “Mainin perasaannya dulu boleh kali ya?” Gumam Abidzar tanpa berfikir panjang. Padahal bisa saja hatinya yang akan kalah dalam permainan cintanya pada perasaan Zulfa. Tidak ada yang tahu kan?


...


Zulfa saat ini sedang mengunyah roti bakar selai strauberi yang habis diangkat dari tempat pembakaran roti, jadi terasa masih sangat nikmat saat disantap. Ayahnya terlihat sibuk berkutik dengan laptop sambil sesekali menyruput secangkir kopi panas.


“Zulfa tolong panggilin Zilfa dikamar. Masa jam segini dia belum keluar kamar.” Teriak Aisyah dari dapur, entah apalagi yang akan disiapkan ibunya itu didapur. Dia masih sibuk berkutat dengan alat-alat masak.


Zulfa membawa roti bakar selai coklat kesukaan Zilfa berlari menuju kamar Zilfa, menghiraukan peringatan ayahnya yang melarang Zulfa lari-larian kayak anak kecil. Zulfa menghampiri pintu kamar berwarna pink terang yang berada tepat disebelah pintu kamarnya.


Tok tok tok...


Hening.


Ceklek.


Zulfa memutar knop pintu kamar Zilfa yang ternyata tak dikunci. Dengan tenang dia memasuki kamar kakaknya. Dan...


“Ba...”


Brak gedubrak gubrak. Saking terkejutnya Zulfa sampai terjatuh. Untung roti bakarnya aman. Zulfa berhasil menyelamatkannya agar tidak tumpah.


“Kak Zilfa ngagetin aja. Untung jantung aku nggak copot.” Ucap Zulfa sembari memegangi dadanya yang berdetak kencang. Kaget ey, asli.


“Gue lagi gabut.” Tutur Zilfa tanpa merasa bersalah.


Zilfa mengambil tasnya kemudian mengikuti langkah Zulfa menuju meja makan. Irsyad menutup laptopnya saat melihat Zilfa berjalan dibelakang Zulfa.


“Mana roti gue, Fa.” Ucap Zilfa merebut sepiring roti bakar selai coklat yang masih dipegang Zulfa.


Zulfa menjauhkan piring dari jangkauan Zilfa. “Panggil dulu adek baru aku kasih.”


“Mau banget dipanggil adek.” Celetuk Zilfa. Dia sudah berdecak pura-pura marah sekarang.


“Nggak mau yaudah buat aja sendiri.” Ketus Zulfa tak mau kalah.


Zilfa menghembuskan nafasnya pasrah. “Yaudah yaudah.”


Zulfa dengan antusias memasang telinganya untuk mendengarkan panggilan adek yang terucap dari mulut Zilfa. “Adek. Udah.”


“Gitu doang?” Tanya Zulfa memastikan.


“Tadi lu kan mau gue manggil lu adek. Udahkan? Sekarang mana roti gue.” Zulfa menyerahkan sepiring roti bakar selai coklatnya pada Zilfa, akhirnya.


Irsyad yang melihat tingkah mereka yang tak pernah akur hanya bisa geleng-geleng kepala. Irsyad yakin meski mereka sering berdebat seperti sekarang, sebenarnya dalam lubuh hati terdalam mereka saling menyayangi.


Tin...


“Sapa tuh?” Tanya Zilfa. Zulfa mengedikkan bahunya tak peduli.

__ADS_1


__ADS_2