This Is Love Story

This Is Love Story
Dilema


__ADS_3

"Terima kasih telah berkunjung selamat membaca"


"Eh, nggak usah kak.""Plis, Kaila. Kakak bakal lama kalau


balek lagi, bisa jadi seminggu atau dua


minggu. Kakak cuma antarin aja kok.""Oh, gitu ya kak. Yaudah deh." Aku


mulai berjalan menuju ke sekolah dan


kak Ferdi mengikuti disebelahku."Kaila, kalau kakak kangen, kakak


boleh ya video call."Tiba-tiba kak Ferdi bertanya seperti ini


Ini membuat jantungku berdebar lebih


keras.Terserah kak. Kalau aku bisa angkat


video call kakak." Ujarku dengan suara


pelan dan lembut."Lembut banget, aku jadi makin


cinta." Kak Ferdi tersenyum senang


memandangku.


Aku langsung memalingkan wajahku.


Aku tak ingin melihat wajahnya. Bisa


meledak jantungku.Sesampai di sekolah, aku pamit dan


masuk ke dalam. Kak Ferdi pergi


dengan senyumnya yang belum pudar.Ah, tiba-tiba aku sedih, sepertinya aku


nggak akan menemuinya dalam waktu


lama.


-


Jam istirahat berbunyi. Aku, Jovita dan


Bryan sedang menyantap makanan


kami."Vit, kemarin sore aku lewat sekolah.

__ADS_1


Kuliat kamu masih di depan sekolah,


ngapain sore-sore di sekolah?"Aku teringat kemarin sewaktu diantar


pulang oleh Kak Ferdi, Jovita masih


Hanya anak ekskul yang ada. Anak


kelas 12 semester 2 sudah tidak


diwajibkan untuk ikut ekskul."Oh, gue emang biasa dijemput jam


segitu.""Biasa? Seingatku waktu kelas 2, kamu


sering dijemput tepat waktu sama


ayahmu.""Iya, bukannya bokap lu selalu jemput


lu?" sahut Bryan.Udah nggak lagi. Bokap gue terus


sibuk.""Kalau gitu, kamu nunggu di rumahku


aja gimana? Ngapain nungguin di


sekolah sampai sore-sore." tawarku."Nggak usah deh la. Nanti bokap gue


repot cari letak rumah lu. Habis itu


tunggu ditempat." curhat Jovita."Gimana kalau gue antar lu pulang vit?


Lagian rumah kita sejalan kok." tawar


Bryan.Jovita mengernyit bingung. "Tau dari


mana lu rumah gue?"Bryan kaget, terdiam sebentar lalu


menjawab Jovita. "Gue kebetulan


pernah liat lu di depan rumah lu."Aku dan Jovita ber-oh ria."lya vit, mending lu diantar Bryan.


Daripada sampe sore di sekolah."


sahutku.Jovita tampak menimbang tawaran


dari Bryan. "Oke deh, boleh. Sorry gue


ngerepotin."

__ADS_1


"Emang kapan lu nggak pernah repotin


gue? Hahaha." Bryan bergurau pada


Jovita.Bryan mengacak rambut Jovita dan


Jovita cemberut kesal tidak melawan."Gue pergi dulu ya, mau toilet." Bryan


pergi meninggalkan kami.Aku kembali termenung memikirkan


kak Ferdi dan lamarannya."Sorry ya la. Gue tau kalian pedekate


tapi Bryan udah antar gue gitu."Jovita


menampakkan rautnya yang bersalah."Nggakpapa kali vit. Bryan kan bukan


pacarku.""Serius la? Gue bisa nolak kok. Lutermenung gitu. Jujur aja la.""Bukan itu yang kupikirkan vit."


"Lalu apa?""Kak Ferdi... Dia... lamar aku." Aku


memberitahu Jovita dengan nafas yang


tercekat secara tiba-tiba. Kalimat ini


terasa susah diucapkan.Jovita menampakkan raut kagetnya.


Matanya membulat sempurna dan dia


menutup mulutnya.us?" Tiba-tiba"Serius lu? Terus t


Jovita mengecilkan suaranya seperti


takut ada yang mendengar."Aku nggak tau vit. Aku disuruh mikir


dulu." Aku menghela nafas. Ini berat.


Aku nggak kuat.


- Sabtu, 23 Januari 2016-


Selama seminggu ini, aku dan Kak


Ferdi hanya chattingan. Kami tidak


video call, mungkin Kak Ferdi sibuk.Aku kembali teringat dengan kalimat


Kak Ferdi."Kaila, kalau kakak kangen, kakak boleh

__ADS_1


ya video call"


-


__ADS_2