
"Terima kasih telah berkunjung selamat membaca"
"Eh, nggak usah kak.""Plis, Kaila. Kakak bakal lama kalau
balek lagi, bisa jadi seminggu atau dua
minggu. Kakak cuma antarin aja kok.""Oh, gitu ya kak. Yaudah deh." Aku
mulai berjalan menuju ke sekolah dan
kak Ferdi mengikuti disebelahku."Kaila, kalau kakak kangen, kakak
boleh ya video call."Tiba-tiba kak Ferdi bertanya seperti ini
Ini membuat jantungku berdebar lebih
keras.Terserah kak. Kalau aku bisa angkat
video call kakak." Ujarku dengan suara
pelan dan lembut."Lembut banget, aku jadi makin
cinta." Kak Ferdi tersenyum senang
memandangku.
Aku langsung memalingkan wajahku.
Aku tak ingin melihat wajahnya. Bisa
meledak jantungku.Sesampai di sekolah, aku pamit dan
masuk ke dalam. Kak Ferdi pergi
dengan senyumnya yang belum pudar.Ah, tiba-tiba aku sedih, sepertinya aku
nggak akan menemuinya dalam waktu
lama.
-
Jam istirahat berbunyi. Aku, Jovita dan
Bryan sedang menyantap makanan
kami."Vit, kemarin sore aku lewat sekolah.
__ADS_1
Kuliat kamu masih di depan sekolah,
ngapain sore-sore di sekolah?"Aku teringat kemarin sewaktu diantar
pulang oleh Kak Ferdi, Jovita masih
Hanya anak ekskul yang ada. Anak
kelas 12 semester 2 sudah tidak
diwajibkan untuk ikut ekskul."Oh, gue emang biasa dijemput jam
segitu.""Biasa? Seingatku waktu kelas 2, kamu
sering dijemput tepat waktu sama
ayahmu.""Iya, bukannya bokap lu selalu jemput
lu?" sahut Bryan.Udah nggak lagi. Bokap gue terus
sibuk.""Kalau gitu, kamu nunggu di rumahku
aja gimana? Ngapain nungguin di
sekolah sampai sore-sore." tawarku."Nggak usah deh la. Nanti bokap gue
repot cari letak rumah lu. Habis itu
tunggu ditempat." curhat Jovita."Gimana kalau gue antar lu pulang vit?
Lagian rumah kita sejalan kok." tawar
Bryan.Jovita mengernyit bingung. "Tau dari
mana lu rumah gue?"Bryan kaget, terdiam sebentar lalu
menjawab Jovita. "Gue kebetulan
pernah liat lu di depan rumah lu."Aku dan Jovita ber-oh ria."lya vit, mending lu diantar Bryan.
Daripada sampe sore di sekolah."
sahutku.Jovita tampak menimbang tawaran
dari Bryan. "Oke deh, boleh. Sorry gue
ngerepotin."
__ADS_1
"Emang kapan lu nggak pernah repotin
gue? Hahaha." Bryan bergurau pada
Jovita.Bryan mengacak rambut Jovita dan
Jovita cemberut kesal tidak melawan."Gue pergi dulu ya, mau toilet." Bryan
pergi meninggalkan kami.Aku kembali termenung memikirkan
kak Ferdi dan lamarannya."Sorry ya la. Gue tau kalian pedekate
tapi Bryan udah antar gue gitu."Jovita
menampakkan rautnya yang bersalah."Nggakpapa kali vit. Bryan kan bukan
pacarku.""Serius la? Gue bisa nolak kok. Lutermenung gitu. Jujur aja la.""Bukan itu yang kupikirkan vit."
"Lalu apa?""Kak Ferdi... Dia... lamar aku." Aku
memberitahu Jovita dengan nafas yang
tercekat secara tiba-tiba. Kalimat ini
terasa susah diucapkan.Jovita menampakkan raut kagetnya.
Matanya membulat sempurna dan dia
menutup mulutnya.us?" Tiba-tiba"Serius lu? Terus t
Jovita mengecilkan suaranya seperti
takut ada yang mendengar."Aku nggak tau vit. Aku disuruh mikir
dulu." Aku menghela nafas. Ini berat.
Aku nggak kuat.
- Sabtu, 23 Januari 2016-
Selama seminggu ini, aku dan Kak
Ferdi hanya chattingan. Kami tidak
video call, mungkin Kak Ferdi sibuk.Aku kembali teringat dengan kalimat
Kak Ferdi."Kaila, kalau kakak kangen, kakak boleh
__ADS_1
ya video call"
-